Kemenag RI 2019:(Kini) kamu benar-benar datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya. Kamu sudah meninggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. Kami tidak melihat bersamamu para pemberi syafaat (pertolongan) yang kamu anggap bagi dirimu sebagai sekutu-sekutu(-Ku). Sungguh, telah terputus (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah). Prof. Quraish Shihab:Dan sungguh, kamu (setelah dicabut ruhmu dan setelah sekian lama berada di alam barzakh) benar-benar akan datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pertama kali, dan kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami karuniakan kepadamu. Dan Kami tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang dahulu kamu anggap sebagai sekutu-sekutu Allah di antara kamu. Sungguh, telah terputuslah pertalian antara kamu dengan mereka, dan lenyaplah dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah swt.). Prof. HAMKA:Dan sesungguhnya kamu akan datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana telah Kami jadikan kamu pertama kali dan telah kamu tinggalkan apa yang telah Kami berikan kepada kamu di belakang punggungmu dan tidak Kami melihat ada beserta kamu orang-orang yang kamu (menyelisihkan) kamu yang kamu anggap sebagai sekutu-sekutu Allah. Sesungguhnya telah terputuslah di antara kamu dan telah menyertakan kamu apa yang kamu anggap itu.
Segala kenikmatan dan kekayaan yang dahulu dibanggakan telah ditinggalkan, dan tidak ada satu pun yang bisa menolong mereka. Begitu juga dengan pihak-pihak yang dulu mereka yakini dapat memberi syafaat atau menjadi sekutu bagi Allah ternyata tidak memiliki kekuatan apa pun.
Semua ikatan, hubungan, dan keyakinan palsu yang pernah mereka pegang di dunia telah terputus dan lenyap, meninggalkan mereka dalam kesendirian total di hadapan Allah yang Maha Kuasa.
وَلَقَدْ جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ
Kata wa laqad (وَلَقَدْ) terdiri dari tiga unsur. Pertama, huruf wawu (و) yang merupakan harfu a’thf yang menghubungkan dua ayat ini dengan ayat sebelumnya. Kedua, huruf lam (لَ) yang berfungsi untuk penekanan atau sumpah. Ketiga kata qad (قَدْ) yang digunakan untuk menekankan kejadian di masa lampau. Maka tidak keliru jikata walaqad i(وَلَقَدْ) tu artinya : “dan sungguh benar-benar”. Ini adalah kombinasi untuk memberikan penekanan yang sangat kuat pada pernyataan yang mengikutinya.
Kata ji’tumu-na (جِئْتُمُونَا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, kalau dipasangkan dengan fi’il mudhari’-nya menjadi (جاء - يجيء) artinya : kamu telah datang. Lalu menempel di bagian akhir ada huruf naa () yang jadi objek dari fi’il madhi ini dan berupa dhamir atau kata ganti dari : Kami. Maka kata ji’tumu-na (جِئْتُمُونَا) artinya : kamu datang kepada Kami.
Kamu yang dimaksud adalah semua umat manusia, sedangkan ’Kami’ yang dimaksud adalah Allah SWT. Maksudnya nanti di hari kiamat, setelah semua manusia dimatikan, Allah SWT akan menghidupkan kembali seluruh manusia yang pernah hidup di dunia, semua akan bergerak menuju kepada Allah SWT. Namun secara teknis maksudnya menuju ke suatu tempat yang disebut : Padang Mahsyar.
Kata furada (فُرَادَىٰ) adalah bentuk jamak dari kata (فَرْدٌ) yang berarti satu, sendiri atau tunggal. Ibnul Jauzi dalam tafsir Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[1] mengumpulkan lima pendapat yang berbeda dari para mufassir terkait hal ini, meski tetap masih saling berdekatan:
1. Ibnu Abbas : sendiri-sendiri itu maksudnya tanpa keluarga, harta, dan anak.
2. Al-Hasan : sendiri-sendiri itu masing-masing berdiri sendiri-sendiri.
3. Muqatil : sendiri-sendiri itu maksudnya tidak ada sesuatu pun dari dunia yang menyertai.
4. Az-Zajjaj : sendiri-sendiri itu maksudnya masing-masing terpisah dari temannya dalam kesesatan dan dari saudaranya.
5. Ibnu Kaysan : sendiri-sendiri itu maksudnya tanpa disertai dengan berhala atau sesembahan mereka.
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2]“ memberikan penjelasan bahwa setiap mansia datang kepada Allah satu demi satu. Setiap orang datang sendirian, tanpa keluarga, tanpa harta, tanpa anak, dan tanpa penolong dari orang-orang yang dahulu menemani kalian dalam kesesatan. Apa yang pernah mereka sembah selain Allah pun tidak memberi manfaat apa-apa.
Maksudnya semua manusia ketika dibangkitkan kembali itu dalam keadaan sendiri-sendiri, mereka akan terpisah-pisah satu sama lain. Dengan kata lain tidak bersama-sama dengan orang-orang yang pernah satu ikatan teman, keluarga, atau pimpinan. Tidak ada lagi kebersamaan duniawi. Masing-masing manusia akan berdiri sendiri menghadapi Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan amalnya.
