Kemenag RI 2019:Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (buah-buahan). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah. Maka, bagaimana kamu dapat dipalingkan? Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya Allah adalah (Zat) Yang membelah butir (tumbuh-tumbuhan) dan biji (buah-buahan). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? Prof. HAMKA:Sesungguhnya Allah-lah Pembelah buah dan biji. Dia yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan pengeluar yang mati dari yang hidup. Demikian itulah Allah maka ke mana lagi kamu akan dipalingkan?
Allah SWT pula yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, seperti tumbuhan yang tumbuh dari biji kering, dan sebaliknya, mengeluarkan yang mati dari yang hidup, seperti biji yang dihasilkan dari tumbuhan yang hidup.
Semua proses itu menunjukkan adanya kekuasaan dan kebijaksanaan yang luar biasa di balik setiap kejadian alam. Maka, ayat ini menegur akal manusia: bagaimana mungkin kalian berpaling dari Allah, padahal bukti kekuasaan-Nya tampak jelas di sekelilingmu dan di dalam kehidupan itu sendiri?
إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata allah (اللَّهَ) artinya : Allah. Kata faliq (فَالِقُ) merupakan isim fail dari kata kerja (يَفْلِقُ فَلَقَ) yang maknanya secara bahasa adalah membelah, memecah atau memisahkan. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : menumbuhkan, sedangkan terjemahan Quraish Shihab adalah : Yang Membelah. HAMKA menerjemahkannya menjadi : pembelah.
Kata al-habb (الْحَبِّ) diterjemahkan secara berbeda-beda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi : “butir (padi-padian)”, Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “butir (tumbuh-tumbuhan)”, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “buah”.
Secara akarnya kata ini berasal dari tiga huruf yaitu (ح ب ب) yang berarti sesuatu yang kecil berbentuk bulat, seperti butiran tanaman yang bisa tumbuh. Ketika orang Arab menyebut butiran-butiran beras, butiran-butiran jagung atau butiran-butiran gandum, mereka menyebutnya dengan al-habbu (الحَبّ). Jika hanya satu butir saja disebut dengan habbah (حَبَّة).
Secara umum butiran ini menjadi sumber makanan pokok, umumnya tumbuh di tangkai dan bukan di dalam buah. Contohnya adalah butiran gandum (حَبّ القمح), butiran beras (حَبّ الأرزّ), butiran jagung (حَبّ الذرة) atau butiran barley (حَبّ الشعير). Jadi agak kurang tepat kalau disebut buah gandum, buah beras, buah jagung atau buah barley. Di dalam Al-Quran ada disebutkan ayat yang menggunakan kata habbah :
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqarah : 261)
Kata wa (وَ) merupakan harfu ’athf yang menunjukkan keterkaitan dengan kata sebelumnya, yaitu Allah SWT adalah Yang membelah biji dan juga yang membelah an-nawa.
Kata an-nawa (النَّوَىٰ) adalah bentuk jamak atau tunggal yang secara etimologis berasal dari tiga huruf yang menjadi akarnya yaitu (ن و ي). Artinya : sesuatu yang keras atau inti. Dalam konteks tumbuhan dan buah, an-nawa (النَّوَىٰ) merujuk pada inti biji atau pit di dalam buah yang biasanya keras dan tidak dimakan, namun bisa ditanam sebagai bibit. Misalnya biji kurma tentu tidak dimakan tetapi bisa dijadikan bibit kurma. Kita biasa menyebut dalam bahasa Inggris dengan : seed. Anggur tanpa biji kita sebut : seedless.
Istilah bom atom atau bom nuklir dalam bahasa arab modern disebut al-aslihah an-nawawiyyah (الأسلحة النووية). Kata nawawi (نووي) disitu berasal dari akar yang sama dengan an-nawa (النَّوَى) yang berkaitan dengan inti sesuatu yang sangat kecil tapi kuat.
Biji adalah struktur reproduksi tumbuhan yang berisi embrio, cadangan makanan dan pelindung yang akan terbelah alias falaqa (فلق) untuk menumbuhkan kehidupan baru melalui proses perkecambahan atau germination.
Baik butiran makanan (الحَبّ) atau pun biji dari buah-buahan (النَّوى), keduanya membelah diri untuk menjadi tumbuhan selanjutnya. Dalam hal ini Allah yang jadi pembelahnya (فَالِقُ).
يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
Kata yukhrij (يُخْرِجُ) artinya : mengeluarkan. Kata ini asalnya dari tiga huruf yaitu (خَرَجَ - يَخْرُجُ) yang artinya : keluar. Jika ketambahan alif di depannya menjadi (أَخْرَجَ - يُخْرِجُ) artinya : mengeluarkan. Pelakunya adalah Allah SWT.
