Kemenag RI 2019:Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah. Mereka itulah bahan bakar api neraka. Prof. Quraish Shihab:
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, sekali-kali tidak akan berguna bagi mereka harta benda mereka, tidak juga anak-anak mereka, terhadap {siksa) Allah sedikit pun. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, orang-orang yang kafir itu tidaklah akan dapat melepaskan mereka, harta benda mereka dan tidak pula anak-anak mereka dari Allah sesuatu jua pun. Dan, mereka itu semuanya adalah bakaran neraka.
Khususnya pada ayat ke-10 ini, Allah SWT menegaskan bahwa harta dan anak-anak orang kafir tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari ancaman siksa neraka di akhirat. Meskipun di dunia mereka mungkin hidup dalam kemewahan dan memiliki kekuasaan besar berkat kekayaan yang mereka miliki.
Namun, di hadapan Allah SWT, semua itu tidak ada nilainya. Sama sekali tidak akan menyelamatkan pemiliknya dari ancaman siksa neraka.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا
Lafazh inna (إِنَّ) umumnya diterjemahkan menjadi "sesungguhnya". Kalimat yang diawali dengan kata inna biasanya menunjukkan sesuatu yang teramat penting dan harus mendapatkan perhatian khusus.
Sedangkan lafazh alladzina kafaru (الَّذِينَ كَفَرُوا) artinya adalah orang-orang kafir alias non-Muslim. Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menyebutkan beberapa riwayat yang berbeda tentang orang kafir dari kalangan mana. Ada yang mengatakan Nasrani Najran, karena ayat ini masih ada keterkaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya yang membicarakan mereka.
Namun sebagian mengatakan mereka itu adalah kafir dari kalangan Yahudi. Hanya saja mereka pun berbeda pendapat, ada yang bilang Yahudi Bani Quraizhah, namun ada juga yang bilang Bani Nadhir. Yang menarik juga ada yang menyebutkan mereka itu justru kaum musyrikin Mekkah. Memang, kalau di masa kenabian, umumnya kalau disebut "orang kafir", maka bisa jadi salah satu dari dua jenis, yaitu orang-orang musyrikin yang dominan tinggal di Mekkah. Atau pun juga bisa berkonotasi orang-orang Yahudi Bani Israil yang kebanyakannya tinggal di Madinah.
Namun kalau menyimak ancaman yang Allah tunjukkan, yaitu nanti di akhirat akan dijadikan bahan bakar api neraka, maka ingatan kita akan melayang ke ayat awal-awal surat Al-Baqarah yang juga sama-sama membicarakan hal yang sama:
"Takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 24)
Orang-orang musyrikin Mekkah di masa lalu memang kufur dan ingkar terhadap Al-Quran, sehingga Allah SWT menantang mereka untuk membuat satu surat yang serupa dengan Al-Quran, namun mereka tidak mampu membuatnya. Dan karena keingkaran mereka terhadap Al-Quran, maka Allah SWT mengancam mereka dengan ungkapan: jadi bahan bakar api neraka.
Jika kita kaitkan apa yang diceritakan di surat Al-Baqarah dan ayat ke-10 ini, kemungkinan orang-orang kafir yang dimaksud tidak lain adalah kalangan musyrikin Mekkah, yaitu mereka penyembah berhala, yang menyekutukan Allah, tidak percaya kepada para malaikat, ingkar kepada para nabi, membantah kitab suci, dan yang paling jauh, mereka tidak percaya akan adanya hari akhir. Mereka ini digambarkan sebagai orang kafir yang akan jadi bahan bakar neraka.
لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ
Lafazh lan tughniya ‘anhum (لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ) artinya secara harfiyah adalah "tidak akan mencukupi". Asal katanya dari al-ghina (الغِنَاء), yang artinya "cukup". Orang kaya yang berlimpah dengan harta dalam bahasa Arab disebut dengan ghani (غَنِيّ), yang dalam bahasa Indonesia punya padanan sebagai: "orang yang berkecukupan".
Makna amwaluhum (أَمْوَالُهُمْ) merupakan bentuk jamak, artinya "harta-harta mereka". Sedangkan bentuk tunggalnya adalah al-mal (المال). Boleh jadi yang digunakan adalah bentuk jamak untuk menunjukkan bahwa harta itu memang ada banyak jenisnya. Di masa kenabian dulu, kekayaan terbentuk dari bermacam jenis harta yang mereka miliki.
