SFK > Sembelihan > Bagian Pertama : Islam Menyayangi Hewan

⬅️

Bab 3 : Penyembelihan Sebagai Ritual Agama

➡️

Semua agama yang ada di muka bumi, baik agama samawi atau pun agama ardhi telah bersepakat bahwa manusia dibolehkan menyembelih hewan ternak dan memakannya. Kebolehan menyembelih hewan ini adalah dalam agama Islam, Kristen dan Yahudi, termasuk juga Hindu, Budha, Konghuchu dan lainnya.

Selain membolehkan penyembelihan untuk dimakan, agama-agama di dunia ini juga menjadikan penyembelihan hewan sebagai bagian dari ritual agama. Begitu banyak upacara ritual agama yang melibatkan penyembelihan hewan.

A. Syariat Agama Terdahulu

Kalau kita perhatikan, sebenarnya bukan hanya agama Islam saja yang mengenal penyembelihan hewan sebagai bagian dari ritual keadamaan. Tidak sedikit, atau tepatnya, hampir semua agama dan kepercayaan mengenal penyembelihan sebagai wujud dari sebuah ritual keagamaan. Meski dengan tata cara, wujud dan pola yang beragam.

1. Qurban Anak Adam

Ritual penyembelihan hewan qurban pertama kali dalam sejarah agama adalah ketika kedua anak Nabi Adam alahissalam melakukannya. Al-Quran Al-Kariem menceritakan peristiwa penyerahan qurban saat itu dalam salah satu petikan ayatnya :

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata : "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa".(QS. Al-Baqarah : 27)

Para ahli tafsir mengatakan bahwa pangkal mula masalah ini adalah perebutan antara dua anak laki-laki Adam, yaitu Habil dan Qabil dalam masalah jodoh. Masing-masing memperebutkan satu saudari perempuan mereka. Akhirnya Allah SWT melombakan mereka berdua dengan berqurban. Salah satu berqurban dengan hasil pertaniannya dan yang lainnya dengan hasil pemeliharaan hewan.

Dan yang diterima kemudian adalah yang qurbannya dalam bentuk hewan, sedangkan yang dalam bentuk hasil pertanian tidak diterima.

Hal ini oleh banyak pihak dianalisa sebagai awal mula adanya qurban hewan. Dan ketika anak cucu Adam semakin banyak jumlahnya, hingga melahirkan suku dan bangsa yang sangat besar dan beragam, sebagian dari mereka ada yang masih beriman kepada para rasul dan nabi yang diutus, sehingga masih menjalankan ritual agama dengan benar.

Dan sebagian lainnya ingkar dan keluar dari ajaran para nabi, bahkan tidak sedikit yang menentangnya. Namun pengingkaran dan penentangan itu terkadang tidak berarti semua unsur ritual agama dihilangkan begitu saja.

Tentu masih ada sisa-sisa bekas pengaruh ritual agama yang asli, namun kemudian mengalami berbagai macam perubahan esensial, sehingga bentuk dan tata caranya bisa berbeda 180 derajat dari yang dahulu aslinya diajarkan oleh para nabi dan rasul sebelum mereka.

Misalnya saja, penyembelihan itu tidak saja dipersembahkan untuk Allah SWT, tetapi juga dipersembahkan untuk para tuhan-tuhan selain Allah. Seiring dengan syirik yang banyak dilakukan oleh manusia, maka ketika mereka menyembah tuhan-tuhan selain Allah, kadang mereka juga menyembelih hewan tertentu dan dipersembahkan kepada tuhan-tuhan selain Allah.

Tentu yang demikian itu merupakan bentuk penyimpangan dan kesesatan yang nyata. Sebab Allah SWT tidak pernah memerintahkan mereka kecuali hanya menyembah kepada-Nya.

