Al-Ustadz Khalid Al-Athfi, mantan ketua Al-Jam’iyah Asy-Syar'iyah li Al-‘Amilina bi Al-Kitabi wa As-Sunnah Al-Muhammadiyah di Jiza, menulis sebuah penelitian yang cukup informatif melengkapi ayat dan hadits di atas tentang penikahan-pernikahan para nabi.[1]
Menurut beliau, para nabi dan rasul itu bukan hanya menikah tetapi juga punya istri lebih dari satu orang. Berikut adalah hasil penelitian beliau :
A. Perkawinan Para Nabi Sebelum Muhammad SAW
1. Nabi Adam
Nabi Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, sekaligus beliau juga adalah Nabi yang pertama, yang diakui oleh semua agama samawi, Yahudi, Nasrani dan Islam.
Sosok Nabi Adam alaihissalam selalu digambarkan berdampingan dengan seorang istri atau pasangannya, yaitu Hawwa.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ
Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini. (QS. Al-Baqarah : 35)
2. Nabi Ibrahim Menikah 3 kali
Pertama kali beliau menikah dengan Sarah, karena tidak punya anak, maka beliau menikah lagi dengan Hajar yang memberinya anak yang bernama Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Lalu Sarah kemudian hamil dan melahirkan Nabi Ishak ‘alaihissalam. Istri ketiga nabi Ibrahim adalah Qutsurah (قثورة), darinya tidak disebutkan ada keturunan atau tidak.
3. Nabi Ya’qub Menikah 5 kali
Nabi Ya’qub alaihissalam adalah anak dari Nabi Ishaq ‘alaihissalam, cucu dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang berjulukan Israil.
Sebutan Bani Israil dinisbahkan kepada anak-anak beliau yang konon berjumlah 12 orang, hasil dari pernikahan dengan 5 orang istri. Di antara anak-anak beliau adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dan Bunyamin.
4. Nabi Musa Menikah 4 kali
Nabi yang paling dibanggakan oleh Bani Israil atau Yahudi adalah Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliau menikah 4 kali, salah satunya adalah Shafura (Zaphora), puteri Nabi Syu’aib ‘alaihissalam.
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَن تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْراً فَمِنْ عِندِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Berkatalah dia : "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik".(QS. Al-Qashash : 27)
5. Nabi Daud Menikah 9 kali
Nabi Daud alaihissalam adalah salah seorang nabi dari kalangan Bani Israil yang memiliki kerajaan yang amat besar. Beliau disebutkan menikah 9 kali.
Nabi Daud ini menjadi simbol dan perlambang bahwa keangkara-murkaan pasti akan dapat dikalahkan dengan iman dan keteguhan hati.
6. Nabi Sulaiman Menikah 1000 Kali
Disebutkan bahwa Nabi Sulaiman alaihissalam memiliki istri sebanyak 1.000 orang. Pendapat lain menyebutkan istri beliau 300 orang dan 700 budak wanita.
Ada sebuah atsar menyebutkan bahwa beliau menggilir 90 istrinya dalam semalam dan beliau berkata :
لأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى نِسَائِي فَلْتَحْمِلْ كُلُّ امْرَأَةٍ وَلَيَلِدْنَ فَارِسًا يُقَاِتلُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
Aku akan menggilir istriku hingga dalam satu malam sehingga mereka masing-masing hamil dan melahirkan prajurit yang berperang di jalan Allah
B. Perkawinan Nabi Isa
Sudah lazim di kalangan pemeluk Kristiani anggapan bahwa Nabi Isa alaihissalam dianggap tidak pernah menikah. Sehingga ketika ada novel yang menyebutkan bahwa beliau pernah menikah dengan Maria Magdalena, gereja pun protes atas pencemaran itu.
Buat kita sebagai muslim, bagaimana memandang masalah ini? Benarkah informasi bahwa Nabi Isa alahissalam itu tidak pernah menikah selama hidup beliau? Atau malah sebaliknya, beliau pernah menikah dan hidup normal sebagaimana umumnya manusia?
1. Nabi Isa Menikah dan Poligami
Kita tidak menemukan informasi resmi dari Al-Quran Al-Karim bahwa Nabi Isa alaihissalam hidup membujang. Sebagaimana sebaliknya juga tidak ada informasi tentang beliau menikah atau tidak.
Namun secara umum ayat di atas telah menyebutkan bahwa semua nabi itu memiliki istri bahkan juga punya keturunan. Bahkan Nabi Adam alaihissalam sebagai nabi yang pertama, juga sudah dilengkapi dengan istri.
Sehingga secara dalil umum kita meyakini bahwa sebagai salah seorang nabi, beliau pun pasti menikah dan berketurunan. Hanya saja, kita tidak pernah tahu siapakah wanita yang menjadi istri beliau. Dan tidak tertutup kemungkinan beliau pun menikah bukan hanya dengan satu istri. Sebagaimana tidak tertutup kemungkinan bahwa beliau punya anak, sebagaimana layaknya para nabi dan rasul.
