Kemenag RI 2019:Sesungguhnya (bagi) orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ) dan mereka tidak akan masuk surga sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum. ) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat durhaka. Prof. Quraish Shihab:Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi (amalan, doa dan arwah) mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada para pendurhaka. Prof. HAMKA:Sesungguhnya orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombong terhadapnya, tidaklah akan dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan tidaklah mereka akan masuk ke dalam surga sehingga menyelusuplah seekor unta ke dalam lubang jarum. Dan sebagaimana demikianlah Kami membalas orang-orang yang berdosa besar.
Pertama bahwa mereka tidak akan dibukakan pintu-pintu langit. Keduanya mereka juga dipastikan tidak akan masuk surga. Ungkapannya dalam bentuk kemustahilan seperti mustahilnya badan unta yang besar mustahil bisa masuk ke dalam lubang jarum yang amat kecil.
Di bagian akhir Allah SWT menegaskan bahwa tidak dibukakan pintu-pintu langit dan tidak masuk surga adalah balasan kepada orang-orang yang berbuat durhaka.
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Kata inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya. Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata kadzdzabu (كَذَّبُوا) artinya : mendustakan. Kata bi aayaatina (بِآيَاتِنَا) artinya : terhadap ayat-ayat Kami, maksudnya wahyu samawi yang turun dibawa oleh Malaikat Jibril kepada Nabi SAW
Memang ketika wahyu turun, tidak ada seorang pun yang bisa melihat langsung penampakan Malaikat Jibril, baik dari kalangan kaum musyrikin, bahkan juga dari kalangan kaum muslimin. Karena Malaikat Jibril adalah makhluk ruhani, mata manusia biasa memang tidak dirancang untuk menangkap frekuensi keberadaannya dalam bentuk aslinya, kecuali dalam momen-momen yang sangat khusus.
"Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: 'Mengapa Allah tidak berbicara dengan kami (langsung) atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?'" (QS. Al-Baqarah: 118)
Maka wajar jika orang-orang musyrikin Mekkah itu tidak mengakui peristiwa turunnya wahyu, sebab mereka tidak melihat sendiri prosesnya. Dalam logika mereka, mana mungkin Allah SWT berkata-kata. Allah SWT yang mereka sembah itu dalam konsep mereka tidak bisa berkata-kata, diam saja di atas langit.
Kekafiran kaum musyrikin Arab itu memang disebabkan keingkaran mereka terhadap wahyu samawi, berhubung dalam tradisi leluhur mereka tidak pernah dikenal ada Tuhan yang berkata-kata. Apalagi hanya dibawakan oleh seorang manusia, jelas tidak bisa mereka terima. Karena itulah kebanyakan mereka mendustakan adanya wahyu yang dibawa oleh manusia.
Salah satu ayat yang paling jelas menggambarkan keterkejutan mereka terdapat dalam QS. Al-A'raf: 63. Meskipun ayat ini berkisah tentang kaum Nabi Nuh, Al-Quran menggunakannya untuk menyindir kaum musyrikin Arab yang memiliki pola pikir serupa:
"Dan apakah kamu (tidak percaya dan) heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi peringatan kepadamu...?" (QS. Al-A'raf: 63)
وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا
Kata was-takbaru (وَاسْتَكْبَرُوا) artinya : dan menyombongkan diri. Kata anha (anha) : artinya : darinya.
Dalam kaidah bahasa Arab, kata ini berasal dari akar kata (كَبُرَ) yang berarti besar, namun mendapatkan tambahan tiga huruf yaitu alif atau lebih tepatnya adalah hamzah washal (ا), huruf sin (س) dan huruf ta’ (ت) di depannya menjadi (استكبر). Pengaruhnya pada pergeseran makna dari ’besar’ menjadi : membesar-besarkan diri. Tiga versi terjemahan kita kompak memaknainya jadi : sombong.
Mereka disebut bersikap sombong karena mereka menolak otoritas Allah SWT sebagai Tuhan Pencipta yang berhak mengatur kehidupan manusia melalui wahyu. Ketika kepada mereka diperlihatkan ayat-ayat Allah namun mereka sengaja berpaling, itu adalah bentuk keangkuhan tertinggi. Ada makhluk ciptaan Allah SWT tapi merasa tidak butuh pada bimbingan Tuhannya atau merasa kedudukannya terlalu tinggi untuk bersujud dan patuh.
Sikap istikbar ini juga yang terjadi pada Iblis ketika menolak untuk sujud kepada Nabi Adam alaihissalam.
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34)
"Maka malaikat-malaikat itu bersujud semuanya bersama-sama, kecuali Iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir." (QS. Shad: 73-74)
Umat terdahulu ketika ingkar terhadap wahyu samawi yang Allah SWT turunkan, juga disebut telah bersikap istakbara.
