Kemenag RI 2019:(Keadaan mereka) seperti keadaan pengikut Fir‘aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami. Oleh sebab itu, Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Allah sangat keras hukuman-Nya. Prof. Quraish Shihab:
Mereka seperti kebiasaan kaum Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka, mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah telah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras pembalasan-Nya.
Prof. HAMKA:
Sebagaimana halnya dengan keluarga Fir'aun dan orang-orang yang sebelum mereka. Mereka telah mendustakan ayat-ayat Kami. Maka, Allah akan menyiksa mereka dengan dosa mereka. Dan, Allah adalah sangat pedih siksaan-Nya.
Dalam ukuran zamannya, boleh dibilang Firaun adalah sosok manusia yang punya segala kekuasaan di tangannya. Bukan hanya kekayaan, tetapi juga kekuasan, bahkan juga berbagai ilmu yang dimiliki manusia, termasuk ilmu arsitektur untuk mendirikan bangunan megah, dan termasuk juga ilmu sihir yang wilayahnya adalah dunia ghaib. Kedua dunia itu ada dalam genggaman seorang Firaun.
Namun semua itu tidak ada artinya ketika sudah berhadapan dengan hari akhir dan ancaman siksa neraka. Bahkan selagi masih berada di puncak kekuasaannya pun, semua itu Allah SWT renggut begitu saja dengan mudahnya. Mereka semua Allah SWT tenggelamkan di tengah laut. Hanya dalam sekejap semuanya lenyap tidak bersisa.
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ
Lafazh ka-da’bi (كَدَأْبِ) oleh sebagian ulama diartikan sebagai kebiasaan atau adat. Sebagian yang lain mengatakan bahwa maknanya adalah kesungguhan.
Sedangkan lafazh ali fir’auna (آلِ فِرْعَوْنَ) artinya: keluarga Firaun. Makna alu memang keluarga, sebagaimana surat Ali Imran itu artinya keluarga Imran. Namun yang jadi pertanyaan, siapa sajakah anggota keluarga Firaun yang dimaksud? Apakah istri dan anak-anaknya?
Padahal kita tahu bahwa justru istri Fir’aun termasuk orang yang beriman kepada Allah. Hal itu disebutkan secara tegas di dalam Al-Quran:
“Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: ‘Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.’” (QS. At-Tahrim: 11)
Di antara jasa istri Fir’aun adalah dia yang menyelamatkan dan memelihara Nabi Musa alaihissalam sehingga bisa hidup di istana Firaun.
“Dan berkatalah isteri Fir’aun: ‘(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak,’ sedang mereka tiada menyadari.” (QS. Al-Qashash: 9)
Jawabannya bahwa makna alu (آل) tidak harus selalu keluarga dalam artinya biologis. Tidak harus istri ataupun anak, tetapi termasuk juga semua pendukung, pembesar, kekuatan militer, termasuk kaum yang mendukungnya. Semua sah untuk disebut alu fir’aun (آلِ فِرْعَوْنَ) atau keluarga Fir’aun.
Di sisi yang lain, penyebutan secara eksplisit sosok Fir’aun di ayat ini tentu ada kaitannya dengan siapa yang sedang diajak bicara. Konteks ayat ini tidak bisa dilepaskan dari dialog yang terjadi antara Nabi SAW dengan orang-orang Yahudi di Madinah, di mana mereka mengenal sosok Firaun sebagai musuh mereka atau setidaknya musuh Nabi Musa alaihissalam. Baik Nabi SAW maupun orang-orang Yahudi sepakat bahwa Firaun itu orang kafir yang dipastikan masuk neraka jahannam.
Boleh jadi kalau dialognya terjadi dengan orang-orang musyrikin Mekkah, yang disebut bukan Firaun. Alasannya karena orang-orang musyrikin Mekkah tidak ada kaitannya dengan sosok Firaun. Mungkin yang akan disebut adalah nama dan tokoh yang lain, misalnya musuh Nabi Ibrahim atau Nabi Ismail. Namun, jika disebut Namrudz pun rasanya kurang cocok, karena permusuhan antara Nabi Ibrahim dan Namrudz bukan terjadi di negeri Arab, sehingga kisahnya kurang dikenal di sana.
وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ
Lafazh walladzina min qablihin (وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ) maksudnya adalah orang-orang kafir yang hidup sebelum Firaun dan teman-temannya. Jika kita telaah lebih dalam pada kisah-kisah Al-Quran yang nasibnya mirip dengan Firaun dan hidup sebelum masanya, ada beberapa yang bisa kita sebutkan. Namun, kita juga harus siapkan dulu penanda, kapan diperkirakan Firaun itu hidup.
Kisah tentang Firaun, jika kita tanyakan kepada para sejarawan modern, mungkin jawabannya agak mengecewakan. Sebab, umumnya mereka malah mengingkari keberadaan Firaun, dengan alasan tidak ditemukannya bukti-bukti otentik yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga, anggapan bahwa Firaun yang pernah berseteru dengan Nabi Musa adalah Ramses II pun masih dalam perdebatan mereka.
Mumi para raja Mesir yang ada di Museum Nasional Mesir memang salah satunya termasuk Ramses II, yang diperkirakan hidup di sekitar abad ke-13 sebelum Masehi. Namun, banyak kalangan sejarawan yang meragukannya dengan berbagai argumen ilmiah.
Kita memang bukan sejarawan, apalagi arkeolog. Tentu kita tidak perlu terlalu terlibat dalam perdebatan mereka. Tetapi tidak salah juga jika kita menggunakan pandangan yang banyak diterima berbagai kalangan bahwa diperkirakan Nabi Musa dan Firaun hidup di seputaran abad ke-13 sebelum Masehi.
Tinggal kita buka ayat-ayat Al-Quran, khususnya yang menceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang ingkar kepada nabi mereka dan nasibnya kurang lebih seperti Firaun.
1. Ibrahim dan Namrudz
Ibrahim, yang merupakan ayah dari Nabi Ismail dan Nabi Ishaq, diperkirakan hidup pada abad ke-20 SM. Ia lahir di Ur, sebuah kota kuno di Mesopotamia, dan wafat di Hebron, Palestina.
Namrudz, yang merupakan raja yang menyembah api dan menentang Ibrahim, diperkirakan hidup pada abad yang sama. Ia diperkirakan memerintah di Babilonia, sebuah kota kuno di Mesopotamia.
2. Nabi Nuh dan Umatnya
Nabi Nuh diutus Allah untuk memperingatkan kaumnya yang menyembah berhala. Namun, kaumnya tidak mau beriman dan terus menyembah berhala. Akhirnya, Allah menurunkan banjir besar untuk membinasakan kaum Nuh.
Kejadian banjir besar yang diceritakan dalam Al-Qur'an diperkirakan terjadi pada abad ke-24 SM. Hal ini didasarkan pada penelitian para ahli geologi yang menemukan bukti adanya banjir besar di Mesopotamia pada abad tersebut.
3. Nabi Shalih
Nabi Shalih diutus Allah untuk memperingatkan kaumnya yang menyembah berhala. Namun, kaumnya tidak mau beriman dan terus menyembah berhala. Akhirnya, Allah mengutus seekor unta betina untuk menguji kaum Shalih. Kaum Shalih membunuh unta tersebut, dan Allah pun menurunkan azab kepada mereka berupa gempa bumi.
Kejadian yang menimpa kaum Shalih diperkirakan terjadi pada abad ke-19 SM. Hal ini didasarkan pada penelitian para ahli arkeologi yang menemukan bukti adanya kota kuno di Yordania yang dihancurkan oleh gempa bumi pada abad tersebut.
