| ◀ | Jilid : 14 Juz : 7 | Al-Anam : 85 | ▶ |
وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ
Kemenag RI 2019: (Demikian juga kepada) Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh.| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Di ayat ini kita cermati nampaknya yang disebutkan adalah para nabi yang masih juga keturunan Nabi Ibrahim juga, tetapi secara timeline mereka hidup sudah di akhir, yaitu agak sedikit mendekati masa Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah Nabi Zakariya, Yahya, Isa dan Ilyas. Allah SWT menyebut mereka sebagai orang-orang yang shalihin.
وَزَكَرِيَّا
Nabi Zakariya hidup pada masa menjelang kelahiran Nabi Isa alaihissalam, kira-kira sekitar abad pertama sebelum Masehi, di wilayah Palestina. Ia adalah seorang nabi dari Bani Israil sekaligus seorang imam di Baitul Maqdis.
Keistimewaannya adalah ketekunan ibadahnya dan doa panjangnya kepada Allah agar dikaruniai keturunan meskipun usianya sudah lanjut dan istrinya mandul. Doa itu dikabulkan dengan lahirnya Yahya.
Hubungan Nabi Zakariya dengan Nabi Isa sebagai paman dan keponakan. Urutannya bahwa Ibunda Nabi Isa adalah Maryam binti Imran. Maryam sendiri sudah punya kakak perempuan bernama Isha’ binti Imran.
Sang kakak menikah dengan Nabi Zakariya. Maka bisa dikatakan bahwa Maryam adalah adik iparnya Nabi Zakariya. Namun sejak masih bayi, Maryam sudah diserahkan untuk jadi pelayan di Baitul Maqdis, yang diasuh oleh abang iparnya yaitu Nabi Zakariya.
وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا
“Dan Zakariya yang mengasuhnya (Maryam).” (QS. Ali Imran: 37)
Suatu ketika nanti Maryam dianugerai putera, yaitu Nabi Isa alaihissalam. Maka Nabi Isa itu adalah keponakan Nabi Zakariya.
Dari pernikahan dengan Isha’ binti Imran itu Nabi Zakariya lama tidak punya anak, sehingga Isha’ sampai usia lanjut, sudah jadi nenek-nenek dan tua renta. Kemudian akhirnya Allah SWT menganugerahi pasangan itu anak laki-laki yang bernama Yahya. Maka Yahya itu sepupuan dengan Nabi Isa.
Nabi Zakariya Menentang Perilaku Menyimpang
Al-Qur’an tidak menyebutkan secara eksplisit bagaimana Nabi Zakariya wafat. Beliau hanya digambarkan sebagai nabi yang berdoa memohon keturunan, lalu lahirlah Yahya, dan bahwa beliau termasuk orang-orang shalih. Namun, dalam banyak kitab tafsir dan riwayat Israiliyyat yaitu kisah dari tradisi Yahudi-Kristen yang masuk ke tafsir, terdapat cerita bahwa Nabi Zakariya dibunuh secara kejam.
Nabi Zakariya dianggap menghalangi para penguasa zalim. Mereka itu sebenarnya masih termasuk keturunan dari Bani Israil, bahkan mereka adalah pemeluk Yahudi. Mereka adalah raja lokal pemeluk Yahudi, namun posisinya sebenarnya adalah raja boneka di bawah Romawi.
Para penguasa lokal Yahudi ini ingin melakukan dosa besar, terutama terkait hubungan dengan wanita yang haram dinikahi, mirip kasus anaknya, Yahya. Karena itu Zakariya dipandang sebagai musuh politik dan agama. Maka Nabi Zakariya menyeru Bani Israil agar mematuhi Taurat dengan benar, tidak terkecuali para penguasa lokal mereka. Toh mereka itu ahli kitab, sudah seharusnya taat dan tunduk kepada Taurat.
Nabi Zakariya menolak berkompromi dengan penguasa yang melanggar hukum Allah. Beliau sudah sejak awal menentang pernikahan haram Herodes dengan Herodias. Nabi Zakariya menasihati rakyat agar menjauhi maksiat, riba, dan perbuatan zalim lainnya, termasuk agar rakyat tidak tunduk pada penguasa yang menindas.