Kalau ada persepsi bahwa Nabi Isa alaihissalam tidak menikah dan tidak punya anak, kita perlu mencurigai hal itu, mengingat infromasi itu justru datang dari para ahli kitab, dimana periwayatan mereka tidak bisa kita terima. Dan terbukti selama beberapa ratus tahun agama yang beliau bawa itu sempat dikuasai oleh kalangan pendeta yang mengajarkan anti pernikahan.
Maka sangat boleh jadi para pendeta itu adalah orang-orang yang bertanggung-jawab atas informasi yang keliru tentang sosok Nabi Isa, demi untuk menjadikan kehidupan beliau sebagai legitimasi dari pembujangan para pendeta.
Kalau pun ada pendapat yang menyebutkan bahwa Nabi Isa alahissalam karena alasan khusus tidak menikah, maka harus ada dalil yang qath’i lewat jalur periwatan yang shahih, baik lewat ayat Al-Quran atau As-Sunnah yang bisa diterima. Selama tidak ada dalil tersebut, maka asumsi tidak menikahnya Nabi Isa alaihissalam harus tertolak dengan adanya keumuman ayat di atas.
2. Keterangan Injil
Di dalam Injil Matius disebutkan bahwa Nabi Isa alaihissalam bukan hanya sekedar tidak membujang, bahkan beliau menikah lebih dari satu perempuan. Beliau menikahi 5 orang wanita.
Prof. Dr. Barbara Tiring, pakar theology dari University Of Australia yang telah melakukan penelitian atas apa yang disebut sebagai ‘Naskah Laut Mati’ selama lebih dari 20 tahun dan menghubungkannya dengan ayat-ayat Injil. Sehingga dia berkesimpulan yang cukup kontroversial bagi umumnya pemeluk agama Kristen saat ini, bahwa nabi Isa bukan hanya beristri tetapi poligami.
Menurutnya upacara upacara pernikahan Nabi Isa berusaha dikaburkan oleh pihak Gereja. Misalnya dalam Injil Markus pasal 14 ayat 3 :
Datanglah seorang perempuan dengan membawa buli buli pualam yang berisi minyak wangi murni yang mahal harganya, setelah dipecahkan buli buli itu dan dicurahkan minyak itu ke kepala Yesus.
Lukas pasal 7 ayat 37 menjelaskan bahwa Maria Magdalena membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi, sambil menangis ia berdiri di belakang kaki Nabi Isa, kemudian dibasahinya dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, menciuminya dan meminyakinya.
Seorang perempuan membawa minyak wangi menyeka dan memberi minyak wangi ke rambutnya. Ini adalah upacara pernikahan bangsawan yahudi. Sebenarnya itu adalah perbuatan pihak gereja untuk menutupi fakta sejarah bahwa sesungguhnya Nabi Isa menikah.
Barbara Tiring mengatakan bahwa pernikahan Nabi Isa dengan Magdalena sangat jelas dalam Injil, karena Maria datang meminyaki rambut Yesus dan menciumnya. Menurutnya ini adalah upacara pernikahan, karena tidak ada seorang perempuan mencium laki-laki yang bukan muhrimnya melainkan di hukum mati. Kalau Maria Magdalena tidak dihukum mati, asumsinya karena Maria Magdalena sedang menyelenggarakan upacara pernikahan dengan Yesus.
Injil Matius, Markus, Lukas, Yohanes memang bungkam tentang pernikahan ini, namun Injil Philipus menjelaskan menyebutkan hal itu. Sayangnya Injil Philipus ini ditolak oleh Gereja yang kini berkuasa. Karena kalau Gereja menerima injil Philipus bahwa beliau menikah, maka paham kerahiban yang selama ini mereka anut akan runtuh dengan sendirinya. Biarawan dan biarawati itu akan sia-sia saja mengabdi, karena ternyata yang mereka ikuti justru menikah, punya anak bahkan berpoligami.
Naskah Laut Mati bahkan menjelaskan kronologi perkawinan Yesus. Perkawinan Yesus yang pertama dengan Maria Magdalena pada hari Jum’at 22 september 30M pk 18:00pm yang bertempat di Ain Feshkha (Palestina) ini adalah kawin gantung.
Kemudian pernikahan yang kedua pada hari Kamis 19 Maret 33M jam 24:00 bertempat di Ain Feshkha (Kana). Yesus kawin yang kedua kalinya dengan Maria Magdalena. Saat itu adalah saat sebelum Yesus di salib. Dan saat itu Yesus dan Maria Magdalena sudah bercampur dengan Istrinya. Ini di perlihatkan dalam Yohanes pasal 12 ayat 3
Kemudian di dalam Kisah Para Rasul, pasal 6 ayat 7, dijelaskan bahwa pada tanggal 14 Juni tahun 37 Masehi, lahirlah anak Nabi Isa yang pertama, yaitu Yesus Justus yang berbunyi : and the words of God continued to spread”. Kemudian dijelaskan lagi pada tanggal 10 April tahun 44 Masehi, lahirlah anak Yesus yang ketiga yang tidak dijelaskan namanya.
