Ayat ke-112 dari surat Al-A'raf ini merupakan kelanjutan dari rencana yang disusun oleh para pemuka kaum Fir'aun setelah mereka memutuskan untuk menangguhkan tindakan terhadap Nabi Musa. Rencana itu kini dijelaskan lebih rinci, yaitu dengan mengumpulkan para penyihir terbaik dari berbagai kota untuk dihadapkan langsung kepada Musa.
Langkah ini menunjukkan bahwa mereka ingin menjadikan peristiwa ini sebagai ajang pembuktian besar di hadapan publik. Mereka tidak ingin menghadapi Musa secara diam-diam, tetapi justru mengumpulkan seluruh kekuatan yang mereka anggap setara untuk menandingi apa yang telah ditampilkan Musa. Dalam pandangan mereka, jika Musa dianggap sebagai penyihir, maka harus dilawan dengan para ahli sihir terbaik yang ada di negeri itu.
Kata ya’tuuka (يَأْتُوكَ) berasal dari akar kata (أ ت ي) yang berarti datang. Dalam bentuk ini menunjukkan fi’il mudhari’ (kata kerja yang sedang atau akan terjadi) dengan pelaku jamak, yaitu mereka akan datang. Tambahan dhamir “ka” di akhirnya berarti kepadamu, yaitu ditujukan kepada Fir'aun.
Maknanya adalah bahwa para utusan yang dikirim ke berbagai kota itu akan kembali dengan membawa sesuatu, bukan datang kosong, tetapi datang kepadamu dengan hasil yang telah dikumpulkan.
Huruf bi (بِ) berarti dengan atau membawa. Huruf ini menunjukkan bahwa kedatangan mereka disertai sesuatu, bukan sekadar hadir.
Kata kulli (كُلِّ) berarti setiap atau seluruh. Kata ini menunjukkan makna umum dan menyeluruh, tidak terbatas pada sebagian saja, tetapi semua yang termasuk dalam kategori tersebut.
Kata saahirin (سَاحِرٍ) berasal dari akar kata (س ح ر) yang berarti penyihir, yaitu orang yang melakukan sihir. Dalam bentuk ini menunjukkan individu-individu yang memiliki kemampuan tersebut.
Kata ‘aliim (عَلِيمٍ) berasal dari akar kata (ع ل م) yang berarti mengetahui atau berilmu. Dalam konteks ini bermakna sangat ahli atau sangat terampil. Kata ini menjadi sifat bagi penyihir, sehingga bukan sembarang penyihir, tetapi yang benar-benar ahli di bidangnya.
Dengan menghadirkan banyak penyihir yang sangat terampil dalam bidangnya, mereka berharap bisa mengalahkan Musa secara terbuka dan sekaligus meruntuhkan pengaruhnya di tengah masyarakat. Ini adalah strategi yang bukan hanya bertujuan menang, tetapi juga membentuk opini publik bahwa apa yang dibawa Musa hanyalah bagian dari praktik sihir yang bisa ditandingi.