Kemenag RI 2019:(Azab itu terjadi) pada hari ketika ada wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam kusam. Adapun orang-orang yang berwajah hitam kusam (kepada mereka dikatakan), “Mengapa kamu kafir setelah beriman? Oleh karena itu, rasakanlah azab yang disebabkan kekafiranmu.” Prof. Quraish Shihab:
Pada hari (yang di waktu itu) ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram wajah-wajah mereka, (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu, rasakanlah azab disebabkan kekafiran kamu.”
Prof. HAMKA:
Pada hari yang wajah-wajah menjadi putih dan wajah-wajah (yang lain) menjadi hitam; maka adapun kepada orang-orang yang menjadi hitam muka itu dikatakan: Bukankah kamu telah kufur sesudah kamu beriman? Maka rasailah adzab, sebab kamu telah kufur itu.
Ayat 106 ini masih sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan posisi orang yahudi dengan tindakannya, yaitu telah bercerai-berai dan saling berselisih, bahkan meski mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan mendapatkan bukti-bukti kebenaran kenabiannya.
Maka atas sikap dan tindakannya, mereka diancam akan mendapatkan siksa yang besar.
Ayat ke-107 ini kemudian menggambarkan seperti apa siksa yang besar itu, dimana di ayat ini Allah SWT menceritakan bahwa nanti di hari kiamat akan ada dua ekspresi wajah manusia. Ada yang wajahnya menghitam dan ada yang wajahnya memutih. Dan orang kafir akan masuk dalam jajaran mereka yang wajahnya menghitam.
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ
Kata yauma (يَوْمَ) artinya secara harfiyah adalah : hari, namun maksudnya tidak lain adalah hari kiamat. Maksudnya orang-orang Yahudi yang di ayat sebelumnya telah diancam dengan adzab yang besar, pada ayat berikutnya ini digambarkan keadaan mereka nanti di hari kiamat, dimana ada manusia yang wajahnya menjadi putih dan ada yang menjadi hitam. Dan mereka akan mengalami perubahan wajah menjadi hitam, karena siksaan tersebut.
Kata yaum (يوم) sendiri kalau dihitung secara teknis menunjukan pada rentang waktu yang dibutuhkan bumi untuk berputar pada porosnya satu kali putaran. Di permukaan bumi, satu hari itu biasa ditandai dari terbenam matahari hingga terbit di keesokan paginya, lalu matahari berada di atas kepala hingga akhirnya terbenam di ufuk barat.
Namun di dalam Al-Quran, yang disebut dengan hari tidak selalu menunjukkan waktu 24 jam, tetapi bisa juga untuk menyebutkan masa atau zaman, dimana bentangannya tidak ditandai dengan terbit atau terbenamnya matahari. Salah satu yang sudah akrab di telinga kita adalah sebutan ‘hari kiamat’. Tentu jangan dipahami bahwa kiamat itu hanya sehari saja yaitu 24 jam.
Meski pun disebut hari kiamat, namun pengertiannya bukan sehari 24 jam. Hari kiamat itu adalah sebutan untuk suatu bentangan zaman yang terjadi setelah alam dunia ini sudah berakhir. Tentu bentangan waktunya sangat panjang.
Penggalan ayat ini memberi ancaman kepada orang-orang Yahudi ahli kitab akan adanya siksa di hari kiamat bagi mereka, yang disebabkan mereka telah berpecah belah dan berselisih sesama mereka dalam urusan agama. Padahal telah datang kepada mereka Al-Quran dan juga Nabi Muhammad SAW. Seharusnya mereka beriman kepadanya dan bukan malah terus bermusuhan satu dengan yang lain.
Kepada mereka diingatkan akan terjadinya siksa bagi mereka. Al-Quran dengan sangat ekspresif menggambarkan bahwa pada hari kiamat itu akan ada orang yang disiksa di neraka dan ada yang bahagia masuk surga. Namun masing-masing itu digambarkan lewat ekspresi wajah masing-masing. Ada wajah-wajah yang putih berseri yang menandakan mereka bahagia masuk surga. Namun ada pula wajah yang hitam kusam, yang menggambarkan sakitnya mereka disiksa di neraka.
Tentu ini adalah metafora dari kondisi yang sesungguhnya. Namun yang menarik adalah apa yang dirasakan oleh tubuh dan hati, ternyata Al-Quran menampakkan semuanya lewat ekspresi wajah.
فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ
Lafazh fa-ammal-ladzina (فَأَمَّا الَّذِينَ) artinya : Adapun mereka yang. Sedangkan lafazh iswaddat wujuhuhum (اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ) artinya : wajah-wajah mereka berubah menjadi hitam. Asalnya katanya dari nama salah satu warna yaitu hitam adalah aswad (أسود) atau sauda’ (سوداء).
Ibnu Katsir mengutipkan komentar Ibnu Abbas terkait dengan siapakah yang dimaksud dengan orang yang wajahnya memutih dan wajahnya menghitam. Yang wajahnya memutih adalah mereka yang termasuk ahlusunnah wal jamaah. Sedangkan yang wajahnya menghitam adalah berbagai kelompok yang sesat aqidahnya dan menyimpang.
