SFK > Muamalat > Bagian Pertama : Jual-beli

⬅️

Bab 6 : Akad Istishna

➡️

A. Definisi

1. Bahasa

Istishna' (استصناع) adalah bentuk ism mashdar dari kata dasar istashna'a-yastashni'u (استصنع - يستصنع). Artinya meminta orang lain untuk membuatkan sesuatu untuknya.Dikatakan dalam ungkapan bahasa Arab :

استصنع فلان بيتا

Seseorang meminta untuk dibuatkan rumah untuknya.[1]

2. Istilah

Sedangkan pengertian istishna' menurut istilah dalam ilmu fiqih disebutkan oleh beberapa mazhab ulama sebagai berikut :

a. Mazhab Al-Hanafiyah

Menurut sebagian kalangan ulama dari mazhab Hanafi, istishna' adalah :

عقد على مبيع في الذمة شرط فيه العمل

Sebuah akad untuk sesuatu yang tertanggung dengan syarat mengerjakaannya.

Bila seseorang berkata kepada orang lain yang punya keahlian dalam membuat sesuatu,"Buatkan untuk aku sesuatu dengan harga sekian dirham", dan orang itu menerimanya, maka akad istishna' telah terjadi dalam pandangan mazhab ini.[2]

b. Mazhab Al-Hanabilah

Senada dengan definisi di atas, kalangan ulama mazhab Hambali menyebutkan bahwa istishna' adalah :

بيع سلعة ليست عنده على وجه غير السلم

Jual-beli barang yang tidak (belum) dimilikinya yang tidak termasuk akad salam.

Dalam hal ini akad istishna' mereka samakan dengan jual-beli dengan pembuatan (بيع بالصنعة).[3]

c. Mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah

Namun kalangan Al-Malikiyah dan Asy-Syafi'iyah mengaitkan akad istishna' ini dengan akad salam. Sehingga definisinya juga terkait, yaitu :

الشيء المسلم للغير من الصناعات

Suatu barang yang diserahkan kepada orang lain dengan cara membuatnya. [4]

Jadi secara sederhana, istishna' boleh disebut sebagai akad yang terjalin antara pemesan sebagai pihak 1 dengan seorang produsen suatu barang atau yang serupa sebagai pihak ke-2, agar pihak ke-2 membuatkan suatu barang sesuai yang diinginkan oleh pihak 1 dengan harga yang disepakati antara keduanya.

B. Perbedaan Dengan Salam, Ijarah, dan Ju'alah

Ada tiga akad selain dari akad istishna' yang punya kemiripan atau irisan, namun ketiganya tetap berbeda. Ketiga akad itu adalah akad salam, akad ijarah dan akad ju'alah.

1. Salam

Sebagaimana sudah dibahas dalam bab sebelumnya bahwa akad salam itu adalah membeli barang yang diberikan uangnya secara tunai, namun barangnya belum ditunaikan alias terhutang. Akad salam dalam ungkapan bahasa Arab disebutkan sebagai شِرَاءُ آجِلٍ بِعَاجِلٍ

Contoh akad salam adalah pembelian atas mobil yang sudah dibayar lunas uangnya, namun mobilnya belum lagi diserahkan. Dan di masa Nabi SAW, praktek akad salam adalah para pedagang kurma sudah membeli kurma dengan uang tunai terlebih dahulu, sementara kurmanya belum tersedia dan menjadi hutang pihak petani.

Persamaan akad salam dengan akad istishna' adalah sama-sama merupakan pembelian yang uangnya diserahkan secara tunai, namun apa yang dibeli menjadi tanggungan atau hutang. Sedangkan perbedaannya hanyalah dalam wujud objek yang diperjual-belikan. Kalau dalam akad salam, objeknya adalah barang atau benda yang belum dibeli oleh penjualnya, sedangkan dalam akad istishna' ini, objeknya adalah benda yang belum lagi dibikin, dibuat atau diciptakan.

Singkatnya, dalam akad salam penjualnya harus membeli barangnya dulu, sedang dalam akad istishna' pejualnya harus membuatnya dulu. Kalau seseorang membeli sate dengan menyerahkan terlebih dahulu uangnya kepada si penjual yang mangkal di pinggiran jalan, lalu satenya baru mau dibakar, maka akad itu termasuk akad istishna'.