2. Qurban Nabi Ibrahim

Nabi Ibrahim alaihissalam adalah salah satu nabi yang juga mendapat perintah untuk melakukan penyembelihan. Bahkan awalnya yang dimintakan kepada beliau bukan penyembelihan sapi atau kambing, melainkan penyembelihan putera tersayangnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".(QS. Ash-Shaffaat : 102)

Penyembelihan putera untuk dipersembahkan kepada Allah SWT tentu saja sangat berat dilaksanakan, bahkan bagi seorang Ibrahim sekalipun. Sebab kisah Nabi Ibrahim bisa mendapatkan putera bukan kisah yang mudah. Kisahnya panjang dan berliku, intinya penuh dengan air mata.

Namun saat Ibrahim berbahagia mendapatkan seorang yang akan menjadi penerusnya, tiba-tiba datang perintah untuk membunuhnya. Ironisnya, justru yang memerintahkan untuk membunuh anak itu adalah Allah SWT, Tuhan yang memberinya karunia seorang anak.

Sempat bimbang sejenak, namun akhirnya Ibrahim pun kembali kepada kesadarannya yang paling tinggi. Logika akal sehat bisa berjalan, bahwa anak itu adalah titipan dari Allah. Ketika yang memberi titipan itu memintanya, maka tidak perlu menangis.

Maka Ibrahim pun merelakan anaknya sendiri untuk dipersembahkan kepada Allah SWT, dengan cara menyembelih lehernya. Namun kemudian Allah SWT menggantinya dengan seekor kambing.

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاء الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. (QS. Ash-Shaffaat : 102)

Sejak saat itulah kemudian penyembeliah hewan qurban dijadikan salah satu bentuk ritual penyembahan kepada Allah SWT, di dalam tiga agama besar sepeninggal Ibrahim.

3. Ritual Agama Hindu

Persembahan hewan banyak ditemui pada hampir semua kebudayaan, dari kebudayaan Yahudi, Yunani, Roma dan Yoruba.

Di Bali persembahan hewan dilakukan pada acara-acara adat untuk melakukan penyucian. Hewan yang digunakan untuk upacara persembahan di Bali adalah ayam, bebek dan babi.

Di Nepal kita mengenal ada Festival Gadhimai. Festival ini adalah festival Hindu yang diadakan sekali setiap lima tahun di candi Gadhimai Bariyapur, Distik Bara, sekitar 100 mil (160 km) selatan ibukota Kathmandu di Nepal bagian selatan.

Perayaan ini melibatkan persembahan hewan (meliputi kerbau, babi, kambing, ayam, dan merpati) terbesar di dunia yang bertujuan menyengkan Gadhimai, dewi kekuasaan.

Sekitar 5 juta orang berpartisipasi dalam festival ini dengan mayoritas orang India dari negara bagian Uttar Pradesh dan Bihar. Mereka menghadiri festival di Nepal karena persembahan hewan dalam ritual ini dicekal di negara mereka sendiri. Mereka mempercayai hewan yang dipersembahkan untuk dewi Gadhimai akan mengakhiri kejahatan dan membawa kesejahteraan.

4. Ritual Persembahan Bangsa Maya Kuno

Bangsa Maya Kuno memiliki sebuah upacara persembahan yang cukup sadis, yaitu upacara pengorbanan manusia, yang disebut upacara persembahan darah. Bangsa Maya kuno sepenuhnya yakin bahwa persembahan darah merupakan hal yang mutlak bagi eksistensi manusia dan dewa.

Sembahyang kepada dewa atau leluhur dengan menggunakan manusia hidup kadang juga terjadi dalam upacara keagamaan mereka. Biasanya orang yang dipilih sebagai persembahan qurban adalah nara pidana, budak, anak yatim atau anak haram.

Sedangkan upacara persembahan dengan menggunakan hewan ternak lebih umum dibanding orang hidup, kalkun, anjing, tupai dan kadal dan hewan lainnya dianggap sebagai persembahan qurban yang paling pas terhadap segala dewa bangsa Maya.

Persembahan qurban manusia hidup dilakukan dibawah bantuan 4 orang tua yang disebut “Chac”. Konon katanya, upacara ini dilakukan demi untuk menyatakan penghormatan terhadap dewa hujan Chac bangsa Maya kuno.

