Kemenag RI 2019:Mereka (Bani Israil) tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang menurunkan kitab suci (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Kamu (Bani Israil) menjadikannya lembaran-lembaran lepas. Kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah.” Kemudian, biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. ) Prof. Quraish Shihab:Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Nabi Muhammad saw.), “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia? Kamu menjadikannya lembaran-lembaran kertas (yang bercerai-berai); sebagian kamu perlihatkan, dan banyak yang kamu sembunyikan. Dan telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan nenek moyangmu tidak mengetahuinya.” Katakanlah, “Allah (yang menurunkannya).” Kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan mereka. Prof. HAMKA:Dan tidaklah mereka menilai Allah dengan sebenar-benar penilaian ketika mereka berkata, "Tidakkah Allah menurunkan sesuatu kepada manusia." Katakanlah, "Siapakah yang telah menurunkan kitab yang telah dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia yang kamu jadikan kertas-kertas, kamu terangkan akan dia dan kamu sembunyikan yang lebih banyak dan telah diajarkan kepada kamu apa yang tidak kamu ketahui, dan tidak pun (diketahui) oleh bapak-bapak kamu." Kata kanlah, "Allah!" Kemudian itu biarkanlah mereka itu bermain-main dalam kesesatan mereka.
Ayat ke-91 dari surat Al-An’am ini jadi titik silang pendapat para mufassir. Sebagian dari merekamengakitkan ayat ini dengan kaum musyrikin Mekkah, di antaranya adalah Mujahid dan Abdullah bin Katsir. Dasarnya karena secara keseluruhan, surat Al-An’am ini termasuk surat Makkiyah. Maka yang jadi lawannya pastilah kaum musyrikin Arab, khususnya para pembesar Quraisy.
Namun sebagian mufassir lain meyakini jika ayat ini Madaniyah, dengan dasar banyak riwayat yang menyebutkan ayat ini terkait dengan para tokoh yahudi Madinah. Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaibi[1] memberikan jalan tengah bahwa khusus untuk ayat ini, turunnya di masa Madinah, selain itu turunnya di masa Mekkah.
Ibnu Jarir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir lebih memilih pendapat yang pertama, selain karena alasan surat Al-An’am itu Makkiyah, kasusnya adalah penolakan bahwa Allah SWT menurunkan kitab suci. Yang menolak seperti itu pastinya kaum musyrikin Mekkah. Sedangkan Yahudi Madinah tidak pernah menolak fakta bahwa Allah SWT menurunkan kitab suci.
Kata wa maa (وَمَا) artinya : dan tidak. Kata qodaru (قَدَرُوا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi yang asalnya dari akar kata (ق د ر), maknanya secara harfiyah adalah : ukuran. Ketika menjadi kata kerja maka artinyamengukur, menilai, atau menetapkan ukuran, atau menetapkan batas sesuatu.
Namun Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : mengagungkan. Begitu juga terjemahan Quraish Shihab. Sedangkan terjemahan Buya HAMKA adalah : menilai. Yang jadi objek sebagai yang diukur, dinilai atau diagungkan adalah Allah (اللَّهَ) SWT.
Kata haqqa (حَقَّ) artinya : sebenar-benarnya. Kata qadrihi (قَدْرِهِ) artinya : pengukuran, penilaian, atau pengagungan atas Allah.
Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] meriwayatkan beberapa pendapat para mufassir tentang makna ini. Menurut Ibnu ‘Abbas, maksudnya adalah bahwa mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya. Menurut Abu Al-‘Aliyah bahwa mereka tidak menggambarkan sosok Allah dengan sifat yang sebenarnya. Sedangkan Al-Akhfasy berkata bahwa mereka tidak mengenal Allah dengan pengenalan yang sebenarnya.
Al-Wahidi mengatakan ungkapan qaddara asy-sya’a (قَدَّرَ الشيءَ) jika seseorang meneliti, mengukur, dan ingin mengetahui kadar atau ukuran sesuatu; ia memperkirakannya dengan teliti.” Maka dari akar makna inilah muncul sabda Nabi SAW:
وإنَّ غُمَّ عَلَيْكم فاقْدُرُوا لَهُ
Apabila kalian tertutup (tidak bisa melihat hilal), maka perkirakanlah (faqduru lahu).
Maksudnya carilah pengetahuan untuk mengetahui kapan masuknya bulan baru. Inilah asal makna kata itu dalam bahasa Arab. Maka dikatakan bahwa siapa yang mengenal sesuatu, dialah yang menilai atau mengukur kadarnya dengan benar. Dan siapa yang tidak mengenalnya dengan segala sifatnya, maka ia tidak akan mampu menilai atau mengukur kadarnya dengan sebenarnya.