Tentu, di dalam Al-Quran terdapat banyak sekali kisah yang menunjukkan bahwa sifat istakbara atau merasa besar ini merupakan penyakit kronis yang menjangkiti berbagai umat terdahulu ketika mereka berhadapan dengan kebenaran. Sikap ini tidak terbatas pada kaum musyrikin Arab saja, tetapi juga dilakukan oleh kaum-kaum besar di masa lalu terhadap Nabi mereka masing-masing.
Salah satu contoh yang sangat menonjol adalah kaum Nabi Nuh AS. Mereka merasa lebih besar dibandingkan para pengikut Nabi Nuh yang mereka anggap sebagai orang-orang rendahan. Allah SWT mengabadikan sikap mereka dalam ayat berikut:
"Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: 'Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta'." (QS. Al-A'raf: 66)
Kaum Tsamud yang dikenal memiliki kekuatan fisik luar biasa dan peradaban yang maju juga menunjukkan kesombongan serupa terhadap Nabi Shaleh AS. Mereka merasa kebesaran peradaban mereka membuat mereka tidak perlu tunduk pada peringatan Tuhan. Allah SWT berfirman mengenai dialog antara pemuka kaum yang sombong dengan orang-orang beriman:
"Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: 'Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu'." (QS. Al-A'raf: 76)
Contoh lain yang juga ikonik adalah Firaun dan para pemukanya saat menghadapi Nabi Musa AS. Kesombongan Firaun sudah sampai pada tingkat merasa dirinya adalah tuhan. Allah SWT menyifatkan perilaku mereka dengan kata yang sama:
"Maka mereka (Firaun dan bala tentaranya) menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami." (QS. Al-Qashash: 39)
Pola penolakan terhadap wahyu di setiap zaman selalu memiliki pola yang sama, yakni adanya segelintir orang yang memiliki kekuasaan atau pengaruh, sering disebut sebagai al-mala' (الملأ) yang merasa diri terlalu besar untuk tunduk pada kebenaran. Penggunaan kata istakbara dalam berbagai kisah umat terdahulu ini mempertegas bahwa apa yang dialami Nabi Muhammad SAW di Mekah bukanlah hal baru, melainkan pengulangan dari sejarah kesombongan manusia yang berujung pada kebinasaan.
لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
Penggalan ini dimulai dengan huruf laa (لا) yang berfungsi sebagai nafi atau peniadaan. Keberadaan huruf ini di awal kalimat memberikan penegasan mutlak bahwa apa yang disebutkan setelahnya tidak akan pernah terjadi.
Kata tufattahu lahum (تُفَتَّحُ لَهُمْ) artinya : dibukakan untuk mereka. Kata tufattahu merupakan bentuk pasif dari fi'il mudhari' mabni majhul, aslinya dari tiga huruf yaitu (ف ت ح). Penggunaan tasyid atau double consonant pada huruf ta’ sehingga menjadi tufattahu bukan tuftahu dalam kaidah bahasa Arab mengandung makna frekuensi yang berulang-ulang dan intensitas yang tinggi.
Kata abwaab (أبواب) adalah bentuk jamak dari bab (باب) yang berarti pintu. Penggunaan bentuk jamak ini menunjukkan bahwa langit memiliki banyak pintu akses. Sementara kata as-samaa’ (السماء) berarti langit.
Maka jika digabungkan semua kata dan penggalan di atas, kita mendapatkan makna utuh yaitu :
”Sesungguhnya bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit”.
Istilah pintu langit pastinya adalah ungkapan metafora, sebab langit secara astronomi pastinya bukan dinding tebal yang tidak bisa ditembus manusia. Secara astronomi, langit itu atmosfer yang bisa dengan mudah ditembus oleh berbagai macam benda langit yang tertarik gravitasi bumi. Di atas atau di luar dari atmosfer justru lebih kosong lagi, yaitu luar angkasa. Jangankan pintu, bahkan dindingnya saja pun tidak ada.
Maka istilah pintu-pintu langit itu jangan dibayangkan seperti halnya pintu gerbang pada pagar halaman atau dinding batu pada bangunan rumah.
Yang jadi pertanyaan disini adalah apa maksud dari tidak dibukakan pintu-pintu langit?
Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[1] meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud tidak dibukakan pintu langit adalah ketika nanti dicabut nyawanya, maka ruh orang-orang kafir tidak akan dibukakan. Sebaliknya yang dibukakan hanya orang-orang mukmin.
Lebih detailnya bahwa ketika ruh orang-orang kafir dicabut, para malaikat di bumi memukulnya hingga ia terangkat ke langit. Ketika sampai di langit dunia, para malaikat langit memukulnya sehingga ia jatuh kembali. Lalu para malaikat bumi memukulnya lagi sehingga ia terangkat, dan ketika sampai di langit dunia, para malaikat langit dunia memukulnya sehingga ia jatuh ke lapisan bumi yang paling bawah.
