SFK > Jihad > Bagian Keempat : Jihad Era Modern

⬅️

Bab 5 : Masih Adakah Jihad Hari Ini?

➡️
8054 kata | show

A. Jihad Yang Disepakati

1. Palestina (1948 - sekarang)

Awalnya di tahun 1835, sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, dan lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah.

Kemudian di tahun 1838, Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina. Sepuluh tahun kemudian atau tepatnya tahun 1849, muncul kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina.

Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina yang berselubung agama, simpati dan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu kemudian terjadi sejak 1882. Pada masa itu jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang.

Tahun 1897, Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”.

Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin. Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi”. Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

Ketika pecah Perang Dunia Pertama (PD1) di tahun 1916, Khilafah Turki Utsmani saat itu termasuk negara yang kalah perang. Keruan saja wilayahnya kemudian direbut dan dipecah-pecah lewat Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia). Saat itu Inggris mendapat kontrol atas Palestina. Di PD I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar).

Kemudian di tahun 1917, Menteri Luar Negeri Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

Pada tahun 1938, Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS).

Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.

Tahun 1944, Partai buruh Inggris yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik “membiarkan orang-orang Yahudi terus masuk ke Palestina, jika mereka ingin jadi mayoritas. Masuknya mereka akan mendorong keluarnya pribumi Arab dari sana.” Kondisi Palestina pun memanas.

Tahun 1947, PBB merekomendasikan pemecahan Palestina menjadi dua negara: Arab dan Israel.

Dan pada 14 Mei 1948, sehari sebelum habisnya perwalian Inggris di Palestina, para pemukim Yahudi memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Mereka melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih lemah, hingga jutaan dari mereka terpaksa mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria, Mesir dan lain-lain.

Palestina Refugees menjadi tema dunia. Namun mereka menolak eksistensi Palestina dan menganggap mereka telah memajukan areal yang semula kosong dan terbelakang. Timbullah perang antara Israel dan negara-negara Arab tetangganya. Namun karena para pemimpin Arab sebenarnya ada di bawah pengaruh Inggris, maka Israel mudah merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB.

Pada 2 Desember 1948, terjadi protes keras dari Liga Arab atas tindakan AS dan sekutunya berupa dorongan dan fasilitas yang mereka berikan bagi imigrasi zionis ke Palestina. Pada waktu itu, Ikhwanul Muslimin (IM) di bawah Hasan Al-Banna mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel.

Sayangnya jihad yang mereka lakukan kandas di tengah jalan, bukan karena mereka dikalahkan Israel, namun karena Raja Farouk yang korup dari Mesir takut bahwa di dalam negeri, Al-Ikhwan Al-Muslimun bisa melakukan kudeta, akibatnya tokoh-tokohnya kemudian dipenjara dan sebagian lainnya dihukum mati.

Pada 29 Oktober 1956, Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez. Tahun 1964, para pemimpin Arab membentuk PLO (Palestine Liberation Organization). Dengan ini secara resmi, nasib Palestina diserahkan ke pundak bangsa Arab-Palestina sendiri, dan tidak lagi urusan umat Islam. Masalah Palestina direduksi menjadi persoalan nasional bangsa Palestina.

Pada tahun 1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria selama 6 hari dengan dalih pencegahan. Dengan serangan itu, Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya karena dibantu informasi dari CIA, Badan Intelijen Pusat milik USA. Sementara itu angkatan udara Mesir ragu membalas serangan Israel, karena Menteri Pertahanan Mesir ikut terbang dan memerintahkan untuk tidak melakukan tembakan selama dia ada di udara.

Pada bulan Nopember 1967, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang 6 hari, pengakuan semua negara di kawasan itu, dan penyelesaian secara adil masalah pengungsi Palestina.

Tahun 1969 Yasser Arafat dari faksi Al-Fatah terpilih sebagai ketua Komite Eksekutif PLO dengan markas di Yordania. Dan tahun 1970, berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina membuat PLO dikecam oleh opini dunia, dan Yordania pun dikucilkan. Karena ekonomi Yordania sangat tergantung dari AS, maka akhirnya Raja Husein mengusir markas PLO dari Yordania. Dan akhirnya PLO pindah ke Libanon.

Pada 6 Oktober 1973, Mesir dan Syria menyerang pasukan Israel di Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasanya Yahudi Yom Kippur. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober. Mesir dan Syria hampir menang, kalau Israel tidak tiba-tiba dibantu oleh AS. Presiden Mesir Anwar Sadat terpaksa berkompromi, karena dia cuma siap untuk melawan Israel, namun tidak siap berhadapan dengan AS. Arab membalas kekalahan itu dengan menutup keran minyak. Akibatnya harga minyak melonjak pesat.

Pada 22 Oktober 1973, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi Nomor 338, untuk gencatan senjata, pelaksanaan resolusi Nomor 242 dan perundingan damai di Timur Tengah.

Di tahun 1977, dengan alasan pertimbangan ekonomi karna perang telah memboroskan kas negara, membuat Anwar Sadat pergi ke Israel tanpa konsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel mengembalikan seluruh Sinai. Negara-negara Arab merasa dikhianati. Karena langkah politiknya ini, belakangan Anwar Sadat dibunuh pada tahun 1982.

Dan pada September 1978, Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai AS. Perjanjian itu menjanjikan otonomi terbatas kepada rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan Israel. Sadat dan PM Israel Menachem Begin dianugerahi Nobel Perdamaian 1979. Namun Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Belakangan, otonomi versi Camp David ini tidak pernah diwujudkan, demikian juga otonomi versi lainnya. Dan AS sebagai pemrakarsanya juga tidak merasa wajib memberi sanksi, bahkan selalu memveto resolusi PBB yang tidak menguntungkan pihak Israel.

Di tahun 1980 Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota.

Dan di tahun 1982, Israel menyerang Libanon dan membantai ratusan pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila. Pelanggaran terhadap batas-batas internasional ini tidak berhasil dibawa ke forum PBB karena – lagi-lagi – veto dari AS. Belakangan Israel juga dengan enaknya melakukan serangkaian pemboman atas instalasi militer dan sipil di Iraq, Libya dan Tunis.

Tahun 1987 pecah gerakan Intifadhah, gerakan perlawanan dengan batu oleh orang-orang Palestina yang tinggal di daerah pendudukan terhadap tentara Israel mulai meledak. Intifadhah ini diprakarsai oleh HAMAS, suatu harakah Islam yang memulai aktivitasnya dengan pendidikan dan sosial.

Pada 15 Nopember 1988, kemudian diumumkan berdirinya negara Palestina di Aljiria, ibu kota Aljazair. Dengan bentuk negara Republik Parlementer. Ditetapkan bahwa Yerussalem Timur sebagai ibukota negara dengan Presiden pertamanya adalah Yasser Arafat. Setelah Yasser Arafat mangkat kursi presiden diduduki oleh Mahmud Abbas. Dewan Nasional Palestina, yang identik dengan Parlemen Palestina beranggotakan 500 orang.

Desember 1988, AS membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat secara tidak langsung mengakui eksistensi Israel dengan menuntut realisasi resolusi PBB Nomor 242 pada waktu memproklamirkan Republik Palestina di pengasingan di Tunis.

Pada September 1993, PLO dan Israel saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel berjanji memberikan hak otonomi kepada PLO di daerah pendudukan. Motto Israel adalah “land for peace” (tanah untuk perdamaian). Pengakuan itu dikecam keras oleh pihak ultra-kanan Israel maupun kelompok di Palestina yang tidak setuju. Namun negara-negara Arab (Saudi Arabia, Mesir, Emirat dan Yordania) menyambut baik perjanjian itu. Mufti Mesir dan Saudi mengeluarkan “fatwa” untuk mendukung perdamaian.

