Kemenag RI 2019:Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian (yang telah ditentukan) dari ketetapan Allah (di dunia) sehingga apabila datang kepada mereka para utusan (malaikat) Kami untuk mencabut nyawanya, mereka (para malaikat) berkata, “Manakah sembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?” Mereka (orang-orang musyrik) menjawab, “Semuanya telah lenyap dari kami.” Mereka memberikan kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Prof. Quraish Shihab:Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan memperoleh bagian (yang telah ditentukan) dari ketetapan Allah (di dunia) sehingga apabila datang kepada mereka para utusan Kami untuk mewafatkan mereka, (di waktu itu) mereka (para utusan Kami) bertanya: “Dimana yang biasa kamu sembah selain Allah?” Mereka (orang-orang musyrik) menjawab: “Semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka menyaksikan atas diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang kafir. Prof. HAMKA:Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kedustaan atas nama Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka itu akan dicapai oleh nasib mereka dari dalam Al-Kitab sehingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami, yang akan mewafatkan mereka, sambil bertanya, “Di manakah apa yang telah kamu seru selain dari Allah itu?” Mereka menjawab, “Mereka telah hilang daripada kami dan mereka pun menyaksikan atas diri mereka sendiri-sendiri bahwasanya mereka dahulunya memang telah kafir.”
Maka di ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa perbuatan mereka di dunia itu sangat zalim, sehingga dikatakan tidak ada lagi yang lebih zalim dari mereka.
Allah SWT tegaskan kezaliman mereka bertumpu pada dua hal : Pertama mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah SWT. Kedua, mereka mendustakan ayat-ayat-Nya.
Sekali lagi Allah SWT berikan janji berupa ancaman bahwa mereka dipastikan akan memperoleh siksaan. Namun kali ini kata siksa itu diungkapkan dengan unik, yaitu disebut sebagai : ’bagian yang telah ditentukan’ dari ketetapan Allah SWT.
Yang lebih unik lagi Allah SWT kemudian memfouskan pandangan bahwa balasan ini akan dimulai sejak kedatangan malaikat pencabut nyawa yang akan menginterogasi mereka dan mempertanyakan keberadaan tuhan-tuhan paslu mereka.
Allah SWT juga menggambarkan dengan apik bagaimana nanti mereka semua pada akhirnya akan mengakui bahwa tuhan-tuhan palsu mereka tidak ada gunannya, bahkan telah lenyap sama sekali.
Lafazh fa-man (فَمَنْ) terdiri dari huruf fa (فَ) yang berfungsi sebagai penghubung dan konsekuensi dari ayat sebelumnya, kemudian lafazh man (مَنْ) yang berarti siapa. Gabungan ini dapat dimaknai: maka siapakah.
Secara lahiriyah gabungan dari faman () ini merupakan pertanyaan, namun maksud dan tujuannya bukan untuk mendapatkan jawaban, sebaliknya justru untuk menafikan, seolah menyatakan : tidak ada lagu yang lebih zalim . . .
Kata azh-lamu (أَظْلَمُ) berasal dari akar kata (ظ ل م) yang bermakna gelap, menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya, atau berbuat aniaya. Bentuk af‘alu tafdhil pada kata azh-lamu menunjukkan makna paling zalim, bukan sekadar zalim biasa. Artinya, ini bukan kezaliman tingkat rendah, tetapi puncak kezaliman.
Lafazh mim-man (مِمَّنِ) adalah gabungan dari min yang artinya : dari dan man yang artinya : orang yang, sehingga bermakna: daripada orang yang.
Kata iftaraa (افْتَرَىٰ) berasal dari akar kata (ف ر ي) yang bermakna memotong, mengada-adakan, atau merekayasa. Dalam istilah Al-Qur’an, perbuatan iftira’ berarti membuat kebohongan secara sengaja, bukan karena salah paham atau keliru, tetapi dengan kesadaran penuh.
Kata ‘ala Allahi (عَلَى اللَّهِ) artinya: atas nama Allah, atau terhadap Allah. Ini menunjukkan bahwa kebohongan tersebut bukan sembarang dusta, melainkan disengaja untuk mengatasnamakan Allah SWT, agar terkesan punya kekuatan dasar hujjah di hadapan orang-orang jahil yang punya semangat religius tinggi tapi sedikit kurang cerdas bahkan bodoh.
