Jilid : 17 Juz : 9 | Al-A'raf : 150
Al-A'raf 7 : 150
Mushaf Madinah | hal. 169 | Mushaf Kemenag RI

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَىٰ إِلَىٰ قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ ۖ وَأَلْقَى الْأَلْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ ۚ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلَا تُشْمِتْ بِيَ الْأَعْدَاءَ وَلَا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Kemenag RI 2019: Ketika Musa kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah lagi sedih, dia berkata, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu?” ) Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala (menjambak) saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya. (Harun) berkata, “Wahai anak ibuku, kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku. Oleh karena itu, janganlah engkau menjadikan musuh-musuh menyorakiku (karena melihat perlakuan kasarmu terhadapku). Janganlah engkau menjadikanku (dalam pandanganmu) bersama kaum yang zalim.”
Prof. Quraish Shihab: Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah dan sedih (karena mengetahui kaumnya menyembah patung anak sapi), berkatalah dia (khususnya kepada Nabi Harun as. dan para pemuka kaumnya): “Alangkah buruknya pelaksanaan tugas yang kamu lakukan sesudah (kepergian)-ku! Apakah kamu hendak mendahului urusan (mempercepat jatuhnya siksa) Tuhan Pemelihara kamu?” Dan (Nabi Musa as.) melemparkan lauh-lauh (yang diterima dari Allah swt. melalui malaikat ketika bermunajat) dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Nabi Harun as.) sambil menariknya ke arahnya. Dia (Nabi Harun as.) berkata: “Wahai putra ibu-(ku)! Sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir saja mereka membunuhku, sebab itu janganlah engkau menjadikan musuh-musuh bergembira melihatku (dengan kecamanmu yang keras ini), dan janganlah engkau jadikan aku bersama kaum yang zalim.”
Prof. HAMKA: Dan, tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dalam keadaan marah, ia hati, berkatalah dia, “Buruk sekali apa yang kamu kerjakan, menggantikan aku sepeninggalku. Apakah patut kamu mendahului perintah Tuhan kamu?” Lalu dilemparkannya alwah itu dan dipegangnya kepala saudaranya seraya ditariknya. Dia berkata, “Wahai anak ibuku, sesungguhnya kaum itu memandangku lemah dan nyarislah mereka membunuhku. Sebab itu, janganlah engkau gembirakan musuh terhadap aku dan janganlah engkau masukkan aku bersama kaum yang zalim.”

TAFSIR AL-MAHFUZH REFERENSI KITAB TAFSIR
🔐