Kata al-hayya (الْحَيَّ) artinya : yang hidup, atau bisa juga bernyawa, atau bisa juga bermakna aktif atau bergerak. Yang hidup itu tidak hanya sekadar kehidupan biologis seperti tunas yang tumbuh, daun yang hijau, buah yang matang, dalam konteks manusia, bisa juga merujuk pada kehidupan setelah mati atau kebangkitan kembali.
Kata min (مِنَ) artinya : dari. Kata al-mayyit (الْمَيِّتِ) artinya : yang mati, atau tidak bernyawa, atau tidak bergerak. Bisa merujuk pada tanah yang kering, biji yang kering, biji buah yang keras sehingga semua tampak mati, namun juga bisa merujuk pada manusia yang telah mati secara jasmani. Intinya bahwa Allah mampu mengeluarkan kehidupan dari yang tampak mati dan menumbuhkan kehidupan baru.
Secara biologis, kedua istilah yang berlawanan yaitu antara yang hidup (الْحَيَّ) dengan yang mati (الْمَيِّتِ) dibedakan dalam enam hal, yaitu
1. Pernafasan : Makhluk hidup bernapas, sedangkan benda mati tidak.
2. Pertumbuhan : Makhluk hidup tumbuh, sedangkan benda mati tidak.
3. Berkembang-biak : Makhluk hidup berkembang biak, sedangkan benda mati tidak.
4. Bereaksi : Makhluk hidup bereaksi terhadap lingkungan, sedangkan benda mati tidak.
5. Sel : Makhluk hidup memiliki sel, sedangkan benda mati tidak.
6. Metabolisme : Makhluk hidup memiliki metabolisme, sedangkan benda mati tidak.
Namun makhluk hidup itu sendiri bisa dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu manusia, hewan dan tumbuhan.
1. Manusia : makhluk hidup yang memiliki akal, bisa berpikir, berbicara, dan berinteraksi secara kompleks.
2. Hewan : makhluk hidup yang bergerak, bernapas, dan bereaksi terhadap lingkungan, tetapi tidak memiliki kemampuan berpikir dan berakal seperti manusia.
3. Tumbuhan : makhluk hidup yang tetap hidup dan tumbuh, tetapi bergerak pasif, melakukan fotosintesis, dan bereproduksi melalui biji atau tunas.
وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ
Kata wa (وَ) artinya : dan. Kata mukhrij (مُخْرِجُ) artinya : yang mengeluarkan. Kata al-mayyit (الْمَيِّتِ) artinya : yang mati. Kata mina (مِنَ) artinya : dari. Kata al-hayyi (الْحَيِّ) artinya : yang hidup.
Penggalan ini adalah kebalikan dari penggalan sebelumnya, yaitu Allah SWT juga menjadi pihak yang mengeluarkan atau lebih tepatnya mendatangkan kematian dari sesuatu yang hidup.
Allah mengeluarkan yang mati dari yang hidup, artinya dari sesuatu yang aktif dan hidup, Dia bisa menimbulkan kehidupan baru dari yang tampak mati. Dalam konteks alam, maka tanah yang subur yaaitu makhluk hidup dalam bentuk tanah ditambah organisme di dalamnya menumbuhkan biji yang tampak mati. Biji mati itu kemudian menumbuhkan tunas baru yang hidup.
Dalam konteks manusia, Allah yang menghidupkan kembali manusia setelah mati, menunjukkan kebangkitan dari keadaan mati.
ذَٰلِكُمُ اللَّهُ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Kata dzalikum (ذَٰلِكُمُ) artinya : yang demikian itu. Menunjuk pada apa yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu kuasa Allah dalam menciptakan, menumbuhkan, dan menghidupkan makhluk.
Kata allah (اللَّهُ) artinya : Allah, subjek yang menunjukkan bahwa semua kekuasaan itu milik Allah.
Kata fa-anna (فَأَنَّىٰ) artinya : maka bagaimana. Kata ini terdiri dari dua bagian utama. Pertama, huruf fa’ (فَ) yang berarti maka atau kemudian. Ini adalah huruf sambung alias harfu ’athf yang berfungsi menghubungkan kalimat sebelumnya dengan yang berikutnya. Kedua, kata anna (أَنَّىٰ) yang artinya : bagaimana atau lebih tepatnya mempertanyakan : bagaimana mungkin?
Ini adalah kata tanya atau pertanyaan retoris dalam bahasa Arab klasik. Tidak perlu dijawab, karena tidak butuh jawaban. Pertanyaan retoris yang menunjukkan keheranan dalam penolakan atas sampai bisa terjadinya hal itu. Artinya seharusnya hal-hal semacam itu tidak perlu terjadi.
Kata tu’fakun (تُؤْفَكُونَ) artinya : kamu dipalingkan. Bisa juga bermakna disesatkan atau dijauhkan dari kebenaran. Ini menunjukkan kondisi manusia yang tetap menyekutukan atau menolak Allah meski bukti kekuasaan-Nya jelas. Selain itu juga menegaskan kekeliruan manusia yang tetap menyekutukan-Nya atau menolak tanda-tanda kekuasaan-Nya.