4. Penduduk Aikah
Penduduk Aikah adalah kaum yang hidup di sebuah kota bernama Aikah yang terletak di tepi Laut Merah. Mereka menyembah berhala dan menolak untuk beriman kepada Allah. Akhirnya, Allah mengutus Nabi Hud untuk memperingatkan mereka. Namun, penduduk Aikah tetap tidak mau beriman dan terus menyembah berhala. Akhirnya, Allah menurunkan azab kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan kota mereka.
Kejadian yang menimpa penduduk Aikah diperkirakan terjadi pada abad ke-18 SM. Hal ini didasarkan pada penelitian para ahli arkeologi yang menemukan bukti adanya kota kuno di Yordania yang dihancurkan oleh angin kencang pada abad tersebut.
كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا
Yang jadi titik utama pembicaraan tentu bukan siapa orang kafir itu. Bisa saja Firaun atau pun tokoh siapa saja. Namun fokus ayat ini justru kepada apa yang telah menjadi dosa dan raport merahnya yaitu mendustakan ayat-ayat Allah.
Lafazh kadzdabu (كَذَّبُوا) artinya mendustakan. Sedangkan makna bi ayaatina (بِآيَاتِنَا) artinya kepada ayat-ayat Kami. Yang dimaksud dengan mendustakan itu adalah tidak mau mengakui kenabian para nabi dan tidak mau mengakui keberadaan kitab suci samawi yang Allah SWT turunkan kepada mereka.
Intinya mereka kafir dan tidak mau memeluk agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul yang datang kepada mereka. Oleh karena dosa macam inilah maka Allah SWT menghukum mereka.
فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ
Lafazh fa-akhadzahumullah (فَاَخَذَهُمُّ اللَّه) secara bahasa harfiyah adalah : maka Allah memegang mereka. Namun lafazh akhdza disini jelas maksudnya bukan memegang pakai tangan. Maknanya adalah Allah SWT memperkarakan mereka.
Lafazh bi-dzunubihim (بِذُنُوبِهِمَّ) artinya : atas dosa-dosa mereka. Dosanya bisa jadi memang banyak, entah itu minum khamar, zina, menipu bahkan juga menyembah berhala.
Namun lepas dari semua dosa itu ada dosa yang paling fundamental, yaitu tidak mau mengakui risalah agama samawi yang Allah SWT turunkan kepada mereka. Dan mereka tidak mengakui kenabian para nabi.
Maka dengan tidak mau menerima risalah samawi itulah mereka kemudian divonis kafir lalu mendapatkan siksa dari sisi Allah SWT.
وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) artinya : Dan Allah, sedangkan ungkapan syadidul-‘iqab (شَدِيدُ الْعِقَابِّ) artinya sangat keras siksanya.
Kerasnya siksa Allah SWT ini merupakan salah satu karakteristik sunnatullah kepada umat terdahulu. Ruang lingkup kerasnya siksa Allah SWT adalah dengan tidak adanya kesempatan untuk minta ampunan. Begitu mereka berdosa dan bersalah, maka hukuman langsung dijalakan, tidak ada penundaan apalagi keringanan hukuman.
Banyak dari umat terdahulu yang disegerakan siksanya, tidak menuggu mereka mati, bahkan ketika mereka masih hidup pun sudah Allah turunkan berbagai macam adzab berupa berbagai bencana. Bencananya pun bukan main-main, tetapi bencana yang menyebabkan kematian secara masal, sampai suatu negeri punah dalam arti tidak ada lagi bekas-bekas sisa peradabannya.
Dan ketika mereka mati meninggalkan dunia ini, di pintu gerbang akhirat sudah menunggu para malaikat yang sudah bersiap menyiksa mereka di dalam neraka jahannam secara abadi.
Siksa yang amat keras seperti itu tidak akan diterapkan kepada umat Nabi Muhammad SAW, namun kisahnya tetap diceritakan di dalam Al-Quran. Tujuannya agar umat Nabi Muhammad SAW tidak main-main dengan ancaman yang telah Allah SWT terapkan kepada umat terdahulu.