Dibangkitkan Bersama Imam Masing-masing?
Ada ayat lain yang justru menggambarkan kebalikannya, yaitu manusia nanti akan dibangkitkan bersama-sama dengan imamnya.
يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya. (QS. Al-Isra : 71)
Sekilas tampak ayat ini berbeda arah dengan ayat yang sedang kita bahas dan saling bertentangan. Manakah yang benar? Apakah manusia dibangkitkan sendiri-sendiri ataukah bersama imam masing-masing?
Ibn Katsir, Al-Qurthubi, dan As-Sa‘di menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi di antara kedua ayat itu. Karena memang ada dua tahap. Pertama, manusia dibangkitkan secara berkelompok terlebih dahulu, sesuai dengan imam atau panutannya di dunia sebagaimana surat Al-Isrra’ ayat 71. Ini menggambarkan cara Allah memanggil dan mengelompokkan manusia di awal hari kebangkitan. Kedua, kemudian tahap berikutnya setelah dikumpulkan, masing-masing manusia akan berdiri sendiri-sendiri di hadapan Allah untuk dihisab dan dihitung amalnya. Disitulah yang kemudian disebutkan tidak ada lagi kelompok atau pemimpin yang bisa menolong.
Namun Fakhruddin Ar-Razi dan sebagian ulama kontemporer, menafsirkan urutannya sebaliknya. Saat ditiup sangkakala dan manusia dibangkitkan dari kubur, setiap orang keluar sendiri-sendiri, karena masing-masing tidak lagi membawa apapun. Lalu setelah semuanya keluar dari kubur, mereka baru dikumpulkan dan dipanggil berdasarkan imamnya, baru kemudian dihisab satu per satu.
كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ
Kata kama (كَمَا خَلَقْنَاكُمْ) artinya : sebagaimana. Kata khalaqna-kum (كَمَا خَلَقْنَاكُمْ) artinya : Kami telah menciptakan kamu. Kata awwala (أَوَّلَ) artinya : pada pertama. Kata marrah (مَرَّةٍ) artinya : kali.
Ada tiga berbeda terkait ungkapan ini sebagaimana dikutip oleh Ibnul Jauzi dalam tafsir Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[3] :
§ Pendapat pertama: “Tanpa harta, tanpa keluarga, dan tanpa anak.”
§ Pendapat kedua: “Tidak beralas kaki, telanjang, dan belum disunat.” Kata al-ghurl berarti orang yang belum disunat.
§ Pendapat ketiga: “Dalam keadaan hidup.”
Al-Qurthubi dalam tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[4] juga menambahkan bahwa maksud penggalan ini bahwa bayi yang lahir pertama kali dari perut ibunya pastinya lahir dalam keadaan telanjang tidak beralas kaki, tidak berkhitan dan tidak membawa apa pun. Maka nanti ketika dibangkitkan di hari kiamat keadaannya sama dengan seluruh anggota tubuh yang ia miliki saat ia dilahirkan. Bahkan jika pun ada yang anggota tubuhnya terpotong misalnya, makaakan dikembalikan lagi kepadanya pada hari kiamat.
Dari ‘Aisyah, istri Nabi SAW, ia berkata: Aku membaca firman Allah Ta‘ala: “Dan sungguh kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada pertama kali.” Maka aku berkata, “Aduh betapa malunya aku! Apakah para lelaki dan perempuan akan dibangkitkan bersama-sama sehingga sebagian mereka saling melihat aurat sebagian yang lain?” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang di hari itu memiliki urusan yang cukup menyibukkannya,” Sehingga para lelaki tidak melihat para perempuan, dan para perempuan tidak melihat para lelaki. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. (HR. Muslim)
Kata wa taraktum (وَتَرَكْتُمْ) artinya : dan kamu tinggalkan. Kata maa khawwalnaakum (مَا خَوَّلْنَاكُمْ) artinya : apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu. Kata wara’a zhuhuri-kum (وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ) artinya : di belakang punggungmu.
Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim[5] menjelaskan bahwa segala kenikmatan dan harta benda yang kalian miliki di dunia akan kalian tinggalkan semuanya ketika meninggal dunia.
Dasanya hadits shahih bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku! Padahal apakah engkau memiliki dari hartamu selain apa yang telah engkau makan lalu habis, atau yang engkau pakai lalu rusak, atau yang engkau sedekahkan lalu kekal (pahalanya)? Adapun selain itu, maka semuanya akan pergi dan engkau tinggalkan untuk orang lain.”
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al-Hasan al-Bashri berkata bahwa manusia akan didatangkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan bingung, lalu Allah Yang Maha Perkasa berfirman kepadanya:
“Manakah harta apa yang telah engkau kumpulkan?” Maka ia menjawab, “Wahai Tuhanku, aku telah mengumpulkannya dan meninggalkannya dalam keadaan paling banyak (melimpah).”Lalu Allah berfirman, “Lalu di mana apa yang telah engkau persiapkan untuk dirimu sendiri?” Maka ia pun tidak mendapati bahwa ia telah menyiapkan sesuatu apa pun.