Selanjutnya pada malam selasa 17 Maret 50 Masehi, 17 tahun setelah resepsi dengan Maria Magdalena, Nabi Isa menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang wanita yang bernama Lydia.
C. Perkawinan Nabi Muhammad SAW
Kalau pun ternyata benar bahwa Nabi Isa alaihissalam tidak menikah, tetap saja kita tidak perlu menjadikan prilaku hidup beliau sebagai tuntunan hidup. Sebab meski kedudukan beliau adalah seorang nabi, sayangnya beliau bukan nabi yang diutus untuk kita. Beliau hanya diutus untuk Bani Israil saja dan bukan buat orang Melayu atau orang Jawa, sebagaimana firman Allah SWT :
وَرَسُولاً إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُم بِآيَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
Dan (Nabi Isa sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mu'jizat) dari Tuhanmu. (QS. Ali Imran : 49)
Maka kita yang bukan berdarah Israel tentu tidak perlu ikut-ikutan tidak kawin. Toh yang beliau bawa itu bukan syariat yang turun buat kita. Buat kita ada nabi khusus yaitu Rasulullah SAW. Beliau tegas-tegas menikah, bahkan kalau dihitung jumlah istri beliau cukup banyak. Dan beliau bersabda :
اَلنّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّي
Nikah (kawin) itu dari sunnahku, maka barangsiapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku. (HR. Ibnu Majah)
Hadits ini tegas sekali menyebutkan bahwa orang yang tidak melakukan pernikahan, maka tidak termasuk golongan umat Muhammad SAW. Ketika ada salah seorang shahabat beliau yang tidak mau menikah, maka beliau pun menolak perbuatan.
لَقَدْ رَدَّ رَسُولُ اللَّهِ rعَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ التَّبَتُّلَ وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لاخْتَصَيْنَا
Sa’ad meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menolak Usman bin Maz’unin membujang, dan seandainya (Nabi) mengijinkan padanya niscaya memperbolehkan.(HR. Ibnu Majah)
1. Para Istri Rasulullah SAW
Berbeda dengan sejarah Nabi Isa alaihissalam yang lebih banyak sisi gelapnya ketimbang sisi terangnya, pernikahan Rasulullah SAW dengan beberapa wanita cukup jelas di dalam sejarah. Para wanita yang pernah dinikahi oleh Rasulullah SAW itu adalah :
a. Istri Pertama : Khadijah binti Khuwailid
Beliau radhiyallahuanha dinikahi oleh Rasulullah SAW di Mekkah ketika usia beliau 25 tahun dan Khadijah 40 tahun. Ibnu Sa’ad dalam Tahabaqatnya menyebutkan hal tersebut.
وتزوجها رسول الله وهو بن خمس وعشرين سنة وخديجة يومئذ بنت أربعين سنة ولدت قبل الفيل بخمس عشرة سنة
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya (Khadijah) ketika beliau berusia 25 tahun, sementara Khadijah berusia 40 tahun.[2]
Namun ada juga versi lain yang menyebutkan bahwa usia Khadijah saat itu 25 tahun atau 35 tahun, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah.
نقل البيهقي عن الحاكم أنه كان عمر رسول الله حين تزوج خديجة خمسا وعشرين سنة وكان عمرها إذ ذاك خمسا وثلاثين وقيل خمسا وعشرين سنة
“Dinukil oleh Al-Baihaqi dari Al-Hakim bahwa usia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menikah dengan Khadijah adalah 25 tahun, sedangkan usia Khadijah ketika itu adalah 35 tahun, ada juga yang mengatakan, 25 tahun…”[3]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memuji beberapa wanita, diantaranya Khadijah :
حَسْبُكَ مِنْ نِسَاءِ العَالَمِينَ: مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ، وَخَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ
Cukup bagimu 4 wanita pemimpin dunia: Maryam bintu Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah bintu Khuwailid, Fatimah bintu Muhammad, dan Asiyah Istri Fir’aun. (HR. Ahmad)
Dari pernikahannya dengan Khadijah, Rasulullah SAW memiliki sejumlah anak laki-laki dan perempuan. Akan tetapi semua anak laki-laki beliau meninggal.
Sedangkan yang anak-anak perempuan beliau adalah Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah radhiyallahuanhunna.
Di antara kekhususan Khadijah adalah :
§ Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita lain selama Khadijah masih hidup. Artinya, Khadijah adalah satu-satunya wanita yang tidak dimadu oleh beliau SAW.
§ Dari kesemua wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, tak satupun dari mereka yang melahirkan anak yang hidup sampai dewasa. Dengan Maria Al-Qibthiyah beliau SAW memang punya anak, namun wafat sejak masih kecil.
