Kemenag RI 2019:Kami telah menganugerahkan kepadanya Ishaq dan Ya‘qub. Tiap-tiap mereka telah Kami beri petunjuk. Sebelumnya Kami telah menganugerahkan petunjuk kepada Nuh. (Kami juga menganugerahkan petunjuk) kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. Prof. Quraish Shihab:Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya‘qub. Semua telah Kami beri petunjuk. Dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian dari keturunannya, yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (muhsin). Prof. HAMKA:Dan telah Kami karuniakan kepada Ishaq dan Yaqub. Semuanya telah Kami beri petunjuk dan Nuh pun telah Kami beri petunjuk sebelumnya. Dan dari anak-cucunya ialah Dawud dan Sulaiman dan Ayyub dan Yusuf dan Musa dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.
Ayat ke-84 dan nantinya juga ayat-ayat berikutnya membicarakan pemberian Allah SWT kepada Nabi Ibrahim dalam bentuk yang lain.
Jika di ayat sebelumnya Allah SWT memberinya hujjah atau kemampuan untuk mengalahkan logika kaumnya dalam urusan teologi tauhid, maka di ayat ini Allah SWT memberi Nabi Ibrahim anugerah yang sulit dicarikan tandingannya, yaitu anak keturunan yang akan meneruskan ’legacy’ alias warisan dalam wujud meneruskan misi kenabiannya.
Sebagaimana kita tahu bahwa nabi Ibrahim bergelar sebagai abul-anbiya’ atau ayah dari para nabi sepanjang masa. Bahkan tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam, semuanya nabinya itu masih keturunan dari Nabi Ibrahim alaihissalam.
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ
Kata wa wahabna lahu (ووهبنا له) artinya : dan Kami anugerahkan baginya.
Huruf wawu (و) di awal ayat ini ada fungsinya, yaitu menyambungkan ayat ini dengan ayat sebelumnya. Maka ayat ini dan ayat sebelumnya merupakan satu kalimat yang satu, bukan dua kalimat yang berbeda.
Kata wahabna (وهبنا) merupakan kata kerja dalam bentuk fi'il madhi. Maknanya pemberian yang besar nilainya, oleh karena itu diterjemahkan menjadi anugerah.
Pelakunya adalah Allah SWT yang membahasakan dirinya dengan nahnu yang artinya Kami. Salah satu maknanya bahwa proses pemberian hibah itu melibatkan banyak pihak, sehingga layak menggunakan kata : Kami.
Huruf lahu (له) artinya : baginya atau untuknya. Dia yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Ibrahim sendiri.
Kata ishaq (إسحاق) merupakan nama serapan dari dari luar bahasa Arab. Banyak yang menyebut bahwa nama itu dari bahasa Ibrani.
Disebutkan bahwa dalam Bahasa Ibrani, kata ishaq itu berarti “tertawa” atau “ia akan tertawa atau tersenyum”, Karena terkait dengan kisah dalam kitab suci ketika Sarah, istri Nabi Ibrahim, tertawa mendengar kabar bahwa ia yang sudah tua akan melahirkan anak.
Salah satu nama Perdana Menteri Israel di masa lalu bernama :Yitsak Rabin. Konon dalam bahasa Arab disebut :Ishaq.
Dalam bahasa Arab, kata itu diserap menjadi إسحاق (Ishaq), dan tetap dipakai sebagai nama nabi dalam tradisi Islam. Maka tidak heran, tokoh Yahudi modern seperti Yitzhak Rabin atau Yitzhak Shamir, jika dibaca dalam bahasa Arab akan menjadi “Ishaq Rabin” atau “Ishaq Shamir”.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa anak Nabi Ibrahim yang bernama Ishaq ini sebenarnya bukan anak pertama. Sebab sebelumnya Nabi Ibrahim sudah mendapat anak dari Hajar, seorang budak wanita asal Mesir, yaitu putera pertama bernama Ismail.
Jika sudah mendapat anak pertama, lantas kenapa seolah mendapat anak kedua yaitu Ishaq seolah sebuah anugerah?
Jawabnya karena dilihat dari sisi keturunan, Ishaq itu lahir dari istri sah yang dinikahi Ibrahim lebih awal. Sedangkan Ismail lahir dari budak perempuan.
Keturunan Nabi Ibrahim bercabang dua: melalui Ismail (bangsa Arab, Nabi Muhammad SAW) dan melalui Ishaq (Bani Israil, para nabi dari Ya‘qub hingga Isa AS).
