Kemenag RI 2019:Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk. Prof. Quraish Shihab:Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Prof. HAMKA:Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kegelapan adalah bagi mereka itu keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat hidayah.
Ayat ke-82 dari surat Al-An’am ini oleh banyak ulama dikatakan sebagai bagian utuh dari ayat sebelumnya yang belum selesai kalimatnya. Di ayat sebelumnya, Allah SWT memberi pertanyaan dalam bentuk dua opsi, siapakah yang lebih berhak untuk merasa aman, apakah orang-orang kafir ataukah orang-orang beriman. Maka di ayat ini Allah SWT menjawab bahwa yang lebih berhak untuk merasa aman adalah orang-orang yang beriman.
Namun ada juga sebagian ulama yang menyebutkan bahwa ayat ini berdiri sendiri dan merupakan kalimat yang baru. Mereka istilahkan dengan : isti’naf.
الَّذِينَ آمَنُوا
Kata alladzina aamanu (الَّذِينَ آمَنُوا) artinya : orang-orang yang beriman. Jika kita memegang pendapat bahwa ayat ini merupakan sambungan dari ayat sebelumnya, tidak keliru jika ayat ini kita baca dengan kata-kata : ”(yang berhak untuk merasa aman) adalah orang-orang yang beriman.” Inilah pendapat Muhammad bin Ishaq, Ibnu Zaid, dan al-Juba’i.
Namun jika kita memegang pendapat yang menyatakan ayat ini merupakan isti’naf, yaitu ayat ini berdiri sendiri dan bukan merupakan jawaban dari ayat sebelumnya, maka terjemahannya langsung saja, yaitu : ”orang-orang yang beriman dan tidak mencampur dengan syirik akan mendapatkan keamanan”.
Meski yang tertulis hanya beriman saja : alladzina amanu (الَّذِينَ آمَنُوا), namun secara logika yang kita pahami tentu maksudnya beriman kepada Allah SWT : alladzina amanu billah (الَّذِينَ آمَنُوا بالله). Beriman kepada Allah SWT itu adalah mengakui bahwa pencipta manusia dan semua makhluq adalah Allah SWT, termasuk meyakini bahwa Allah SWT juga yang memberikan rejeki, memelihara, memberikan segala yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup di dunia.
Dan beriman kepada Allah SWT berarti melakukan berbagai ritual penyembahan kepada-Nya sebagaimana yang diperintahkan lewat jalur wahyu yang turun bersama para nabi utusan-Nya.
وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
Kata wa-lam (وَلَمْ) artinya : dan tidak. Dipahami bahwa mereka yang berhak merasa aman itu bukan hanya berhenti sampai beriman kepada Allah SWT saja, tetapi juga harus tidak mencampur keimanan itu dengan zhulm.
Kata yalbisu (يَلْبِسُوا) berasal dari akar labasa (لَبَسَ) yang pada dasarnya berarti mencampur, menutupi, atau membungkus. Dari akar kata inilah muncul kata libas (لِبَاس) yang berarti pakaian karena sifat pakaian itu menutupi tubuh. Namun dalam konteks ayat ini kata yalbisu tidak dimaknai sebagai memakai, tetapi mencampuradukkan.
Kata imanahum (إِيمَانَهُمْ) artinya : iman mereka, atau keimanan mereka. Maksudnya iman mereka kepada Allah SWT.
Kata bi-zhulmin (بِظُلْمٍ) artinya : dengan kezaliman. Menurut ulama bahasa seperti Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah, kata zhulm (ظُلْم) adalah : ”meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya” (وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ). Selain itu tindakan kezaliman sering dikaitkan dengan perbuatan aniaya, atau menyelewengkan sesuatu dari tempatnya, atau melanggar hak.
Menarik jika kita cermati terjemahan kata ini dalam berbagai terjemahan di Indonesia. Kemenag RI dan Quraish Shihab tidak menerjemahkannya, hanya dituliskan : ”kezaliman (syirik)”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : ”kegelapan”.
Sebenarnya gelap atau kegelapan itu bukan zhulm (ظُلْم) melainkan zhulmah (ظُلْمَة) atau zhalam (ظَلاَم) atau zhulumat (ظُلُمَات). Namun keduanya sangat terkait erat. Sebab Nabi SAW pernah bersabda :
الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. (HR. Bukhari-Muslim)
Memang dalam bahasa Arab, kata zhulm (ظُلْم) dengan zhulmah (ظُلْمَة) sama-sama dibangun dari tiga huruf dasar, yaitu : (ظ – ل – م). Pola ini menyimpan kesan makna yang serupa, yaitu adanya sesuatu yang tidak jelas, tertutup, atau hilang dari tempat seharusnya.