§ Khadijah adalah istri terlama yang hidup mendampingi Rasulullah SAW. Beliau dinikahi saat usia Rasululullah SAW baru menginjak 25 tahun. Ketika Rasulullah SAW menginjak usia 40 tahun, beliau SAW diangkat menjadi Nabi dan Khadijah adalah istri yang mendampinginya. Dan beliau wafat beberapa tahun menjelang hijrah Nabi ke Madinah, tepatnya pada tahun duka cita, setelah masa kenabian lewat 10 tahun. Maka Khadijah mendampingi Rasulullah SAW paling sedikit selama 25 tahun.
b. Istri Kedua : Saudah binti Zam’ah
Banyak orang menyangka bahwa wanita yang dinikahi oleh Rasulullah SAW setelah Khadijah adalah Aisyah radhiyallahuanha. Hal itu kurang tepat, sebab sebelum menikahi Aisyah, ternyata Rasulullah SAW sempat menikahi seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya, Saudah binti Zam’ah.
Sepeninggal suaminya yang bernama As-Sakran bin Amr, Saudah dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari kenabian, beberapa hari setelah wafatnya Khadijah.
Ketika sudah cukup tua, Saudah menyerahkan jatah gilir malamnya untuk A’isyah. Dengan harapan, Saudah bisa tetap menjadi istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai meninggal, sehingga bisa menemani beliau di surga. Terkait peristiwa ini, Allah menurunkan firman-Nya disurat An-Nisa’ :
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nisa : 128)
Saudah wafat di Madinah tahun 54 Hijriyah sebagaimana disebutkan oleh Al-Murakfuri dalam kitabnya Ar-Rahiq Al-Makhtum.[4]
c. Istri Ketiga : Aisyah binti Abu Bakar
Beliau radhiyallahuanha dinikahi oleh Rasulullah SAW bulan Syawal tahun kesebelas dari kenabian, setahun setelah beliau menikahi Saudah atau dua tahun dan lima bulan sebelum Hijrah.
Aisyah radhiyallahuanha dinikahi ketika berusia 6 tahun dan tinggal serumah di bulan Syawwal 6 bulan setelah hijrah pada saat usia beliau 9 tahun. Beliau adalah seorang gadis dan Rasulullah SAW tidak pernah menikahi seorang gadis selain Aisyah.
Paraahli sejarah berbeda pendapat tentang usia Aisyah ketika menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat yang makruf, beliau menikah di usia 6 tahun, dan baru kumpul di usia 9 tahun. Sebagaiaman keterangan Aisyah sendiri tentang dirinya,
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا بِنْتُ سِتِّ سِنِينَ ، وبنى بي وأنا بنت تسع سنين
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun. (HR. Bukhari & Muslim)
Dengan menikahi Aisyah, maka hubungan beliau dengan Abu Bakar menjadi sangat kuat dan mereka memiliki ikatan emosional yang khusus.
Posisi Abu Bakar sendiri sangat penting dalam dakwah Rasulullah SAW, baik selama beliau masih hidup dan setelah wafat. Abu Bakar adalah khalifah Rasulullah yang pertama yang di bawahnya semua bentuk perpecahan menjadi sirna.
Selain itu Aisyah radhiyallahuanha adalah sosok wanita yang cerdas dan memiliki ilmu yang sangat tinggi dimana begitu banyak ajaran Islam terutama masalah rumah tangga dan urusan wanita yang sumbernya berasal dari sosok ibunda muslimin ini.
d. Istri Keempat : Hafsah binti Umar bin Al-Khattab
Hafsah radhiyallahuanha beliau ditinggal mati oleh suaminya, Khunais bin Hudzafah As-Sahmi, kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada tahun ketiga Hijriyah. Beliau menikahinya untuk menghormati bapaknya Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu.
Dengan menikahi Hafshah putri Umar, maka hubungan emosional antara Rasulullah SAW dengan Umar menjadi sedemikian akrab, kuat dan tak tergoyahkan. Tidak heran karena Umar memiliki pernanan sangant penting dalam dakwah baik ketika fajar Islam baru mulai merekah maupun saat perluasan Islam ke tiga peradaban besar dunia.
Di tangan Umar, Islam berhasil membuktikan hampir semua kabar gembira di masa Rasulullah SAW bahwa Islam akan mengalahkan semua agama di dunia.
Suami sebelumnya adalah Khunais bin Khudzafah As-Sahmi. Keduanya memeluk Islam dan sempat ikut hijrah ke Habasyah. Khunais wafat tahun kedua atau ketiga hijriyah. Sebagian ahli sejarah mengatakan, ketika itu, usia Hafshah saat itu baru menginjak 20 tahun. Setelah selesai masa iddah, Umar sang ayah yang bertanggung jawab, segera mencarikan suami penggantinya. Beliau menawarkan ke Utsman, namun Utsman belum berkeinginan menikah karena baru ditinggal mati istrinya. Umar kemudian menawarkan ke Abu Bakr, namun beliau tidak menggapinya, hingga Umarpun marah kepada Abu Bakr. Sampai akhirnya Rasulullah SAW meminangnya.
