Kemenag RI 2019:Dialah yang menjadikan bagimu bintang-bintang agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan (yang pekat) di darat dan di laut. Sungguh, Kami telah memerinci tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Dan Dia (Allah) Yang menjadikan bintang-bintang untuk kamu, agar dengan bintang-bintang itu kamu mendapat petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sungguh, Kami telah menjelaskan secara rinci tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang mengetahui. Prof. HAMKA:an Dialah yang telah menjadikan untuk kamu bintang-bintang untuk kamu berpedoman dengan dia pada kegelapan darat dan laut. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda bagi kaum yang berpengetahuan.
Ayat ini juga menekankan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah ini dipaparkan secara jelas bagi mereka yang mau menggunakan akal dan pengetahuan untuk memahaminya, sehingga hanya orang yang memiliki kesadaran dan ilmu yang benar-benar bisa menghargai dan memetik pelajaran dari ciptaan-Nya.
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ
Kata wa huwa (وَهُوَ) artinya : dan Dia. Kata alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata ja‘ala (جَعَلَ) artinya : Dia menjadikan. Kata lakum (لَكُمُ) artinya : untuk kamu. Kata an-nujuma (النُّجُومَ) artinya : bintang-bintang.
لِتَهْتَدُوا بِهَا
Kata li tahtadu (لِتَهْتَدُوا) artinya : agar kamu mendapat petunjuk. Kata biha (بِهَا) artinya : dengan bintang-bintang itu.
Sayangnya sejarah manusia menunjukkan bahwa sebagian peradaban salah kaprah dalam menggunakan bintang. Alih-alih menjadikannya panduan praktis, mereka mengembangkan ilmu nujum atau astrologi, yaitu mencoba meramal masa depan berdasarkan posisi bintang. Padahal, menurut konteks ayat ini, bintang hanya diperuntukkan sebagai petunjuk dan tanda kekuasaan Allah, bukan alat untuk meramalkan takdir.
Dengan kata lain, ayat ini menegaskan keseimbangan antara ilmu dan iman: bintang mengajarkan manusia untuk berpandangan rasional dan menggunakan akal, bukan untuk tergelincir ke dalam tahayul dan ramalan yang salah.
Astrologi vs Astronomi
Berikut ringkasan sejarah ilmu astrologi beserta perjalanan panjangnya dari masa ke masa, peradaban demi peradaban:
1. Mesopotamia (Sumeria, Babilonia, Asyur) — ±3000–500 SM
Awal mula astrologi tercatat di Mesopotamia. Bangsa Sumeria dan kemudian Babilonia mengamati gerak bintang dan planet untuk mencatat kalender dan musim. Ramalan awal berkaitan dengan pertanian, cuaca, dan nasib raja. Babilonia mengembangkan zodiak 12 rasi bintang, yang menjadi dasar astrologi modern. Mereka membuat catatan sistematis tentang fenomena langit (cuneiform tablets).
2. Mesir Kuno — ±3000–30 SM
Oleh bangsa Mesir bintang digunakan untuk meramal nasib raja dan peristiwa penting. Bintang dan planet dianggap memiliki pengaruh spiritual terhadap kehidupan manusia dan kekuasaan raja.
3. Yunani Kuno — ±800–146 SM
Astrologi Yunani dipengaruhi oleh astronomi Babilonia. Tokoh pentingnya Ptolemaios (100–170 M) menulis Tetrabiblos, karya klasik tentang astrologi yang menetapkan hubungan planet, rasi bintang, dan nasib manusia. Disana Astrologi menjadi bagian dari filsafat dan ilmu pengetahuan di Yunani, dikaitkan dengan karakter, nasib, dan politik.
4. India Kuno (Hindu) — ±1500 SM–Sekarang
Dikenal sebagai Jyotisha, salah satu cabang Veda. Astrologi digunakan untuk meramal masa depan, menentukan waktu upacara keagamaan, dan arah pembangunan.
Sistem zodiak di India disebut Rasi, berbeda sedikit dari zodiak Barat tetapi masih mengacu pada pergerakan planet. Uniknya masih digunakan hingga sekarang dalam budaya Hindu.