Kata kadziban (كَذِبًا) artinya: kebohongan. Bentuk mashdar ini berfungsi sebagai penegas bahwa yang dilakukan itu benar-benar dusta murni, bukan syubhat atau kesalahan tafsir.
Yang dimaksud berdusta atas nama Allah mencakup banyak bentuk, antara lain:
1. mengklaim Allah mengatakan sesuatu yang tidak pernah Dia firmankan,
2. menetapkan halal–haram tanpa dasar wahyu,
3. mengubah, menolak, atau memelintir makna ayat demi kepentingan pribadi,
4. mengaku membawa ajaran ilahi padahal bersumber dari hawa nafsu.
Karena itu, ayat ini diletakkan setelah pembahasan tentang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri darinya. Puncaknya adalah: bukan hanya menolak kebenaran, tetapi mengganti kebenaran itu dengan kebohongan yang diklaim berasal dari Allah.
أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ
Lafazh aw (أَوْ) artinya: atau, biasa digunakan untuk menyatakan adanya dua pilihan atau lebih, bahkan bisa berfungsi menggabungkan dua bentuk kezaliman besar yang sejatinya saling berkaitan. Seolah-olah Allah SWT berfirman: kezaliman terbesar itu terjadi baik dengan cara ini, maupun dengan cara itu.
Kata kadzdzaba (كَذَّبَ) berasal dari akar kata (ك ذ ب) yang berarti dusta. Tasydid pada huruf dzal (ذّ) kata ini menunjukkan pendustaan yang disengaja, berulang, dan sadar, bukan sekadar salah paham atau keliru menilai. Jadi kadzdzaba berarti: menolak kebenaran dengan sikap keras dan penuh penentangan.
Kata bi-ayatihi (بِآيَاتِهِ) artinya: terhadap ayat-ayat-Nya. Huruf ba’ (بِ) di sini menunjukkan objek pendustaan, yaitu ayat-ayat Allah SWT. Makna kata ayatihi (آيَاتِهِ) bisa mencakup semua ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wahyu, juga termasuk di dalamnya tanda-tanda kekuasaan Allah, termasuk juga hujjah dan bukti kebenaran yang Allah tegakkan atas manusia.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini mengaitkan dua kejahatan akidah:
§ Iftira’ : yaitu mengada-adakan kebohongan atas nama Allah SWT.
§ Takdzib : yaitu mendustakan ayat-ayat Allah yang benar-benar datang dari-Nya.
Keduanya adalah dua sisi dari satu penyakit yang sama. Orang yang berdusta atas nama Allah pada hakikatnya menolak ayat yang asli, dan orang yang mendustakan ayat Allah sering kali menggantinya dengan versi buatan hawa nafsu.
Kata ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya: mereka itulah. Ini merupakan kata tunjuk yaitu isim isyarah yang berfungsi menunjuk secara tegas kepada kelompok yang telah disebut: orang-orang yang berdusta atas nama Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya.
Kata yanaaluhum (يَنَالُهُمْ) berasal dari akar kata (ن ي ل) yang bermakna mencapai, mendapatkan, atau menimpa. Kata nashiibuhum (نَصِيبُهُمْ) artinya: bagian mereka, jatah mereka. Kata nashiib menunjukkan porsi yang telah ditentukan secara adil dan terukur, bukan kebetulan dan bukan pula kezaliman. Baik berupa kenikmatan maupun azab, semuanya sudah memiliki “takaran”.
Kata min (مِنَ) artinya: dari. Dalam konteks ini, min menunjukkan bahwa bagian tersebut bersumber dari sesuatu yang lebih besar, yakni ketetapan Ilahi.
Kata al-kitaab (الْكِتَابِ) secara harfiyah sering diartikan begitu saja menjadi kitab. Kata ini dalam bahasa Arab modern berarti buku yang terdiri dari lembaran-lembaran kertas yang dijilid jadi satu dan diberi sampul kover. Namun benda seperti itu belum ada di masa kenabian, sehingga jika diterjemahkan secara modern pastinya akan keliru besar dan salah kaprah.