Setelah kekuasaan di daerah pendudukan dialihkan ke PLO, maka sesuai perjanjian dengan Israel, PLO harus mengatasi segala aksi-aksi anti Israel. Dengan ini maka sebenarnya PLO dijadikan perpanjangan tangan Yahudi. Yasser Arafat, Yitzak Rabin dan Shimon Peres mendapat Nobel Perdamaian atas usahanya tersebut.

Tahun 1995, Rabin dibunuh oleh Yigar Amir, seorang Yahudi fanatik. Sebelumnya, di Hebron, seorang Yahudi fanatik membantai puluhan Muslim yang sedang shalat subuh. Hampir tiap orang dewasa di Israel, laki-laki maupun wanita, pernah mendapat latihan dan melakukan wajib militer. Gerakan Palestina yang menuntut kemerdekaan total menteror ke tengah masyarakat Israel dengan bom “bunuh diri”. Targetnya, menggagalkan usaha perdamaian yang tidak adil itu. Sebenarnya “land for peace” diartikan Israel sebagai “Israel dapat tanah, dan Arab Palestina tidak diganggu (bisa hidup damai).”

Tahun 1996, terjadi pemilu di Israel yang dimenangkan secara tipis oleh Netanyahu dari partai kanan, yang berarti kemenangan Yahudi yang anti perdamaian. Netanyahu mengulur-ulur waktu pelaksanaan perjanjian perdamaian. Ia menolak adanya negara Palestina, agar Palestina tetap sekedar daerah otonom di dalam Israel. Ia bahkan ingin menunggu atau menciptakan konstelasi baru (pemukiman Yahudi di daerah pendudukan, bila perlu perluasan hingga ke Syria dan Yordania) untuk sama sekali membuat perjanjian baru.

AS tidak senang bahwa Israel jalan sendiri di luar garis yang ditetapkannya. Namun karena lobby Yahudi di AS terlalu kuat, maka Bill Clinton harus memakai agen-agennya di negara-negara Arab untuk “mengingatkan” si “anak emasnya” ini. Maka sikap negara-negara Arab tiba-tiba kembali memusuhi Israel. Mufti Mesir malah kini memfatwakan jihad terhadap Israel.

Sementara itu Uni Eropa (terutama Inggris dan Perancis) juga mencoba “aktif” menjadi penengah, yang sebenarnya juga hanya untuk kepentingan masing-masing dalam rangka menanamkan pengaruhnya di wilayah itu. Mereka juga tidak rela kalau AS “jalan sendiri” tanpa bicara dengan Eropa.

2. Jihad Afghanistan (1979-1989)

Dalam lintasan sejarah, Afghanistan melahirkan puluhan ulama terkenal, seperti Abu Hanifah, Al-Baihaqi, Al-Balakhi, Al-Hawari, atau Ibnu Habban Al-Basti. Pada perbatasan negeri ini ada At-Turmudzi, An-Nasa’i, dan Al-Bukhari.

Afghanistan lama juga merupakan negeri Quthz (panglima Islam di Mesir) penakluk tentara Tartar, Al-Juwaini Imamul Haramain, Al-Fahrur Razi, Ibnu Qutaibah, Al-Biruni, Al-Badkhasyi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Juzjaani, dan Al-Waldaliji.

Mayoritas (99%) penduduk Afghanistan beragama Islam. Sejak masuknya sahabat ‘Ashim bin Umar At-Tamimi di zaman Khalifah Umar bin Khaththab hingga tahun 1972, agama Islam dijadikan patokan dan sumber hukum. Di zaman pemerintahan raja, dua raja dijatuhkan gara-gara memperolok-olok agama.

Tahun 1916 rakyat berontak, Raja Habibullah bin Abdurrahman digulingkan. Pasalnya, sang raja menyerahkan segalanya kepada Inggris. Pada saat lain, rakyat berontak selama empat tahun kepada Raja Amanullah, sebab raja mengganti hukum Islam dengan hukum Barat. Amanullah tergulingkan pada tahun 1928.

Semua penjajah yang mencaplok negeri yang memiliki puncak gunung setinggi 6.054 meter ini – sehingga disebut ‘atap dunia’ – terusir. Pasukan Iskandar Agung dihalau keluar dari negeri ini. Tahun 1842, dari 12.000 tentara pilihan Inggris hanya satu yang selamat kembali ke negerinya, yaitu Dr. Pridon. Mereka pada mulanya datang untuk menjajah Afghanistan, tapi kemudian kapok dan tidak kembali lagi. Padahal tetangganya, India, ditaklukkan Inggris Raya selama 190 tahun (1757-1947).

Afghanistan kembali mengalami gejolak politik dan militer sejak Mohammad Daud menggulingkan Raja Zahir Shah dalam suatu aksi kudeta militer pada 1973. Kudeta tersebut sekaligus mengakhiri sistem monarki di Afghanistan, yang malang-melintang sejak dikenalnya sistem negara di wilayah itu pada 1747. Pada tahun 1978, Daud digulingkan Muhammad Taraki, yang beraliran komunis.

Masih dalam suasana kacau, Taraki terbunuh dalam kudeta militer yang dilancarkan Hafizullah Amin pada 1979. Tapi Amin mengalami nasib serupa, dibunuh rezim Babrak Karmal, antek Uni Soviet, yang sekaligus menginvasi ‘negeri atap langit’ itu. Pemerintahan Babrak Karmal pada hakikatnya boneka Uni Soviet.

Perlawanan rakyat Afghanistan berkobar. Muncul perlawanan fraksi-fraksi Mujahidin yang mengambil basis di Kota Peshawar (Pakistan). Perang jihad melawan pendudukan pasukan komunis berlangsung sepuluh tahun (1979-1989).

Uni Soviet kalah dan mundur dari Afghanistan, berbarengan dengan kudeta istana oleh Najibullah, mantan kepala intelijen Afghanistan, menggantikan kedudukan Babrak Karmal.

Akhirnya, Mujahidin dapat mengalahkan Najibullah pada 1992. Namun, kemenangan itu sempat mengakibatkan kekacauan, karena rakyat saling berebut kekuasaan.

Ini memunculkan kekuatan baru, yakni Taliban pada tahun 1994. Faksi Taliban yang dipimpin Mullah Mohammad Omar itu berhasil menguasai 90% wilayah Afghanistan dan mendirikan pemerintahan Islam Afghanistan.

Kekuasaan Taliban hanya lima tahun (1996-2001). Amerika Serikat menginvasi Afghanistan, dengan alasan Taliban terkait peristiwa 11 September 2001 di New York dan Washington DC. Pemerintah Taliban dituduh melindungi Osama bin Laden, yang disangka Amerika Serikat sebagai dalang peristiwa 11 September 2001. Kini Taliban dianggap pemberontak, dan pemerintah Afghanistan resmi di bawah Presiden Afghanistan Hamid Karzai.

3. Jihad Bosnia (1992-1995)

Bosnia-Herzegovina adalah salah satu negara kecil di Semenanjung Balkan, Eropa bagian Tenggara. Luas wilayahnya hanya 51.233 km persegi (sedikit lebih luas dari Propinsi Jawa Timur). Islam masuk ke kawasan Balkan (termasuk Bosnia) sekitar tahun 1389, ketika wilayah Balkan ada di bawah kekuasaan Turki Utsmani antara abad XII hingga akhir abad XIX.

Pada tahun 1918, Bosnia menjadi wilayah Yugoslavia. Akhir Perang Dunia ke II menempatkan rezim komunis di puncak kekuasaan Yugoslavia. Mulai saat itulah umat Islam Bosnia mengalami sekularisasi yang kuat, hingga sebagian besar kaum muslimin Bosnia melupakan agamanya meskipun masih mengaku beragama Islam.