Yang menarik di ayat ini tidak tertuang secara eksplisit siapakah mereka yang dimaksud. Lalu apa yang dimaksud dengan mereka salah dalam menilai Allah SWT. Kita hanya menemukan dalam terjemahan Kemenag, ditambahkan kata ’Bani Israil’ di dalam kurung.
Penjelasan tentang siapa mereka baru kita dapat jika kita membaca kitab tafsir. Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[2] meriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair bahwa terjadi saling bantah antara Nabi SAW dengan seorang pendeta Yahudi bernama Malik bin Shaif dari kalangan Yahudi Bani Quraizhah. Nabi SAW berkata kepadanya: “Aku bersumpah kepadamu dengan nama Tuhan yang menurunkan Taurat kepada Musa, bukankah engkau mendapati dalam Taurat bahwa Allah membenci pendeta yang gemuk?”
Malik memang seorang pendeta yang gemuk dan marah sambil menjawab,“Demi Allah, Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada seorang manusia!” Teman-temannya berkata kepadanya,“Celaka engkau! Bukankah (Allah menurunkan wahyu) kepada Musa?”. Namun ia tetap berkata,“Demi Allah, Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada seorang manusia!” Maka Allah menurunkan ayat ini.
Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H) dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[3] juga meriwayatkan versi yang lebih lengkap lewat jalur Ibnu ‘Abbas. Disebutkan bahwa Malik bin Shaif adalah salah satu pendeta dan tokoh besar di kalangan Yahudi. Ia seorang lelaki yang gemuk. Ia datang menemui Rasulullah SAW, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya:
“Aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Musa, apakah engkau mendapati di dalam Taurat bahwa Allah membenci pendeta yang gemuk? Dan engkau adalah pendeta yang gemuk, engkau menjadi gemuk karena makanan-makanan yang diberikan oleh kaum Yahudi kepadamu.”
Maka orang-orang pun tertawa, dan Malik bin Shaif menjadi marah. Ia lalu menoleh kepada Umar seraya berkata dengan nada marah: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia!”
Lalu kaumnya berkata kepadanya: “Celaka engkau! Apa yang telah kami dengar darimu ini?” Ia menjawab: “Ucapan itu aku katakan karena aku sedang marah.”
Setelah peristiwa itu, kaum Yahudi mencopot Malik bin Shaif dari jabatan kepemimpinannya di antara mereka, dan mereka menggantikannya dengan Ka‘b bin Al-Asyraf.
Namun Ath-Thabari juga meriwayatkan lewat jalur As-Suddi versi yang sedikit berbeda, bahwa Yahudi itu bernama Fanihash yang mengkalim bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada Nabi Muhammad SAW.
Versi lainnya juga dikutipkan oleh Ath-Thabari bahwa sekelompok orang Yahudi datang kepada Nabi SAW yang sedang duduk dengan lutut terlipat bersandar di pangkuannya. Mereka berkata: “Wahai Abul Qasim, tidakkah engkau datangkan kepada kami sebuah kitab dari langit sebagaimana Musa datang membawa lempengan-lempengan (wahyu) yang dibawanya langsung dari sisi Allah?”
“Ahli Kitab meminta kepadamu agar engkau menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Sungguh, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: ‘Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata!’” (QS. An-Nisa: 153).
Kemudian seorang lelaki dari kalangan Yahudi berdiri dan berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepadamu, dan tidak pula kepada Musa, tidak kepada Isa, dan tidak kepada siapa pun!”
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ketika mereka berkata: ‘Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.’ Katakanlah: Siapakah yang menurunkan Kitab yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya...”
Kata idz (إِذْ) artinya : ketika. Kata qaluu (قَالُوا) artinya : mereka berkata. Kata maa (مَا) artinya : tidak. Kata anzala (أَنْزَلَ) artinya : menurunkan. Kata Allah (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata ‘alaabasyarin (عَلَىٰ بَشَرٍ) artinya : kepada manusia. Kata min syai’in (مِنْ شَيْءٍ) artinya : sesuatu pun, atau sedikit pun.
Jadi rupanya inilah yang dimaksud bahwa Bani Israil itu keliru dalam mendiskripsikan Allah SWT, ketika mereka bilang bahwa Allah SWT itu tidak menurunkan apa-apa dari langit kepada manusia.