Menurut para ulama tafsir, kata kitab memiliki beberapa penjelasan, antara lain :
1. Lauhil Mahfuzh
Banyak mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-kitab adalah Lauhil Mahfuzh, yaitu tempat dituliskannya berbagai macam ketentuan dan catatan takdir. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hadid :
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. (QS. Al-Hadid : 22)
Ketentuan Allah yang telah ditetapkan sejak awal, termasuk para pendusta ayat yang akan menerima bagian hidupnya sesuai ketetapan Allah, baik berupa umur, rezeki, maupun ajal.
2. Janji dan Ancaman Dalam Al-Quran
Sebagian ulama menafsirkan al-kitab sebagai Al-Quran, khususnya terkait dengan apa yang telah Allah janjikan dan ancamkan. Maka nashiibuhum adalah bagian dari ancaman itu: azab yang telah tertulis dan tidak akan meleset.
Menariknya, ayat ini tidak langsung menyebut azab, tetapi menyatakan bahwa mereka tetap akan memperoleh “bagian dari kitab”. Ini menunjukkan bahwa keadilan Allah tetap berlaku, bahkan kepada orang yang paling zalim. Mereka tidak dizalimi, tetapi diberi persis sesuai apa yang telah ditetapkan.
Lafazh hatta (حَتَّىٰ) artinya: hingga, berfungsi sebagai penanda batas akhir dari sebuah proses yang panjang. Sejak mereka mendustakan ayat, menyombongkan diri, dan menerima “bagian mereka dari kitab”, semuanya berjalan terus-menerus hingga satu titik final, yaitu kematian.
Lafazh idza (إِذَا) adalah huruf syarat yang menunjukkan kepastian waktu. Maknanya bukan “jika mungkin”, tetapi ketika pasti terjadi. Ini memberi kesan bahwa momen yang disebutkan tak terelakkan.
Kata jaa-at-hum (جَاءَتْهُمْ) artinya: datang kepada mereka. Ini adalah kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi menunjukkan bahwa peristiwa ini pasti terjadi, seolah-olah sudah berlalu dalam ilmu Allah, meskipun bagi manusia ia masih akan datang.
Kata rusulunaa (رُسُلُنَا) artinya: utusan-utusan Kami. Namun jelas bahwa para utusan yang dimaksud di sini bukan para nabi, tetapi para malaikat yang diutus Allah khusus untuk menjalankan tugas khusus, yaitu pencabutan nyawa. Disebut dengan istilah rusul karena mereka benar-benar utusan resmi, menjalankan perintah Allah tanpa kelalaian dan tanpa penundaan.
Kata yatawaffawna-hum (يَتَوَفَّوْنَهُمْ) berasal dari akar kata (و ف ي) yang bermakna mengambil secara sempurna. Makna tawaffi bukan sekadar “mematikan”, tetapi mengambil nyawa secara utuh dan tuntas, tidak ada yang tersisa dan tidak ada yang bisa ditahan.
Maka penggalan ayat ini bermakna:
“Hingga ketika para utusan Kami datang kepada mereka untuk mencabut nyawa mereka.”
Para ulama tafsir menekankan bahwa ayat ini menggambarkan peralihan dari fase dunia ke fase akhirat. Selama di dunia, mereka masih bisa berdusta, membantah, menyombongkan diri, dan menghindar dari ayat-ayat Allah.
Namun ketika para malaikat pencabut nyawa datang, seluruh ruang debat tertutup. Tidak ada lagi argumen, tidak ada lagi penundaan, dan tidak ada lagi kesempatan memperbaiki sikap.
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata. Yang berkata adalah para malaikat pencbut nyawa dan merupakan para utusan dari Allah SWT, seperti yang disebut pada penggalan sebelumnya. Yang mereka katakan seperti pertanyaan, namun tujuannya sama sekali bukan untuk mencari informasi, melainkan pertanyaan yang sifatnya mengadili dan menjatuhkan semua hujjah dan argumentasi.
Lafazh aina (أَيْنَ) artinya: di mana. Dalam Al-Qur’an, pertanyaan ayna sering dipakai sebagai istifham taubikhi, yaitu pertanyaan bernada celaan dan pembongkaran, bukan pertanyaan netral. Huruf ma (مَا) di sini bersifat maushulah sehingga bermakna: apa saja yang.