Keruntuhan komunis di Uni Soviet membawa efek yang serupa pada Yugoslavia yang merupakan negara satelit Uni Soviet. Runtuhnya sistem komunis pada akhir 1988 menyebabkan Yugoslavia terpecah menjadi enam negara, yaitu Serbia, Kroasia, Bosnia, Macedonia, Slovenia dan Montenegro.

Awalnya, Slovenia dan Kroasia menyatakan memisahkan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat. Selepas itu, Yugoslavia menjadi negara yang senantiasa berubah, baik wilayahnya maupun populasinya. Menyusul Slovenia dan Kroasia, Bosnia melalui referendum tahun 1992 pun menyatakan pemisahan diri dari Yugoslavia dan menjadi negara berdaulat dipimpin Presiden Alija Izatbigovic. Inilah yang memicu pembantaian rakyat Muslim Bosnia oleh bangsa Serbia pimpinan Slobodan Milosevic pada 1992.

Serbia berupaya mempertahankan kesatuan Yugoslavia. Etnis Serbia yang umumnya bergama Kristen Ortodox ini ingin mendominasi pemerintahan, militer dan administrasi negara. Di Serbia terdapat sekitar 6 juta etnis Serbia, sedangkan di Bosnia 1,36 juta jiwa dan di Kroasia 0,5 juta jiwa. Milosevic berobsesi mewujudkan Negara Serbia Raya yang bersifat monoetnis, maka ia menentang habis-habisan berdirinya Bosnia Herzegovina yang mayoritas Muslim dengan melakukan pembersihan etnis non-Serbia dan merebut wilayah dari Bosnia dan Kroasia.

Negara Bosnia yang dideklarasikan pada tahun 1992 merupakan negara multi etnis berpenduduk 4,3 juta jiwa, dengan komposisi 43,7% etnis Bosnia (90% muslim), 31,3% etnis Serbia/Serbia- Bosnia (93% beragama Kristen Ortodox), 17,3% etnis Kroasia/Kroasia-Bosnia (88% beragama Katolik Roma) dan etnis lainnya 5,5%.

Pada awal terjadinya perang di tahun 1992, warga negara Bosnia yang terdiri atas etnis Bosnia dan etnis Kroasia bersama-sama menghadapi serangan tentara Serbia. Namun ketika keadaan Bosnia mencapai titik kritis, dimana sekitar 70% wilayah Bosnia direbut oleh Serbia, etnis Kroasia di Bosnia dibantu Negara Kroasia berkhianat dan berusaha merebut wilayah Bosnia yang tersisa (30%). Akibatnya Kroasia berhasil menguasai 20% wilayah Bosnia, sementara warga muslim Bosnia hanya menguasai 10% wilayahnya.

Tindakan ini menjadikan muslim Bosnia terjepit oleh serangan dua musuh sekaligus. Ironisnya, dalam keadaan seperti ini PBB dan negara-negara Barat bersikeras mempertahankan embargo senjata pada muslim Bosnia. Mereka menutup mata terhadap pembantaian besar-besaran yang terjadi di depan mata mereka.

Dalam langkah majunya menguasai wilayah Bosnia, pasukan Serbia melakukan pembantaian massal pada muslim Bosnia. Mereka yang beruntung masih hidup dipaksa meninggalkan tempat tinggalnya. Sejarah mencatat perang ini ditandai dengan pemerkosaan terhadap para wanita Islam dilakukan secara massal dan sistematis. Bayi-bayi hasil perkosaan tentara Serbia akan dianggap warga etnis Serbia. Dengan demikian, kelak Serbia dapat mengklaim sebagai etnis mayoritas di wilayah-wilayah yang didudukinya. Serangan Serbia (yang kemudian dibantu oleh Kroasia) terhadap muslim Bosni a telah menyebabkan tragedi kemanusiaan yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia kedua.

Pecahnya perang di Bosnia tidak luput dari perhatian para mujahidin yang baru saja berhasil menjatuhkan pemerintahan komunis di Kabul. Lima orang mujahidin dari Afghanistan segera bertolak ke Bosnia mengecek kondisi yang sebenarnya. Salah satu dari mereka adalah Syeikh Abu Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu pemuda yang sejak awal bergabung dalam jihad Afghan karena seruan Syeikh Abdullah Azzam, semoga Allah menerima syahid beliau. Temuan para utusan tersebut di lapangan membenarkan terjadinya pembantaian terhadap kaum muslimin di Bosnia.

Maka mulailah para mujahidin dari seluruh dunia mengalir masuk ke Bosnia. Mereka ditempatkan dalam satu batalion yang khusus terdiri atas mujahidin non Bosnia. Mereka datang dari seluruh dunia, bahkan sebenarnya para mujahid Arab adalah minoritas, menurut Syeikh Abu Abdul Aziz. Batalion itu dinamai Katibat al-Mujahidin (Batalion Mujahidin), atau Odred El-Mudzahidin dalam bahasa Bosnia. Batalion tersebut merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Bosnia, yaitu Batali on ke-Tujuh (SEDMI KORPUS,

Krisis yang terjadi akibat serangan Serbia dan Kroasia, ditambah kehadiran para mujahidin asing yang ikhlas mengingatkan rakyat Bosnia akan agama yang telah mereka tinggalkan selama ini. Semangat muslim Bosnia untuk kembali pada Islam semakin besar. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah. Jilbab semakin banyak dikenakan para muslimah Bosnia.Majelis-majelis ilmu dan tahfiz Qur’an mulai bermunculan kembali.

Dengan pertolongan Allah, melalui perjuangan rakyat Bosnia dan mujahidin asing, lambat laun keadaan mulai berubah. Kepada tentara muslim Bosnia, mujahidin asing berbagi taktik dan strategi untuk mengalahkan musuh yang memiliki persenjataan yang lebih kuat, hasil pengalaman perang sebelas tahun di Afghanistan. Angkatan Bersenjata Bosnia dan mujahidin asing tidak lagi bertahan. Mereka melancarkan berbagai operasi penyerangan untuk merebut daerah-daerah strategis di Bosnia. Daerah-daerah yang dikuasai oleh pasukan Serbia, satu per satu berhasil direbut kembali.

Khawatir dengan tekanan balik dari pasukan muslim, negara-negara Barat segera mensponsori perundingan damai. Berbagai bentuk tekanan diberikan kepada ketiga pihak yang bertikai, agar mereka dapat menghentikan perang dan berunding. Pada tahun 1994 Kroasia menandatangani perjanjian damai dengan Bosnia dan bersama-sama mendirikan Federasi Bosnia.

Saat muslim Bosnia berhasil menguasai kembali 51% wilayahnya, di bawah tekanan politik negara-negara Barat dan krisis ekonomi yang mencekik, pemerintah Bosnia terpaksa menandatangani Perjanjian Dayton di Paris pada Desember 1995. Wilayah Bosnia dipecah menjadi dua negara bagian, yaitu Federasi Bosnia (berisikan warga etnis Bosnia dan Kroasia) dengan luas wilayah 51% dan Republik Serbska (berisikan warga etnis Serbia) dengan luas wilayah 49%.

Maka berakhirlah perang yang telah membawa begitu banyak korban : diperkirakan antara 100.000 hingga 200.000 ribu orang telah tewas (sekitar 69% korban tewas adalah muslim Bosnia), lebih dari 40.000 wanita diperkosa, dan 1,8 juta orang terpaksa mengungsi.

