Terdapat polemik menarik antar muslim saat ini, dimana dalam menghadapi sebuah permasalahan yang dianggap baru seringkali ditangkal dengan perkataan “kalau Rasulullah tidak pernah melakukan maka haram bagi kita melakukannya”.
Terdapat polemik menarik antar muslim saat ini, dimana dalam menghadapi sebuah permasalahan yang dianggap baru seringkali ditangkal dengan perkataan “kalau Rasulullah tidak pernah melakukan maka haram bagi kita melakukannya”.
Dari sini timbul pertanyaan besar, apakah salah satu sebab keharaman sebuah perkara itu adalah karena Rasulullah dalam hidupnya tidak pernah mengerjakan? Kemudian apakah lantas hal ini bisa menjadi landasan atas pengharaman segala hal yang baru dilakukan setelah nabi wafat?
Definisi Hukum Haram dan Identifikasinya Melalui Nushus
Haram adalah salah satu dari lima hukum taklifiyah yang disepakati oleh jumhur ulama (Wajib, Mandub atau sunnah, Makruh, Haram, Mubah). dalam kitab al mustaia didefinisikan sebagai berikut:
Haram ialah perintah Syari’ untuk meninggalkan suatu hal dalam bentuk penekanan dan keharusan.
Kemudian Imam Baidhowi dalam Minhajul wusul mendefinisikan:
Segala hal yang dalam syariat dihukum mereka yang melakukannya
Dari definisi ini kemudian para ulama menambahkan redaksi lain menjadi: segala hal dalam syariat yang apabila ditinggalkan mendapatkan ganjaran dan bila dilakukan berdosa.
Bagaimana mengidentifikasi hukum haram dari nusus?
Dalam banyak kitab-kitab ushul, dijelaskan bagaiamana caranya memahami bahwa redaksi dari Quran ataupun Hadist menunjukkan keharaman atas suatu hal :
1. Lafadz yang secara eksplisit menyebutkan kata “haram”.
Contohnya:
Dan Allah Menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Al Baqorah: 275)
2. Redaksi larangan. karena menurut ulama ushul, pelarangan itu bermakna pengharaman.
Contoh :
Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat (Al An’am 152)
3. Perintah menjauhi sebuah perkara.
Contohnya:
Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah: 90)
4. Penggunaan kata “Tidak dihalalkan”.
Contohnya:
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga Dia kawin dengan suami yang lain. (Al Baqoroh: 230)
5. Kalimat yang mengandung konsekuensi ancaman hukuman atas sebuah perbuatan yang dilakukan.
Contohnya:
Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik. (An Nur: 4)
6. Segala redaksi yang bermakna pelarangan dengan lafadz yang keras
Misalnya laknat Allah, Allah memurkai, memasukkan pelakunya ke golongan kafir, fasiq, dzholim, dll. Contohnya:
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (Al Maidah: 44)
Dari Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah SAW Bersabda: Allah melaknat orang yang menyuap dan orang yang disuap (HR. Ibnu Majah: 2313)
Dari definisi dan cara ulama ushul mengidentifikasi hukum haram melalui dalil nusus tersebut, tidak kita temukan satupun tanda-tanda yang menerangkan bahwa yang tidak pernah dilakukan oleh nabi kemudian jika kita lakukan menjadi haram.
Dalam disiplin ilmu ushul fiqh, segala hal yang tidak tertera dalam nushus baik itu Quran ataupun Sunnah, bisa saja menjadi legal atau masyru’ dengan pertimbangan lain yang juga menjadi landasan dalam menarik kesimpulan hukum taklif yang lima. Bisa melalui maslahat mursalah, adat masyarakat luas, madzhab shahabi, dan lain-lain. Jadi tidak semena-mena kita langsung katakan bahwa yang dulu tidak dilakukan nabi menjadi haram bila dilakukan.
Namun, masih ada lagi dari sebagian orang yang memasukkan hal ini kepada kriteria “at tarku” atau apa-apa yang ditinggalkan oleh Nabi SAW. Lalu apakah at tarku itu kemudian bermakna pengharaman?
Jika Nabi Meninggalkan sesuatu apakah hal itu bermakna keharaman?
Dalam kitab Al-Muwafaqot, Imam As-Syatibhi menuliskan bahwa apabila Nabi SAW meninggalkan suatu perkara itu karena ada beberapa hal yang melatar belakanginya:
Dari sini, karena at-tarku atau hal yang ditinggalkan oleh nabi mengandung banyak kemungkinan, maka muncullah kaidah ushuliyah dalam kitab muwafaqot juga:
Kalau suatu dalil punya banyak kemungkinan (multi interpretasi), maka tidak bisa dijadikan alat berdalil.
Begitu pula dalam kitab “min ushulil fiqh ‘ala manhaji ahlil hadits” karangan Syeikh Zakariya bin Ghulam Qodir al Pakistani, beliau menulis sebuah kaidah:
Segala hal yang asalnya adalah mubah dan kemudian Nabi SAW meninggalkannya, tidak bermakna bahwa perihal meninggalkan tersebut wajib kita ikuti.
Kemudian beliau melanjutkan bahwa yang ditinggalkan nabi suatu saat memang bisa menjadi sunnah dan bila dilakukan berkonsekuensi berdosa yakni apabila memang ada dalil khusus yang menjadi pelarangannya dan tidak ada dalil atas kebolehannya sama sekali walaupun berkonotasi umum.
Jangan Menjadi Panitia Akhirat
Maksudnya panitia akhirat bagaimana? Gampangan menjudge bahwa ini sunnah, ini haram, dan ini masuk neraka. Seolah-olah kita yang punya legalitas menentukan hukum suatu perkara. Padahal ulama-ulama terdahulu (salafussolih) tidak juga demikian, apalah kita ini dibandingkan dengan para mujtahid mutlaq sekelas imam-imam madzhab dan ulama lainnya.
Maka sebaiknya kita benar-benar mengaji dan mengkaji terlebih dahulu atas sebuah perkara, serta tidak cepat-cepat menghukuminya. Kalaupun nantinya masuk pada ranah perbedaan dalam furu’ maka kita dituntut untuk bijak menghargai perbedaan tersebut, bukan ngotot membenarkan pilihan kita.
Wallahu a’lam bisshowab
| Ganti Mazhab
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Wed 30 October 2024 |
| Masjid : Antara Kampus dan Kantin
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Tue 29 October 2024 |
| Fiqih Negara : Kedudukan Negara Dalam Hukum Syariah
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Fri 25 October 2024 |
| Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Mon 1 November 2021 |
| Al-Quran dan Kitab-Kitab Suci Samawi Lain Dalam Ajaran Islam
Muhammad Alfatih, Lc | Mon 4 October 2021 |
| Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
Hanif Luthfi, Lc., MA | Fri 1 October 2021 |
| Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Wed 1 September 2021 |
| Bahaya Takhbib
Hanif Luthfi, Lc., MA | Tue 8 September 2020 |
| Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 9 August 2020 |
| Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 2 August 2020 |