Adapun apabila ia seorang mukmin, maka ruhnya ditiupkan, dibukakan baginya pintu-pintu langit, dan ia tidak melewati satu malaikat pun kecuali malaikat itu memberi salam dan penghormatan kepadanya, hingga ia sampai kepada Allah. Lalu Allah memberinya apa yang ia perlukan. Kemudian Allah berfirman, “Kembalikanlah ruh hamba-Ku ini ke bumi, karena dari tanah Aku menciptakannya, ke tanah ia kembali, dan darinya ia akan dikeluarkan kembali.”
Namun pendapat lain masih dari jalur Ibnu Abbas juga menyebutkan bahwa ungkapan ini lebih merupakan metafora, yang tidak dibukakan bukan ruhnya ketika dicabut nyawa, tetapi maksudnya amal-amalnya tidak diterima Allah SWT. Seolah-olah langit menolaknya. Dan pandangan ini juga tidak keliru dilihat dari sisi bahwa orang kafir itu memang amalannya sia-sia percuma seperti famatorgana. Allah SWT berfirman :
Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah seperti fatamorgana di tanah datar; orang yang kehausan menyangkanya air. Hingga ketika ia mendatanginya, ia tidak mendapatinya apa-apa. (QS. an-Nūr: 39)
Ibnu Juraij menggabungkan dua pendapat ini dengan mengatakan bahwa yang tidak dibukakan pintu langit itu ruh dan amalnya sekaligus.
Meskipun para mufassir klasik lebih fokus memaknai tertutupnya ’pintu-pintu langit’ pada masalah tidak diterimanya ruh dan amal orang kafir, namun istilah ’pintu langit’ yang tertutup secara implisit mengandung makna terputusnya keberkahan rezeki.
Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran menyebutkan salah satu pendapat mengenai tidak dibukakan pintu langit adalah tidak diturunkannya keberkahan dan kebaikan dari langit bagi mereka. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT juga :
"Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan (membukakan) kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)
Namun yang perlu diperhatikan dari ayat ini adalah kata kunci : keberkahan. Yang ditutup bukan rejekinya, tetapi keberkahannya.
وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ
Kata wala yadkhuluna (وَلَا يَدْخُلُونَ) artinya : dan mereka tidak masuk. Kata al-jannah (الْجَنَّةَ) artinya : surga.
Ini adalah bagian dari aqidah dasar kita, yaitu orang kafir non muslim di akhirat dipastikan tidak akan masuk surga. Penggalan ayat ini menafikan keyakinan sebagian orang yang rancu dalam memahami konsep perbedaan agama. Mereka bilang semua agama itu benar dan akan kembali kepada Allah SWT. Jadi apapun agama yang dipeluk, pada akhirnya akan membawa ke surga.
Dengan kalimat yang tegas dan tanpa kompromi ini, Al-Quran menutup ruang bagi paham pluralisme agama yang menyetarakan semua keyakinan. Secara teologis, penggalan ini menjelaskan bahwa surga bukanlah hadiah atas sekadar berbuat baik secara kemanusiaan, melainkan balasan atas pengakuan sikap tauhid yaitu tidak menyembah apapun kecuali Allah SWT saja, juga mengakui wahyu yang Dia turunkan.
Sedangkan keyakinan bahwa semua agama sama dan akan bermuara di tempat yang sama, jelas-jelas tertolak mentah-mentah dan gugur dengan sendirinya dengan adanya ayat ini.
حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Dalam struktur kalimat ini, hatta (حَتَّىٰ) artinya : hingga, sehingga, atau sampai. Fungsinya sebagai harfu ghayah atau huruf yang menunjukkan batas akhir dari suatu tujuan. Maknanya ungkapan ta'jiz yang melemahkan atau menunjukkan kemustahilan.
Kata yalija (يَلِجَ) merupakan kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yang berakar dari kata walaja (وَلَجَ), maknanya bukan sekedar masuk tapi masuk ke dalam sesuatu yang sempit. Berbeda dengan kata dakhala yang artinya masuk secara umum, yalija memberikan gambaran tentang proses masuk yang memerlukan upaya karena lubangnya yang sangat terbatas atau pas-pasan. Kira-kira sebutanya : menjejalkan diri memaksa masuk padahal tidak muat.
Kata al-jamal (الْجَمَلُ) artinya : unta. Sebenarnya orang Arab punya ratusan kata yang semua berkonotasi unta, namun al-jamal merujuk pada unta jantan yang sudah dewasa, sempurna pertumbuhannya, dan memiliki postur tubuh yang paling besar, kokoh, serta kuat di antara jenis unta lainnya.