إِسْحَاقَ
Kata ishaq (إسحاق) merupakan nama serapan dari dari luar bahasa Arab. Banyak yang menyebut bahwa nama itu dari bahasa Ibrani. Yang berarti tertawa atau tersenyum. Konon hal itu karena Sarah, istri Nabi Ibrahim, tertawa mendengar kabar bahwa ia yang sudah tua tapi akan akan melahirkan anak. Meski kata ishaq (إسحاق) ini bukan dari bahasa Arab, namun nama ini terulang-ulang di dalam Al-Quran tidak kurang dari 16 kali.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa anak Nabi Ibrahim yang bernama Ishaq ini sebenarnya bukan anak pertama. Sebab sebelumnya Nabi Ibrahim sudah mendapat anak dari Hajar, seorang budak wanita asal Mesir, yaitu putera pertama bernama Ismail.
Jika sudah mendapat anak pertama, lantas kenapa seolah mendapat anak kedua yaitu Ishaq seolah sebuah anugerah?
Jawabnya karena dilihat dari sisi keturunan, Ishaq itu lahir dari istri sah yang dinikahi Ibrahim lebih awal. Sedangkan Ismail lahir dari budak perempuan.
Keturunan Nabi Ibrahim bercabang dua. Pertama : melalui anak pertama yaitu Nabi Ismail alaihissalam, yang kemudian dikenal sebagai bangsa Arab, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kedua, melalui anak kedua yaitu Nabi Ishaq, yang kemudian keturunan para nabi dan rasul, seperti Nabi Ya‘qub, Nabi Yusuf hingga Isa alihimussalam.
وَيَعْقُوبَ
Nabi Ya‘qub adalah cucu Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishaq alaihimussalam. Beliau dikenal juga dengan nama Israel, sehingga anak keturunannya disebut Bani Israil. Dalam Al-Qur’an, nama Nabi Ya‘qub disebut 16 kali berulang. Memiliki dua belas orang anak dari empat istri yang berbeda, yaitu Lea, Rahil, Bilha, dan Zilfa.
1.Dari istri pertama yaitu Lea, lahirlah Ruben (Reuben), Syam‘un (Simeon), Lewi (Levi), Yahudza (Yehuda/Judah), Yissakhar (Issachar) dan Zebulon. Sedangkan Dinah adalah satu-satunya anak perempuan.
2.Dari istri kedua yaitu Rahil, lahirlah Nabi Yusuf dan adiknya Bunyamin.
3.Dari istri ketiga yaitu Bilha, lahirlah Naftali.
4.Dari istri keempat yaitu Zilfa, lahirlah Gad dan Asyer (Asher),
Nabi Ya‘qub dikenal sebagai seorang ayah yang penuh kasih sayang, bijaksana, dan sabar dalam menghadapi berbagai ujian, termasuk ketika putranya, Nabi Yusuf alaihissalam, dipisahkan darinya selama bertahun-tahun.
Doa dan nasihat beliau kepada anak-anaknya menjadi teladan dalam pendidikan keluarga yang berlandaskan iman. Wafatnya Nabi Ya‘qub terjadi di tanah Mesir, dan sesuai wasiatnya, jenazah beliau dipindahkan ke Palestina untuk dimakamkan bersama para leluhur di Hebron, di samping makam Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq.
كُلًّا هَدَيْنَا
Kata kullan (كُلًّا) artinya : semua, maksudnya adalah Nabi Ishaq dan Nabi Ya’qub, termasuk juga Nabi Ibrahim sendiri. Kata hadaina (هَدَيْنَا) artinya : Kami memberinya hidayah.
Maksudnya bukan sekedar hidayah dalam arti petunjuk secara umum, melainkan petunjuk dalam arti wahyu samawi dalam arti risalah samawi dan kenabian.
Sebagaimana kita ketahui bahwa setidaknya ada empat jenis hidayah yang banyak disebutkan dalam Al-Quran.
1.Hidayah Umum (الهداية العامة) : yaitu petunjuk dalam arti umum, berupa naluri, akal, dan kemampuan dasar yang Allah berikan kepada setiap makhluk untuk mengenali jalan hidupnya. Misalnya, bayi yang secara naluri bisa menyusu kepada ibunya, atau manusia yang secara fitrah cenderung mencari kebenaran.
2.Hidayah Penjelasan dan Bimbingan (الهداية البيان والإرشاد), yaitu petunjuk berupa penjelasan dan bimbingan melalui wahyu, kitab suci, dan ajaran para rasul. Hidayah ini datang dari luar diri manusia, berupa informasi tentang mana jalan yang benar dan mana yang salah.