4. Kashmir

Kashmir merupakan salah satu wilayah konflik yang tak terselesaikan sejak tahun 1947 hingga kini. Wilayah yang terkenal dengan keindahan alamnya yang menjadi rebutan India dan Pakistan. Tidak banyak yang tahu perjuangan Kaum Muslimin disana, yang berjihad membebaskan bumi Kashmir dari tentara kafir India. Bagaimana sebenarnya latar belakang yang menimpa kaum Muslimin di Kashmir ini? Apa solusi terbaik untuk mengatasi konflik berkepanjangan di Kashmir?

Sejak invasi militer India pada tahun 1947 wilayah Jammu dan Kashmir telah dipaksa tunduk pada penjajah kafir kejam dengan pasukannya yang terkenal keji.

Penjajah di bawah pimpinan Raj ini merupakan penyembah berhala yang tindakan-tindakannya sangat brutal dan mengerikan. Serangan-serangan mendadak dari kuffar India adalah hal yang lumrah di Kashmir.

Hal ini dikarenakan militer India dipaksa untuk melakukan hal tersebut. Beberapa tentara kafir yang ditugaskan di daerah pendudukan Kashmir, baik dengan sukarela atau terpaksa, menyadari bahwa mereka berada di wilayah yang luas dan mereka relatif bebas untuk mengekspresikan naluri kebinatangan mereka, atau bisa jadi di sana adalah tempat terakhir mereka menghabiskan sisa hidup.

Tak pelak lagi, mereka menyadarinya dan mereka harus menghadapi kata batin mereka sendiri untuk menerima dan pergi ke tempat penjajahan. Di sekeliling mereka, mereka menyaksikan rekan-rekan mereka sendiri sedang membalas dendam karena kehidupan mereka telah hilang terampas. Tapi, tak seorang pun yang tidak tinggal diam karena ini satu “paket” yang harus mereka terima dengan tangan terbuka.

Dalam buku Kashmir, Derita yang Tak Kunjung Usai, Dhurorudin Mashad menjelaskan bahwa perjuangan Kashmir mengalami dilema. Menurut penuturan seorang warga kepadanya saat kunjungan ke wilayah yang dirundung duka dan air mata ini:

“Jika kami memakai cara-cara damai dan pendekatan politik, India mengklaim bahwa orang-orang Kashmir telah menerima status quo, menjadi bagian India. Jika kami protes dan mengekspos kesalahan klaim India atas Kashmir, India melancarkan terornya. Dan Jika kami melakukan perlawanan, dan mengambil langkah-langkah militer, maka India akan melabeli para pejuang kemerdekaan sebagai separatis, ekstrimis, fundamentalis, dan teroris, guna menumbuhkan prejudise negatif di berbagai penjuru dunia.”

Kashmir telah menjadi wilayah konflik yang tak terselesaikan sejak tahun 1947 hingga kini. India ingkar janji untuk memberikan kesempatan kepada rakyat Kashmir untuk menentukan nasib sendiri sesuai dengan resolusi DK PBB yang telah disepakati. Pakistan tak mampu menolongnya, PBB diam tak melakukan apa-apa, dan OKI (Organisasi Konferensi Islam) pun tidak bisa berbuat banyak. Bagaimana sebenarnya latar belakang yang menimpa kaum Muslimin di Kashmir ini ? Apa solusi terbaik untuk mengatasi konflik berkepanjangan di Kashmir?

Kashmir, Surga Dunia Asia Selatan

“Vale of Kashmir” atau Lembah Kashmir dikenal sebagai suatu tempat yang paling indah dan spektakuler di dunia. Sebuah “surga” dunia di Asia Selatan. Wilayah yang rendah dan sangat subur ini dikelilingi oleh gunung yang luar biasa dan dialiri oleh banyak aliran dari lembah-lembah.

Siapa sangka di lembah yang banyak diminati turis manca negara ini jihad sedang bergejolak mempertahankan esensi tauhid melawan kepungan kemusyirikan pemerintahan India.

‘Esa Al Hindi menceritakan; Kashmir adalah tanah yang luar biasa subur, dimana sumber air mengalir jernih dan sungai-sungainya melimpah ruah. Pohon-pohon terlihat di setiap sudut kita memandang. Kebun buah ada di mana-mana. Sawah-sawah dengan tanaman padi yang menyebar di seluruh negeri ini dapat digunakan sebagai bukti, betapa suburnya negeri dan tanah ini.

Kashmir berada di posisi yang luar biasa strategis, yang jika digabung dengan beberapa faktor lain menjadikan alasan jelas kenapa India mendudukinya seperti yang terjadi sekarang ini. Wilayahnya bergunung-gunung dan hutan-hutannya dipenuhi pedesaan. Puncak-puncak tertingginya berada di ketinggian 15.000-18.000 kaki yang berada di wilayah-wilayah perbatasan. Itulah sebabnya, bisa dikatakan puncak-puncak tersebut memisahkan Lembah Pendudukan (Occupied Valley) dari Azad Kashmir.

Posisi Kashmir sendiri berada di utara sub benua India. Istilah Kashmir secara sejarah digambarkan sebagai sebuah lembah di selatan dari ujung paling barat barisan Himalaya. Secara politik, istilah Kashmir dijelaskan sebagai wilayah yang lebih besar yang termasuk wilayah Jammu, Kashmir, dan Ladakh. Kashmir dikuasai oleh tiga negara, yakni Pakistan, India dan China.

Kashir berada di jantung asia Tengah bagian selatan dan berbatasan dengan Afghanistan, Cina, India dan Pakistan. Sedikit bagian wilayah Kashmir (wakhan) bersainggungan dengan wilayah Tajikistan dan Uni Soviet.

Kashmir merupakan salah satu wilayah rebutan terkenal di dunia, dan kebanyakan peta buatan Barat menggambarkan wilayah ini dengan garis bertitik untuk menandai batasan yang tidak pasti.

Wilayah Kashmir secara umum saat ini dikuasai atau disengketakan oleh tiga negara, yakni Pakistan mengontrol barat laut, India mengontrol tengah dan bagian selatan Jammu dan Kashmir, dan Republik Rakyat China menguasai timur laut (Aksai Chin).

Meskipun wilayah ini dalam prakteknya diatur oleh ketiga negara tersebut, India tidak pernah mengakui secara resmi wilayah yang diakui oleh Pakistan dan China. Pakistan memandang seluruh wilayah Kashmir sebagai wilayah yang dipertentangkan, dan tidak menganggap klaim India atas wilayah ini.

Sebuah pilihan yang disukai banyak orang Kashmir adalah kemerdekaan, namun baik Pakistan dan India menentang hal ini.

Luas wilayah keseluruhan Kashmir adalah 85.700 mil (88.700 mil menurut Inggris), dimana 51 % masuk ke wilayah atau daerah jajahan India, 33 % dalam pengawasan pemerintah pakistan, 11 % dalam pengawasan Cina, dan hanya 5 % yang merdeka , yakni wilayah Azad Kashmir.

Sementara itu, data penduduk Kashmir adalah 13 juta (15 juta menurut Belanda), 8,3 juta di India-wilayah Pendudukan Kashmir, 2,2 juta di Azad Kashmir, 1 juta di Pakistan-Kashmir yang diawasi Pakistan, 1,5 juta mengungsi di Pakistan, 0,4 juta komunitas ekspatriat (0,3 juta menurut Inggris).

Bahasa yang digunakan di Kashmir adalah: Bahasa Urdu (Bahasa resmi secara tehnik) di beberapa daerah, sedikit yang berbahasa Inggris. Sementara populasi Muslim di Kashmir paling banyak, yakni sekitar 80% Muslim, 16% Hindu, 4% Sikh, Budha, Kristen dan lain-lain menempati jumlah minoritas.

Ibukota Kashmir adalah Iqbalabad (Srinagar). Srinagar adalah nama dahulu atau ibukota kuno Kashmir yang terletak di dekat Danau Dal, sebuah danau yang terkenal karena kanal dan rumah perahunya.