Demikian juga seorang kolektor lukisan, bila dia membayar tunai kepada pelukis untuk dibuatkan lukisan yang indah, kemudian pelukis itu baru melukisnya dalam waktu sekian lama, maka akad yang mereka lakukan pada dasarnya adalah akad istishna'.

2. Ijarah

Akad ijarah pada hakikatnya merupakan akad jual-beli juga. Hanya saja bedanya, yang diperjual-belikan bukan barang tetapi jasa. Perhatikan definisi para ulama tentang akad ijarah ini :

بَيْعُ عَمَلٍ تَكُونُ الْعَيْنُ فِيهِ تَبَعًا

Jual-beli atas suatu pekerjaan

Contoh akad ijarah ini adalah ketika seorang ingin membangun rumah, lalu dia menyewa jasa tukang bangunan yang disewa dengan hitungan tertentu. Sementara bahan-bahan bangunan dibelinya sendiri. Maka dalam hal ini orang itu tidak membeli rumah dari tukang bangunan, melainkan dia membeli jasa tukang untuk mengerjakan pekerjaan membangun rumah.

Akad ijarah ini berbeda dengan akad istishna'. Dalam akad istishna' seseorang melakukan transaksi jual-beli rumah. Hakikatnya orang itu membeli rumah dari pihak pemborong bangunan, dimana uangnya sudah diserahkan, namun rumahnya belum ada dan pekerjaan pembangunannya baru akan mulai dikerjakan.

3. Ju'alah

Sedangkan perbedaan antara akad ju'alah dengan akad istishna' cukup besar dan jelas sekali. Salah satu contoh akad ju'alah adalah akad sayembara, dimana seseorang menawarkan kepada pihak lain suatu harta tertentu, apabila pihak lain berhasil mengadakan suatu barang yang sesuai kehendak pihak pertama. Apabila ada yang berhasil mengadakan barang itu, maka dia berhak mendapatkan upah atau imbalan atas jasanya. Dan sebaliknya, bila tidak berhasil, maka tidak ada upah atau pembayaran apapun. Sedangkan dalam akad istishna', yang diperjual-belikan bukan jasa, melainkan barang tertentu yang telah ditetapkan oleh pihak pertama. Akadnya bukan jasa untuk untuk mengadakan barang.

C. Masyru'iyah

Akad istishna' adalah akad yang halal dan didasarkan secara syar'i di atas petunjuk Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma' di kalangan muslimin.

1. Al-Quran

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا

Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. (Qs. Al Baqarah: 275)

Berdasarkan ayat ini dan lainnya para ulama' menyatakan bahwa hukum asal setiap perniagaan adalah halal, kecuali yang nyata-nyata diharamkan dalam dalil yang kuat dan shahih.

2. As-Sunnah

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ نَبِىَّ اللَّهِ ص كَانَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى الْعَجَمِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ الْعَجَمَ لاَ يَقْبَلُونَ إِلاَّ كِتَابًا عَلَيْهِ خَاتِمٌ. فَاصْطَنَعَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ.قَالَ:كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِهِ فِى يَدِهِ. رواه مسلم

Dari Anas RA bahwa Nabi SAW hendak menuliskan surat kepada raja non-Arab, lalu dikabarkan kepada beliau bahwa raja-raja non-Arab tidak sudi menerima surat yang tidak distempel. Maka beliau pun memesan agar ia dibuatkan cincin stempel dari bahan perak. Anas menisahkan: Seakan-akan sekarang ini aku dapat menyaksikan kemilau putih di tangan beliau." (HR. Muslim)

Perbuatan nabi ini menjadi bukti nyata bahwa akad istishna' adalah akad yang dibolehkan. [5]

3. Al-Ijma'

Sebagian ulama menyatakan bahwa pada dasarnya umat Islam secara de-facto telah bersepakat merajut konsensus (ijma') bahwa akad istishna' adalah akad yang dibenarkan dan telah dijalankan sejak dahulu kala tanpa ada seorang sahabat atau ulamakpun yang mengingkarinya. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk melarangnya. [6]

4. Kaidah Fiqhiyah

Para ulama di sepanjang masa dan di setiap mazhab fiqih yang ada di tengah umat Islam telah menggariskan kaedah dalam segala hal selain ibadah:

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Hukum asal dalam segala hal adalah boleh, hingga ada dalil yang menunjukkan akan keharamannya.