Pernyataan semacam ini tentu saja jadi lucu sekali, apalagi keluar dari mulut seorang pendeta Yahudi. Tujuan utamanya memang karena benci kepada Nabi Muhammad SAW, lalu mereka bikin fatwa yang keliru dengan mengatakan bahwa Allah SWT itu tidak menurunkan apapun kepada manusia, termasuk juga kitab suci.
Maunya agar orang-orang meragukan kenabian Muhammad SAW, mengingkari wahyu yang turun dari langit yaitu Al-Quran. Tetapi dengan pernyataan itu justru malah berbalik terkena diri sendiri.
Kata qul (قُلْ) artinya : katakanlah. Allah SWT perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjawab atau mengoreksi serta menegaskan cacat logika kaum Yahudi itu. Katakan kepada mereka.
Kata man (مَنْ) artinya : siapakah. Kata anzalal kitaba (أَنْزَلَ الْكِتَابَ) artinya : yang menurunkan kitab. Kitab yang dimaksud tidak lain adalah Taurat, yang didapat dengan susah payah, lewat munajat selama 40 malam di atas bukit Thursina.
Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata jaa’a bihi (جَاءَ بِهِ) artinya : datang membawanya. Kata musa (مُوسَىٰ) artinya : Nabi Musa.
Kalau benar pernyataan pendeta itu bahwa Allah SWT tidak menurunkan apapun kepada manusia, lantas bagaimana dengan Nabi Musa alaihissalam? Apakah anda akan mengatakan bahwa Taurat itu bukan sesuatu yang turun dari Allah SWT? Apakah anda akan menuduh bahwa Musa yang mengarang Taurat?
Dengan mengatakan bahwa Allah SWT sama sekali tidak menurunkan kitab suci apapun kepada manusia, maka otomatis si pendeta ini telah meracau dan keliru fatal dalam berargumen.
نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ
Kata nuuron (نُورًا) artinya : cahaya. Kata wa hudan (وَهُدًى) artinya : dan petunjuk. Kata linnnaas (لِلنَّاسِ) artinya : bagi manusia.
Padahal seluruh nabi dan rasul setelah Nabi Musa menjadikan Taurat sebagai kitab suci mereka, bahkan hingga Nabi Isa alaihissalam pun menjalankan isinya.
Allah SWT mensifati kitab Taurat dengan dua ungkapan pujian, yaitu sebagai cahaya dan petunjuk bagi umat manusia. Dikatakan Taurat itu nur (نور) atau cahaya maksudnya kitab Taurat itu diibaratkan seperti cahaya yang membuatnya nampak di tengah kegelapan malam yang pekat. Sedangkan dikatakan Taurat itu hudan (هُدًى) alias petunjuk karena dengan cahayanya itu bisa dijadikan pedoman yang mengarahkan orang di tengah kegelapan.
Maka kitab suci Taurat itu bisa diibaratkan seperti sebuah mercu suar. Mercu suar adalah menara tinggi yang dibangun di tepi pantai, di atas pulau karang, atau di mulut pelabuhan yang berfungsi memancarkan cahaya ke tengah laut pada malam hari. Cahaya dari mercu suar menjadi tanda bagi kapal-kapal yang sedang berlayar agar mengetahui posisi daratan, menghindari karang berbahaya, serta menemukan jalur pelayaran yang aman.
Dalam dunia pelayaran, mercu suar berperan sangat penting sebagai penuntun di tengah kegelapan dan kabut malam. Ketika lautan gelap gulita dan arah sulit dikenali, sinar dari mercu suar menjadi satu-satunya panduan bagi nakhoda untuk menentukan posisi dan arah kapal.
Kata taj‘aluunahu (تَجْعَلُونَهُ) artinya : kamu jadikan itu. Kamu yang dimaksud di penggalan ini adalah Bani Israil atau kaum Yahudi di Madinah di masa kenabian.
Kata qarathisa (قَرَاطِيسَ) itu bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah qirthas (قِرْطَاس). Artinya memang ‘kertas’ namun wujud fisiknya tidak sama dengan ‘kertas’ modern di masa sekarang ini. Istilah kertas memang sudah dikenal sejak zaman kuno. Pada masa Bani Israil atau zaman peradaban kuno seperti Mesir dan Babilonia, qirthas (قِرْطَاس) umumnya merujuk pada lembaran papirus, yaitu bahan tulis yang dibuat dari batang tanaman papyrus yang ditumbuk, disusun berlapis-lapis, lalu dikeringkan hingga menjadi bidang datar seperti papan tipis. Di wilayah lain, lembaran kulit hewan, yaitu parchment atau vellum juga sering digunakan sebagai qirthas (قِرْطَاس).