Srinagar berketinggian 1.600 m atau 5.200 kaki dan sering dijadikan sebagai ibu kota musim panas bagi banyak turis dan petualang asing yang mendapatkan panas di utara India. Tepat di luar kota terdapat taman Shalimar yang indah dibuat oleh Jehangir, kaisar Mughal, pada 1619.

Akses menuju Kashmir biasa ditempuh dengan pesawat udara ke Srinagar melalui New Delhi, dan membutuhkan persetujuan pemerintah India. Atau bisa juga lewat darat ke Azad Kashmir dari Islamabad, Pakistan, tanpa izin.

Status Kashmir sendiri sejak tahun 1947 adalah jajahan militer kuffar India. Karena sejak tahun 1947 tersebut sekitar 51% wilayah Kashmir telah diserobot India dengan agresi liar dan kekuatan militer.

Pemerintahan syirik India telah menduduki paksa negeri ini, sejak 27 Oktober 1947 yang berbasis pada kecurangan Maharaja, pemerintahan outokrasi yang berkuasa saat itu. Sebelumnya, sejak abad 16 diperintah oleh Moghulis, Afghan, Sikh, dan Inggris.

Wilayah Kashmir yang masih dikuasai oleh kaum Muslimin saat ini hanyalah Azad Kashmir yang berlokasi di sebelah Timur Laut Pakistan. Wilayah ini membentang dalam area seluas 84.000 km dengan ibu kotanya bernama Muzaffarabad. Penduduknya seluruhnya Muslim dan undang-undang yang berlaku berasal dari pemerintah Pakistan.

Sedang tiga bagian lainnya (dari Kashmir) kini berada dalam pendudukan militer India, oleh karena itu biasa disebut sebagai tanah jajahan Kashmir. Di tanah jajahan ini diterapkan hukum perang buatan India yang keji, dimana pemerintahan India selalu berupaya untuk menggabungkan secara resmi seluruh daerah ke dalam satu kesatuan besar Kashmir ke dalam kekuasaan India.

Salah satu bagian yang diduduki militer India tersebut dan mungkin paling penting adalah bagian “Lembah” yang berpenduduk 98 % muslim. Di wilayah ini pasukan India memfokuskan diri agar dapat menguasai lembah yang maha luas ini. Itulah alasan mengapa perang di daerah ini berlangsung sangat sengit.

Kadang daerah ini disebut dengan nama “Lembah Kashmir” dan beribu kota di Srinagar yang kadang-kadang disebut Iqbalabad. Lembah ini terletak 2000 kaki di atas permukaan air laut. Cuaca disana tidak sedingin yang dibayangkan, bahkan cuaca dan iklimnya hangat

Bagaian selanjutnya adalah “Jammu” yang meskipun terdapat penduduk Muslim, namun secara dominan diduduki masyarakat Hindu dan warga militer. Wilayah ini sedikit lebih tenang dibanding di pegunungan-pegunungan dengan dataran-dataran yang dikelilingi puncak-puncak. Wilayah ini tidak bisa dianggap remeh karena bisa juga berbahaya.

Bagian yang terakhir adalah “Ladakh” yang juga disebut wilayah “Leh” dimana masyarakatnya mayoritas beragama Buddha. Hal ini tidak mengherankan karena bagian wilayah ini berbatasan dengan Cina. Wilayah ini meliputi daerah seluas 42.735 km.

Wilayah “Lembah” sebagaimana sebagian wilayah Jammu telah berubah menjadi wilayah perang.

Jumlah total penduduk Kashmir adalah 13 juta jiwa. Pada perubahan dekade yang terakhir, pasukan pendudukan yang mendarat dari daratan utama India yang membentuk koloni dan mengontrol pelaksanaan hukum perang menambah jumlah penduduk sebesar 450.000 jiwa. Jumlah pasukan yang mencengangkan, menjadikan penduduk asli Kashmir sebagai kaum Muslimin yang tertindas dan menanggung derita tak bertepi.

Kekejaman Militer India di Kashmir

Militer musyrik India adalah bencana terbesar bagi penduduk Muslim Kashmir. Kehadiran mereka sama sekali tidak diinginkan dan mereka selalu berbuat kerusakan di Kashmir. Pekerjaan mereka sehari-hari adalah melakukan pemerkosaan, pembunuhan brutal dan merampas tanah dari pemiliknya.

Mereka juga sering membuat fitnah dan propaganda perang murahan di media massa. Dalam perjuangan mereka untuk menutup daerah yang sering dikunjungi turis manca negara, mereka mengadopsi apa yang mereka sebut psikologi perang. Semua itu untuk mencegah masuknya turis. Mereka menyebarkan propaganda ekstrim. Lewat media mereka mengumumkan bahwa Mujahidin menculik orang Barat yang sedang berlibur.

Propaganda itu digunakan terus-menerus, ke seluruh Lembah kepada penduduk sipil yang menyadari bahwa semua itu fitnah tapi mereka hanya mengetahui sedikit. Rumor itu merupakan fitnah dari pemerintah India dalam konspirasi mereka.

Tidak diragukan lagi, mesin media India telah membawa berita fitnah ini dengan sukses menjadi “pemikiran” publik dunia. “Pemikiran” ini menjadi pola yang didoktrinkan sehingga membuat kengerian dan ketakutan Dunia Barat khususnya dan dunia Islam pada umumnya yang akan menjauhkan dan bahkan menghilangkan Kashmir dari daftar kunjungan wisata dan perhatian mereka. Hal ini dikarenakan Lembah Kashmir adalah tempat utama penindasan dan kekejaman yang mereka lakukan.

Di mata pemerintah penjajah, siapa pun yang menyerukan pembebasan dan kemerdekaan serta mendukung perjuangan kemerdekaan adalah seorang militan, teroris, dan fundamentalis. Selanjutnya dia akan ditangkap, disiksa, dijebloskan ke penjara, dan dibunuh. Namun, militansi perjuangan kaum muslimin di Kashmir adalah sebuah realitas yang tidak akan terhenti, yang membuat New Delhi putus asa dan menyebar hampir sejuta pasukan ke negeri ini.

Betapa ironisnya, mereka yang disebut pendukung doktrin Gandhi Tiada Kekerasan telah melakukan kebiadaban ketika merampas tanah Kashmir dari pemiliknya. Sama saja ketika mereka mengaku sebagai “Pahlawan Pemberani” padahal sesungguhnya mereka adalah individu-individu yang paling penakut ketika bertempur berhadapan.

Penyiksaan-penyiksaan terus mereka lakukan dan bahkan jumlahnya makin meningkat. Di tempat tersebut, berkumpul lebih dari empat orang pun dilarang. Setiap hari adalah mimpi buruk dan setiap tempat adalah tempat pembantaian. Setiap keluarga begitu menderita dan takut akan kekejian pasukan kafir menimpa salah seorang di antara mereka.

Pemerkosaan, penculikan, dan pembunuhan massal adalah pekerjaan sehari-hari militer musyrik India di lembah pendudukan Kashmir. Berbagai kisah tragis tentang itu semua diceritakan oleh Mujahid asal India Esa Al Hindi dalam bukunya Army Madinah in Kashmir.

Pada tanggal 10 dan 11 Agustus 1990, Pasukan militer India mengadakan patroli keliling Pazi Pora, Bali Pora, Konun dan wilayah-wilayah sekitarnya. Mereka terlihat sangat ingin membalas dendam, tamak dan bernafsu. Mereka kemudian menembak siapa pun yang mereka temui; orang lewat, petani, remaja, orang lanjut usia baik pria maupun wanita dan orang yang sedang lewat dalam perjalanan.

