Kemenag RI 2019:Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah (ketika kamu hidup di dunia), bahwa mereka tidak akan diberi rahmat oleh Allah?” (Allah berfirman,) “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu juga tidak akan bersedih.” Prof. Quraish Shihab:(Para penghuni surga) itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah (ketika kamu hidup di dunia) bahwa mereka tidak akan diberi rahmat oleh Allah?” (Allah swt. berfirman): “Masuklah ke surga, tidak ada rasa takut menimpa kamu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.” Prof. HAMKA:Apakah ini orang-orang yang pernah kamu sumpahkan bahwa tidaklah Allah akan mencapaikan rahmat kepada mereka, “Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada ketakutan atas kamu dan tidaklah kamu akan berduka cita.”
Ayat ke-49 dari surat Al-A’raf ini masih lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu dialog yang dilakukan oleh ashabul a’raf kepada penghuni neraka, kemudian kepada penghuni surga.
Kepada penghuni neraka, mereka mempertanyakan atau lebih tepatnya menjatuhkan kesalahan kepada mereka, dengan gaya bertanya,”Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah (ketika kamu hidup di dunia), bahwa mereka tidak akan diberi rahmat oleh Allah?”
Sedangkan kalimat berikunya yaitu perintah untuk masuk kamu ke dalam surga dengan tidak ada rasa takut dan tidak akan bersedih, oleh para ulama diperselisihkan siapa yang bicara. Nanti akan kita jelaskan lebih jauh dalam pembahasan tafsirnya.
أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ
Kata a-ha’ula’i (أَهَٰؤُلَاءِ) artinya: apakah mereka ini. Mereka yang dimaksud menunjuk kepada sekelompok dari penghuni surga, yaitu orang-orang yang dahulu mereka anggap lemah, mereka remehkan keadaannya, bahkan terkadang mereka memperolok-oloknya, merasa enggan untuk bersama mereka dalam agama, dan merasa tinggi di atas mereka.
Maka ketika orang yang dahulu mengklaim dirinya lebih utama dan lebih tinggi melihat bahwa kedudukan yang tinggi justru diberikan kepada orang yang dulu ia anggap lemah, ia pun merasa gelisah karena hal itu, dan semakin besar penyesalan serta penyesihannya atas sikap dan perbuatannya sendiri di masa lalu.
Kata alladzina (الَّذِينَ) artinya: orang-orang yang. Kata aqsamtum (أَقْسَمْتُمْ) artinya: kalian telah bersumpah. Asalnya dari akar kata (ق س م) yang bermakna bersumpah atau menguatkan pernyataan dengan sumpah.
Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[1] menuliskan bahwa pernyataan ini masih merupakan kelanjutan dari ucapan para penghuni al-A‘raf kepada orang-orang yang diseru. Kalimat itu termasuk bagian dari apa yang mereka katakan, bukan ucapan yang terpisah. Maksudnya, para penghuni al-A‘raf menegaskan dan mengulang perkataan mereka dengan menunjuk langsung kepada orang-orang tertentu yang sedang diperlihatkan di hadapan mereka.
Orang-orang yang ditunjuk itu adalah kaum lemah yang kini menjadi penghuni surga, yaitu mereka yang dahulu di dunia diremehkan dan dihina oleh orang-orang kafir, bahkan dianggap tidak mungkin mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah. Orang-orang kafir itu ada yang benar-benar bersumpah dengan lisan, dan ada pula yang menunjukkan keyakinan tersebut lewat sikap dan perlakuan mereka, sehingga ayat ini menjadi gambaran pembalikan keadaan yang sangat menyakitkan bagi mereka yang dahulu merasa paling mulia.
لَا يَنَالُهُمُ اللَّهُ بِرَحْمَةٍ
Ungkapan la yanaluhum (يَنَالُهُمْ) artinya: tidak akan mencapai mereka atau tidak akan sampai kepada mereka. Kata ini berasal dari akar kata (ن ي ل) yang bermakna mencapai, memperoleh, atau mendapatkan. Dhamir hum (هُمْ) berarti mereka, yaitu orang-orang yang sedang dibicarakan.
Kata Allahu (اللَّهُ) artinya: Allah. Lafaz ini menjadi subjek dari pernyataan, menunjukkan bahwa yang mereka sangkal adalah tindakan atau ketetapan Allah.
Kata bi rahmatin (بِرَحْمَةٍ) artinya: dengan rahmat. Huruf ba’ (بِ) di sini menunjukkan sebab atau perantaraan, sedangkan rahmah (رَحْمَةٍ) berasal dari akar kata (ر ح م) yang bermakna kasih sayang, kelembutan, dan karunia. Rangkaian makna penggalan ini adalah: “Allah tidak akan menjangkau mereka dengan rahmat.”
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ
Kata udkhulu (ادْخُلُوا) artinya: masuklah kalian. Kata ini berasal dari akar kata (د خ ل) yang bermakna masuk. Bentuk perintah menunjukkan izin sekaligus pemuliaan untuk memasuki suatu tempat dengan aman. Kata al-jannata (الْجَنَّةَ) artinya: surga.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[2] menuliskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang mengatakan firman Allah “Masuklah ke dalam surga”. Ada yang berpendapat bahwa ucapan itu ditujukan kepada para penghuni al-A‘raf dan yang mengucapkannya adalah Allah sendiri, atau bisa juga malaikat yang diperintahkan oleh Allah untuk menyampaikannya.
Namun ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa kalimat itu diucapkan oleh sebagian mereka kepada sebagian yang lain, seakan-akan saling mendorong dan menguatkan.
