Kata qalilan (قَلِيلًا) artinya: sedikit. Huruf ma (مَا) artinya : apa, di sini berfungsi sebagai penguat. Sedangkan kata tadzakkarun (تَذَكَّرُونَ) artinya: kalian mengambil pelajaran atau mengingat. Yang diamksud dengan kalian pada penggalan ini tentu saja bukan Nabi Muhammad SAW, bukan pula para sahabat, tetapi ditujukan kepada orang-orang musyrikin yang menjadi mukhatab alias sasaran bicara ayat.
Disinilah terjadi jungkir balik dialog dalam Al-Quran. Padahal sejak awal, ayat-ayat ini seakan berbicara kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menyebutkan bahwa Belau SAW itu menerima wahyu, menenangkan dada beliau, dan menegaskan tugas dakwah yang berat. Namun di ujung ayat, tiba-tiba arah pembicaraan dibalik. Kata ganti berubah, sasaran bicara bergeser, dan Allah SWT tidak lagi menujukan kalam-Nya kepada Rasul-Nya, melainkan langsung menghadap kepada mereka yang menolak wahyu.
Kalimat “sedikit sekali kalian mau mengambil pelajaran” bukan ditujukan kepada Nabi SAW, juga bukan kepada para sahabat, tetapi kepada orang-orang kafir yang sejak tadi diperingatkan. Mereka yang diminta mengikuti wahyu, mereka yang dilarang menjadikan wali selain Allah, dan merekalah yang ditegur karena enggan mengingat.
Peralihan ini sangat halus, namun tegas. Seakan-akan Allah SWT hendak mengatakan: tugas Rasul sudah jelas dan benar, wahyu sudah sempurna dan terang, maka yang tersisa hanyalah sikap manusia itu sendiri. Kalau setelah semua penjelasan itu mereka masih enggan mengambil pelajaran, maka masalahnya bukan lagi pada wahyu, tetapi pada hati mereka.
Maka penggalan ayat ini dapat dipahami sebagai penegasan dari Allah SWT bahwa amat sangat sedikit sekali manusia yang mau benar-benar mengambil pelajaran.
Bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an itu tidak jelas. Bukan pula karena hujjahnya kurang kuat. Tetapi karena manusia seringkali lebih memilih mengikuti wali-wali selain Allah, mengikuti arus kebiasaan, tekanan lingkungan, logika mayoritas, dan kepentingan sesaat.