Kemenag RI 2019:Mereka berkata, “Apakah engkau (wahai Hud) datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka, datangkanlah kepada kami apa yang kamu janjikan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Prof. Quraish Shihab:Mereka berkata: ‘Apakah engkau (Nabi Hud as.) datang kepada kami supaya kami menyembah Allah satu- satu-Nya dan kami tinggalkan apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami? Maka, datangkanlah apa (siksa) yang engkau janjikan kepada kami, jika engkau termasuk orang orang yang benar.” Prof. HAMKA:Mereka bertanya, “Apakah engkau datang kepada kami supaya kami menyembah Allah sendirinya saja? Dan supaya kami tinggalkan apa-apa yang disembah oleh bapak-bapak kami? Kalau begitu, datangkanlah kepada kami apa yang telah engkau janjikan itu, jika engkau dari golongan orang-orang yang benar.”
Pada dua ayat sebelumnya sudah diceritakan bagaimana Nabi Hud alaihissalam memperkenalkan status kenabiannya kepada kaumnya, dengan ajakan untuk mengimaninya. Bahkan Beliau mengakui kehebatan kaumnya yang jadi generasi pengganti di muka bumi, dengan segala bentuk kekuatan dan keunggulan.
Sayangnya dakwah Nabi Hud tidak ditanggapi dengan baik, justru mereka mencemooh, mencela dan merendahkan nabi yang Allah SWT utus kepada mereka. Ungkapan kesombongan mereka Allah SWT namapkkan di ayat ini lewat perkataan mereka sendiri :
“Apakah engkau (wahai Hud) datang kepada kami agar kami menyembah Allah semata dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami?”
Rupanya mereka lebih bangga dengan agama yang dibawa oleh para leluhur mereka sendiri, yang sudah mereka sucikan serta dijadikan warisan luhur turun temurun.
Bahkan ketika Nabi Hud alaihissalam menyampaikan ancaman dari Allah SWT, bahwa jika tidak beriman akan dapat siksa dan hukuman, mereka sama sekali tidak mengindahkannya, bahkan dengan jahatnya menantang balik. Ungkapannya pun diceritakan Allah SWT di ayat ini, pada penggalan berikutnya :
”Datangkan saja kepada kami apa yang kamu janjikan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Boleh jadi kesombongan mereka berangkat dari hegemoni dan rasa percaya diri sebagai bangsa dan peradaban yang besar. Ekonomi mereka makmur, teknologi mereka unggul, setidaknya untuk ukuran zamannya. Mereka merasa tidak perlu lagi bertuhan kepada Allah SWT. Juga tidak merasa butuh atas petunjuk samawi yang dibawa oleh nabi utusan-Nya.
قَالُوا أَجِئْتَنَا
Kata qalu (قَالُوا) artinya: mereka berkata, yaitu kaum ‘Ad berkata kepada Nabi Hud alaihissalam yang pada intinya menolak ajakan dakwahnya untuk menyembah Allah SWT.
Kata aji’tana (أَجِئْتَنَا) artinya: “apakah engkau datang kepada kami?“. Huruf hamzah di awalnya menunjukkan bentuk pertanyaan. Namun pertanyaan ini bukan sekadar ingin tahu, melainkan bernada keberatan dan penolakan. Maka jika dirangkai tanpa tafsir, makna bahasanya menjadi: “mereka berkata: apakah engkau datang kepada kami?”
Ungkapan Al-Quran sudah menjadi ciri khas, bahwa diutusnya para nabi dan rasul itu menggunakan kata kerja : datang. Sebenarnya secara hakikat, para nabi dan rasul itu tidak datang dari langit. Toh mereka semua hanyalah manusia biasa, yang lahir dari tengah kalangan mereka sendiri.
Setidaknya para nabi dan rasul itu adalah makhluk biologis biasa, bukan malaikat atau makhluk ghaib alam lain. Para nabi dan rasul itu tidak datang dari suatu tempat, namun yang datang itu wahyu atau risalahnya.