وَمَا نَرَىٰ مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ
Kata wama (وَمَا) artinya : dan tidaklah. Kata naraa (نَرَىٰ) artinya : Kami melihat. Kata ma‘akum (مَعَكُمْ) artinya : bersamamu. Kata syufa‘a-kum (شُفَعَاءَكُمُ) artinya : para pemberi syafaatmu.
Tentang siapakah yang dimaksud dengan para pemberi syafaat mereka, terdapat dua pendapat sebagaimana dituliskan oleh Ibnul Jauzi:
Pertama : berhala, yang dimaksud adalah berhala-berhala. Ibnu Abbas berkata, “Para pemberi syafaat kalian” maksudnya adalah tuhan-tuhan kalian yang kalian sangka dapat memberi syafaat bagi kalian. Kedua : Para Malaikat, pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para malaikat, karena orang-orang musyrik dahulu meyakini bahwa para malaikat dapat memberi syafaat bagi mereka. Pendapat ini dikemukakan oleh Muqatil.
الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ
Kata alladziina (الَّذِينَ) artinya : yang kamu. Kata za‘amtum (زَعَمْتُمْ) artinya : kamu klaim atau kamu sangka berada bersama kamu. Kata anna-hum (أَنَّهُمْ) artinya : bahwa mereka. Kata fii-kum (فِيكُمْ) artinya : bagimu.Kata syuraka’ (شُرَكَاءُ) artinya : sekutu.
Maksudnya adalah bahwa kalian menganggap mereka sebagai sekutu bagi Allah di sisi kalian. Ibnu Qutaibah menafsirkan: ‘yang kalian sangka bahwa mereka sekutu bagi-Ku dalam penciptaan kalian’.
Ibnul Jauzi dalam tafsir Zadul Masir fi Ilmi At-Tafsir[6] mengutip pendapat ‘Ikrimah yang mengatakan bahwa sebab turunnya ayat ini adalah perkataan dusta dan mengada-ada yang diucapkan oleh tokoh musyrikin bernama an-Nadhr bin al-Harits. Dia bilang bahwa nanti berhala mereka, yaitu al-Lat dan al-‘Uzza akan memberi syafaat untuk dirinya. Maka turunlah penggalan ayat ini untuk menolak kebenarannya.
لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ
Kata laqad (لَقَدْ) artinya : sungguh telah atau sungguh benar. Ini adalah taukid atau penegasan dalam artian menegaskan kepastian dan intensitas pernyataan.
Kata taqattha‘a (تَقَطَّعَ) artinya : telah terputus, tercerai-berai, atau terpecah-pecah. Penggunaan bentuk ini beda rasa dan makna jika hanya menggunakan kata qatha’a (قَطَعَ) saja, yang artinya sekedar putus. Namun menggunakan taqattha‘a (تَقَطَّعَ) maka maknanya pecah-pecah sampai tidak bersambung lagi untuk seterusnya dan pada semua sisinya.
Kata bainakum (بَيْنَكُمْ) artinya : di antara kamu. Maksudnya nanti di hari kiamat kelompok-kelompok dan ikatan-ikatan yang selama ini menolong atau setidaknya diharapkan bisa memberi manfaat, ternyata semua terputus. Masing-masing orang akan berdiri sendiri-sendiri tanpa ada pihak yang bisa jadi pembela.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[7] menuliskan ada dua makna di balik ungkapan ini.
§ Pertama, bahwa kelompok dan ikatan kalian akan tercerai-berai di akhirat.
§ Kedua, bahwa hubungan dan kerja sama kalian di dunia telah lenyap.
وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ
Kata wa dhalla (وَضَلَّ) artinya : dan lenyaplah. Kata ‘ankum (عَنْكُمْ) artinya : dari kamu. Kata maa kuntum (مَا كُنْتُمْ) artinya : apa yang dahulu.Kata taz‘umuun (تَزْعُمُونَ) artinya : kamu sangka.
Kata dhalla (ضَلَّ) di sini berarti hilang, lenyap, atau sia-sia, bukan dalam arti tersesat, tetapi menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak lagi ada manfaatnya dan tidak ditemukan kembali. Mujahid menafsirkan ungkapan dhalla ‘ankum (ضَلَّ عَنْكُمْ) yakni telah sirna dari kalian pertolongan dan syafaat yang kalian harapkan dari sembahan-sembahan itu. Sedangkan Qatadah berkata bahwa telah lenyaplah dari kalian segala sesuatu yang dahulu kalian sembah selain Allah. Tidak ada lagi yang bisa menolong atau memberi manfaat. Hal itu karena semuanya telah binasa.
Penggalan ini menggambarkan bahwa pada hari kiamat, semua keyakinan batil mereka tentang adanya penolong, pemberi syafaat, atau sekutu bagi Allah akan sirna. Mereka akan benar-benar menyadari bahwa hanya Allah satu-satunya yang berkuasa dan semua selain-Nya tidak memiliki sedikit pun kekuatan atau manfaat.