3.Hidayah Taufīq dan Ilham (الهداية التوفيق والإلهام), yaitu petunjuk berupa kemampuan hati untuk menerima kebenaran dan melaksanakannya. Ini adalah hidayah khusus dari Allah yang hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Tanpa hidayah taufiq, manusia bisa tahu kebenaran tapi tidak mampu menjalaninya.
4.Hidayah Risalah (الهداية الرسالة), yaitu bentuk hidayah paling tinggi, yang berupa pengangkatan seseorang menjadi nabi atau rasul serta diberi wahyu samawi. Inilah yang dimaksud Allah memberi hidayah kenabian kepada Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub.
وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ
Kata wa nuhan (وَنُوحًا) artinya : dan Nabi Nuh. Kata hadaina (هَدَيْنَا) artinya : Kami beri petunjuk. Maksudnya Allah SWT memberi kepada Nabi Nuh alaihissalam anugerah berupa wahyu, risalah samawi dan kenabian. Berdasarkan hitungan para ulama tafsir dan indeks Al-Qur’an, nama Nuh disebut 43 kali di berbagai surah Al-Qur’an bahkan ada satu surah khusus yang dinamai Surah Nuh, yaitu surah ke-71 yang menceritakan dakwah beliau secara ringkas namun padat.
Kata min qablu (مِنْ قَبْلُ) artinya : dari sebelumnya. Maksudnya jauh sebelum era kenabian Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, rupanya Allah SWT juga sudah mengutus Nabi Nuh alaihissalam. Meskipun Al-Quran tidak menyebutkan kapan waktunya dan dimana lokasinya.
Faktanya memang tidak ada konsensus sejarah tunggal tentang kapan tepatnya Nabi Nuh hidup atau lokasi persis peristiwa banjir universal. Yang ada hanya berupa asumsi, hipotesis, dan bukti arkeologis atau mitologis yang saling melengkapi atau saling bertentangan.
Hipotesis
Masa
Lokasi
Bukti
Black Sea deluge
~5600 SM
Laut Hitam — kenaikan permukaan dari Bosporus yang menggenangi cekungan
Data geologi/sedimen yang menunjukkan perubahan salinitas/masuknya air laut; hipotesis ini mengaitkan ingatan banjir besar dengan perubahan Laut Hitam.
Lapisan banjir Mesopotamia
3000–2500 SM)
Lembah Mesopotamia (situs seperti Shuruppak, Kish, Ur)
Arkeologi menunjukkan lapisan sedimen banjir besar pada beberapa situs; cocok dengan tradisi banjir Mesopotamia (Danaus, Gilgamesh)
Kronologi berbasis teks (tradisi Alkitab klasik — Ussher, dll.)
2348 SM
tidak spesifik; tradisi mengaitkan kawasan Levant / Mesopotamia / Ararat
Perhitungan dari silsilah Alkitab (tahun hidup tokoh) — metode teks-kronologis, bukan bukti arkeologi. Banyak sejarawan modern menganggapnya tidak dapat diverifikasi.
Gunung Ararat (popular)
-
Gunung Ararat Timur Turki
Tradisi Yahudi-Kristen kemudian menyebut “mountains of Ararat” → identifikasi medieval dengan massif Ararat; ekspedisi dan klaim lokasi.
Gunung Judi
-
Gunung Judi / Cudi (Turki)
Ibn Mas'udi, Yaqut al-Hamawi dan tradisi lokal menyebut bukti tempat pendaratan; pengidentifikasian bersifat historis-tradisional, bukan bukti ilmiah. (Wikipedia)
Kisah Nuh dan banjir adalah inti tradisi keagamaan, baik dalam Al-Qur’an, Alkitab, atau pun epik Mesopotamia. Para ilmuwan modern menanyakan apakah ada peristiwa geologis atau arkeologis yang mungkin menjadi sumber ingatan kolektif itu. Hasilnya bahwa bukti arkeologis lebih mendukung kejadian banjir lokal besar berulang daripada satu banjir global yang menutupi seluruh bumi.
وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ
Kata wa-min dzurriyatihi (وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ) artinya : dan dari keturunannya, yaitu keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam.
Nabi Daudalaihisalam adalah salah seorang nabi dan rasul Allah yang sangat masyhur dalam sejarah Bani Israil. Dalam Al-Qur’an, nama Daud disebut 16 kali terulang-ulang.