5. Cina Kuno — ±2000 SM–Sekarang
Kaisar Cina mempekerjakan astronom dan ahli astrologi untuk membaca tanda-tanda langit. Astrologi digunakan untuk meramal nasib negara, kaisar, dan rakyat. Kalender Cina dan filosofi Yin-Yang serta lima elemen (Wu Xing) terkait erat dengan astrologi.
Sistem ini mengutamakan kombinasi bintang, planet, dan fenomena alam untuk menentukan hari baik dan buruk.
6. Peradaban Maya — ±2000 SM–1500 M
Masyarakat Maya memiliki observatorium astronomi canggih.
Mereka mengamati Matahari, Bulan, Venus, dan rasi bintang untuk meramal pertanian, perang, dan ritual keagamaan. Kalender Maya yang rumit mencerminkan hubungan antara astronomi dan astrologi.
7. Arab Pra-Islam — ±500–600 M
Beberapa suku Arab mengenal ilmu nujum dengan cara mengamati bintang untuk meramal cuaca, nasib, dan kemenangan perang. Praktik ini bersifat populer namun tidak dibenarkan secara agama, karena mengaitkan takdir manusia dengan benda langit.
8. Eropa Abad Pertengahan — ±500–1500 M
Astrologi memasuki Eropa melalui karya Arab dan Yunani klasik. Ilmu nujum ini kemudian digunakan oleh raja, dokter, dan bangsawan untuk menentukan keputusan penting, kesehatan, dan politik. Tokoh seperti Albertus Magnus dan Thomas Aquinas membahas astrologi dalam konteks ilmiah dan filsafat.
9. Renaisans dan Modern Awal — ±1400–1700 M
Astrologi menjadi populer di kalangan bangsawan Eropa. Beberapa ilmuwan terkenal seperti Kepler juga mempelajari astrologi meski mereka juga berkontribusi pada astronomi modern.
10. Era Kontemporer — ±1800 M–Sekarang
Muncul pemisahan antara astrologi spekulatif alias ramalan dengan dan astronomi empiris yang berbasis pada ilmu pengetahuan.
Astrologi populer sebagai ramalan personal horoscope, zodiak, dan konsultasi spiritual. Sedangkan Astronomi modern memisahkan ilmu pengetahuan dari praktik ramalan.
Ilmu nujum dianggap pseudoscience, sedangkan bintang tetap menjadi alat navigasi dan ilmu astronomi yang akurat.
فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
Kata fi (فِي) artinya : di dalam. Kata zhulumat (ظُلُمَاتِ) artinya : kegelapan-kegelapan. Kata al-barri (الْبَرِّ) artinya : daratan. Kata wal-bahri (وَالْبَحْرِ) artinya : dan lautan.
Bangsa Sumeria dan Babilonia di Mesopotamia, sekitar 3000 SM, adalah yang pertama mencatat gerakan benda-benda langit secara sistematis. Mereka mencatat posisi planet dan fase Bulan, serta menciptakan kalender untuk mengatur kehidupan sehari-hari.
Di Mesir kuno, astronomi juga berkembang untuk kebutuhan praktis, seperti memprediksi banjir Sungai Nil dan menentukan kalender pertanian. Observasi bintang-bintang tertentu membantu menentukan arah dan waktu secara akurat.
Di Yunani kuno, astronomi mulai dipelajari secara teoritis. Tokoh-tokoh seperti Hipparchus dan Ptolemaios menyusun katalog bintang dan mengembangkan model geosentris yang menjelaskan gerak planet dan bintang.
Sementara itu, di India dan Cina, astronomi digunakan untuk kalender, penentuan waktu ritual keagamaan, dan perhitungan musim. Bangsa Maya di Amerika Tengah juga mengembangkan observatorium dan kalender yang sangat akurat, menunjukkan bahwa pengamatan langit menjadi kebutuhan universal di banyak peradaban.
Pada Abad Pertengahan dan Renaisans, astronomi berkembang pesat di Eropa. Dengan penemuan teleskop oleh Galileo pada awal abad ke-17, manusia mulai melihat benda-benda langit lebih dekat dan akurat.
