Kata wa a‘lamu (وَأَعْلَمُ) artinya: aku mengetahui. Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya: dari Allah SWT. Kata maa laa ta‘lamun (مَا لَا تَعْلَمُونَ) artinya: apa yang kalian tidak ketahui.
Setelah Nabi Nuh alaihissalam menyebut dua tugas utamanya yaitu menyampaikan risalah dan memberi nasihat, maka beliau menyebutkan lapis ketiga dari perannya, yaitu Beliau diberi pengetahuan khusus yang bersumber dari Allah, yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Ath-Thabari menafsirkan sebagai pengetahuan tentang sunnatullah dalam umat-umat terdahulu. Nabi Nuh mengetahui bahwa pendustaan yang terus-menerus terhadap risalah tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Fakhruddin ar-Razi memperluas makna ayat ini dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh mengetahui nilai sejati dari kebenaran, meskipun secara lahiriah tampak lemah.
Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim[3] menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah banjir besar yang akan menenggelamkan kaum yang ingkar.
Memang dalam kebanyakan tafsir klasik karya para mufassir, banjir besar di zaman Nabi Nuh itu semata-mata terjadi sebagai hukuman dan azab dari Allah. Jika tidak ada kekafiran, maka tidak ada banjir itu.
Namun penutup ayat ini, yang menyebutkan bahwa Nabi Nuh mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya, membuka ruang perenungan dan pertanyaan serta menggelitik rasa ingin tahu kita.
Kira-kira pengetahuan apakah yang Beliau dapatkan dari Allah SWT secara langsung itu?
Ada banyak tafsiran sebagaimana Penulis kutipkan di atas, namun sebagian ada yang mengatakan bahwa pengetahuan itu adalah informasi akan terjadinya banjir besar, yang tidak bisa diantisipasi secara normal, kecuali dengan membangun bahtera besar yang akan menyelamatkan mereka.
Informasi ini tidak dimiliki oleh kaumnya, karena ia bersumber dari wahyu, bukan dari pengamatan lahiriah atau perhitungan manusia biasa. Kaum Nabi Nuh menilai keadaan dengan apa yang tampak di hadapan mereka: negeri yang aman, langit yang biasa saja, dan tidak ada tanda bahaya yang dapat ditangkap oleh nalar mereka. Karena itu, berita tentang banjir besar terdengar mustahil dan tidak masuk akal.
Ketika ayat terkait banjir besar ini turun di era Nabi Muhammad SAW, Al-Quran kemudian sedikit banyak memberi beberapa informasi penting, yang bisa kita susun menjadi beberapa asumsi paling ilmiyah.
1. Hujan Ekstrem Dari Langit
Al-Quran menceritakan bahwa banjir itu diawali dengan hujan ekstrim yang turun dari langit tidak berhenti.
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah deras. (QS. Al-Qamar: 11)
Dari sudut pandang sains modern, ungkapan pintu-pintu langit dibukakan sangat selaras dengan konsep curah hujan ekstrem berskala luas dan terus-menerus. Dalam klimatologi dikenal fenomena persistent extreme precipitation, yaitu hujan deras yang berlangsung lama akibat ketidakstabilan atmosfer besar, misalnya perubahan drastis pada sirkulasi udara global atau gangguan sistem tekanan.
Secara ilmiah, hujan seperti ini bisa berlangsung jauh di atas rata-rata normal, lalu menutup wilayah sangat luas, yang membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga menyebabkan seluruh sistem sungai dan cekungan air meluap bersamaan.
Istilah munhamir (مُنْهَمِر) yaitu tercurah deras tanpa henti menguatkan asumsi bahwa ini bukan hujan biasa, tetapi hujan ekstrem yang berkesinambungan. Asumsi ilmiah paling logisnya adalah fase hujan anomali berskala besar dan berkepanjangan dan bukan sekedar badai sesaat.
2. Air Memancar Dari Bumi
Informasi lainnya dari Al-Quran adanya air yang keluar dari perut bumi, ini juga menarik untuk dianalisa.