Namun dalam konteks politik, ini dianggap mengguncang otoritas raja dan norma istana, sehingga Zakariya dipandang sebagai musuh. Bagi penguasa zalim, sikap Nabi Zakariya ini dianggap mengancam stabilitas kekuasaan, karena rakyat mulai mempertanyakan keputusan raja.
Ketegasan Zakariya dalam menegakkan agama dianggap menghalangi kebebasan raja untuk menguasai ritual atau politik keagamaan di Bait Suci. Secara keseluruhan, Zakariya dianggap tokoh moral yang tidak kompromi, sehingga penguasa zalim menilai beliau sebagai ancaman yang harus dibunuh. Maka pasukan kerajaan dikerahkan untuk menghabisi nyawa Beliau.
Nabi Zakariya Dibunuh
Disebutkan dalam riwayat israliyat bahwa ketika pasukan hendak menangkapnya, Nabi Zakariya lari ke sebuah kebun. Allah membelah sebuah pohon, lalu beliau masuk ke dalamnya untuk bersembunyi. Namun setan menunjukkan tempatnya dengan membiarkan ujung jubah beliau menjuntai keluar.
Raja memerintahkan tentaranya menebang pohon itu dengan gergaji hingga tubuh Nabi Zakariya terbelah dua bersama batang pohon.
Yang membunuh Nabi Zakariya adalah satu rezim yang sama yang kemudian juga nantinya membunuh puteranya, Nabi Yahya, karena keduanya dianggap penghalang bagi hawa nafsu raja.
وَيَحْيَىٰ
Nabi Yahya adalah anak laki-laki dari Nabi Zakariya. Di dalam surat Maryam diceritakan bagaimana Nabi Zakariya berdoa siang malam untuk bisa mendapatkan putera. Namun doanya lama tidak terkabul, sehingga Nabi Zakariya menua bersama istrinya, Isha’ binti Imran.
Secara logika dan medis, nampaknya tidak mungkin lagi bagi Isha’ binti Imran untuk hamil dan punya anak. Keduanya adalah pasangan manula, sebagaimana Allah SWT ceritakan.
كهيعص ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Kaaf Haa Yaa ´Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.. Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”.
وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ ۖ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا
“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya´qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.
Maka Allah SWT akhirnya mengabulkan doa terlama dan terpanjang dari seorang nabi yang jadi utusannya itu. Maka lahirnya Nabi Yahya alaihissalam.
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Nabi Yahya hidup sebidang zaman dengan Nabi Isa, bahkan disebut hanya sedikit lebih tua dari Isa. Yahya tumbuh di Palestina, dikenal sebagai sosok yang zuhud, penuh hikmah sejak kecil, dan berani menegakkan kebenaran.
Nabi Yahya menyeru kepada Bani Israil agar kembali ke jalan Allah, menjauhi kemaksiatan, dan mematuhi Taurat dengan benar. Beliau sangat tegas menolak pernikahan tidak sah antara Raja Herodes dengan wanita bernama Herodias. Herodias ini istri orang, yaitu istri dari saudara Herodes. Menurut sebagian riwayat, Herodias adalah ibu tirinya sendiri alias istri ayahnya.
Buat kita kalau membaca prilaku tidak punya akhlak ini rasanya tabu dan muak. Namun praktik pernikahan yang menyimpang seperti itu memang sering terjadi di kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan di dunia kuno, termasuk di wilayah kekuasaan Romawi.
Keluarga Herodes terkenal dengan intrik keluarga: menikahi kerabat dekat, bahkan ipar atau istri saudara, untuk menjaga kekuasaan tetap berada dalam lingkaran dinasti. Dalam sejarah Romawi yang lebih luas, praktik menikahi sepupu, keponakan, bahkan kadang ipar, dianggap lumrah untuk memperkuat garis keturunan dan mengendalikan harta. Bahkan di Mesir kuno, tradisi menikahi saudara kandung seperti kakak-adik dilakukan agar garis keturunan “tetap murni”.
Herodes sendiri adalah raja boneka yang diangkat Romawi. Ia terbiasa menuruti adat Romawi yang longgar terhadap pernikahan. Dalam tradisi Romawi-Yunani, perkawinan dalam lingkaran keluarga tidak terlalu tabu, apalagi bila ada kepentingan politik.