Sistem heliosentris Copernicus menggantikan model geosentris, menandai revolusi ilmiah. Ilmuwan seperti Kepler dan Newton mengembangkan hukum gerak planet dan gravitasi, menjadikan astronomi sebuah ilmu modern yang berbasis pengamatan dan perhitungan matematis.
Hingga era kontemporer, astronomi terus berkembang dengan bantuan teknologi canggih: teleskop luar angkasa seperti Hubble, pengamatan gelombang radio, dan misi ke planet lain.
Kini, astronomi tidak hanya mempelajari benda-benda langit, tetapi juga asal-usul alam semesta, galaksi, bintang, dan planet, serta posisi bumi dalam kosmos, menjadikan manusia semakin memahami keteraturan ciptaan Allah dan hukum alam yang mengaturnya.
Di malam hari, ketika gelap menutupi lautan luas, bintang-bintang muncul sebagai petunjuk bagi para penjelajah baik di darat atau pun di laut. Posisi bintang-bintang di langit relatif tetap dan bisa diprediksi, sehingga mereka menjadi kompas alami yang membantu menentukan arah.
Di belahan bumi utara, misalnya, Bintang Utara atau Polaris selalu berada hampir tepat di atas Kutub Utara. Dengan menghadap Polaris, pelaut tahu arah utara dan dapat menyesuaikan perjalanan mereka.
Selain itu, rasi-rasi bintang seperti Orion, Kassiopeia, atau Big Dipper digunakan untuk mengetahui arah dan perkiraan waktu malam. Tinggi rendahnya bintang di atas horizon memberi informasi tentang lintang kapal, sementara gerak bintang sepanjang malam membantu pelaut menjaga arah perjalanan.
Dengan mengamati langit secara cermat, para pelaut bisa melintasi samudera lepas tanpa tersesat, bahkan ketika daratan jauh di depan mata mereka. Dengan demikian, bintang bukan sekadar lampu di langit, tetapi tanda dan pedoman yang memandu manusia, menunjukkan keteraturan ciptaan Allah dan mengajarkan manusia untuk menggunakan akal dan pengamatan mereka untuk hidup dan bertahan.
قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh. Kata fashshalna (فَصَّلْنَا) artinya : telah Kami jelaskan dengan rinci. Ini menunjukkan bahwa penjelasan itu terperinci dan jelas, bukan samar atau membingungkan.
Kata al-ayati (الْآيَاتِ) artinya : ayat-ayat atau tanda-tanda, yaitu ayat atau tanda kekuasaan Allah di alam, seperti bintang, tumbuhan, dan fenomena alam lainnya.
Kata liqawmin (لِقَوْمٍ) artinya : bagi kaum. Kata ya‘lamun (يَعْلَمُونَ) artinya : yang mengetahui. Ungkapan ini menekankan bahwa penjelasan ini hanya benar-benar bermanfaat bagi mereka yang mau berpikir, belajar, dan memahami, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu dan kesadaran.
Bagian ini penting untuk kita garis-bawahi, bahwa pengetahuan dan tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta tidak eksklusif hanya bagi orang-orang yang beriman secara formal, melainkan diberikan kepada mereka yang mau memahami, memperhatikan, dan menggunakan akal mereka.
Allah menempatkan tanda-tanda-Nya di alam, seperti bintang, tumbuhan, laut, langit, dan fenomena alam lain, supaya setiap manusia yang mau berpikir, meneliti, dan belajar bisa mengambil pelajaran dan petunjuk.
Orang yang memiliki ilmu dan kesadaran (ya‘lamun) akan melihat keteraturan, keindahan, dan hukum-hukum Allah dalam ciptaan, bahkan jika mereka belum beriman secara agama. Dengan kata lain, ilmu Allah bersifat universal dan bisa dijangkau oleh siapa pun yang ingin memahami alam dengan akal dan pengamatan.
Hal ini menunjukkan bahwa iman dan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda, namun pengetahuan yang benar bisa menjadi jalan untuk meningkatkan kesadaran dan keimanan bagi siapa pun yang mau memetik hikmah dari ciptaan Allah.