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air. (QS. Al-Qamar: 12)
Ayat ini sangat penting secara ilmiah. Banjir tidak hanya datang dari hujan, tetapi juga dari dalam bumi. Dalam geologi modern, hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa kemungkinan. Tekanan air bawah tanah yang dilepaskan akibat retakan besar pada kerak bumi. Aktivitas tektonik (gempa besar) yang membuka jalur air bawah tanah secara serentak. Maka terjadilah pelepasan akuifer purba dalam jumlah sangat besar.
Fenomena air memancar dari tanah secara luas tidak lazim dalam kondisi normal, tetapi bukan mustahil secara geologis, terutama pada masa awal sejarah bumi ketika struktur kerak belum stabil seperti sekarang.
Asumsi ilmiah paling logisnya bahwa aktivitas geologi besar yang memicu pelepasan air bawah tanah secara masif.
3. Bertemunya Dua Sumber Air
Kedua sumber besar banjir itupun diceritakan saling bertemu oleh Al-Quran.
فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
Lalu bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan. (QS. Al-Qamar: 12)
Dari perspektif sains, ini menunjuk pada akumulasi multi-sumber banjir, yaitu hujan ekstrem ditambah air bawah tanah. Dalam kajian bencana modern, inilah skenario banjir paling mematikan, karena tanah sudah jenuh air, air dari bawah terus mendorong ke atas, tidak ada lagi ruang drainase alami.
Banjir jenis ini hampir tidak bisa diantisipasi secara normal, bahkan dengan teknologi modern, apalagi oleh masyarakat purba. Asumsi ilmiah paling logis bahwa peristiwa banjir multi-faktor yang saling memperkuat.
4. Tanda Awal Banjir Yang Tidak Biasa
Al-Quran juga bercerita tentang tanda awal banjir yang tidak biasa, yaitu :
وَفَارَ التَّنُّورُ
Dan air telah memancar dari tanur. (QS. Hud: 40)
Para mufassir klasik memahami tannur sebagai tanda awal azab. Dari sisi ilmiah, ini bisa dibaca sebagai sumber air yang sebelumnya aman tiba-tiba meluap, perubahan drastis pada titik-titik air domestik atau geotermal, indikasi awal ketidakstabilan sistem air tanah.
Dalam bencana modern, sering kali tanda awal kehancuran justru muncul dari hal yang dianggap aman dan rutin. Maka asumsi ilmiah paling logisnya bahwa titik-titik air lokal berubah menjadi sumber bahaya akibat tekanan besar sistem bawah tanah.
5. Air Meluap Melampaui Batas
Al-Quran bercerita tentang air yang meluap melampaui batas.
إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ
Ketika air telah meluap melampaui batas. (QS. Al-Haqqah: 11)
Kata thagha (طَغَى) menunjukkan air melewati ambang normal. Dalam terminologi modern, ini adalah flood beyond design limits, banjir yang melampaui semua perkiraan dan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini, tidak ada lagi mitigasi biasa yang bisa menyelamatkan manusia, kecuali perlindungan yang sudah disiapkan jauh hari.
Asumsi ilmiah paling logisnya bahwa ini adalah banjir katastropik (catastrophic flooding) berskala sangat besar.
Semua informasi itulah yang boleh jadi sudah diberikan Allah SWT kepada Nabi Nuh alaihissalam, namun diingkari oleh kaumnya. Bahkan ketika kemudian Allah perintahkan untuk membangun bahtera penyelamat, kaumnya malah mengejeknya sambil menuduhnya bodoh.
وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
Dan Nuh pun membuat bahtera. Dan setiap kali pemuka-pemuka dari kaumnya melewatinya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: ‘Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek. (QS. Hud : 38)
Banjir seperti pada masa Nabi Nuh itu tidak bisa dihindari dengan strategi darat, tidak bisa dilawan dengan ketinggian tetap, tidak bisa diatasi dengan insting manusia biasa. Secara ilmiah, satu-satunya cara bertahan hidup adalah berada di struktur terapung tertutup yang mengikuti naik-turunnya air. Maka perintah membangun bahtera bukan solusi simbolik, tetapi solusi fisik yang sepenuhnya rasional untuk jenis bencana seperti itu.
Dan justru di sinilah letak pelajaran besarnya. Akal manusia yang tidak diberi wahyu akan memilih gunung, tapi wahyu justru memerintahkan bangun bahtera. Bukan karena iman melawan logika, tetapi karena wahyu mendahului pengetahuan manusia tentang skala bencana.