Para jawan (tentara India) terlihat membawa sebotol minuman keras pada kantong-kantong mereka dan senjata di tangan. Lebih dari satu kompi pasukan diturunkan di Pazi Pora dan memisahkan penduduk wanita dari anak-anak dan laki-laki, meski menghadapi protes dan ratapan tiada henti. Sebagaian besar wanita telah melarikan diri ke hutan demi keselamatan.

Tetapi, ada sekitar 20-30 wanita yang menginap di sebuah rumah besar tidak sempat melarikan diri. Pasukan India yang tercium bau minuman keras dari mulut mereka segera menerkam para wanita tersebut, seperti burung nazar menerkam bangkai. Seluruh wanita tersebut di paksa keluar dan sekitar 10-15 wanita yang kuat, muda sehat dan menarik dipisahkan dari yang berusia sekitar 7 tahun dan 50 tahun.

Sekelompok pasukan yang bernafsu segera melucuti pakaian mereka hingga telanjang. Api unggun dibuat dari pakaian mereka yang dibakar beserta barang-barang dari kain di pinggir sawah. Sisa-sisa api unggun masih bisa ditemukan bahkan setelah satu minggu.

Sementara itu sekelompok pasukan yang lain segera meneguk minuman keras dari botol-botol mereka dan menyeret para wanita tersebut ke tempat tersembunyi dan memperkosanya. Seorang gadis kecil yang berusia tujuh tahun yang diperkosa bahkan mengalami pendarahan lima hari setelah peristiwa yang mengerikan tersebut. Tragis…

Tentara musyrik India memiliki dendam yang tak berkesudahan di Kashmir. Jumlah tentara-tentara mereka yang disebar di Kashmir jumlahnya meningkat setiap tahunnya. Sejatinya, mereka melewati tahun demi tahun dengan rasa frustasi dan putus asa. Hal ini dikarenakan mereka selalu gagal membungkam dan menghentikan perlawanan perjuangan para Mujahidin.

Mujahidin di Kashmir

Semenjak berubahnya kondisi dalam dekade terakhir ini, medan jihad Kashmir dibantu Allah SWT dengan kedatangan para mujahidin dari luar negeri memasuki negeri ini. Sebagian besar dari mereka berasal dari Pakistan. Para mujahidin dari luar Kashmir telah membantu dan menjadi bagian dari jihad, sebagaimana penduduk lokal.

Penduduk lokal Kashmir sendiri, dikarenakan tekanan dari pasukan penjajah yang bebas melakukan setiap jenis kekejaman dan penyiksaan massal yang belum pernah dilakukan oleh manusia, akhirnya terpaksa menjadi masyarakat militan sebagai reaksi perlawanan.

Selama waktu bertahun-tahun di bawah tekanan, bumi Kashmir akhirnya memunculkan berbagai kelompok jihad dan jama’ah dakwah seperti: Hizbul Mujahidin (Partai Mujahidin) Lashkar-e-Tayba (Pasukan Tayba), Harakatul Anshar (Harakah Anshar), Jami’atul Mujahidin (Jamaah Mujahidin) Al Barq, Al Badar dan lain-lain. Nama jama’ah ini telah menjadi istilah yang familiar karena jama’ah-jama’ah tersebut merupakan kelompok-kelompok yang menjadi ujung tombak perlawanan.

Syaikh Muhammad Mas’ud Azhar adalah salah seorang Mujahidin dan pemimpin Jama’ah Jihad yang sangat disegani di Kashmir. Keberadaan beliau dan pasukannya sebagaimana keberadaan Syaikh Abdullah Azzam di dunia Arab (Aghanistan).

Tulisan-tulisan beliau (Syaikh Muhammad Mas’ud Azhar) dalam berbagai bahasa telah menjadi inspirasi yang luar biasa bagi pria dan wanita yang menyadari bahwa mereka berada di negeri kaum muslimin yang tertindas dan kewajiban mereka adalah mempertahankan diri dan melawan melalui jihad.

Esa al ‘Hindi sendiri adalah seorang mualaf yang masuk Islam di usia 20 tahun dan langsung pergi berjihad ke Kashmir. Bisa dikatakan buku Army Madinah in Kashmir yang ditulis oleh beliau adalah kisah jihad Kashmir yang pertama kali ditulis dan dipublikasikan luas ke dunia Islam.

5. Cechnya

Sejarah perang Chechnya bisa dibagi kepada dua fase, yakni Perang Chechnya I dan Perang Chechnya II. Perang Chechnya I adalah perang antara Rusia dengan Chechnya antara tahun 1994-1996 dan berakhir dengan kemerdekaan Chechnya secara de fakto dari Rusia.

Setelah kampanye awal pada tahun 1994-1996, memuncak pada penghancuran kota Grozny. Pasukan federal Rusia berhasil menguasai wilayah-wilayah pegunungan Chechnya tapi berhasil dipukul mundur oleh pasukan mujahidin yang bergerilya dan mujahidin juga menyerang di wilayah-wilayah daratan, meskipun jumlah pasukan Rusia berlimpah, juga persenjataan dan pasukan udara. Hal itu berakibat pada merosotnya moral pasukan federal dan hampir seluruh wilayah Rusia jatuh ke dalam konflik brutal yang menuntut pemerintahan Boris Yeltsin mengumumkan gencatan senjata pada tahun 1996 dan menandatangani perjanjian damai setahun kemudian.

Dalam kesaksiannya, Komander Khattab–Legenda Jihad Chechnya–menceritakan bagaimana dia bisa sampai berjihad di Chechnya dan kemudian bergabung dan berjuang bersama. Komander Khattab bahkan di awal jihad Chechnya menyangka bahwa yang terjadi di Chechnya adalah pemberontakan, yang dipimpin jenderal komunis bernama Jauhar Dudayev. Karena yang kami tahu penduduk Rusia adalah penganut Komunisme. Setelah kami mendengar berita yang sebenarnya kami mengatur kunjungan ke Chechnya untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya kami berangkay ke Chechnya dengan 12 orang mujahid asal Dagestan.

Komander Khattab memilih kota Vedeno untuk dijadikan markaz melatih para mujahidin dan mereka mulai melakukan serangan pertama ke konvoi tentara Rusia yang bergerak ke luar kota Vedeno. Akhirnya mujahidin berhasil memenangkan pertempuran.

Pada tanggal 30-10-1995 konvoi pasukan Rusia keluar dari Vadeno setelah kalah dalam pertempuran sengit di bagian Selatan kota Vedeno. Setelah itu Jauhar Dudayev mengumumkan selesainya perang terbuka dan mulai mengumumkan perang gerilya yang dinyatakan akan berlangsung selama 48 tahun dari 50 tahun.

Pengumuman itu menghancurkan semangat pasukan Rusia. Dia mengumumkan bahwa perang berlangsung 50 tahun, sudah berlalu 2 tahun dan masih ada waktu 48 tahun. Setelah itu Jauhar Dudayev mulai melancarkan banyak serangan dan berhasil masuk ke ibu kota Chechnya, Grozny. Akhirnya setelah serangan demi serangan, pasukan Rusia menyatakan mundur dari Chechnya dan mempersiapkan diri baik-baik untuk menyerang kembali Chechnya.

Dalam perkembanganya, sejumlah konflik internal terjadi di Checnya. Konflik ini terjadi antara penduduk etnik Chechen dengan non-Chechen yang hampir semua berasal dari Rusia. Warga non-Chechen dan kaum oposisi ini kemudian mengadakan kudeta pada bulan Maret 1992, akan tetapi dapat digagalkan oleh pasukan Dudayev. Setelah kudeta berikutnya juga gagal, kaum oposisi ini membentuk pemerintahan alternatif dan meminta bantuan Moskow.