Ke-4 orang ini masing-masing menekan lengan dan kaki yang dipersembahkan sebagai qurban, sedang orang yang bernama “nacom” menoreh dada “persembahan qurban”, menyayatnya pelan-pelan sehingga syaraf dan urat darah putus, sehingga bisa menghasilkan darah dalam jumlah banyak. Tentunya yang belum diketahui adalah bagaimana dengan kondisi si korban saat upaca itu dilangsungkan. Apakah dalam keadaan tidak sadar atau malah tersadar.

Selain itu, masih ada satu orang lagi yang turut serta dalam upacara yaitu juru tenung syaman (semacam agama primitif), konon katanya, dia menerima informasi saat dalam kondisi tertidur, makna yang terkandung dari ramalan yang didengarnya itu akan dijelaskan oleh beberapa tetua setempat.

5. Ritual Persembahan Anak Suku Muchik Peru

Sekelompok ilmuwan yang dipimpin Haagen Klaus, antropolog Utah Valley University, menemukan kerangka puluhan anak yang menjadi korban dalam upacara ritual suku Muchik di utara Peru.

Menurut Klaus, ini adalah bukti pertama tentang ritual sejenis yang melibatkan proses mutilasi anak di wilayah pegunungan Andes, Amerika Selatan.

Bersama kerangka itu, mereka juga menemukan Nectandra, sejenis tanaman halusinogen yang berfungsi melumpuhkan sistem tubuh dan mencegah pembekuan darah. Ini menunjukkan anak-anak itu terlebih dahulu dibius sebelum tenggorokan mereka digorok dan dada mereka dibelah.

Pisau perunggu yang tajam digunakan dalam ritual tersebut. Salah satu kerangka menunjukkan bekas 25 potongan. Beberapa kerangka menunjukkan tangan dan kaki mereka terlebih dulu diikat dengan tali.

“Ini melebihi tindakan yang sesungguhnya dibutuhkan untuk membunuh manusia. Benar-benar mengerikan,” ujar Klaus kepada National Geographic News. “Tapi kita harus memahami ini dalam konteks waktu itu, bukan saat ini.”

Sejak 2003, sebanyak 82 kerangka suku Muchik, termasuk 32 kerangka yang masih utuh, ditemukan di situs Cerro Cerrillos di Lembah Lambayeque, wilayah pantai utara Peru yang tandus.

Tak jelas mengapa dada korban harus dipotong. Namun, menurut Klaus, mungkin tindakan itu dilakukan untuk mengeluarkan jantung mereka.

“Masyarakat suku Muchik menawarkan darah (keturunan) mereka sendiri… Mereka memberikan persembahan untuk arwah nenek moyang mereka dan gunung-gunung,” ujar Klaus yang temuannya diterbitkan dalam jurnal arkeologi Antiquity edisi Desember 2010.

Klaus menambahkan, dalam budaya masyarakat di pegunungan Andes, anak-anak mungkin dianggap sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan dunia supranatural. Selain itu, dalam kosmologi masyarakat Muchik, anak-anak belum dianggap sebagai manusia.

“Ketika suku Muchik mengorbankan anak-anak, dalam pandangan mereka, mereka tak mengorbankan manusia. Kedengarannya memang aneh,” tulis Klaus dalam sebuah email.

Setelah upacara persembahan, jasad anak-anak itu dibiarkan menjadi mumi secara alami oleh udara gurun setidaknya selama satu bulan. Pupa lalat ditemukan di antara tulang-belulang, yang menunjukkan belatung memakan daging mereka selama proses pembusukan. Dalam kepercayaan purba, lalat dipercaya membawa jiwa anak dan melambangkan proses pemakaman yang terhormat.

Sisa tubuh lama juga ditemukan bersama kerangka itu. Menurut Klaus, ini menunjukkan bahwa pemakaman jasad korban dilakukan dalam sebuah upacara perayaan “khidmat dan serius” dengan (hidangan) daging llama. Kepala dan kaki llama dipersembahkan kepada yang mati –mungkin sebagai bekal mereka di alam arwah.