Kata kuntum (كُنْتُمْ) artinya: kalian dahulu. Sebenarnya ini merupakan kata kerja dalam bentuk fi‘il madhi, namun kata ini juga menekankan bahwa semua itu sudah menjadi masa lalu, dan kini tidak lagi relevan atau berguna.
Kata tad‘una (تَدْعُونَ) berasal dari akar kata (د ع و) yang berarti memanggil, memohon, atau menyembah. Maknanya bukan sekadar menyebut nama, tetapi menggantungkan harapan, perlindungan, dan pertolongan.
Kata min dunillah (مِنْ دُونِ اللَّهِ) artinya: selain Allah. Ungkapan ini menunjukkan posisi tandingan, bukan sekadar yang lain, tetapi sesuatu yang diletakkan sebagai pengganti Allah dalam penghambaan.
Maka penggalan ayat ini bermakna:
Para malaikat pencabut nyata itu mempertanyakan : ‘Di mana sekarang apa saja yang dahulu kalian sembah selain Allah?’
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pertanyaan ini diajukan pada saat sakaratul maut atau awal masuk alam akhirat, ketika semua klaim palsu runtuh.
Tujuan pertanyaan ini bukan agar mereka menjawab dengan benar, tetapi untuk membongkar kesia-siaan syirik, memutus ketergantungan batin kepada selain Allah, dan menegakkan hujjah terakhir atas kekufuran mereka.
Pertanyaan ini juga mengandung ironi yang tajam: dahulu mereka merasa aman karena sesembahan-sesembahan itu, mereka bela, mereka banggakan, bahkan mereka pertaruhkan hidup demi itu, namun pada saat paling genting dalam hidup—kematian—semuanya lenyap tanpa bekas.
Penggalan ini menyiapkan jawaban berikutnya, ketika mereka sendiri terpaksa mengakui kegagalan total sesembahan tersebut, dan mengakui bahwa mereka telah tersesat oleh keyakinan mereka sendiri.
قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata. Maksudnya mereka orang-orang yang sebelumnya menyekutukan Allah SWT. Mereka menjawab pertanyaan para malaikat.
Kata dhallu anna (ضَلُّوا عَنَّا) secara frasa bisa dimaknai : kami kehilangan mereka. Kata dhallu (ضَلُّوا) secara harfiyah berasal dari akar kata (ض ل ل) yang bermakna tersesat, hilang arah, atau lenyap tanpa bekas. Namun dalam konteks ini maknanya bukan tersesat, tetapi hilang atau lenyap. Dengan tambahan kata ‘anna (عَنَّا) artinya: dari kami, maka lebih tepatnya berarti : kami kehilangan mereka.
Jelas sekali bahwa jawaban mereka ini menunjukkan penyesalan di akhir sekaligus menunjukkan keterputusan mereka secara total. Semua yang dahulu pernah mereka andalkan, kini terlepas sama sekali, tidak mendekat, tidak menolong, dan tidak menjawab.
Kata wa shahidu (وَشَهِدُوا) artinya: dan mereka bersaksi. Lebih tepatnya pengakuan yang dipaksa oleh realitas. Kata ‘ala anfusihim (عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ) artinya: atas diri mereka sendiri.
Kata annahum (أَنَّهُمْ) artinya: bahwa sesungguhnya mereka. Kata kanu (كَانُوا) adalah fi‘il madhi yang menunjukkan keadaan yang berlangsung lama di masa lalu, bukan sesaat atau kebetulan.
Kata kafirin (كَافِرِينَ) berasal dari akar kata (ك ف ر) yang bermakna menutup dan mengingkari. Maknanya mereka menutup kebenaran dengan sadar, bukan sekadar tidak tahu.
Maka secara utuh, penggalan ayat ini bermakna:
Mereka berkata: ‘Sesembahan-sesembahan itu telah lenyap dari kami.’ Dan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka dahulu adalah orang-orang kafir.
Para ulama tafsir menekankan bahwa ayat ini menggambarkan puncak kejatuhan batin manusia. Dahulu mereka keras membela kesyirikan, kini mereka sendiri yang mengakuinya sebagai kekufuran. Dahulu mereka menolak ayat, kini mereka menjadi saksi atas kesalahan mereka sendiri. Pengakuan ini tidak lagi bernilai taubat, karena datangnya setelah tertutupnya pintu amal. Pengakuan ini hanya berfungsi sebagai penetapan keadilan Ilahi.