Makna Yang Diinginkan
Kata azh-zhulm (الظُّلْم) di ayat ini seringkali dijadikan contoh betapa setiap kata dalam Al-Quran tidak selalu bermakna harfiyah. Seringkali Allah SWT menyebut sebuah istilah yang sudah amat sangat dikenal maknanya dalam keseharian, namun rupanya maksudnya berbeda lagi.
Abdullah bin Mas’ud menjelaskan dalam salah satu hadits yang beliau riwayatkan sendiri sebagai berikut :
أنَّ الآيَةَ لَمّا نَزَلَتْ شَقَّ ذَلِكَ عَلى الصَّحابَةِ رَضِيَ اللَّهُ تَعالى عَنْهم وقالُوا: أيُّنا لَمْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ فَقالَ ﷺ: لَيْسَ ما تَظُنُّونَ إنَّما هو ما قالَ لُقْمانُ عَلَيْهِ السَّلامُ لِابْنِهِ: ﴿يا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
Ketika ayat ini turun, hal itu terasa berat bagi para sahabat radhiyallahuanhum. Mereka berkata: ‘Siapa di antara kita yang tidak menzalimi dirinya sendiri?’ Maka Rasulullah SAW bersabda: ‘Bukan seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah sebagaimana ucapan Luqman alaihissalam kepada anaknya: “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu benar-benar kezaliman yang besar. (HR. Bukhari Muslim)
Hadits ini menceritakan keresahan sebagian shahabat nabi bahwa tidak ada orang yang dalam hidupnya tidak berlaku zalim, bahkan kepada diri sendiri. Maka jika syarat untuk aman dari adzab di hari akhir adalah iman dan tidak pernah berbuat kezaliman sedikitpun, pastinya tidak ada yang memenuhi syarat masuk surga. Oleh karena itu mereka pun bertanya kepada Nabi SAW tentang apa yang dimaksud bahwa keimanan itu tidak boleh bercampur dengan kezaliman.
Ternyata jawabannya melegakan hati mereka. Rupanya meski teks Al-Quran menyebut kata zhulm alias kezaliman, ternyata maksudnya bukan itu, tetapi kesyirikan. Maka yang akan disiksa dalam arti mati masuk neraka adalah mereka yang meski sudah beriman kepada Allah SWT namun masih tercampur-campur keimanan itu dengan praktek syirik, yaitu menyembah berhala dan dewa-dewa serta apapun yang dipertuhankan.
أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya : mereka itu. Kata lahum (لَهُمُ) artinya : bagi mereka, atau mereka mendapatkan. Kata al-amnu (الْأَمْنُ) artinya : keamanan. Yang dimaksud tentu bukan hanya sebatas rasa aman, tetapi aman yang sebenarnya dari siksa Allah SWT, baik di dunia dan khususnya di akhirat.
Secara lebih teknis, dikatakan bahwa mereka aman di akhirat maksudnya mereka tidak disiksa di dalam neraka, tidak dibakar dengan api yang menyala, tidak diadzab dengan berbagai macam jenis bentuk siksaan yang menyakitkan.
Sebaliknya, kaumnya Nabi Ibrahim yang tidak mau beriman kepada Allah SWT, ataupun jika memang beriman, tetapi mencampur-adukkan imannya itu dengan keyakinan adanya tuhan-tuhan lain selain Allah, apalagi sampai melakukan praktik syirik, maka hidup mereka ‘tidak aman’, dalam artian mereka nanti di akhirat akan menjadi penghuni neraka.
وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Kata wa-hum (وَهُمْ) artinya : dan mereka. Sebenarnyahuruf wawu berfungsi dengan ‘athaf yang menyambungkan dua kata atau dua kalimat, biasanya diterjemahkan menjadi : dan. Sedangkan dhamir hum (هُمْ) yang artinya : mereka, mengacu kepada orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan zhulm yaitu syirik menyekutukan Allah.
Kata muhtadun (مُهْتَدُونَ) artinya : orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Yang dimaksud dengan petunjuk adalah wahyu dari Allah, juga bisa dimaknai sebagai risalah samawi dari langit, yang ajarkan oleh para nabi dan rasul utusan. Risalah samawi ini dibawa turun oleh para malaikat, yang sumbernya dari Allah SWT, Tuhan semesta alam.