5. Logika

Orang membutuhkan barang yang spesial dan sesuai dengan bentuk dan kriteria yang dia inginkan. Dan barang dengan ketentuan demikian itu tidak di dapatkan di pasar, sehingga ia merasa perlu untuk memesannya dari para produsen.

Bila akad pemesanan semacam ini tidak dibolehkan, maka masyarakat akan mengalamai banyak kesusahan. Dan sudah barang tentu kesusahan semacam ini sepantasnya disingkap dan dicegah agar tidak mengganggu kelangsungan hidup masyarakat.[7]

D. Rukun

Akad istishna' memiliki 3 rukun yang harus terpenuhi agar akad itu benar-benar terjadi : kedua-belah pihak, barang yang diakadkan dan shighah (ijab qabul).

1. Kedua-belah Pihak

Kedua-belah pihak maksudnya adalah pihak pemesan yang diistilahkan dengan mustashni' (المستصنع) sebagai pihak pertama. Pihak yang kedua adalah pihak yang dimintakan kepadanya pengadaaan atau pembuatan barang yang dipesan, yang diistilahkan dengan sebutan shani' (الصانع).

2. Barang Yang Diakadkan

Barang yang diakadkan atau disebut dengan al-mahal (المحل) adalah rukun yang kedua dalam akad ini. Sehingga yang menjadi objek dari akad ini semata-mata adalah benda atau barang-barang yang harus diadakan. Demikian menurut umumnya pendapat kalangan mazhab Al-Hanafi.[8]

Namun menurut sebagian kalangan mazhab Hanafi, akadnya bukan atas suatu barang, namun akadnya adalah akad yang mewajibkan pihak kedua untuk mengerjakan sesuatu sesuai pesanan. Menurut yang kedua ini, yang disepakati adalah jasa bukan barang.[9]

3 Shighah (ijab qabul)

Ijab qabul adalah akadnya itu sendiri. Ijab adalah lafadz dari pihak pemesan yang meminta kepada seseorang untuk membuatkan sesuatu untuknya dengan imbalan tertentu. Dan qabul adalah jawaban dari pihak yang dipesan untuk menyatakan persetujuannya atas kewajiban dan haknya itu.

E. Syarat

Dengan memahami hakekat akad istishna', kita dapat pahami bahwa akad istishna' yang dibolehkan oleh Ulama mazhab Hanafi memiliki beberapa persyaratan, sebagaimana yang berlaku pada akad salam diantaranya:

1. Penyebutan Kriteria Barang

Penyebutan & penyepakatan kriteria barang pada saat akad dilangsungkan, persyaratan ini guna mencegah terjadinya persengketaan antara kedua belah pihak pada saat jatuh tempo penyerahan barang yang dipesan.

2. Tidak Dibatasi Waktu Penyerahan Barang

Bila ditentukan waktu penyerahan barang, maka akadnya secara otomastis berubah menjadi akad salam, sehingga berlaku padanya seluruh hukum-hukum akad salam, demikianlah pendapat Imam Abu Hanifah.

Akan tetapi kedua muridnya yaitu Abu Yusuf, dan Muhammad bin Al Hasan menyelisihinya, mereka berdua berpendapat bahwa tidak mengapa menentukan waktu penyerahan, dan tidak menyebabkannya berubah menjadi akad salam, karena demikianlah tradisi masyarakat sejak dahulu kala dalam akad istishna'.

Dengan demikian, tidak ada alasan untuk melarang penentuan waktu penyerahan barang pesanan, karena tradisi masyarakat ini tidak menyelisihi dalil atau hukum syari'at. [10]

3. Barang Tertentu

Barang yang dipesan adalah barang yang telah biasa dipesan dengan akad istishna'. Persyaratan ini sebagai imbas langsung dari dasar dibolehkannya akad istishna'. Telah dijelaskan di atas bahwa akad istishna' dibolehkan berdasarkan tradisi umat Islam yang telah berlangsung sejak dahulu kala.