Lebih dari 80 ritual pengorbanan darah dari tahun 900 M hingga 1100 dilakukan masyarakat Muchik, yang menempati pantai utara Peru setelah kejatuhan suku Moche.

Suku Moche sebuah masyarakat agraris yang bebas dan terlebih dulu bermukim di sana tahun 100 M hingga 800. Ideologi politik dan religius suku Moche mulai runtuh sekira 550 M akibat bencana El Nino yang mengubah iklim wilayah itu secara dramatis.

6. Ritual Jin dan Setan

Dalam berbagai aksinya, jin dan setan seringkali meminta ritual persembahan, yang dengan itu maka seseorang akan menjadi orang yang telah melakukan perbuatan syirik.

Salah satu penyebab dosa syirik adalah memberikan persembahan nyawa hewan, apa pun jenisnya, kepada yang selain Allah.

Ketika sebuah gedung besar dibangun, termasuk juga jalan, jembatan, bendungan, dan jenis bangunan lainnya, biasanya ada ucapara ritual khusus, dimana konon makhluk-makhluk halus diminta untuk tidak mengganggu. Dan persembahannya sering berupa penyembelihan hewan, entah itu sapi, kerbau, ayam atau apa pun. Salman Al-Farisy radhiyallahuanhu menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

دَخَلَ رَجُلٌ الجَنَّةَ فيِ ذُبَابٍ وَدَخَلَ رَجُلٌ النَّارَ فِي ذُبَابٍ. قَالُوا وَكَيْفَ ذَاكَ؟ قَالَ: مَرَّ رَجُلاَنِ مُسْلِمَانِ عَلىَ قَوْمٍ قَدْ عَكَفُوا عَلَى صَنَمٍ لَهُمْ. وَقَالُوا لاَ يَمُرُّ عَلَيْناَ اليَوْمَ أَحَدٌ إِلاَّ قَدِمَ شَيْئًا. فَقَالُوا لأَحَدِهِمَا قَدِّمْ شَيْئًا فَأَبَى فَقُتِلَ .وَقَالُوا لِلآخَرِ : قَدِّمْ شَيْئًا فَقَالُوا قَدِّمْ وَلَوْ ذُبَابًا . فَقَالَ وَايش ذُبَاب فَقَدَّمَ ذُبَابًا فَدَخَلَ النَّاَر . فَقَالَ سَلْمَانُ فَهَذَا دَخَلَ الجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ وَدَخَلَ هَذَا النَّارَ فِي ذُبَابٍ

Ada orang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada orang yang masuk neraka karena seekor lalat. Para shahabat bertanya,"Bagiamana hal itu bisa terjadi?". Beliau SAW berkata,"Ada dua orang muslim melewati suatu kaum yang menyembah berhala. Kaum itu berkata bahwa tidak boleh ada orang lewat pada hari ini kecuali harus memberikan persembahan hewan qurban (kepada berhala). Kepada orang yang pertama mereka berkata,"Sembelihlah sesuatu", namun orang itu menolak, maka dia dibunuh. Kepada yang satunya mereka berkata,"Sembelihlah sesuatu". Mereka berkata, "Sembelihlah sesuatu meski hanya seekor lalat". Maka orang itu berqurban dengan seekor lalat untuk dijadikan persempahan, maka orang itu masuk neraka". Salman berkata,"Orang itu masuk surga karena seekor lalat dan yang satunya masuk neraka karena seekor lalat (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dan termasuk penyembelihan jahiliyah yang terkenal di zaman kita sekarang ini adalah menyembelih untuk jin. Manakala seseorang membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin. [1]

Semua ini tidak lain adalah praktek syirik yang telah diharamkan Allah.

B. Syariat Umat Muhammad SAW

Dalam syariat Islam, penyembelihan hewan dalam rangka ibadah atau taqarrub kepada Allah SWT setidaknya ada 4 macam, yaitu udhiyah, aqiqah, hadyu dan dam.