Pada bulan Agustus 1994 kaum oposisi ini mengadakan kampanye militer untuk menggulingkan pemerintahan Dudayev. Moskow segera mengirimkan bantuan dana, perlengkapan militer, dan persenjataan. Rusia menunda seluruh penerbangan sipil ke Grozny ketika mereka melalukan blokade militer ke Chechnya. Mereka melakukan serangan dan membombardir ibu kota Grozny. Pasukan Jauhar Dudayev memukul mundur serangan tersebut.

Di pegunungan Selatan, Rusia melancarkan serangan pada 15 April 1994 dengan konvoi sekitar 200-300 kendaraan. mujahidin Chechen mempertahankan kota Argun, memindahkan markas militer mereka untuk mengepung kota Shali, kemudian Serzhen-Yurt, kemudian mereka menuju ke pegungungan. Akhirnya para mujahidin ini bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh Shamil Basayev di Vedeno. Setelah berada di Vedeno komandan mujahidin Chechnya menarik mundur pasukan ke Dargo dan kemudian membawanya ke Benoy.

Para mujahidin banyak yang membentuk unit-unit pasukan lokal untuk mempertahankan wilayah mereka dari serangan pasukan federal Rusia. Banyak remaja belasan tahun yang bergabung dengan pasukan mujahidin dan sejak saat itu semangat jihad menggelora di dada kaum muslimin Chechnya.

Komander Khattab menceritakan : Setelah itu, kami pun para mujahidin melakukan persiapan, konsolidasi, membangun kamp-kamp dan melatih para pemuda yang siap mendukung jihad Chechnya. Khattab dan seluruh mujahidin Chechnya sibuk mempersiapkan diri untuk jihad panjang di sana. Khattab pernah menanyakan kepada penduduk setempat apakah mereka pernah mendapatkan bantuan dari lembaga-lembaga internasional?

Mereka menjawab Palang Merah Internasional pernah datang memberi kami 3 kg gula untuk waktu 2 tahun, juga 4 kg tepung. Ini adalah bantuan dari lembaga bantuan dunia. Tentu saja akhirnya masyarakat Chechnya lebih bisa menerima kehadiran mujahidin di tengah-tengah mereka.

Sebenarnya pasukan Rusia sudah tidak memiliki kekuatan lagi dan semangat tempurnya pun sudah jatuh. Tapi mereka tetap berbahaya dan masih banyak di perbatasan-perbatasan. Mereka akhirnya melancarkan tekanan ekonomi, mengadu domba rakyat, mendukung oposisi, dan melakukan trik-trik kotor lainnya yang intinya menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan pemerintahan mujahidin dan menghilangkan kepercayaan rakyat kepada pemerintahan mujahidin agar masyarakat menilai bahwa pemerintahan mujahidin tidak mampu memerintah.

Pada tanggal 12 Mei 1997, Presiden Ashlan Maskhadov (Pengganti Presiden Jauhar Dudayev yang tertembak mati peluru kendali Rusia) pergi ke Maskow untuk menendatangani perjanjian damai bersama Yeltsin. Perjanjian damai ini didasarkan pada “perdamaian dan prinsip-prinsip hubungan Rusia-Chechen”

Ashlan Maskhadov terbukti salah. Dua tahun setelah perjanjian tersebut, komandan Shamil Basayev melakukan penyerbuan ke Daghestan pada musim panas 1999 sebagai balasan tindakan brutal Rusia di sana.

Mengapa sampai terjadi pertempuran di Daghestan yang akhirnya memicu Perang Chechnya II ? Komander Khattab menceritakan bagaimana kejam dan buasnya pasukan Rusia kepada kaum muslimin disana. Pasukan Rusia menghisap darah kaum muslimin dan membumihanguskan wilayah-wilayah kaum muslimin begitu dahsyat. Hanya Allah yang tahu betapa kejamnya mereka, mulai dari Afghanistan, Tajikistan, Bosnia, Chechnya.

Selama lima tahun belakangan Rusia terus melakukan persiapan untuk menebus kekalahan mereka. Agen-agen intelejen Rusia pun mulai banyak yang disusupi ke dalam aktivitas mujahidin untuk mengumpulkan informasi. Rusia juga mulai melakukan terror dan intimidasi di Chechnya sebagai langkah awal serangan mereka.

Di sisi lain, umat muslim memproklamasikan penerapan syari’at Islam di Daghestan. Mereka mengusir polisi, karena di setiap tempat dimana ada polisi disitu juga terjadi pencurian, maksiat, mabuk-mabukan, dan suap-menyuap.

Dan setelah masyarakat mengusir polisi, mereka mulai menata kehidupan mereka dengan syariat Islam. Para petani mulai ke ladang dan kehidupan mulai normal dan tenang. Maka kami pun ikut mempertahankan wilayah Daghestan. Saat itu jika pemerintah meminta bantuan kepada Rusia, maka masyarakat meminta bantuan kepada mujahidin.

Kita masuk ke wilayah Daghestan sebelum tentara Rusia sampai dan mempertahankan wilayah itu. Jika Rusia menyerang maka kita akan bertahan. Inilah rencana awal kami, kami hanya ingin menolong mereka menghadapi tentara Rusia. Dan tetap dengan langkah-langkah dan prosedur khusus. Akhirnya perang meletus dan mujahidin Daghestan meminta bantuan kepada kami. Kami wajib masuk dan membantu mereka. Kami datang membantu dan berhasil memukul pasukan Rusia di daerah Botlov. Setelah pasukan Rusia menghentikan serangan mereka maka kami pun kembali ke Chechnya.

Namun 3 hari setelahnya, pasukan Rusia mengepung tiga desa dan membumi hanguskan tiga desa tersebut dengan senjata berat dan pesawat tempur. Padahal penduduk desa tersebut kebanyakan anak-anak kecil dan orang tua serta wanita. Mereka tidak tahu apa-apa. Akhirnya setelah bermusyawarah dengan seluruh komponen masyarakat Chechnya dan Daghestan, maka kami memutuskan untuk masuk ke desa yang dikepung oleh Rusia, maka meletuslah perang.

Dengan demikian, Perang Chechnya II merupakan operasi militer yang dilakukan oleh Rusia. Perang ini dimulai pada Bulan agustus 1999 ketika pasukan Rusia melakukan penyergapan besar-besaran terhadap mujahidin Chechnya, hingga saat ini. Perang di Daghestan dan pengeboman apartemen di Rusia merupakan Bagian awal dari Perang Chechnya II. Operasi besar-besaran membatalkan hasil yang telah didapat pada Perang Chechen yang pertama dimana Chechnya telah memperoleh kemerdekaan secara defakto sebagai Chechen Republik of Ichkeria (CRI).

Meskipun sebagian orang menganggap perang ini sebagai konflik internal Federasi Rusia, tetapi perang ini menarik minat Mujahidin dari luar negeri dalam jumlah besar.

Medan perang Chechnya memasuki fase baru ketika pada tanggal 1 Oktober 1999 Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengumumkan kekuasaan Presiden Chechnya Aslan Maskhadov dan Parlemennya tidak sah dan melanggar undang-undang. Pada saat itu Vladimir Putin memgumumkan bahwa invasi Rusia akan segera berlanjut.

Menurut beberapa sumber Putin sedang menjalankan rencana menghancurkan Chechnya dan menguasainya kembali sesuai rencana yang telah digariskanya beberapa bulan sebelum itu.

Seiring dengan serangan-serangan yang dilakukan pasukan Federal Rusia dan pendudukan mereka di beberapa desa sekitar Grozny, semangat jihad para mujahidin Chechnya meningkat. Peningkatan semangat jihad ini terlihat dari makin gencarnya serangan gerilya para mujahidin dengan sasaran penguasa pro-Rusia, pasukan federal Rusia, kendaraan militer Rusia, konvoi Rusia dan helikopter serta pesawat tempur Rusia.

