Ayat ke-114 dari surat Al-A'raf ini menggambarkan jawaban langsung dari Fir'aun atas permintaan para penyihir yang sebelumnya menanyakan imbalan jika mereka berhasil mengalahkan Nabi Musa. Fir‘aun tidak hanya menyetujui permintaan tersebut, tetapi bahkan menawarkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar upah.
Para penyihir itu akan menjadi bagian dari orang-orang yang didekatkan kepadanya, yaitu masuk dalam lingkaran elit kekuasaan. Ini menunjukkan bahwa imbalan yang ditawarkan bukan hanya bersifat materi, tetapi juga status sosial dan kedudukan politik yang tinggi.
Kata qaala (قَالَ) berarti : dia berkata, dalam konteks ini adalah Fir'aun. Kata na‘am (نَعَمْ) berarti ya. Kata ini adalah jawaban yang tegas dan langsung tanpa ditawar-tawar atau minta potongan harga, diskon atau pun syarat tambahan lain. Fir’aun langsung menyetujui proposal para penyihir Mesir. Persetujuan penuh terhadap permintaan yang diajukan sebelumnya oleh para penyihir. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Fir‘aun tidak ragu sedikit pun untuk menyetujui permintaan tersebut, bahkan sejak awal sudah siap memberikan imbalan.
Huruf wa (وَ) berarti dan, menunjukkan tambahan dari pernyataan sebelumnya. Huruf inna (إِنَّ) berfungsi sebagai penegas, memberi makna “sesungguhnya”. Kata kum dalam innakum (إِنَّكُمْ) adalah dhamir yang berarti kalian, ditujukan kepada para penyihir.
Huruf la (لَ) pada lamina berfungsi sebagai penguat tambahan, sehingga maknanya menjadi sangat tegas. Huruf min (مِنَ) berarti termasuk dari atau bagian dari. Kata al-muqarrabiin (الْمُقَرَّبِينَ) berasal dari akar kata (ق ر ب) yang berarti dekat, maksudnya mereka akan memiliki kedudukan khusus dan dekat dengan penguasa.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa imbalan yang ditawarkan bukan sekadar materi, tetapi juga kedudukan. Para penyihir dijanjikan akan menjadi bagian dari lingkaran dekat kekuasaan, suatu posisi yang menunjukkan kehormatan sekaligus akses kepada kekuatan.
Dalam terjemahan Kemenag RI digunakan ungkapan “bahkan sesungguhnya kamu pasti termasuk orang-orang yang didekatkan”, yang memberi penekanan kuat pada kepastian dan tambahan imbalan di luar sekadar upah. Quraish Shihab juga menampilkan penegasan berlapis dengan “sesungguhnya kamu benar-benar (akan) termasuk”, sehingga terasa sangat kuat dari sisi janji dan kepastian. Sedangkan HAMKA menerjemahkan dengan gaya lebih ringkas: “bahkan kamu akan jadi orang-orang yang didekatkan”, yang lebih sederhana tetapi tetap menangkap inti makna.
Jawaban ini memperlihatkan bagaimana Fir‘aun mengelola kekuasaannya dengan sangat strategis. Ia memahami bahwa loyalitas bisa dibeli, bukan hanya dengan harta, tetapi juga dengan akses kepada kekuasaan. Dengan janji kedekatan ini, para penyihir tentu akan semakin termotivasi untuk memberikan kemampuan terbaik mereka dalam menghadapi Musa.