Begitu juga menurut penjelasan Al-Alusi dalam tafsir Ruh Al-Ma'ani[3]. Beliau menuliskan bahwa perintah untuk masuk ke dalam surga merupakan ucapan para penghuni al-A‘raf. Setelah sebelumnya berbicara kepada orang-orang yang dahulu sombong, mereka lalu menoleh kepada orang-orang yang ditunjuk sebagai penghuni surga dan berkata kepada mereka dengan penuh penghormatan: tinggallah kalian di dalam surga dalam keadaan aman, tanpa rasa takut dan tanpa kesedihan, dengan kegembiraan yang sempurna dan kemuliaan yang utuh. Ucapan ini menggambarkan kebahagiaan dan ketenteraman yang telah mereka capai.
Namun menurut Ar-Razi, makna yang paling kuat adalah bahwa Allah SWT sedang mendorong dan memotivasi para penghuni al-A‘raf agar segera masuk ke surga, menyusul kedudukan mulia yang telah Allah siapkan untuk mereka.
Dengan pemahaman ini, maka rangkaian ayat menjadi jelas: ucapan “Apakah mereka inilah orang-orang yang dahulu kalian bersumpah bahwa Allah tidak akan memberi mereka rahmat?” adalah perkataan para penghuni al-A‘raf kepada orang-orang yang dahulu sombong, sedangkan kalimat “Masuklah ke dalam surga” adalah perkataan Allah sendiri kepada para penghuni al-A‘raf.
Ar-Razi menambahkan bahwa dalam susunan ayat ini memang terdapat penghilangan redaksi secara implisit. Seakan-akan maknanya adalah: “Lalu Allah berkata kepada mereka: Masuklah ke dalam surga.”
Penghilangan seperti ini bukanlah hal yang asing dalam Al-Qur’an. Ia mencontohkan ayat lain dalam surat Al-A‘raf ketika dialog para pembesar dan Fir‘aun disambung tanpa penanda yang tegas, namun maknanya tetap dapat dipahami dari konteks. Demikian pula di sini, perpindahan pembicara dari penghuni al-A‘raf kepada Allah Ta‘ala terjadi tanpa penjelasan eksplisit, tetapi dapat dikenali melalui alur dan makna ayat.
Dengan cara ini, Ar-Razi ingin menegaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan momen yang sangat halus: setelah para penghuni al-A‘raf menyaksikan kebenaran janji Allah dan runtuhnya kesombongan orang-orang zalim, Allah sendiri yang kemudian mempersilakan mereka masuk ke surga, sebagai penutup dari penantian dan kegelisahan mereka.
لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ
Ungkapan la khaufun (لَا خَوْفٌ) artinya: tidak ada rasa takut. Kata ‘alaikum (عَلَيْكُمْ) artinya: atas kalian. Maksudnya sudah tidak akan lagi merasa takut ketika seseorang sudah masuk surga, bahkan ketika baru saja diberi kabar akan dimasukkan ke surga.
Surga itu bukan hanya berisi nikmat yang sifatnya fisik belaka, tetapi lebih dari itu, surga itu berisi kenikmatan yang sifatnya psikologis. Seorang baru diberi kabar gembira akan dimasukkan ke dalam surga, maka hatinya langsung merasakan kebahagiaan. Padahal boleh jadi secara teknis belum sampai masuk surga, baru sekedar dijanjikan.
Disini juga demikian, Allah SWT baru saja memerintahkan agar masuk surga. Maka otomatis kondisi mental psikologisnya langsung terbangun, yaitu hilang semua rasa takut yang selama ini menyelubungi.
)وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ(
Ungkapan wa la (وَلَا) artinya: dan tidak pula. Huruf wawu () itu sifatnya menghubungkan, sedangkan huruf la () itu sifatnya kembali meniadakan.
Kata antum (أَنْتُمْ) artinya: kalian. Kata ganti ini menegaskan subjek secara langsung. Kata tahzanun (تَحْزَنُونَ) artinya: kalian bersedih. Kata ini berasal dari akar kata (ح ز ن) yang bermakna sedih atau berduka, biasanya berkaitan dengan sesuatu yang telah berlalu.
Tidak bersedih memang pasangan dari tidak takut. Kedua sifat ini nyaris muncul bersamaan di beberapa ayat quran. Salah satunya apa yang dirasakan oleh Ibunda Nabi Musa ketika harus berpisah dengan bayi Musa. Dia merasa takut sekaligus merasa sedih.
Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul. (QS. Al-Qashash : 7)
Ketika umat Nabi Luth akan dihancurkan dan negeri mereka akan diporak-porankan, Allah SWT mengutus malaikat kepada Nabi Luth untuk memberikan kabar berita buruk itu, agar Luth segera menyingkir dari negerinya. Saat itu Luth merasa takut sekaligus juga muncul rada sedih bercampur-aduk jadi satu. Allah SWT menceritakan dalam firman-Nya :
Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak punya kekuatan untuk melindungi mereka dan mereka berkata: "Janganlah kamu takut dan jangan (pula) susah. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali isterimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan)". (QS. Al-Ankabut : 33)
Di sisi yang lain, ketika seseorang yang beriman dan teguh dalam imannya selama hidup menghadapi ajalnya, maka Allah SWT kirim malaikat yang akan memberi kabar agar jangan takut, juga jangan bersedih. Sebab kepadanya sudah diberi bocoran lebih dulu bahwa akan dimasukkan ke dalam surga. Allah SWT berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS. Fushshilat : 30)
"Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (QS. Az-Zukhruf : 68)
Maka sejalan dengan itu, ketika para ashabul a’raf itu Allah SWT perintahkan untuk masuk surga, maka secara otomatis hilang lah saat itu juga rasa takut dan rasa sedih di hati mereka. Kabar berita masuk surga itu memang sebegitu dashyatnya, belum masuk dan hanya baru diperintahkan saja, sudah mampu menghilangkan semua rasa takut dan sedih di dada.