Namun dalam hukum samawi yang diajarkan para nabi dan rasul, tentu saja pernikahan semacam itu melanggar hukum Taurat. Maka sebagai seorang nabi yang diwajibkan menjalankan Taurat, Nabi Yahya mengutuk keras pernikahan ini di hadapan rakyat.
Hal inilah yang memicu kebencian Herodias. Sebab bagi kalangan istana, praktik pernikahan sedarah atau mengawini istri orang dianggap wajar, tapi Yahya menentangnya di hadapan rakyat banyak. Itu membuat mereka malu dan marah.
Herodias menaruh dendam besar. Ia mendorong agar Yahya dibunuh. Ada riwayat yang menyebut Herodias atau anaknya meminta kepada raja agar menghadirkan kepala Nabi Yahya di atas nampan. Maka raja karena terikat janji dan gengsi, memerintahkan eksekusi Yahya.
Versi Sejarah Kristen (Injil Perjanjian Baru)
Yang menarik bahwa dalam versi Kristen pun kisahnya sejalan. Dalam Injil Matius (14:1–12), Markus (6:17–29), dan Lukas (3:19–20) dituliskan bahwa Nabi Yahya (disebut dengan Yohanes Pembaptis atau John the Baptist) menegur Herodes Antipas, karena ia menikahi Herodias, yang mana dia adalah istri saudaranya, Herodes Filipus.
Herodias sangat marah kepada Yohanes karena teguran itu, dan ingin membunuhnya. Namun Herodes masih ragu-ragu, sebab ia tahu Yohanes adalah orang suci. Maka Yohanes dimasukkan ke penjara.
Pada pesta ulang tahun Herodes, putri Herodias (dalam tradisi dikenal sebagai Salome) menari dengan indah sehingga Herodes terpesona. Herodes bersumpah akan memberikan apa saja yang dimintanya. Maka atas hasutan ibunya (Herodias), gadis itu meminta agar diberikanlah kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah talam. Herodes sebenarnya sedih, tapi karena sudah bersumpah di depan tamu-tamunya, ia tidak bisa menolak. Maka ia memerintahkan agar Yohanes dipenggal di penjara. Kepala Nabi Yahya atau Yohanes kemudian dibawa di atas nampan dan diserahkan kepada gadis itu, lalu diberikan kepada ibunya.
وَعِيسَىٰ
Sudah disebut sebelumnya hubungan antara Nabi Isa alaihissalam dengan nabi Zakariya dan nabi Yahya. Mereka bertiga masih satu kelurga, yaitu keluarga Imran, dimana Al-Quran menamakan surat ketiga dengan nama surat Ali Imran.
Nabi Isa sendiri lahir secara mukjizat tanpa ayah, dari rahim Maryam binti Imran di Bethlehem (Palestina). Sejak masih kecil sudah nampak mukjizatnya, yaitu sudah berbicara.
فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا
Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" (QS. Maryam : 29)
Selain itu Beliau diberi mukjizat bisa membuat burung dari tanah lalu meniupnya sehingga menjadi burung betulan. Beliau juga bisa menyembuhkan orang buta dan penderita lepra, bahkan menghidupkan orang mati, dengan izin Allah SWT.
أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّهِ
Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah. (QS. Ali Imran : 49)
Upaya Pembunuhan Nabi Isa
Kisah Nabi Isa pun tidak kalah tragisnya dengan sang paman, Nabi Zakariya dan sepupunya, Nabi Yahya. Beliau pun dikejar-kejar oleh penguasa lokal yang beragama Yahudi, namun juga dibackingi oleh penguasa Romawi.
Singkatnya, Nabi Isa sebagai nabi utusan Allah SWT yang diwajibkan menegakkan hukum Allah SWT di dalam Taurat, ternyata harus berhadapan dengan para ahli kitab dari kalangan Bani Israil sendiri. Para penguasa lokal di Baitul Maqdis ini ternyata adalah orang-orang Yahudi, mereka masih dari kalangan Bani Israil juga.
Lalu bagaimana mereka bisa sampai membunuh Nabi Zakariya, Nabi Yahya dan juga mau membunuh Nabi Isa?
Jawabannya karena para ahli kitab yahudi ini memang sudah terlalu jauh menyimpang dari ajaran Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa. Mereka membanggakan diri sebagai ahli kitab, tetapi dalam kenyataannya, kitabullah itu mereka injak-injak dan mereka buang. Bahkan ketika Allah SWT mengutus para nabi kepada mereka, alih-alih mereka imani, justru mereka bunuhi satu per satu.
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى الْكِتَٰبَ وَقَفَّيْنَا مِن بَعْدِهِۦ بِالرُّسُلِ وَءَاتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَٰتِ وَأَيَّدْنَٰهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَآءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰٓ أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami telah mengutus sesudahnya beberapa rasul. Dan Kami telah memberikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami menguatkannya dengan Ruhul Qudus. Maka mengapa apabila datang kepada kalian seorang rasul dengan membawa apa yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, kalian menyombongkan diri? Maka sebagian dari mereka kalian dustakan dan sebagian yang lain kalian bunuh.” (QS. Al-Baqarah :87)
Berbeda dengan kedua pendahulunya, Al-Quran kemudian menceritakan bahwa upaya pembunuhan Nabi Isa alaihissalam tidak berhasil. Beliau tidak mati dibunuh dan tidak mati disalib, tetapi diselamatkan oleh Allah SWT.
Namun begitu skenarionya memang dibuat unik, yaitu biarkan saja mereka mengira sudah berhasil membunuhnya, biar dianggap sudah selesai usaha mereka dan berhasil. Walaupun sebenarnya tidak.
Mungkin muncul pertanyaan lagi, kalau memang Nabi Isa diselamatkan dan tidak dibunuh, Beliau diangkat ke sisi Allah SWT, lantas apa bedanya? Toh, keberadaan Nabi Isa sendiri sama-sama sudah selesai di dunia?
Para penguasa boleh mengira Nabi Isa sudah tiada dan biang keladi keonaran dianggap sudah dihabisi. Mereka mengira bahwa dengan dibunuhnya sang pemimpin, ajarannya ikut terkubur juga. Ternyata tidak demikian skenarionya.
Murid-murid Nabi Isa yang dikenal dengan sebutan hawariyun tetap berjalan dalam dakwahnya. Dengan ’seakan-akan’ sudah wafat, para murid mendapat jeda keamanan untuk melanjutkan risalah. Ini membuat dakwah tetap hidup meski dalam situasi yang menekan, karena lawan percaya misi sudah selesai.
Penyimpangan Ajaran Nabi Isa
Sayangnya lapisan generasi penerus ajaran Nabi Isa pada lapis-lapis berikutnya tidak sekuat generasi pertama. Lambat laun mulai terjadi pembusukan-pembusukan.
Setelah berhasil berkamuflase dengan sedemikian cantiknya, akhirnya ajaran Nabi Isa mulai banyak dikenal masyarakat. Kamuflase yang dilakukan adalah mengawinkan ajaran monoteis asli bawaan agama samawi dengan ajaran politeis masyarakat paganis penyembah banyak tuhan. Perkawinannya lewat apa yang Penulis istilahkan dengan : ’dialektika ketuhanan’.
Dialektika ketuhanan yang Penulis maksud pada dasarnya adalah sinkretisme, yaitu pencampuran ajaran monoteisme asli Nabi Isa dengan unsur paganisme politeis yang berkembang di masyarakat Romawi dan Yunani.
Ajaran Isa yang asli menekankan keesaan Allah Tauhid, moralitas, dan kepatuhan pada hukum Allah. Murid-murid awal yaitu para Hawariyyun menyebarkan ajaran ini secara hati-hati dan benar, sesuai dengan wahyu dan pengajaran langsung dari Isa.
Saat ajaran mulai meluas, ia masuk ke wilayah Romawi, Yunani, dan Mesir, di mana masyarakat politeis menyembah banyak tuhan dan filosofi pagan sangat kuat, maka nilai, simbol, dan ritual masyarakat ini kemudian ’dikomunikasikan’ dengan ajaran Isa dalam proses akulturasi.
Itulah ’dialektika ketuhanan’ yang seutuhnya merupakan proses argumentasi dan penyesuaian konsep ketuhanan agar ajaran monoteis dapat diterima oleh masyarakat pagan. Bentuk teknisnya seperti yang sering kita dengar dari khotban para pendeta Nasrani yaitu mereka menafsirkan Isa sebagai anak Tuhan atau manifestasi ilahi, agar selaras dengan konsep dewa-dewi Romawi yang bersifat antropomorfik.
Kemudian mereka gabungkan ritual dan simbol pagan dengan liturgi Kristen awal, seperti penggunaan hari-hari suci tertentu atau ikon-ikon religius. Tujuannya agar ajaran tetap bisa hidup di masyarakat baru.
Untuk sementara waktu, pendekatan ’safe-mode’ nampaknya cukup berhasil. Buktinya ajarah Kristen kemudian diterima secara luas di Kerajaan Romawi bahkan hingga merata ke semua daratan dari Benua Eropa.
Setelah diterima di pusat-pusat Romawi seperti Roma, Konstantinopel, dan Alexandria, ajaran ini menyebar ke seluruh wilayah Eropa, baik melalui misi, perdagangan, maupun pengaruh politik. Bahkan Kaisar Konstantinus pada abad ke-4 Masehi menjadikan Kristen agama resmi Kerajaan Romawi, yang memperkuat penyebarannya.
Awalnya pendekatan ’safe-mode’ bertujuan untuk melindungi ajaran monoteis asli dan pengikutnya dari ancaman nyata, bukan untuk mengubah inti ajaran. Namun seiring dengan berjalannya waktu, unsur kompromi dengan budaya pagan, seperti konsep antropomorfik, Tritunggal, atau ritual sinkretis, dianggap bagian dari ajaran resmi, bukan hanya alat sementara.
Strategi ini memunculkan interpretasi baru yang menyimpang dari prinsip tauhid Isa yang sebenarnya. Alih-alih fokus pada ajaran Tauhid dan moralitas, generasi penerus lebih menekankan ritual, simbol, dan dogma yang disesuaikan dengan budaya Romawi.
Ajaran yang awalnya murni menjadi tercampur dengan unsur pagan dan politik, sehingga monoteisme Isa menjadi kabur atau tersamarkan. Murid-murid awal yang setia menekankan ajaran asli tidak lagi menjadi pengaruh utama. Agama baru berkembang menjadi institusi besar yang berbeda dari misi asli Nabi Isa.
وَإِلْيَاسَ
Adapun Nabi Ilyas alaihissalam hidup lebih jauh ke belakang dibanding tiga nabi sebelumnya. Beliau diperkirakan hidup sekitar abad ke-9 SM, di wilayah utara Palestina, yaitu kerajaan Israel kuno. Beliau hidup di tengah-tengah kaum yang menyembah berhala bernama Baal.
Keistimewaannya adalah keberanian menghadapi kekuasaan Raja Ahab dan istrinya Izebel yang memaksakan penyembahan berhala kepada rakyat. Konfliknya sangat berat karena ia ditolak, dikejar, bahkan nyaris dibunuh oleh penguasa yang durhaka itu.
Walaupun tidak memiliki hubungan darah langsung dengan Zakariya, Yahya, dan Isa, tetapi mereka sama-sama berasal dari Bani Israil satu rumpun keturunan Nabi Ibrahim melalui jalur Ishaq dan Ya‘qub.
وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تَتَّقُونَ أَتَدْعُونَ بَعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ
Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: "Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba´l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?" Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (yaitu): "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?"
كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ
Kata kullun (كُلٌّ) artinya : semuanya, maksudnya nabi-nabi yang disebutkan di ayat ini, yaitu Nabi Zakariya, Nabi Yahya, Nabi Isa dan Nabi Ilyas. Kata minash-shalihin (مِنَ الصَّالِحِينَ) artinya termasuk dari kalangan orang-orang yang shalih pada zamannya masing-masing.
Kata ini berasal dari tiga huruf dasarnya yaitu (ص ل ح) yang secara bahasa berarti: baik, benar, sesuai, lurus. Jadi ash-shalihin (الصَّالِحِينَ) secara bahasa berarti orang-orang yang baik, lurus, atau yang melakukan kebaikan. Dalam Al-Quran banyak disebutkan iman dan amal shalih sebagai tuntunan Allah. Orang yang beramal shalih itu adalah ash-shalihin (الصَّالِحِينَ).