Keempat jenis penyembelihan tersebut mempunyai tujuan, ketentuan, waktu, prosesi, hukum dan persyaratan yang berbeda antara yang satu dengan yang lain.

1. Udhiyah

Penyembelihan hewan udhiyah dilaksanakan terkait dengan perayaan hari raya Idul Adha. Penyembelihan ini disyariatkan buat umat Muhammad SAW, baik yang sedang berhaji di tanah suci, atau pun mereka yang berada di negeri masing-masing.

Umumnya para ulama menyebutkan bahwa hukumnya sunnah, meski sebagian kecil ada yang berpendapat hukumnya wajib dengan kondisi dan alasan tertentu.

2. Aqiqah

Sedangkan penyembelihan hewan yang terkait dengan ungkapan rasa syukur atas kelahiran bayi atau anak disebut dengan aqiqah.

Penyembelihan ini umumnya oleh para ulama disebutkan hukumnya sebagai sunnah, meski pun juga ada yang berpandangan berbeda-beda. Waktunya terutama dilaksanakan pada hari ketujuh dari kelahiran bayi, meski pun bukan berarti tidak boleh untuk menyembelihnya di lain waktu.

3. Hadyu

Penyembelihan hewan hadyu terkait dengan pelaksanakan ibadah haji dan hanya disyariatkan buat mereka yang sedang mengerjakan ibadah haji.

4. Dam

Sedangkan istilah dam tidak lain adalah ritual penyembelihan hewan yang terkait dengan sanksi tertentu akibat adanya pelanggaran dalam menunaikan ibadah dan manasik haji.

Sebagai contoh, tempat penyembelihan hadyu dan dam punya ketentuan khusus, yaitu ketika jamaah haji masih berada di tempat penyembelihan qurban (manhar) di tanah suci.

Hadyu dan dam tidak boleh disembelih di tanah air Indonesia, meski mungkin lebih manfaat atau lebih efisien dan sebagainya. Yang boleh disembelih dimana saja adalah udhiyah dan aqiqah.

Pada kasus hadyu dibebankan pada setiap individu, maka tujuh person orang yang berhaji, setiap individu terbeban penyembelihan seekor domba, dan mereka boleh berkongsi untuk hanya menyembelih seekor unta atau sapi. Hal ini berbeda dengan udhiyah, yang dibebankan kepada keluarga, bukan individu. Namun, kalau ada yang melakukan secara individu boleh-boleh saja. Apabila konsep keluarga dimaknai ‘keluarga besar’ YDSF misalnya, maka diperbolehkan setiap anggota urunan untuk ramai-ramai berhari raya bersama umat.

Untuk aspek pendistribusiannya pun jauh berbeda. Kalau hadyu dipertuntukkan al-qani’ wa al-mu’tar (orang miskin yang meminta dan tidak meminta-minta). Namun tidak sedemikian dalam pendistribusian udhiyah. Selain fakir miskin, orang kaya juga boleh untuk ikut merasakan kebersamaan dengan segenap umat untuk menikmati udhiyah.

Apabila kita jeli dapat membedakan berbagai nama penyembelihan ternak di atas, maka kita dapat memahami hadits yang menerangkan tidak boleh menjual kulit, mencukur bulu dan sebagainya. Apakah hadits ini dipergunakan dalam konteks hadyu atau dalam konteks udhiyah? Dari sya’nul wurud (konteks disabdakannya sebuah hadits) seorang alim dapat memahami konteks hadits larangan di atas adalah hadyu, bukan udhiyah. Hadits tersebut dinarasikan Ali ibn Abu Thalib ra sebagai amirul hajj (pemimpin rombongan haji) dari wilayah Yaman.

Kepada Ali, Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyembelih hadyu dari rombongannya. Pesan Nabi saw. bukan hanya tidak boleh menjual kulitnya, dan tidak mencukur bulunya, namun juga diperintahkan untuk menyedekahkan pelananya, pakaian yang dikenakan pada binatang hadyu dan semua yang melekat pada binatang tersebut.

¨



[1] Taisirul Azizil Hamid, hal. 158