Setelah Hafshah dinikahi Nabi SAW, Abu Bakr menemui Umar dan bertanya,”Apakah kamu marah dengan sikapku kemarin? ‘Ya.’ Jawab Umar. Kemudian Abu Bakr menjelaskan alasannya :
فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرْجِعَ إِلَيْكَ فِيمَا عَرَضْتَ إِلا أَنِّي قَدْ عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ ذَكَرَهَا ، فَلَمْ أَكُنْ لأُفْشِيَ سِرَّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَوْ تَرَكَهَا لَقَبِلْتُهَا
Tidak ada sebab yang membuatku mendiamkan tawaranmu, selain karena Aku dengar Rasulullah SAW menyebut-nyebut Hafshah. Dan Aku tidak layak membuka rahasia Beliau SAW. Jika beliau tidak berkeinginan menikahi Hafshah, niscaya akan aku terima. (HR. Bukhari)
Hafshah dikenal sebagai wanita yang ahli ibadah. Sehingga beliau disebut shawwamah (wanita rajin puasa) dan qawwamah(wanita rajin shalat malam). Istri Rasulullah SAW di surga. (HR. Al-Hakim). Beliau pernah mengemban amanah yang luar biasa, menjaga mushaf yang telah ditulis di zaman Abu Bakr dan Umar. Karena Hafshah terkenal dengan hafalan qurannya.
Hafshah wafat di bulan Sya’ban tahun 45 H di Madinah, di usia 60 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Baqi. Beliau meriwayatkan sekitar 60 hadis yang terdapat dalam shahih Bukhari & Muslim.
e. Istri Kelima : Zainab binti Khuzaimah
Zainab radhiyallahuanha dikenal sebagai ummul masakin karena beliau sangat menyayangi orang-orang miskin. Sebelum dinikahi Rasulullah SAW, Zainab bersuamikan Abdullah bin Jahsy, namun Abdullah gugur sebagai syahid pada Perang Uhud.
Kemudian Rasulullah SAW menikahinya pada tahun keempat Hijriyyah. Namun usia Zainab tidak terlalu lama, beliau meninggal dua atau tiga bulan setelah pernikahannya dengan Rasulullah SAW .
f. Istri Keenam : Ummu Salamah binti Abu Umayyah
Ummu Salamah radhiyallahuanha sebelumnya menikah dengan Abu Salamah, akan tetapi suaminya tersebut meninggal di bulan Jumada Akhir tahun 4 Hijriyah dengan meninggalkan dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Beliau kemudian dinikahi oleh Rasulullah SAW pada bulan Syawwal di tahun yang sama. Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormati Ummu Salamah dan memelihara anak-anak yatim tersebut.
Aisyah radhiyallahuanha mengungkapkan isi hatinya terkait Ummu Salamah sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat Ibnu Sa’id berikut ini :
لَمَّا تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ سَلَمَةَ حَزِنْتُ حُزْنًا شَدِيدًا لِمَا ذَكَرُوا لَنَا مِنْ جَمَالِهَا ، قَالَتْ : فَتَلَطَّفْتُ لَهَا حَتَّى رَأَيْتُهَا ، فَرَأَيْتُهَا وَاللَّهِ أَضْعَافَ مَا وُصِفَتْ لِي فِي الْحُسْنِ وَالْجَمَالِ ، قَالَتْ : فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِحَفْصَةَ ، وَكَانَتَا يَدًا وَاحِدَةً ، فَقَالَتْ : لا وَاللَّهِ إِنْ هَذِهِ إِلا الْغَيْرَةُ
Ketika Rasulullah SAW menikahi Ummu Salamah, aku sangat sedih sekali. Karena banyak orang menyebut kecantikan Ummu Salamah. Akupun mendekatinya untuk bisa melihatnya. Setelah aku melihatnya, demi Allah, dia jauh-jauh lebih cantik dan lebih indah dari apa yang aku bayangkan. Akupun menceritakannya kepada Hafshah – mereka satu kubu – kata Hafshah, “Tidak perlu cemas, demi Allah, itu hanya karena bawaan cemburu.”[5]
g. Istri Ketujuh : Zainab binti Jahsyi
Zainab binti Jahsyi radhiyallahuanha dari Bani Asad bin Khuzaimah dan merupakan puteri bibi Rasulullah SAW. Sebelumnya dinikahi oleh Zaid bin Harits, kemudian diceraikan oleh suaminya tersebut. Kemudian beliau dinikahi oleh Rasulullah SAW di bulan Dzul-Qa’dah tahun kelima dari Hijrah.
Pernikahan tersebut adalah atas perintah Allah SWT untuk menghapus kebiasaan Jahiliyah dalam hal pengangkatan anak dan juga menghapus segala konskuensi pengangkatan anak tersebut.