Umumnya, kekayaan itu diukur dari banyaknya hewan ternak yang dimiliki, seperti kambing, sapi, atau unta. Namun ada juga yang kekayaannya terbentuk dari luasnya ladang kurma yang dimilikinya. Sementara penduduk Mekkah mengukur kekayaan dari banyaknya stok barang dagangan yang mereka simpan untuk dijual dengan keuntungan yang berlimpah. Sedangkan para raja dan bangsawan diukur kekayaannya dari banyaknya koin emas dan perak yang mereka timbun.
Di zaman modern ini, bentuk kekayaan mungkin tidak lagi diukur dari banyaknya ternak atau tanaman, tetapi bisa jadi dari banyaknya tabungan di rekening bank, deposito, bahkan termasuk surat berharga seperti saham perusahaan, lahan, dan banyak lagi jenisnya.
Yang menarik, di masa sekarang ini juga dikenal hak paten atas penemuan, termasuk hak kekayaan intelektual, yang dengan itu seseorang bisa menjadi "raja" dengan harta kekayaan yang berlimpah.
Uniknya, tentang siapa saja orang kaya di dunia ini dan bagaimana ukuran kekayaannya, sudah terbit sebuah majalah yang khusus mengangkat tema tentang kekayaan. Salah satunya adalah majalah Forbes, yang amat terkenal karena fokusnya pada liputan tentang kekayaan, bisnis, investasi, dan orang-orang kaya di dunia. Forbes sering merilis daftar seperti "Forbes Billionaires" yang mencantumkan orang-orang terkaya di dunia, serta daftar lainnya yang menyoroti individu atau perusahaan dengan kinerja bisnis yang luar biasa.
Meskipun tema kekayaan dan bisnis mendominasi, majalah Forbes juga mencakup berbagai topik lain seperti inovasi, kepemimpinan, gaya hidup, dan topik terkini dalam dunia bisnis dan ekonomi.
Jadi, sementara kekayaan dan kesuksesan finansial adalah fokus utama, Forbes juga menawarkan liputan yang luas tentang berbagai aspek kehidupan dan dunia bisnis.
وَلَا أَوْلَادُهُمْ
Lafazh auladuhum (أَوْلَادُهُمْ) secara bahasa maknanya adalah "anak-anak laki-laki mereka". Namun faktanya, tidak selalu hanya anak laki-laki saja, perempuan pun termasuk di dalamnya. Bahkan cucu dan cicit pun masih dianggap sebagai aulad, sehingga makna yang lebih sepadan dari aulad adalah "anak keturunan" alias "bloodline".
Pasangan antara harta dan anak keturunan di masa lalu melambangkan kesuksesan yang berkelanjutan. Harta didapat lewat membangun usaha yang besar dan berhasil. Dan sebagai bukti kuat kesuksesannya, anak keturunannya akan melanjutkan bisnis ayahnya, sesukses ayahnya, atau bahkan lebih sukses lagi.
Hingga hari ini, kita temukan banyak jaringan bisnis yang dibangun dari keluarga. Ada beberapa perusahaan multinasional di negeri kita yang bisa disebut sebagai bisnis keluarga, diawali oleh orang tua lalu diteruskan oleh anak-anaknya. Beberapa keluarga dan dinasti di Indonesia telah berhasil membangun berbagai grup usaha bisnis yang sukses. Berikut beberapa contohnya:
§ Salim Group: Didirikan oleh Sudono Salim dan memiliki beragam bisnis di sektor makanan (Indofood), perkebunan, properti, dan keuangan.
§ Astra International: Didirikan oleh William Soeryadjaya dan bergerak di berbagai sektor, termasuk otomotif, agribisnis, jasa keuangan, infrastruktur, dan teknologi.
§ Sinar Mas Group: Didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja dan memiliki bisnis di berbagai sektor, termasuk perkebunan, keuangan, energi, properti, dan manufaktur.
§ Lippo Group: Didirikan oleh Mochtar Riady, memiliki beragam bisnis di sektor properti, ritel, layanan kesehatan, dan keuangan.
§ Bakrie Group: Didirikan oleh Achmad Bakrie dan memiliki bisnis di berbagai sektor, termasuk energi, pertambangan, infrastruktur, dan telekomunikasi.
§ Ciputra Group: Didirikan oleh Ciputra dan bergerak di bidang properti, perumahan, pusat perbelanjaan, dan infrastruktur.