Begitu juga istilah : ’mengutus’. Para nabi dan rasul itu disebut sebagai utusan, kesannya mereka tinggal di langit bersama dengan para penghuni langit, lalu karena dapat tugas penting, maka turunlah mereka sebagai orang yang diutus. Padahal sebenarnya mereka tidak pernah tinggal di langit. Yang diutus dari langit ke bumi itu sebenarnya bukan para nabi dan rasul, melainkan malaikat Jibril alaihissalam.
Al-Quran sendiri pernah menyebut bahwa Malaikat Jibril mengaku sebagai utusan Allah SWT kepada manusia.
Dia berkata: Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci. (QS. Maryam: 19)
Ini menguatkan penjelasan bahwa istilah “mengutus” dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti secara fisik seseorang turun dari langit. Para nabi manusia memang diutus, tetapi mereka lahir dan hidup di tengah kaumnya. Yang benar-benar datang dari langit membawa wahyu adalah malaikat Jibril.
Jadi ketika Al-Qur’an menggunakan kata “datang” atau “diutus” untuk nabi, itu menunjuk pada misi dan risalahnya, bukan asal-usul biologisnya. Sedangkan yang secara literal datang dari alam langit ke bumi membawa wahyu adalah malaikat.
لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ
Huruf li pada li-na’buda (لِنَعْبُدَ) menunjukkan tujuan: agar kami menyembah. Kata na’buda (نَعْبُدَ) artinya: kami menyembah. Maksudnya melakukan serangkaian ritual peribadatan dengan segala ketentuan syariatnya. Kata Allaha (اللَّهَ) adalah nama Allah SWT. Kata wahdahu (وَحْدَهُ) artinya: Dia saja, atau hanya Dia. Kata ini berasal dari akar kata (و ح د) yang bermakna satu.
Penggalan ini mengandung sedikit informasi penting, yaitu mereka kenal Allah SWT, bahkan boleh jadi memang juga menyembah Allah SWT sebagai tuhan. Namun pesan yang terkandung dalam penggalan ini tegas dan lugas, yaitu yang boleh disembah hanya Allah SWT saja, yang lain tidak boleh disembah karena tidak pernah bisa dibuktikan sebagai Tuhan dalam arti yang sebenarnya.
Mayoritas kaum musyrik yang dihadapi para nabi bukanlah peradaban anti tuhan alias ateis. Mereka bukan orang yang menolak keberadaan Allah. Justru mereka mengenal Allah sebagai Tuhan tertinggi, Pencipta, Penguasa langit dan bumi. Masalahnya bukan pada pengakuan terhadap Allah, tetapi pada penyekutuan dalam ibadah.
Kalau kita lihat pola Al-Qur’an secara umum, misalnya pada kaum Quraisy, Allah berfirman:
”Dan sungguh jika engkau bertanya kepada mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab: Allah.” (QS. Az-Zumar: 38)
Artinya mereka mengakui Allah sebagai Pencipta. Tetapi dalam saat yang sama mereka juga menyembah berhala sebagai perantara.
Pada kaum ‘Ad, Shalih, dan kaum-kaum lain, Al-Qur’an hampir selalu menyebut seruan para nabi dengan redaksi:
اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
“Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian tuhan selain Dia.”
Kalimat ini tidak ditujukan kepada orang yang tidak mengenal Allah sama sekali. Kalimat ini ditujukan kepada orang yang sudah mengenal Allah, tetapi menjadikan tuhan-tuhan lain di samping-Nya. Karena itu dalam penggalan (لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ), kata wahdahu yang artinya : Dia saja atau hanya Dia, menjadi kunci. Penekanannya bukan sekadar menyembah Allah, tetapi menyembah Allah saja.
Ini menunjukkan bahwa problem mereka bukan penolakan terhadap Allah, tetapi ketidakmurnian tauhid.
وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا
Huruf wa (وَ) artinya: dan. Kata nadzara (نَذَرَ) artinya: kami meninggalkan. Dalam konteks ini bermakna membiarkan dan tidak lagi mengikuti. Kata ma kaana (مَا كَانَ) artinya : apa yang dahulu. Kata ya’budu (يَعْبُدُ) artinya: mereka menyembah. Kata aba’una (آبَاؤُنَا) artinya: nenek moyang kami.
Rupanya sesembahan mereka itu bukan mereka yang ciptakan, melainkan mereka hanya mewarisi dari para leluhur mereka. Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim [1] menuliskan riwayat bahwa mereka dahulu menyembah berhala-berhala. Maka ada satu berhala yang disebut Shuda’, ada lagi yang disebut Shumud, dan ada lagi yang disebut Al-Haba’.
Dalam prasasti-prasasti Sabaean dan peradaban Arabia Selatan kuno, khususnya pada sekitar milenium pertama sebelum Masehi, telah ditemukan nama beberapa dewa yang disembah masyarakat wilayah itu. Beberapa di antaranya adalah Almaqah, yang dianggap sebagai dewa bulan yang sangat populer di kerajaan Saba’. Banyak prasasti menyebut namanya.
Selain ada juga disebut-sebut dewa Athtar, yaitu dewa yang sering dikaitkan dengan bintang Venus dan kesuburan. Ada juga dewa Syams, yaitu semacam Dewa matahari. Uniknya dalam beberapa tradisi justru berbentuk feminin.
Namun perlu dicatat, Al-Qur’an tidak menyebut secara spesifik nama dewa kaum ‘Ad, berbeda dengan kaum Nabi Nuh yang disebutkan memiliki berhala seperti Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Artinya, teks wahyu memang tidak memfokuskan pada identitas nama berhala mereka, tetapi pada hakikat penyimpangan tauhidnya.
فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا
Kata fa’tina(فَأْتِنَا) artinya: maka datangkanlah kepada kami. Kata bima (بِمَا) artinya: dengan apa yang. Huruf ba menunjukkan makna membawa atau mendatangkan sesuatu.
Kata ta’iduna (تَعِدُنَا) artinya: yang engkau janjikan kepada kami. Maksudnya sesuatu yang sebelumnya telah disampaikan oleh Nabi Hud, yaitu ancaman azab jika mereka tetap ingkar. Pada dasarnya justru bentuk perlawanan atau lebih tetapnya menantang turunnya siksa dan hukuman dari Allah SWT. Bukannya beriman, malah mereka sok meminta agar azab yang diancamkan itu segera didatangkan.
Memang selama siksa dari langit itu belum terjadi, mereka masih bisa bicara panjang lebar seenaknya tanpa rasa takut.
Ternyata jawaban yang kurang lebih mirip semacam ini juga disampaikan oleh kaum musyrikin Arab di masa kenabian Muhammad SAW, sebagaimana tercantum di ayat lain :
(Ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini adalah kebenaran dari sisi-Mu, hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang sangat pedih.” (QS. Al-Anfal : 32)
إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ
Kata in kunta (كُنْتَ) artinya: jika kamu. Kata ini berasal dari akar kata (ك و ن) yang bermakna ada atau menjadi. Bentuknya fi’il madhi, namun dalam susunan ini menunjukkan keadaan yang dikaitkan dengan syarat sebelumnya.
Kata mina (مِنَ) artinya: termasuk dari atau bagian dari. Kata ash-shadiqin (الصَّادِقِينَ) artinya: orang-orang yang benar. Kata ini berasal dari akar kata (ص د ق) yang bermakna benar, jujur, dan sesuai antara ucapan dengan kenyataan. Bentuknya jamak, menunjukkan kelompok orang-orang yang benar dalam pengakuan dan ucapan mereka.
Kalimat ini menunjukkan tantangan kaum ‘Ad kepada Nabi Hud alaihissalam. Seolah-olah mereka berkata: ”jika memang engkau benar dalam dakwahmu, maka buktikanlah”.