Rasulullah memiliki anak angkat bernama Zaid, hingga banyak orang menyebutnya Zaid bin Muhammad. Padahal ayah aslinya adalah Haritsah. Aturan ketika itu, anak angkat sama dengan anak nasab, sehingga tidak boleh menikahi mantan istri anak angkat. Sampai akhirnya Allah perintahkan agar Zainab dinikahkan dengan Zaid bin Haritsah.
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ
“Ingatlah, ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya……” (QS. Al-Ahzab: 37)
فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا
“Tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menceraikan isterinya..” (QS. Al-Ahzab: 37)
Ayat ini adalah ayat yang paling dibanggakan Zainab. Ketika beberapa istri Rasulullah SAW menonjolkan kelebihannya di hadapan istri yang lain, Zainab menampakkan dirinya dengan mengatakan,
زوجكن أهاليكن وزوجني الله من فوق سبع سموات
“Kalian dinikahkan oleh orang tua kalian, sementara aku dinikahkan oleh Allah dari atas langit yang tujuh.” (HR. Bukhari)
Rasulullah SAW menikahi Zainab pada bulan Dzul Qa’dah tahun 5 H. Ada yang mengatakan, tahun 6 H. Beliau dikenal wanita ahli ibadah dan sangat gemar bersedekah. Beliau wafat di zaman Khalifah Umar pada tahun 20 H, di usia 53 tahun. Beliau adalah istri yang meninggal pertama kali setelah wafatnya Nabi SAW.
h. Istri Kedelapan : Juwairiyah binti Al-Harits
Juwairiyah radhiyallahuanha merupakan tawanan perang yang sahamnya dimiliki oleh Tsabit bin Qais bin Syimas, kemudian ditebus oleh Rasulullah SAW dan pada bulan Sya’ban tahun ke 6 Hijrah.
Alasan beliau menikahinya adalah untuk menghormatinya dan meraih simpati dari kabilahnya, karena Juwairiyah adalah anak pemimpin kabilah tersebut dan membebaskan tawanan perang.
i. Istri Kesembilan : Ramlah binti Abu Sufyan
Ramlah radhiyallahuanha sering disebut juga dengan panggilan Ummu Habibah. Beliau sebelumnya ia dinikahi oleh Ubaidillah bin Jahsy dan hijrah bersamanya ke Habsyah. Suaminya tersebut murtad dan menjadi nashroni dan meninggal di sana.
Namun Ramlah tetap istiqamah terhadap agamanya. Ketika Rasulullah SAW mengirim Amr bin Umayyah Adh-Dhamari untuk menyampaikan surat kepada raja Najasy pada bulan Muharram tahun 7 Hijrah, Ramlah dipinang melalu raja tersebut dan dinikahkan serta dipulangkan kembali ke Madinah bersama Surahbil bin Hasanah.
Alasan yang paling kuat adalah untuk menghibur beliau dan memberikan sosok pengganti yang lebih baik baginya, serta penghargaan kepada mereka yang hijrah ke Habasyah karena mereka sebelumnya telah mengalami siksaan dan tekanan yang berat di Mekkah.
j. Istri Kesepuluh : Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab
Shafiyyah radhiyallahuanha dari Bani Israel yang menjadi tawan dalam Perang Khaibar pada tahun 7 Hijriyyah. Lalu Rasulullah SAW memilihnya dengan sebelumnya memerdekakannya lalu dinikahinya.
Pernikahan tersebut bertujuan untuk menjaga kedudukan beliau sebagai anak dari pemuka kabilah.
k. Istri Kesebelas : Maimunah binti Al- Harits
Maimunah radhiyallahuanha adalah saudarinya Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Harits. Beliau adalah seorang janda yang sudah berusia lanjut, dinikahi di bulan Dzul Qa’dah tahun 7 Hijrah pada saat melaksanakan Umrah Qadha’.
Namun Rasulullah SAW pernah memiliki anak laki-laki selain dari Khadijah yaitu dari seorang budak wanita yang bernama Mariah Al-Qibthiyah yang merupakan hadiah dari Muqauqis pembesar Mesir. Anak itu bernama Ibrahim namun meninggal saat masih kecil.
2. Kenapa Rasulullah SAW Berpoligami?
Karena, hal itu adalah perintah Allah SWT berdasarkan sebab-sebab tertentu. Jika Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau tidak melakukan poligami saat usia muda? Sejarah telah mengabarkan kepada kita, bahwa beliau monogami bersama Siti Khadijah selama dua puluh lima tahun. Saat-saat dimana jiwa muda bergelora. Juga, Siti Khadijah lebih tua dari beliau lima belas tahun. Beliau tidak nikah, kecuali setelah Siti Khadijah wafat.
Ketika Rasulullah berusia lima puluh tiga tahun, ditambah dengan aktifitas dakwah yang padat, salat tahajud sampai kaki beliau bengkak, ikut bertempur memerangi orang-orang kafir, menerima tamu-tamu yang berkunjung, mengadakan perjanjian-perjanjian damai demi keamanan dengan Yahudi, orang-orang munafik, dan kabilah-kabilah tetangga, dll. Yang jika ditela’ah, satu orang anak manusiapun tidak mampu melakukan berbagai aktifitas yang padat tadi. Mungkinkah, Rasulullah masih punya waktu banyak dan tenaga yang cukup untuk bersenang-senang dengan isteri-isterinya? Belum lagi kehidupan beliau yang penuh dengan kezuhudan dan kesederhanaan.
