Manaqiban dan haul merupakan tradisi pembacaan biografi dan keutamaan para wali, orang-orang sholeh, ulama-ulama besar, yang menjadi panutan umat. Dalam acara tersebut biasanya berisi pembacaan fatihah, tawasul, dzikir, pembacaan Quran, sedekah dan jamuan kepada para yang hadir.
Ada manaqiban khusus di tanah air untuk ulama-ulama seperti syaikh Abdul Qadir Jailani, Tuan Guru Muhammad bin Abdul Karim Al Samman, Kyai Cholil Bangkalan, dan lain sebagainya. Hal ini digelar untuk mengingat kesolehan mereka, menghayati dan meneladani perjalanan hidup, bakti, dan dakwah mereka untuk umat.
Ironisnya, agenda haul ini masih juga dicap sebagai amaliyah yang tak ada gunanya dan selalu mendapat label bid’ah oleh beberapa orang.
Para menyarankan untuk mengenang sejarah hidup orang-orang shaleh supaya menjadi motivasi untuk kita bisa berbakti dan berbuat seperti mereka. Imam Sufyan bin Uyainah dan Syaikh Ibnu Taimiyah juga punya statemen khusus terkait anjuran manaqiban dan haul.
Imam Uyainah yang merupakan salah satu guru dari Imam Ahmad bin Hanbal ini mengungkapkan hal menakjubkan terkait mengenang ulama sebagaimana berikut:
“Ketika orang-orang Shaleh dikenang, maka Rahmat Allah akan turun[1]”.
Manaqiban adalah metode untuk mengenang kesolehan seseorang dan perjalanan hidupnya, semoga apa yang diungkap oleh Sufyan bin Uyainah adalah fadilah yang bisa memberi manfaat untuk semua yang mengamalkannya. Sekali lagi manaqiban bukanlah masuk dalam kategori ibadah seperti yang dituduhkan, karena dia hanyalah semata-mata rutinitas tahunan membaca sejarah, dan tidak juga dihukumi wajib untuk dikerjakan.
Ibnu Taimiyah juga memiliki pandangan khusus terkait mengenang orang shaleh, dimana dalam kitab As- Shafadiyah beliau mengatakan bahwa mengenang kebaikan orang akan membuat hati tentram:
”kesempurnaan diri tidak akan tercapai tanpa pengetahuan, kemampuan, dan kemauan yang sumbernya adalah cinta. Ketika seseorang merasa nikmat dengan pengetahuan, maka sudah barang tentu di sana ada rasa cinta terhadap apa yang dinikmatinya. Adakalanya apa yang ia ketahui, ia cintai, terasa lezat dengan menyebutnya berulang. Sebagaimana orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan makrifat kepada Allah dan berdzikir kepadaNya. Bahkan orang-orang yang beriman merasa nikmat dengan menyebut (mengenang) para nabi dan orang-orang shaleh, oleh karena itu ada slogan “ketika orang-orang shaleh dikenang, maka rahmat Allah akan turun”, dengan bangkitnya jiwa dan hati seseorang untuk mencintai kebaikan dan merasa senang dan nyaman melakukannya[2]”
Kesimpulannya adalah bahwa dengan melakukan manaqib maka kecintaan akan hadir, ketenangan hati akan muncul, dan dengan itu rahmat Allah diharapkan turun untuk yang melakukannya. jadi ya boleh aja menggelarnya.
[1] Al Hafidz Abu Nuaim. Hilyatul Auliya. 7/285
[2] Ibnu Taimiyah. As-Shafadiyyah. Maktabah Ibnu Taimiyah, Mesir. 1406 H. hal 2/269
| Ganti Mazhab
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Wed 30 October 2024 |
| Masjid : Antara Kampus dan Kantin
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Tue 29 October 2024 |
| Fiqih Negara : Kedudukan Negara Dalam Hukum Syariah
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Fri 25 October 2024 |
| Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Mon 1 November 2021 |
| Al-Quran dan Kitab-Kitab Suci Samawi Lain Dalam Ajaran Islam
Muhammad Alfatih, Lc | Mon 4 October 2021 |
| Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
Hanif Luthfi, Lc., MA | Fri 1 October 2021 |
| Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Wed 1 September 2021 |
| Bahaya Takhbib
Hanif Luthfi, Lc., MA | Tue 8 September 2020 |
| Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 9 August 2020 |
| Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 2 August 2020 |