Beliau adalah keturunan Nabi Ya‘qubalaihisalam dari jalur Yahuda, sehingga termasuk dalam kabilah yang nantinya menjadi leluhur para raja Bani Israil. Nabi Ibrahim diperkirakan hidup sekitar 2000 hinga 1800 sebelum Masehi. Memang ada banyak versi, namun inilah yang paling sering disebutkan.
Sedangkan Nabi Daud diperkirakan hidup sekitar 1000 tahun sebelum Masehi, yaitu pada masa kerajaan Israel kuno, menurut arkeologi dan catatan Yahudi. Jika perhitungan ini dijadikan patokan, maka jarak antara Nabi Ibrahim dan Nabi Daud sekitar 800–1000 tahun.
Namun sekali lagi angka ini bukan data mutlak, karena kronologi para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW banyak bersumber dari riwayat Isra’iliyyat, tafsir klasik, dan tradisi Yahudi-Kristen.
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menerima perkiraan bahwa memang ada jarak berabad-abad antara Ibrahim dan Daud, tidak dalam hitungan dekat.
Selain sebagai nabi kisah Beliau juga dimuat dalam posisi sebagai anak gembala yang ikut perang, hingga sampai menjadi raja, yang diberi anugerah istimewa berupa kerajaan yang kuat, ilmu yang luas, serta suara yang merdu.
Allah mengaruniakan kepadanya kitab suci Zabur, yang diwahyukan sebagai pedoman rohani bagi kaumnya. Salah satu keutamaan Nabi Daud adalah suaranya yang indah ketika membaca doa dan pujian kepada Allah. Al-Qur’an menggambarkan bahwa gunung-gunung dan burung-burung ikut bertasbih bersamanya, menunjukkan betapa luar biasanya pengaruh bacaan beliau.
Selain itu, Nabi Daud juga dianugerahi kemampuan khusus dalam bidang militer dan teknologi. Beliau dikenal pandai membuat baju besi, yang saat itu menjadi perlengkapan perang penting. Allah mengajarkan kepadanya seni melembutkan besi sehingga bisa dijadikan pelindung yang efektif dalam peperangan.
Nabi Daud juga dikenal sebagai seorang ahli ibadah. Beliau sangat rajin berpuasa, bahkan Rasulullah SAW menyebut puasa Nabi Daud sebagai puasa yang paling utama, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari. Beliau juga banyak beribadah di malam hari, memuji dan memohon ampun kepada Allah.
وَسُلَيْمَانَ
Nama Sulaiman di dalam Al-Quran terulang hingga 17 kali. Sosoknya sebagai raja, nabi, hakim, sekaligus hamba Allah yang bersyukur. Beliau bukan hanya simbol kejayaan dunia, tetapi juga teladan dalam menggunakan kekuasaan untuk menegakkan tauhid dan keadilan.
Teks Ayat
Allah memberi pemahaman khusus kepada Sulaiman dalam perkara hukum yang diuji.
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ
Al-Anbiya: 79
Sulaiman mewarisi Daud, diberi ilmu dan kemampuan luar biasa.
وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُودَ
An-Naml: 16
Sulaiman tersenyum mendengar perkataan semut, lalu berdoa agar tetap bersyukur.
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا
An-Naml: 19
Sulaiman menguji laporan burung Hud-hud tentang negeri Saba’.
Setan pekerja bangunan dan penyelam ditundukkan untuk Sulaiman.
وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ
Shad: 37
وَأَيُّوبَ
Nabi Ayyubalaihisalam adalah salah satu nabi yang kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai teladan kesabaran. Namanya disebut sebanyak empat kali, yaitu dalam surat An-Nisa’ ayat 163, Al-An’am ayat 84, Al-Anbiya’ ayat 83, dan Shad ayat 41. Dua ayat terakhir menceritakan secara lebih rinci tentang ujian berat yang beliau alami.
Menurut silsilah, Ayyubmasih keturunan Nabi Ishaqmelalui jalur ‘Ish, saudara Ya‘qub, sehingga ia masih termasuk keturunan Nabi Ibrahimalaihimussalam.
Kehidupan Nabi Ayyub diwarnai dengan ujian yang luar biasa. Ia kehilangan harta benda, anak-anaknya, dan menderita sakit parah bertahun-tahun lamanya. Namun dalam keadaan itu, ia tetap teguh, tidak pernah berhenti berdoa, dan tidak sekali pun mengeluh kepada Allah.
Al-Qur’an memang tidak menyebutkan secara jelas kapan masa hidup Nabi Ayyub. Namun para sejarawan Muslim klasik seperti Ibnu Katsir menegaskan bahwa ia hidup setelah Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya‘qub.