§ Raja Garuda Mas: Didirikan oleh Sukanto Tanoto dan dikenal di sektor kehutanan, pulp, kertas, energi, dan kelapa sawit.
§ RGE Group: Didirikan oleh Sukanto Tanoto, RGE (Royal Golden Eagle) Group memiliki bisnis di sektor kehutanan, pulp, kertas, energi, dan petrokimia.
§ Gudang Garam: Didirikan oleh Surya Wonowidjojo dan dikenal sebagai salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia.
§ Martua Sitorus Group: Didirikan oleh Martua Sitorus dan aktif di sektor agribisnis, khususnya kelapa sawit dan minyak kelapa sawit.
§ Tahir Foundation: Didirikan oleh Tahir dan memiliki beragam investasi di sektor properti, keuangan, dan konsumen.
§ Mayapada Group: Didirikan oleh Dato' Sri Tahir dan terlibat dalam sektor perbankan, properti, kesehatan, dan ritel.
Dan masih banyak lagi deretan konglomerat nasional yang membangun kerajaan bisnis bersama anak keturunannya.
مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
Makna minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya "dari Allah". Sedangkan makna syai-an (شَيْئًا) secara harfiah adalah "sesuatu". Namun, penggalan ini tidak bisa diterjemahkan secara terpisah. Kalimat ini harus disatukan dengan kalimat sebelumnya secara utuh, yaitu:
"Sesungguhnya orang-orang yang kufur, tidak akan berguna bagi mereka sedikit pun harta benda dan anak-anak mereka (untuk menyelamatkan diri) dari (azab) Allah."
Intinya, untuk bisa selamat dari azab Allah SWT, yang menentukan pada akhirnya bukanlah harta atau anak-anak, melainkan keimanan seseorang.
Selama seseorang beriman kepada Allah, dia dijamin akan masuk surga. Terlebih lagi, jika imannya ditambah dengan amal shalih yang berasal dari harta bendanya serta juga peran jasa anak-anaknya, maka sempurnalah kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
وَأُولَٰئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ
Lafazh wa ulaaika (أُو۟لَـٰئِكَ) (maknanya: dan mereka itu), sedangkan adanya dhamir hum (مْهُ) (yang artinya mereka), menurut ulama berfungsi untuk memberi penekanan bahwa mereka itu benar-benar menjadi bahan bakar api neraka.
Lafazh waqud (قُود) (sering dimaknai sebagai bahan bakar), sedangkan an-nar (النَّار) (maknanya api dan bisa juga maknanya neraka). Namun ada ayat Al-Qur'an yang juga menggunakan lafadz waqud tetapi diterjemahkan dengan kayu bakar, yaitu:
النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ
yang dinyalakan dengan kayu bakar (QS. Al-Buruj: 5).
Ayat di atas itu memang terkait dengan kisah Ashabul Ukhdud yang dibakar dengan api yang berkobar dengan menggunakan kayu bakar.
Penyebutan 'bahan bakar' ini apakah hakiki atau majazi, boleh jadi para ulama tidak sepakat. Karena kalau dimaknai secara hakiki bahwa bahan bakar api neraka hanya berupa batu atau tubuh manusia, tentu nyala api neraka itu tidak panas-panas amat. Bahkan magma cair di dalam perut bumi kita jauh lebih panas, bisa mencapai ribuan derajat Celsius.
Inti bumi memiliki suhu yang bahkan lebih tinggi dari suhu permukaan Matahari. Inti bagian dalam bumi memiliki suhu sangat tinggi mulai dari 4.900 derajat hingga 7.200 derajat Celsius.
Ketika bom atom meledak di Hiroshima, Jepang, suhu ledakan bom diperkirakan mencapai 300.000 derajat Celsius. Ini sekitar 300 kali lebih besar dari suhu ketika manusia dikremasi. Suhu permukaan matahari 6.000 derajat Celsius yang dipancarkan ke luar angkasa hingga sampai ke permukaan bumi, sedangkan suhu inti sebesar 15-20 juta derajat Celsius.
Sedangkan bara, misalnya, tidak akan mencapai panas setinggi panas inti bumi apalagi inti matahari. Lalu masuk akal kah bila kita bilang bahwa suhu di neraka jauh lebih adem dari suhu di inti bumi dan inti matahari? Tentu tidak masuk akal.