Sampai-sampai, saat beliau sangat lapar, dua butir batu beliau gunakan untuk menonggak perutnya, agar rasa lapar tidak terasa. Makan hanya dengan tiga butir kurma dan dapurnya hampir tidak pernah berasap. Juga, keseringan puasanya. Padahal umatnya dilarang puasa wisal (bersambung) sedangkan beliau sendiri puasa wisal sampai tiga hari berturut-turut.
Kalau Rasulullah pengagum sex, mengapa beliau memilih isteri-isteri yang sudah lanjut usia, lemah dan juga memilih Siti Aisyah yang masih kecil? Mengapa pula Rasulullah memilih janda-janda? Sejarah membuktikan, bahwa semua isteri Rasulullah adalah wanita-wanita lanjut usia, lemah, dan janda. Kecuali Siti Aisyah. Bahkan sebagian mereka telah sangat lanjut usia. Seperti Siti Khadijah, Siti Saudah, dan Siti Zainab binti Khuzaimah.
Beliau nikah dengan Siti Saudah binti Zam’ah yang janda ditinggal mati suami. Sedangkan kerabatnya adalah orang-orang musyrik. Usia Siti Saudah kala itu enam puluh enam tahun. Lebih tua dengan beliau lima belas tahun. Demi tidak membiarkan Siti saudah dalam kesendirian, sebatang kara. Karena kalau dia kembali ke kerabatnya yang musyrik, maka Islamnya akan terancam. Sebelumnya Siti Aisyah bermimpi, bahwa Siti Saudah menjadi isteri Rasulullah. (Sahihul Jami’: 915).
Rasulullah nikah dengan Siti Aisyah dan Siti Hafsah sebagai penghargaan kepada keduanya, juga kepada kedua orang tua keduanya. Sebab kedua bapak mereka adalah menteri beliau. Hal ini demi tidak menghalangi keduanya untuk menziarahi Rasulullah kapan saja.
Rasulullah nikah dengan Ummu Salamah (Hindun binti Abi Umayah bin Almuqirah). Karena Umu Salamah adalah salah peserta hijrah ke Habasyah dan Madinah. Suaminya yang baik hati, Abu Salamah meninggal dunia, sedangkan dia mempunyai anak-anak yang butuh asuhan. Maka Rasulullah menikahinya demi memuliakan dia, karena dia penyabar, juga karena dia termasuk golongan orang-orang yang menganut Islam dimasa awal-awal. Dan yang jelas, demi memuliakan mantan suaminya yang begitu baik. Dengan cara mengasuh anak-anaknya. Rasulullah sebenarnya telah berdoa kepada Allah agar Umi Salamah mendapatkan suami yang terbaik. Di malam pertama, Rasulullah menanyai anak-anaknya. Karena beliau tidak melihat mereka nampak bersama ibunya. Umi Salamah menjawab; mereka di rumah paman mereka. Rasulullah tidak menerima hal itu, lalu memerintahkan kepadanya agar mereka balik. Setelah itu Rasulullah bersabda; “barang siapa yang memisahkan antara orang tua dan anaknya, maka Allah akan memisahkannya dengan orang yang dia cintai di hari kiamat”. (Sunan Turmudzi dan Sahihul Jami’: 6412). Rasulullah sangat menyayangi anak-anak Umu Salamah. Menimang mereka, bermain bersama, makan bersama.
Adapun Umu Habibah (Ramlah binti Abi Sufyan) mendapatkan terror dari bapak dan saudaranya. Lalu dia hijrah bersama suaminya ke Habsyah. Tiba di sana, suaminya masuk agama Kristen. Jadilah dia dalam kesendirian. Rasulullah kemudian mengirim utusan kepada Raja Habsyah, Najasyi, agar meminangnya untuk Rasulullah, demi memuliakan Umu Habibah. Jika dia kembali kepada kerabatnya, maka dipastikan, dia akan sengsara lagi.
Siti Zainab binti Jahsy adalah sepupu Rasulullah. Allah memerintahkan beliau agar menikahinya, demi menghapus adat tabanni (anak angkat). Karena sebelumnya, Siti Zainab adalah isteri dari anak angkat Rasulullah. Lalu diceraikan suaminya.