Jika Allah menggunakan kata al-ibil yaitu sebutan untuk unta secara umum, atau al-hwar yaitu anak unta, maka kontras kemustahilannya tidak akan sekuat kata al-jamal.
Kata fii sammi (فِي سَمِّ) terdiri dari huruf fi (في) yang berarti di dalam, dan kata sammi (سَمِّ) yang berarti lubang. Menariknya, kata samm (سمّ) juga digunakan untuk menyebut racun. Lantas apa hubungannya? Karena racun masuk melalui lubang-lubang pori tubuh yang sangat kecil. Maka kata samm (سمّ) merujuk pada lubang kecil yang ada pada suatu benda.
Kata al-khiyath (الْخِيَاطِ) berasal dari akar kata menjahit, namun lebih spesifik kepada alat yang digunakan untuk menjahit yaitu jarum. Jadi istilah sammi al-khiyath (سَمِّ الْخِيَاطِ) berarti lubang jarum. Tentu lubang yang ukurannya kecil sekali. Jika kita pakai penggaris, luas lubang jarum itu hanya kurang dari 1 milimeter dikali 0,5 milimeter.
Bandingkan dengan ukuran unta jantan dewasa. Tinggi badannya bisa mencapai sekitar 1,8 meter sampai 2,1 meter, bahkan jika diukur sampai ke puncak punuk bisa mencapai 2,1 meter sampai 2,5 meter. Ini berarti tingginya sudah melampaui tinggi rata-rata orang dewasa.
Lebar bahu atau dadanya tidak kurang dari 50 cm hingga 65 cm. Bagian inilah yang menjadi penentu utama dalam perumpamaan menelusup, karena bahu adalah bagian terlebar dari kerangka tulang unta yang tidak mungkin bisa mengecil. Lalu dari kepala hingga ekor biasanya berkisar antara 2,5 meter hingga 3,5 meter.
Benda sebesar itu jika dipaksa untuk dimasukkan ke dalam lubang yang paling sempit yaitu lubang jarum, maka jadi perumpamaan paling sempurna untuk satu kata yaitu mustahil. Al-Quran sedang menghadirkan sebuah perumpamaan kemustahilan yang paripurna.
Badan unta yang besar itu tidak akan pernah dapat masuk lubang jarum, bahkan lubang tikus saja pun tidak akan muat. Ungkapan ini adalah sebuah pameo yang menggabarkan betapa mustahilnya orang kafir masuk surga.
Memang bahasa Arab itu kaya dengan banyak perumpamaan yang unik. Misalnya dalam hadits disebutkan bahwa seseorang tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga itu tercium dari jarak sekian
Ia tidak akan mencium bau surga, padahal sesungguhnya bau surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun. (HR. al-Bukhari)
Tentu ini bahasa yang amat mateforis sekali dan memang jadi ciri khas bahasa Arab secara umum, termasuk juga gaya yang banyak digunakan oleh Al-Quran sendiri.
Al-Qurthubi menuliskan dalam tafsir bahwa para ulama sudah sampai titik ijma’ bahwa orang kafir nanti dipastikan tidak akan dapat pengampunan dari Allah SWT, khususnya tidak akan bisa masuk surga sejak awal hingga sampai kapan pun.
وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ
Kata wa kadzalika (وَكَذَٰلِكَ) artinya : dan demikianlah. Huruf waw berfungsi sebagai penghubung dengan uraian sebelumnya, sementara kadzalika menunjuk pada cara atau pola yang telah dijelaskan lebih dulu. Ungkapan ini memberi kesan bahwa apa yang disebutkan setelahnya bukan hal baru, melainkan kelanjutan dari sunnatullah yang telah berulang dan konsisten.
Kata najzi (نَجْزِي) artinya : Kami membalas, kami yang dimaksud adalah Allah SWT. Kata kerja ini berasal dari makna al-jaza’, yaitu memberi balasan yang sepadan. Kata al-mujrimin (الْمُجْرِمِينَ) artinya : orang-orang yang berbuat kejahatan.
Kata mujrimin tidak sekadar menunjuk pelaku dosa biasa, tetapi mereka yang melakukan kejahatan dengan kesadaran, keberanian menentang kebenaran, dan sikap membangkang. Akar katanya berkaitan dengan memotong atau merusak, seakan-akan perbuatan mereka memutus hubungan yang seharusnya lurus antara hamba dan Tuhannya.
Dengan ungkapan singkat ini, Al-Qur’an seakan menutup satu adegan besar dengan satu kalimat hukum: apa pun bentuk azab atau kehinaan yang disebutkan sebelumnya, semuanya berada dalam satu bingkai keadilan ilahi. Tidak ada yang diperlakukan secara sewenang-wenang. Semua berjalan sesuai sebab-akibat moral yang sudah ditegakkan sejak awal.
[1] Ath-Thabari (w. 310 H), Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M)