Lalu bagaimana kita menjawab pernyataan dalam ayat ini bahwa bahan bakar neraka hanya terdiri dari batu dan tubuh manusia? Tentu jawaban yang paling aman dan selamat bahwa ungkapan itu bersifat majaz. Maksudnya saking beratnya siksaan manusia di neraka, sampai-sampai dikatakan bahwa tubuh mereka jadi bahan bakar neraka.
Atau diibaratkan tubuh mereka itu seperti bahan bakar yang disiramkan ke api menyala. Semakin disiram, nyala apinya semakin besar. Itulah kenapa pendapat yang menggunakan majaz jadi lebih aman, mengingat bahwa tubuh manusia bukan termasuk jenis bahan bakar yang baik untuk nyala api yang panas sampai ribuan dan bahkan jutaan derajat Celsius.
Namun lagi-lagi kita harus ingat bahwa neraka tidak terletak di alam dunia, tetapi di alam akhirat. Sehingga tidak cocok kalau dibandingkan atau diukur pakai skala dan ukuran fisika di dunia. Intinya buat kita, neraka itu alam ghaib, boleh jadi hukum fisikanya pun berubah jauh.
Tubuh manusia kalau dijadikan bahan bakar demi untuk menyalakan api mungkin bukan bahan yang tepat. Sebab yang namanya bahan bakar itu digunakan agar api bisa menyala dan berkobar. Maka dugaan sementara bahwa tubuh manusia dijadikan bahan bakar api neraka nampaknya semakin kuat.
Lalu benda apakah yang paling cocok untuk dijadikan bahan bakar sehingga bisa mendatangkan api, bahkan meski tanpa pemantik?
Bahan kimia yang mudah terbakar atau disebut juga bahan kimia flammable adalah bahan kimia yang mudah bereaksi dengan oksigen sehingga menimbulkan api. Bahan-bahan kimia terbagi atas 3 wujud zat, yaitu: padat, gas, dan larutan. Semua wujud bahan kimia memiliki kesempatan yang sama besar untuk dapat menyebabkan terjadinya kebakaran. Tergantung pada suhu, temperatur, dan situasi serta kondisi, karena di beberapa kasus terdapat senyawa kimia yang dapat terbakar apabila bereaksi dengan air. Berikut ini beberapa contoh bahan kimia mudah terbakar:
§ Klorin Triflorida: merupakan bahan kimia yang dapat dikatakan paling mudah terbakar, karena klorin triflorida dapat bereaksi dengan apapun dan tidak membutuhkan sumber api untuk dapat menyebabkan kebakaran. Klorin triflorida pada umumnya digunakan sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar roket, keperluan militer, dsb. Baca juga mengenai bahan kimia oksidator.
§ Bensin: merupakan bahan kimia yang sering kita temui, karena bahan ini merupakan sumber energi transportasi bermotor mulai dari mobil hingga bentor (becak motor), sehingga tentu saja akan ada di mana-mana. Bensin mudah terbakar karena bensin terbentuk dari rantai yang terdiri atas karbon dan hidrokarbon yang sangat mudah berikatan dengan oksigen membentuk CO2 dan H2O serta energi panas.
§ Aseton: merupakan senyawa kimia yang pada umumnya tidak berwarna dan memiliki bau yang menyengat. Aseton seringkali digunakan dalam industri rumah tangga, kecantikan, dan sebagainya. Aseton mudah terbakar karena sama halnya dengan bensin/petrol yang rantainya terdiri dari kandungan karbon dan hidrokarbon.
§ Xylene: merupakan senyawa kimia yang sering kita temui sebagai salah satu bahan dari cat semprot (spray paint). Bahan inilah yang seringkali membuat kepala terasa pusing dan mual setelah beberapa lama menghirup gas ini. Maka dari itu ketika melakukan pengecatan dengan cat yang berbahan dasar xylene, hendaklah kita melakukannya di tempat dengan sirkulasi udara yang baik, dan apabila di dalam ruangan, maka buka ventilasi udara lebar-lebar.
§ Etanol: parfum yang kita gunakan setiap hari adalah contoh salah satu bahan kimia yang mudah terbakar, karena parfum mengandung etanol (C2H6O). Tidak hanya parfum, deodorant, cologne, hair spray, obat kumur, dan produk-produk rumah tangga lain juga banyak yang berbahan dasar etanol. Baca juga mengenai bahan kimia eksplosif.