Siti Juwairiyah binti Harits menjadi tawanan perang Bani Mustaliq. Bapaknya, Harits adalah kepala suku. Ketika Rasulullah kembali ke Madinah. Harits bermaksud hendak menjumpai Rasulullah dan menebus anaknya dengan beberapa ekor onta. Kala Harits tiba disuatu tempat yang bernama Aqiq, merasa kagum dengan onta-onta disitu dan memilih dua ekor untuk dia sembunyikan tanpa diketahui oleh masyarakat muslim disitu. Setibanya dihadapan Rasulullah, dia berkata; aku datang menebus putriku yang telah kalian tawan. Rasulullah bertanya; mana dua ekor onta yang telah kau sembunyikan di Aqiq tanpa sepengetahuan penduduknya? Harits kaget; Demi Allah, tak seorangpun yang tau hal itu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulullah. Lalu Rasulullah memintanya agar menikahkan putrinya dengan beliau. Maka Harits langsung memenuhinya. Perhatikan, bagaimana Rasulullah memuliakan Siti Juwairiyah, bapaknya (karena dia masuk Islam), dan kerabatnya. Bukan saja Rasulullah membebaskan Siti Juwairiyah, tapi menikahinya. Para sahabatpun langsung membebaskan tawanan-tawanan yang ada pada mereka. Demi hormat kepada keluarga Rasulullah. Tawanan perang Bani Mustaliq kala itu berjumlah sekitar seratus orang.
Siti Zainab binti Khuzaimah paling tua disbanding Rasulullah. Suaminya gugur pada perang Uhud. Tiada seorangpun yang mencoba menikahinya. Rasulullah kemudian menikahinya. Zainab binti Khuzaimah terkenal kala itu, dengan panggilan Umu Masakin (ibu para fakir miskin). Karena dia sering berinfak.
Siti Shafiyah binti Huyayyi tertawan pada perang Khaibar. Dalam perang itu suami, bapak, saudara, dan pamannya ter- bunuh. Rasulullah membebaskannya, demi kasih sayang, hormat, dan agar ada yang menaunginya. Siti Shafiyah sebelumnya bermimpi, bulan purnama jatuh di pangkuannya. Tatkala dia menceritakan mimpinya kepada keluarganya. Pamannya langsung menamparnya dan berkata; kau mau dengan Nabinya bangsa Arab itu!
Secara garis besar, alasan Rasulullah berpoligami adalah demi menanamkan benih kasih sayang dengan kerabat dan kabilah isteri-isterinya. Agar mereka masuk Islam. Hikmah lainnya; agar kepribadian Rasulullah dirumah diketahui oleh banyak orang. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa banyak orang yang nampak di luar rumah sebagai seorang yang alim dan bertaqwa, tetapi ketika di dalam rumahnya, sifat-sifat tadi tidak bisa dipertahankan.
Hikmah lainnya; rumah-rumah isterinya menjadi pusat penyebaran risalah Islam. Lebih lagi, bila ajaran yang menyangkut masalah khusus perempuan.
3. Mengapa Rasulullah SAW Menikah Lebih Dari 4 Istri?
Mengapa Rasulullah SAW tidak membatasi empat orang isteri saja, padahal qur’an membatasi jumlah isteri ketika beliau sedang beristeri sembilan orang, dan mengapa tidak ditalak selebihnya?
a. Karena Istri Nabi Berstatus Ibunda Mukminin
Para istri Nabi SAW berstatus sebagai ibunda mukminin. Sementara syariat Islam mengharamkan seorang laki-laki menikahi ibunda mereka sendiri. Maka seandainya Nabi SAW menceraikan salah satu istrinya, dia akan menjada selama-lamanya karena para shahabat diharamkan untuk menikahi janda Nabi SAW.
Di dalam Al-Quran Allah SWT tegas menyebutkan status para istri Nabi SAW sebagai ibuda mukminin.
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.(QS. Al-Ahzab : 6)
Bahkan secara eksplisit disebutkan bahwa menikahi mantan istri Rasulullah SAW, baik karena dicerai ataupun setelah wafatnya Nabi SAW, hukumnya diharamkan.
وَمَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَنْ تَنْكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِنْ بَعْدِهِ أَبَدًا
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. (QS. Al-Ahzab : 53)
Jika Nabi SAW menceraikan salah satu istrinya, maka akan dikemanakan dirinya. Tentu kasihan kalau demikian. Bukankah kita pun tidak akan tega melakukannya kepada anak perempuan kita sendiri ataupun kepada saudari kandung bahkan kepada ibu kita sendiri.
b. Menghindari Kebencian
Meski talak itu halal, namun Rasulullah SAW tidak menjatuhkan talak isterinya. Dan kalau sampai talak itu benar-benar jatuh tanpa dirujuk lagi, tentu akan membuat isteri-isterinya bersedih, serta mendatangkan kebencian keluarga dan kabilah mereka.
Ada orang yang bilang; kalau begitu apa bedanya dengan isteri-isteri kaum muslim yang tertalak, bukankah mereka juga akan bersedih, keluarga dan kabilahnya akan tersinggung.
¨
[2] Thabaqat Ibn Sa’d, jilid 1 hal. 132
[3] Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 2 hal. 295
[4] Al-Murakfuri , Ar-Rahiq Al-Makhtum, hlm. 471
[5] Thabaqat Al-Kubro Ibn Sa’d, no. 9895