Disamping itu para mujahidin juga melancarkan serangan atau aksi istisyhadah. Selama bulan Juni 2000 hingga September 2004 setidaknya ada 23 aksi syahid di dalam dan di luar Chechnya. Sasaran aksi syahid tersebut adalah militer dan pos-pos strategis milik pemerintah Rusia.

Pada Bulan Mei 2000 Presiden Rusia Vladimir Putin mendirikan pemerintahan “boneka” di Chechnya. Putin menunjuk Ahmad Kadyrov sebagai presiden “boneka” Rusia di Chechnya.

Pada tanggal 23 Maret 2003, konstitusi Chechen mengadakan referendum yang kontroversial. Referendum ini memberikan otonomi yang lebih luas kepada Republik Chechen. Referendum yang didukung oleh pemerintah Rusia ini diboikot dan ditolak oleh mujahidin Chechen.

Seiring jalannya perang, percobaan pembunuhan atas pemimipin kedua belah pihak sering terjadi. Pada tanggal 13 Februari 2004, presiden Chechen dari kalangan mujahidin, Zelimkhan Yandarbiyev terbunuh di Qatar. Sedangkan pada tanggal 9 Mei 2004 presiden “boneka” Rusia, Akhmad Kadyrov terbunuh pada sebuah parade di Grozny.

Sejak Desember 2005, Ramzan Kadyrov, anak Ahmad Kadyrov, pemimpin yang juga pro-Rusia menjadi presiden boneka Rusia di Chechnya secara de fakto. Kadyrov yang terkenal dengan kekejamannya ini mendapat dukungan penuh Rusia dan pada bulan Februari 2007 menjadi Presiden “boneka” Rusia dengan kekuasaan penuh di Chechnya menggantikan Alu Alkhanov.

Sementara itu, pada tanggal 2 Februari 2006, Abdul Khalim Sadulayev presiden dari kalangan mujahidin membuat perubahan dalam skala besar dalam pemerintahannya. Sadulayev memerintahkan seluruh warga Chechnya yang berada di luar negeri dan di pegunungan agar segera kembali ke wilayah Chechnya. Sadulayev sendiri terbunuh pada bulan Juni 2006. Sepeninggal Sadulayev, Dokka Umarov menggantikannya menjadi memimpin pemerintahan Chechnya, sekaligus Amir Mujahidin Chechnya hingga kini dan akhirnya kemudian mendeklarasikan Daulah Islam Kaukasus.

6. Pilipina

Islam di Philipina merukan salah satu kelompok minoritas diantara negara-negara yang lain. Dari statsitk demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah 44.300.000 jiwa, sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan prosentase 5,3% dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.

Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946 M) dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina).

Namun patut dicatat, pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF.

Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan. Pada awal kemerdekaan, pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan Bangsa Moro dikurangi.

Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan rakyat anti penjajahan Jepang. Setelah Jepang menyerah, mereka mengarahkan perlawanannya ke pemerintah Filipina. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953).

Tekanan semakin terasa hebat dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986). Dibandingkan dengan masa pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa Moro.

Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan Presidential Proclamation No. 1081 itu.

Perkembangan berikutnya, MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan.

Namun dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro.

Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF) dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah memasuki 2 dasawarsa itu.

Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF). Semua pihak memandang caranyalah yang paling tepat dan efektif.

Namun agaknya Ramos telah memilih salah satu diantara mereka walaupun dengan penuh resiko. “Semua orang harus memilih, tidak mungkin memuaskan semua pihak,” katanya. Dan jadilah bangsa Moro seperti saat ini, minoritas di negeri sendiri.

B. Jihad Bermasalah

Yang dimaksud dengan jihad bermasalah adalah peperangan yang sering diklaim sebagai jihad fi sabilillah, tetapi ada banyak kejanggalan di dalamnya.

Salah satu kejanggalan itu tidak lain adalah bahwa perang itu pecah dan terjadi di tengah-tengah umat Islam sendiri.

1. Afghanistan Pasca Sovyet

Tatkala pasukan tentara merah Uni Sovyet mencaplok wilayah Afghanistan, berdatanganlah para pemuda Islam dari hampir seantero jagad negeri Islam untuk berjihad menyambut syahadah.

Namun amat disayangkan, ketika Glasnot dan Prestroika berlangsung di zaman rezim Gorbachev, negeri beruang merah itu pun rontok di dalam. Imbasnya, ratusan ribu tentara merah yang bercokol di Afghanistan pun ditarik pulang balik ke kandang. Afghanistan pun terlepas dari penjajahan negara super power.

Sayangnya, lepasnya ikatan penjajahan itu tidak lantas menyelesaikan masalah. Alih-alih menegakkan negara Islam yang menjadi negeri aman, justru sekian banyak faksi mujahidin itu malah saling berperang sesama mereka.

Peluru yang tadinya ditembakkan atas nama Allah untuk mengusir penjajah, akhirnya malah ditembakkan kepada sesama muslim sendiri. Entah setan mana yang merasuki para komandan pasukan, sehingga jihad suci sepuluhan tahun itu harus diakhir dengan fitnah berdarah dan memalukan.

Akhirnya, entah ini merupakan balasan dari Allah atau ujian yang diperpanjang, kemudian faksi-faksi itu pun dibasmi habis oleh kekuatan baru, yang kemudian disebut dengan taliban. Konon taliban tidak lain dimotori oleh Amerika Serikat yang meminjam tangan orang lain. Kita tidak tahu sejauh mana kebenarannya, kecuali sekedar berasumsi dan menebak-nebak.

Dan lebih parah dari semuanya, ternyata Afghanistan menjadi tempat pangkalan utama para teroris di dunia, tempat dilatihnya pasukan milisi dari beragama bangsa, termasuk salah satunya dari negeri kita.

Para pemberontak bersenjata di negeri kita rata-rata adalah alumni Afghanistan pasca dikuasai oleh Taliban, yang kemudian bermetamorfosa menjadi Al-Qaidah.

2. Suriah

Pemberontakan Suriah 2011-2012 adalah sebuah konflik kekerasan internal yang sedang berlangsung di Suriah. Ini adalah bagian dari Musim Semi Arab yang lebih luas, gelombang pergolakan di seluruh Dunia Arab.

Demonstrasi publik dimulai pada tanggal 26 Januari 2011, dan berkembang menjadi pemberontakan nasional. Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Presiden Bashar al-Assad, penggulingan pemerintahannya, dan mengakhiri hampir lima dekade pemerintahan Partai Ba'ath.

Pemerintah Suriah mengerahkan tentara Suriah untuk memadamkan pemberontakan tersebut, dan beberapa kota yang terkepung.

Menurut saksi, tentara yang menolak untuk menembaki warga sipil dieksekusi oleh tentara Suriah. Pemerintah Suriah membantah laporan pembelotan, dan menyalahkan "gerombolan bersenjata" untuk menyebabkan masalah pada akhir 2011, warga sipil dan tentara pembelot dibentuk unit pertempuran, yang dimulai kampanye pemberontakan melawan tentara Suriah.

Para pemberontak bersatu di bawah bendera Tentara Pembebasan Suriah dan berjuang dengan cara yang semakin terorganisir, namun komponen sipil dari oposisi bersenjata tidak memiliki kepemimpinan yang terorganisir.

Pemberontakan memiliki nada sektarian, meskipun tidak faksi dalam konflik tersebut telah dijelaskan sektarianisme sebagai memainkan peran utama. Pihak oposisi didominasi oleh Muslim Sunni, sedangkan pemerintah terkemuka adalah Muslim Syiah. Assad dilaporkan didukung oleh Alawi dan paling banyak adalah orang Kristen di negara ini.