Penelitian modern memperkirakan masanya berada sekitar tahun 1500–1200 SM, meski angka ini tentu saja bukan kepastian sejarah melainkan hanya perkiraan berdasarkan silsilah.
Tentang lokasi kehidupannya, terdapat beberapa pendapat. Sebagian besar mufasir dan ahli sejarah menyebut bahwa Ayyub tinggal di kawasan Hauran di Syam, yang kini mencakup wilayah Suriah selatan dan Yordania utara. Ada juga yang menyebut Bashrah di Irak sebagai tempat tinggalnya, bahkan tradisi lokal di Turki memiliki makam yang dinisbatkan kepadanya.
Dari semua riwayat itu, gambaran yang paling kuat adalah bahwa Nabi Ayyub hidup di wilayah Syam dan menjadi simbol teladan kesabaran.
وَيُوسُفَ
Nabi Yusuf di dalam Al-Quran sangat unik, yaitu kisahnya tertulis sangat lengkap, sejak masih kecil hingga jadi raja. Namanya terulang dalam Al-Quran hingga 27 kali, dimana secara khusus kisahnya berada dalam satu surat utuh bernama Surat Yusuf berjumlah 111 ayat. Sementara kisah para nabi yang lain hanya dituturkan secara terpotong-potong dan tersebar di berbagai surat.
Keunikan lain dari kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran adalah lika-liku perjalanan hidupnya. Sejak kecil, ia sudah menghadapi rasa iri dan dengki dari saudara-saudaranya sendiri yang kemudian membuangnya ke dalam sumur. Setelah itu, ia dijual sebagai budak dan hidup di negeri asing.
Di Mesir, ia menghadapi fitnah besar ketika digoda oleh istri Al-‘Aziz dan akhirnya dipenjara meskipun tidak bersalah. Namun justru dari penjara itulah Allah membukakan jalan baginya untuk meraih kedudukan tinggi, karena kepandaiannya dalam menakwilkan mimpi. Dengan izin Allah, ia diangkat menjadi penguasa Mesir yang mengelola perbendaharaan negara dan menyelamatkan banyak orang dari bencana kelaparan.
Semua lika-liku ini tidak sekadar kisah sejarah, melainkan sarat dengan pelajaran moral dan spiritual. Dari kisah Nabi Yusuf, kita belajar tentang kesabaran menghadapi pengkhianatan, kekuatan iman dalam menahan godaan, serta pentingnya memaafkan dan berlapang dada, sebagaimana ketika ia memaafkan saudara-saudaranya yang dahulu berbuat aniaya kepadanya.
Keunikan lainnya adalah Nabi Yusuf ditempatkan setelah Nabi Ayyub dan sebelum Nabi Musa dan Harun, padahal secara silsilah dan sejarah kehidupan, Yusuf hidup sebelum Ayyub.
وَمُوسَىٰ
Nama Musa adalah nama yang paling populer dalam Al-Quran, terulang-ulang namanya hingga 136 kali. Kalau kita kumpulkan semua ayat yang secara langsung menyebut atau membahas kisah Nabi Musa, jumlahnya menurut perkiraan Penulis tidak kurang dari 200-an ayat. Jumlah ini melebihi ayat terkait Nabi Yusuf yang hanya 111 ayat saja.
Ada banyak ayat yang menceritakan tentang kelahiran, masa kecil, mukjizat tongkat dan tangan bercahaya, pertemuan dengan Fir‘aun, pembebasan Bani Israil, penyeberangan Laut Merah, wahyu Taurat, ujian di padang pasir, dan interaksi dengan kaumnya.
Salah satu hikmah utama kenapa nama Nabi Musa muncul berkali-kali dalam Al-Qur’an adalah karena Al-Qur’an diturunkan tidak hanya untuk bangsa Arab pada masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk Bani Israil, umatnya Nabi Musa, yang waktu itu masih banyak jumlahnya baik di Madinah ataupun di berbagai belahan bumi.
Al-Quran bahkan menyapa mereka dalam banyak ayat dengan sebutan-sebutan khas, antara lain :
§ya bani israil (ياَ بَنِي إسْرَائِيل) : disebutkan sebanyak 41 kali dalam 40 ayat.
§ya ahlal kitab (يَا أَهْلَ الكِتَاب) : disebutkan sebanyak 31 kali dalam 9 surat.