Dengan demikian, akad ini hanya berlaku dan dibenarkan pada barang-barang yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema akad istishna'. Adapun selainnya, maka dikembalikan kepada hukum asal

Akan tetapi, dengan merujuk dalil-dalil dibolehkannya akad istishna', maka dengan sendirinya persyaratan ini tidak kuat.

Betapa tidak, karena akad istishna' bukan hanya berdasarkan tradisi umat islam, akan tetapi juga berdasarkan dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah. Bila demikian adanya, maka tidak ada alasan untuk membatasi akad istishna' pada barang-barang yang oleh masyarakat biasa dipesan dengan skema istishna' saja.

F. Hakikat Akad Istishna'

Ulama mazhab Hanafi berbeda pendapat tentang hakekat akad istishna' ini.

Sebagian menganggapnya sebagai akad jual-beli barang yang disertai dengan syarat pengolahan barang yang dibeli, atau gabungan dari akad salam dan jual-beli jasa (ijarah). [11]

Sebagian lainnya menganggap sebagai 2 akad, yaitu akad ijarah dan akad jual beli. Pada awal akad istishna', akadnya adalah akad ijarah (jual jasa). Setelah barang jadi dan pihak kedua selesai dari pekerjaan memproduksi barang yang di pesan, akadnya berubah menjadi akad jual beli.[12]

Nampaknya pendapat pertama lebih selaras dengan fakta akad istishna'. Karena pihak pertama yaitu pemesan dan pihak kedua yaitu produsen hanya melakukan sekali akad.

Dan pada akad itu, pemesan menyatakan kesiapannya membeli barang-barang yang dimiliki oleh produsen, dengan syarat ia mengolahnya terlebih dahulu menjadi barang olahan yang diingikan oleh pemesan.

G. Apakah Istishna' Akad Yang Mengikat?

Imam Abu Hanifah dan kebanyakan pengikutnya menggolongkan akad istishna' ke dalam jenis akad yang tidak mengikat. Dengan demikian, sebelum barang diserahkan keduanya berhak untuk mengundurkan diri akad istishna'; produsen berhak menjual barang hasil produksinya kepada orang lain, sebagaimana pemesan berhak untuk membatalkan pesanannya.

Sedangkan Abu Yusuf murid Abu Hanifah menganggap akad istishna' sebagai akad yang mengikat. Dengan demikian, bila telah jatuh tempo penyerahan barang, dan produsen berhasil membuatkan barang sesuai dengan pesanan, maka tidak ada hak bagi pemesan untuk mengundurkan diri dari pesanannya. Sebagaimana produsen tidak berhak untuk menjual hasil produksinya kepada orang lain.[13]

Pendapat Abu Yusuf ini lebih menjamin karena kedua belah pihak telah terikat janji.

o



[1] Lisanul Arab pada madah (صنع)

[2] Badai'i As shanaai'i oleh Al Kasaani jilid 5 hal. 2

[3] Kasysyaf Al-Qinna' jilid 3 hal. 132

[4] Raudhatuthalibin oleh An-Nawawi jilid 4 hal. 26 dan Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 297

[5] Fathul Qadir oleh Ibnul Humaam 7/115

[6] Al Mabsuth oleh As Sarakhsi jilid 12 hal. 138; Fathul Qadir oleh Ibnul Humaam jilid 7 hal. 115

[7] Badai'i As-Shanaai'i oleh Al Kasaani jilid 5 hal. 3

[8] Al-Mabsuth jilid 12 hal. 159

[9] Fathul Qadir jilid 5 hal. 355

[10] Al Mabsuth oleh As-Syarakhsi jilid 12 hal. 140

[11] Badai'i As-Shanaai'i oleh Al Kasaani jilid 5 hal.3

[12] Fathul Qadir Ibnul Humam jilid 7 hal. 116

[13] Fathul Qadir oleh Ibnul Humamm 7/116-117 & Al Bahru Ar Raa'iq oleh Ibnu Nujaim 6//186)