Sedangkan kertas modern yang kita kenal sekarang baru dikenal sekitar abad ke-2 M di Tiongkok, dan baru menyebar ke dunia Islam pada abad ke-8 M, setelah kaum Muslimin menguasai Samarkand. Dari sanalah industri kertas kemudian berkembang di Baghdad, Andalusia, hingga akhirnya ke Eropa.
Jadi memang, istilahnya tetap sama, yaitu qirthas (قِرْطَاس) atau kertas, tetapi wujud fisiknya berubah total. Dahulu terbuat dari kulit, papirus, atau kain, bertekstur keras dan tebal. Sekarang dibuat dari serat kayu atau tumbuhan, tipis, ringan, dan mudah diproduksi massal.
Allah SWT menegaskan bahwa Bani Israil, khususnya para pendetanya telah menjadikan kitab suci Taurat menjadi : kertas-kertas. Pasti kita bingung, maksudnya apa? Jawabannya ada pada penggalan berikutnya :
Kata tubdunaha (تُبْدُونَهَا) artinya : kamu menampakkannya. Kata wa tukhfuuna (وَتُخْفُونَ) artinya : dan kamu menyembunyikan. Kata katsiran (كَثِيرًا) artinya : banyak.
Para pendeta Yahudi rupanya telah memperlakukan kitab suci Taurat itu secara tidak benar. Mereka menulisnya di lembaran-lembaran yang disebut dengan qarathis (قَرَاطِيسَ). Lalu mereka menampakkan sebagian isinya kepada orang banyak, yaitu bagian-bagian yang sesuai dengan kepentingan dan keinginan mereka. Namun bagian-bagian lain justru mereka sembunyikan.
Jadi tujuan dari mereka pecah-pecah kitab suci Taurat itu agar tidak secara utuh bisa dibaca orang. Hal itu mengingat bahwa tidak semua orang boleh memiliki dan mengkoleksi kitab suci Taurat. Hanya para pendeta saja yang boleh memilikinya. Jangan kita berpikir seperti zaman sekarang, dimana mushaf Al-Quran dicetak dalam jumlah jutaan, lalu semua orang memilikinya di rumah masing-masing.
Di masa itu yang disebut dengan ’kitab suci’ itu seperti yang biasa kita ikuti dalam cerita silat, yaitu berburu kitab suci. Dalam beberapa versi cerita seperti Legend of the Condor Heroes, ada adegan pendekar yang mengejar manuskrip rahasia ilmu silat dari guru atau klan tertentu. Manuskrip ini dianggap tidak boleh diakses sembarang orang, mirip dengan Taurat yang hanya dimiliki pemuka agama.
Kurang lebih seperti itu juga yang namanya kitab suci Taurat, hanya dimiliki secara terbatas oleh para tetua dan pendeta. Maka mereka bisa memanipulasi isinya, yaitu dengan cara membelah-belahnya menjadi banyak lembaran yang terpisah. Bagian-bagian yang sekiranya tidak mereka sukai, mereka sembunyikan dengan berbagai alasan, misalnya hilang atau terbakar atau dicuri orang.
Diantaranya bagian yang berisi kabar tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW dan kebenaran risalah beliau. Bagian itu mereka sembunyikan, seolah-olah tidak pernah ada bagian dari Taurat yang mengakui kenabian Muhammad SAW.
Kata wa ‘ullimtum (وَعُلِّمْتُمْ) artinya : dan telah diajarkan kepadamu. Kata maa (مَا) artinya : apa yang. Kata lam ta‘lamuu (لَمْ تَعْلَمُوا) artinya : tidak kamu ketahui. Kata antum (أَنْتُمْ) artinya : kamu sekalian. Kata walaa aabaa’ukum (وَلَا آبَاؤُكُمْ) artinya : dan tidak pula bapak-bapakmu.
Pada bagian inilah terjadi titik perdebatan panjang dari para mufassir, yaitu kepada siapakah kalimat ini ditujukan? Apakah kepada kaum musyrikin Mekkah? Atau kepada orang-orang Yahudi di Madinah? Atau justru kepada kaum muslimin, yaitu para shahabat yang mulia?
1. Kaum Musyrikin Mekkah
Pendapat pertama mengatakan bahwa kalimat ini ditujukan kepada kaum musyrikin Arab. Mereka dan para leluhur mereka tidak tahu banyak tentang wahyu samawi, kenabian, hari kiamat, kehidupan setelah kematian, surga, neraka, bahkan juga tidak tahu banyak tentang sosok Allah SWT, sebagaimana disebutkan di awal ayat.
Maka penggalan ini menegaskan bahwa baru setelah datangnya Nabi Muhammad SAW saja, merekakaum musyrikin Mekkah itu, baru tahu segala hal itu. Sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, pastilah mereka tidak tahu apa-apa.
Nabi Muhammad SAW memberitahu kepada mereka tentu lewat jalur wahyu yang turun kepada dirinya.
2. Kepada Yahudi Ahli Kitab
Sebagian mufasir berpendapat bahwa kalimat ini ditujukan kepada Yahudi Bani Israil, khususnya Finhash atau Malik bin Shaif yang terlanjur mengatakan bahwa Allah SWT itu tidak menurunkan apa-apa dari langit kepada umat manusia.
Penggalan ini bagian dari argumentasi yang mengoreksi ucapan mereka, yaitu Taurat itu berisi banyak ajaran agama samawi. Tanpa turunnya Taurat, maka kamu wahai Bani Israil, tidak akan banyak tahu ajaran dari Allah SWT. Bahkan para leluhur kalian pun juga tidak akan tahu semua ajaran dari Allah SWT, jika Allah SWT tidak menurunkan kitab suci Taurat itu.
Maka jangan bilang bahwa Allah SWT tidak menurunkan apa-apa kepada umat manusia di bumi. Itu adalah pernyataan yang keliru dan menyesatkan.
3. Kepada Kaum Muslimin
Banyak ulama, termasuk Mujahid, berpendapat bahwa kalimat ini ditujukan kepada para shahabat Nabi yaitu merupakan pujian kepada kaum Muslimin. Hal itu karena mereka menerima Al-Qur'an yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang didalamnya meliputi pengetahuan mendalam tentang tauhid, syariat yang sempurna, kisah masa lalu yang akurat, dan berita tentang akhirat, yang mana semua ini tidak pernah diketahui oleh bangsa Arab Jahiliyah dan nenek moyang mereka.
Penggalan ini dianggap sebagai kalimat ’sisipan’ untuk memuji para shahabat yang menerima konsep turunnya wahyu, sebelum Allah kembali membahas para penentang.
قُلِ اللَّهُ
Kata qul Allah (قُلِ اللَّهُ) artinya : “katakanlah : Allah”. Atau lebih tepatnya : “maka jawablah bahwa dia adalah Allah SWT”.
Yang memberi perintah adalah Allah SWT, sedangkan yang diperitah adalah Nabi Muhammad SAW. Perintahnya adalah untuk menjawab dari pertanyaan yang tadi ditanyakan sebelumnya, yaitu pada penggalan :
“Katakanlah, siapa yang telah menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa yang merupakan cahaya dan petunjuk bagi manusia”.
Maka jawablah pertanyaan retoris itu bahwa yang telah menurunkan kitab Taurat itu adalah Allah SWT. Jawaban ini diperlukan untuk menyanggah orang yang mengingkari bahwa Allah SWT dianggap tidak pernah menurunkan wahyu samawi kepada umat manusia.
ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) artinya : kemudian. Menunjukkan urutan tindakan atau perintah. Setelah Nabi SAW menyampaikan jawaban tegas kepada mereka (قُلِ اللَّهُ) dan memberikan klarifikasi tentang wahyu, langkah selanjutnya adalah tindakan tertentu.
Kata dzar-hum (ذَرْهُمْ) artinya : biarkanlah mereka. Mereka yang dimaksud dalam hal ini adalah orang kafir yang menolak fakta bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab suci samawi dari langit kepada umat manusia.
Kata kerja ini bersifat perintah yaitu fi’il amr. Bentuk madhi dan mudhari’-nya adalah (ذَرَ - يَذَرُ). Nabi diminta untuk bersikap sabar, tidak perlu memaksa, biar dimaklumi saja, tidak perlu terlalu ngotot terlibat dalam debat dengan mereka agar tidak buang-buang tenaga.
Kata fii khaudhi-him (فِي خَوْضِهِمْ) artinya : dalam kesibukan mereka. Kata khaudh (خَوْض) berarti sesuatu yang penuh dengan omongan kosong, perdebatan tak bermanfaat, atau aktivitas yang tidak membawa kebaikan. Ini menunjukkan bahwa mereka tetap akan sibuk dengan perdebatan, tuduhan, atau klaim salah tentang wahyu dan Allah.
Kata yal‘abun (يَلْعَبُونَ) artinya : mereka bermain-main. Kata ini bersifat metaforis, menunjukkan bahwa perilaku mereka tidak serius, penuh main-main, atau bahkan menganggap remeh kebenaran Allah dan wahyu-Nya.