§ya ayyuhalladzina hadu (ياَ أَيُّهَا الَّذِينَ هَادُوا) : disebutkan sebanyak 10 kali dalam 9 ayat.
Musa menerima kitab suci Taurat yang sepanjang masa menjadi hukum Allah SWT. Semua nabi dan rasul yang hidup setelah masa Musa, diwajikan menjalankan hukum Taurat.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah. (QS. Al-Maidah : 44)
Bahkan termasuk juga Nabi Isa alaihisalam pun diwajibkan menjalankan Taurat. Malah Allah SWT secara khusus mengajarkan Taurat kepada Nabi Isa.
Dia (Allah) mengajarkan kepadanya (Isa) kitab, hikmah, Taurat, dan Injil. (QS. Ali Imran : 48)
Bisa disimpulkan bahwa masa berlakunya kitab Taurat ini membentang hingga masa kenabian Muhammad SAW. Dan di masa kenabian Muhammad SAW, Beliau juga sempat diwajibkan menjalankan isi Taurat, lewat bantuan para ahli kitab di masa itu.
Sebab ketika Nabi SAW baru saja tiba di Madinah, belum semua ayat-ayat hukum dalam Al-Quran diturunkan. Bahkan tercatat Beliau SAW dan para shahabat shalat menghadap Baitul Maqdis, berpuasa sesuai ajaran Musa tanggal 10 Muharram, juga berpuasa dan shalat malam sesuai ajaran Nabi Daud.
Al-Quran sendiri mengancam siapa saja yang tidak berhukum kepada hukum yang Allah SWT turunkan, yaitu Taurat, maka diancam dengan tiga status, yaitu : Pertama : kafir (فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) QS. Al-Maidah : 44. Kedua : zhalim (فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ) QS. Al-Maidah : 45. Ketiga : fasik (فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ) QS. Al-Maidah : 47.
وَهَارُونَ
Nabi Harunadalah saudara Nabi Musaalaihimassalam sekaligus pendamping beliau dalam menyampaikan risalah Allah kepada Bani Israil. Harun dilahirkan dari keturunan Nabi Ya’qubalaihisalam, dan bersama Musa menghadapi Fir‘aun yang menindas kaum Bani Israil.
Sebagai nabi, Harun diberikan peran khusus dalam mendampingi Musa dalam misi kenabian dan menyampaikan ajaran Tauhid. Ia dikenal karena kesabaran, kebijaksanaan, dan keteguhannya dalam menegakkan perintah Allah di tengah tekanan dan ancaman Fir‘aun serta kaumnya yang sering berbuat durhaka. Nabi Harun juga menjadi penengah dan pemimpin ketika Musa menerima wahyu di Gunung Tursina, dan dipercaya untuk menjaga kestabilan umat selama Musa tidak berada di tengah mereka.
Nama Harun disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 20 kali, sering kali bersama Musa, menekankan peran pentingnya sebagai pendamping dan penolong dalam dakwah. Kisah beliau mengajarkan tentang kerjasama, kesabaran, dan kepemimpinan yang berbasis pada wahyu Allah, serta pentingnya bersikap tegas namun bijaksana dalam menghadapi umat yang sulit diatur.
Perkiraan masa hidup Nabi Harun bertepatan dengan masa Musa, yaitu sekitar abad ke-13 hingga ke-12 SM, di Mesir dan wilayah padang gurun Sinai.
وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Kata wa kadzalika (كَذَٰلِكَ) artinya “dan demikianlah” atau “dan begitulah”, menandakan sebuah cara, hukum, atau prinsip dari Allah SWT yang berlaku secara konsisten.
Kata najzi (نَجْزِي) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’. Berasal dari kata jaza’ (جزاء) yang berarti “Kami memberi balasan” atau “Kami membalas”. Kata ini menekankan bahwa Allah SWT memberikan balasan yang setimpal, sempurna, dan adil.
Kata al-muhsinin (الْمُحْسِنِينَ) adalah bentuk jamak dari muhsin, yang berarti orang-orang yang berbuat kebaikan dengan penuh kesungguhan, ikhlas, dan mengikuti petunjuk Allah. Dalam konteks ini, bukan sekadar amal lahiriah, tetapi amal yang dibarengi niat yang benar dan sesuai dengan syariat Allah.
Penggalan ini menutup kisah para nabi dan mukjizat mereka, atau ayat-ayat yang menekankan kebaikan dan kesabaran hamba-hamba Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal baik seseorang, baik berupa iman, kesabaran, kepatuhan kepada perintah Allah, maupun amal perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain.