Kata fanzhur (فَانْظُرْ) berarti maka lihatlah atau perhatikanlah. Huruf fa menunjukkan kesimpulan dari peristiwa sebelumnya. Sedangkan kata unzhur (انْظُرْ) berasal dari akar kata (ن ظ ر) yang berarti melihat, memperhatikan, atau mengambil pelajaran. Dalam konteks ayat ini bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi merenungkan dan mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut.
Secara harfiyah perintah untuk melihat ini merupakan bentuk fi’il amr yang secara baku umumnya berdampak pada kewajiban.
Namun banyak kalangan yang berpendapat bahwa perintah ini tidak dimaksudkan sebagai perintah literal untuk melihat dengan mata kepala secara langsung, karena peristiwa kehancuran kaum Nabi Luth sudah terjadi jauh sebelum ayat ini diturunkan. Karena itu para mufassir menjelaskan bahwa perintah ini adalah perintah untuk memperhatikan dan mengambil pelajaran.
Al-Imam Ath-Tabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[3] menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah ajakan untuk mengingat dan mengambil ibrah dari sejarah umat-umat terdahulu.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[4] mengatakan bahwa perintah seperti ini sering muncul dalam Al-Qur’an untuk menggugah kesadaran manusia agar memperhatikan akibat dari kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat terdahulu. Menurutnya, kata انظر dalam ayat-ayat seperti ini bukan sekadar melihat secara fisik, tetapi melihat dengan mata hati, yaitu memahami dan merenungkan hikmah di balik peristiwa tersebut.
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib[5] juga menegaskan bahwa ungkapan seperti ini merupakan bentuk retorika Al-Qur’an yang sangat kuat. Setelah menggambarkan turunnya azab kepada kaum Nabi Luth, Al-Qur’an langsung memerintahkan pembacanya untuk memperhatikan akibatnya. Dengan demikian pembaca tidak sekadar mendengar cerita, tetapi diajak menyaksikan secara mental dan intelektual bagaimana akhir dari sebuah masyarakat yang menolak kebenaran.
Kata kaifa (كَيْفَ) berarti bagaimana. Kata ini digunakan untuk mengajak pembaca atau pendengar memperhatikan keadaan yang terjadi. Kata kana (كَانَ) berarti telah terjadi atau bagaimana jadinya.
Kata ‘aqibah (عَاقِبَة) berasal dari akar kata (ع ق ب) yang makna dasarnya adalah akhir atau akibat dari sesuatu. Dalam konteks Al-Qur’an kata ini sering dipakai untuk menunjukkan kesudahan dari suatu kaum setelah mereka menolak kebenaran.
Kata al-mujrimin (الْمُجْرِمِينَ) berasal dari akar kata (ج ر م) yang berarti melakukan kejahatan atau dosa besar. Karena itu makna dasarnya adalah orang-orang yang melakukan kejahatan. Kemenag dan Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : para pendurhaka, sedangkan HAMKA menerjemahkannya menjadi : orang-orang yang berdosa besar. Kedua pilihan kata ini pada dasarnya menggambarkan makna yang sama, yaitu orang-orang yang melakukan kejahatan besar dengan menolak kebenaran dan melakukan perbuatan dosa. Jika dirangkai sesuai makna lughawinya, ayat ini kira-kira bermakna:
Dan Kami turunkan kepada mereka suatu hujan. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kejahatan.
Maksud hujan dalam ayat ini adalah hujan batu yang menjadi azab bagi kaum Nabi Luth, yang menandai akhir kehancuran masyarakat yang menolak dakwah beliau.
Kehancuran Yang Ditimpakan
Jika ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kehancuran kaum Nabi Luth dikumpulkan, maka terlihat bahwa azab yang menimpa mereka tidak digambarkan hanya dengan satu istilah. Al-Qur’an menggunakan beberapa kata yang berbeda seperti ash-shaihah (الصيحة), ar-rajfah (الرجفة), wa ja’alna ‘aliyaha safilaha (جعلنا عاليها سافلها), dan amtharnya ’alaihim hijaratan (أمطرنا عليهم حجارة). Para mufassir sejak masa klasik memahami bahwa istilah-istilah ini bukan peristiwa yang berbeda-beda, tetapi menggambarkan tahapan kejadian yang saling berurutan.
Peristiwa itu dimulai ketika para malaikat datang ke rumah Nabi Luth dalam rupa manusia. Kaumnya yang terkenal dengan kebejatan moral segera mengetahui kedatangan para tamu itu dan mendatangi rumah Nabi Luth dengan maksud buruk. Saat itulah para malaikat menyampaikan kepada Nabi Luth bahwa mereka diutus oleh Allah untuk menghancurkan kota tersebut dan memerintahkan beliau keluar dari kota pada malam hari bersama orang-orang yang beriman. Dalam Surah Hud ayat 81 disebutkan bahwa mereka diperintahkan berjalan pada malam hari dan tidak menoleh ke belakang.
قَالُوا يَا لُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut, sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu. Mereka tidak akan dapat mengganggumu (karena mereka akan dibinasakan). Oleh karena itu, pergilah beserta keluargamu pada sebagian malam (dini hari) dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu (janganlah kamu ajak pergi karena telah berkhianat). Sesungguhnya dia akan terkena (siksaan) yang menimpa mereka dan sesungguhnya saat (kehancuran) mereka terjadi pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud : 81)
Setelah Nabi Luth dan para pengikutnya keluar dari kota, barulah azab itu dimulai. Al-Qur’an menggambarkan tahap pertama dengan istilah ash-shaihah (الصيحة) atau ash-sha’iqah (الصاعقة) dalam beberapa ayat, yang oleh para mufassir dipahami sebagai dentuman atau suara dahsyat dari langit. Al-Imam Ath-Tabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan fi Ta’wil Ayil-Quran[6] menjelaskan bahwa suara dahsyat ini adalah permulaan kehancuran yang mengguncang kota mereka.
Tahap berikutnya digambarkan dengan kata ar-rajfah (الرجفة) yaitu guncangan hebat. Kata ini dalam bahasa Arab berarti gempa atau getaran kuat pada bumi. Banyak mufassir seperti Al-Qurthubi menjelaskan bahwa guncangan ini membuat bangunan-bangunan mereka runtuh dan masyarakatnya panik sebelum azab berikutnya datang.
Setelah itu Al-Qur’an menyebut peristiwa yang sangat luar biasa dengan ungkapan :
فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ
Maka Kami jadikan bagian atasnya menjadi bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.(QS. Al-Hijr : 74)
Para ulama tafsir memahami ayat ini sebagai peristiwa ketika kota mereka diangkat kemudian dibalikkan. Dalam riwayat-riwayat tafsir disebutkan bahwa malaikat Jibril mengangkat kota itu hingga ke langit lalu membalikkannya ke bumi. Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari para ulama salaf bahwa kota itu diangkat sehingga para malaikat di langit dapat mendengar suara anjing dan ayam di dalamnya, kemudian dibalikkan dan dijatuhkan kembali.
Sesudah kota itu terbalik, datang tahap terakhir dari azab tersebut yang digambarkan dengan ayat وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ dan juga وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا. Di sini Al-Qur’an menggunakan kata mathar, yaitu hujan. Para mufassir menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah hujan batu dari tanah yang dibakar. Batu-batu itu disebut berasal dari sijjil, yaitu tanah yang mengeras seperti batu. Hujan batu ini menimpa mereka setelah kota mereka terbalik, sehingga menjadi azab penutup yang menghancurkan seluruh penduduknya.
Karena itu jika disusun secara berurutan menurut penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an dan tafsir para ulama, peristiwa kehancuran kaum Nabi Luth dapat dipahami sebagai rangkaian kejadian yang dimulai dengan kedatangan para malaikat dan keluarnya Nabi Luth dari kota, kemudian disusul oleh dentuman dahsyat dari langit, guncangan kuat pada bumi, terbaliknya kota mereka, dan akhirnya hujan batu yang menimpa mereka hingga mereka semua binasa.
Gambaran ini menunjukkan bahwa azab yang menimpa kaum Nabi Luth bukanlah satu peristiwa tunggal, melainkan rangkaian bencana dahsyat yang datang berturut-turut, sehingga Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah berbeda untuk menggambarkan sisi-sisi dari kehancuran yang sama.
Benarkah Terkubur di Dasar Danau Laut Mati?
Beberapa arkeolog berpendapat bahwa kemungkinan kota-kota tersebut berada di bagian selatan Laut Mati, karena kawasan itu secara geologis memang sangat aktif. Daerah tersebut berada di jalur patahan besar yang dikenal sebagai Dead Sea Transform Fault, yaitu garis patahan yang memanjang dari Turki hingga Afrika Timur. Patahan ini sering mengalami aktivitas gempa bumi sejak zaman kuno.
Dalam kajian geologi, ada kemungkinan bahwa sebuah gempa bumi besar pada masa lampau menyebabkan wilayah tersebut runtuh atau tenggelam. Karena Laut Mati merupakan daerah yang sangat rendah . Posisinya sekitar 430 meter di bawah permukaan laut, titik terendah di daratan bumi, perubahan geologi besar bisa menyebabkan wilayah tertentu amblas dan kemudian tertutup air. Al-Quran menyebutkan ungkapan itu dalam surat Ar-Rum.
غُلِبَتِ الرُّومُ فِي أَدْنَى الْأَرْضِ
Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang paling dekat (atau paling rendah)”(QS. Ar-Rum: 2–3)
Beberapa penafsir modern memperhatikan kemungkinan makna kedua dari kata adna, yaitu paling rendah. Secara geografis wilayah di sekitar Laut Mati memang merupakan kawasan daratan yang paling rendah di permukaan bumi, sekitar 430 meter di bawah permukaan laut. Karena itu ada yang mengaitkan ungkapan adnal-ardh dengan fakta geografi tersebut.
Sejumlah peneliti mengaitkan kemungkinan ini dengan deskripsi Al-Qur’an yang menyebut beberapa tahap kehancuran kaum Nabi Luth, seperti:
§ جعلنا عاليها سافلها — Kami jadikan bagian atasnya menjadi bawah
§ الرجفة — guncangan besar
§ الصيحة — dentuman dahsyat
§ أمطرنا عليهم حجارة — hujan batu
Beberapa ilmuwan mencoba menafsirkan rangkaian istilah ini sebagai kemungkinan bencana geologi besar yang melibatkan gempa bumi, ledakan gas alam, serta hujan material panas dari langit. Wilayah sekitar Laut Mati memang dikenal memiliki kandungan bitumen dan gas alami yang tinggi. Jika terjadi gempa besar yang memicu letusan gas atau kebakaran besar, bencana tersebut bisa tampak seperti “hujan api atau batu”.
Namun tidak semua peneliti sepakat bahwa kota tersebut benar-benar berada di bawah Laut Mati. Ada juga teori lain yang menyatakan bahwa kota-kota itu berada di dataran di sekitar Laut Mati, bukan di bawah air. Beberapa situs arkeologi seperti Bab edh-Dhra dan Numeira di sisi tenggara Laut Mati pernah diteliti karena menunjukkan jejak kehancuran mendadak sekitar 2000 SM.
Ada pula penelitian modern yang mengusulkan lokasi lain, seperti situs Tall el-Hammam di wilayah Yordania. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa kota itu pernah mengalami kehancuran besar akibat ledakan udara kosmik (airburst) mirip peristiwa Tunguska. Namun teori ini juga masih diperdebatkan di kalangan ilmuwan.
Dari sudut pandang tafsir klasik, para ulama sebenarnya tidak terlalu menekankan lokasi geografis yang tepat dari kota kaum Nabi Luth. Fokus tafsir lebih pada pelajaran moral dari kisah tersebut, yaitu bagaimana sebuah masyarakat yang menolak kebenaran dan tenggelam dalam kerusakan akhirnya mengalami kehancuran.
Yang menarik adalah bahwa wilayah sekitar Laut Mati hingga sekarang memang dikenal sebagai kawasan yang penuh fenomena geologi ekstrem: tanah yang sangat asin, kandungan mineral tinggi, serta jejak aktivitas tektonik yang kuat. Hal ini membuat banyak peneliti modern menganggap bahwa kawasan tersebut sangat mungkin pernah mengalami bencana alam besar pada masa lampau.
Karena itu, hipotesis bahwa kota kaum Nabi Luth terkubur di sekitar atau bahkan di bawah Laut Mati tidak mustahil secara geologi, tetapi sampai saat ini belum ada bukti arkeologi yang benar-benar memastikan lokasi persisnya. Kisah tersebut masih berada di antara data geologi, temuan arkeologi yang terbatas, dan interpretasi sejarah kuno.