Yang menarik untuk dibahas bahwa ada banyak cara yang digunakan Allah SWT untuk menggambarkan seperti apa pedihnya siksa neraka dan juga nikmatnya surga. Caranya dengan menggambarkan ekspresi wajah masing-masing calon penghuninya. Kalau yang bakalan masuk neraka, digambarkan ekspresi wajahnya hitam. Sebagaimana juga digambarkan dalam surat Az-Zumar berikut :
ajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram. (QS. Al-Qiyamah : 22-24)
Begitu juga yang termuat dalam surat Abasa, ada wajah musfirah (مُسْفِرَةٌ) dan ada wajah ‘alaiha ghabarah (عَلَيْهَا غَبَرَةٌ).
Wajah-wajah pada hari itu tunduk terhina | wajah-wajah pada hari itu berseri-seri. (QS. Al-Ghasyiyah : 2 | 8)
Namun Al-Quran juga menggunakan ekspresi wajah berubah menjadi hitam untuk menggambarkan betapa malunya orang arab jahiliyah bila mereka mendengar kabar istrinya melahirkan untuknya anak perempuan.
(Padahal,) apabila salah seorang dari mereka diberi kabar tentang (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. (QS. An-Nahl : 58)
أَكَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ
Lafazh a-kafartum (أَكَفَرْتُمْ) artinya : “apakah kamu kafir”. Kaliamt ini merupakan pertanyaan ini diarahkan kepada mereka orang-orang kafir oleh para malaikat atas perintah Allah SWT.
Yang perlu dicatat bahwa meski mereka ditanyakan, namun maksudnya sama sekali bukan bertanya. Ungkapan ini maksudnya lebih tepat sebagai mempertanyakan tindakan bodoh mereka ketika didunia. Dan dipertanyakan seperti itu sesungguhnya juga bagian dari bentuk penyiksaan secara psikologis. Kita bisa menyebutnya sebagai interogasi yang membuat mereka amat sangat tersiksa.
Seharusnya mereka bisa melupakan tindakan bodoh mereka ketika di dunia. Namun sengaja mereka dijatuhkan mental dengan ditanya berulang-ulang sampai mereka merasa menyesal sempat dilahirkan dari perut ibunya. Bahkan dalam sebagian ayat disebutkan mereka sampai merasa lebih baik bila dahulu di dunia tidak usah jadi manusia tetapi jadi tanah saja, biar tidak perlu ditanya-tanya semacam ini.
Lafazh ba’da imanikum (بَعْدَ إِيمَانِكُمْ) artinya : setelah iman kamu. Maksudnya mereka ini pada awalnya sempat beriman, namun di tengah jalan, rontoklah imannya dan kemudian balik lagi keluar dari keimanannya.
Pertanyaannya : Siapakah yang dimaksud dengan mereka kafir setelah beriman?
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun merangkum beberapa pendapat ulama tafsir tentang siapakah yang dimaksud dengan orang kafir yang wajahnya menghitam di hari kiamat.
§ Pertama : mereka adalah orang yang kafir setelah menyatakan keimanan mereka, yaitu mereka yang menjadi kelompok munafikin. Ini adalah pendapat Al-Hasan.
§ Kedua : mereka adalah orang-orang kafir yang murtad setelah sebelumnya masuk Islam. Ini adalah pendapat dari Mujahid.
§ Ketiga: mereka adalah orang-orang kafir kepada kenabian Muhammad SAW dari kalangan ahli kitab, setelah mereka mengenal dan mengakuinya. Ini adalah pendapat Az-Zajjaj.
§ Keempat : mereka adalah seluruh orang kafir, padahal sebenarnya pernah berikrar dengan tauhid ketika sebelum ruhnya ditiupkan ke dalam janin dalam perut ibunya. Ini adalah pendapat dari Ubay bin Ka’ab.
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri. (QS. Al-A’raf : 172)
Di dalam Al-Quran kita menemukan banyak ayat yang seperti ini, yaitu kepada orang yang sedang disiksa di neraka, diperintahkan untuk merasakan siksa. Seolah-olah belum cukup siksaan itu dijalani, masih juga harus ‘disiksa’ dengan perkataan untuk merasakan siksa.
ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ
Rasakan adzab yang membakar (QS. Ali Imran : 181)
Ada satu ayat yang cukup unik menceritakan tentang orang yang dibakar di neraka selalu diganti kulitnya, agar tetap bisa merasakan adzab dibakar api neraka.
Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan (kepedihan) azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa : 56)
Proses ganti kulit setiap saat ini berangkat dari pemahaman bahwa apabila seseorang telah dibakar kulitnya dan gosong, maka matilah semua syaraf-syarafnya. Dengan demikian, otaknya tidak akan menerima pesan terkait rasa sakitm karena sudah mati rasa.
Kalau memang demikian, maka secara logika, begitu orang dibakar kulitnya di neraka, memang sakit rasanya. Tetapi sakitnya hanya sekali saja. Ketika semua kulit yang membungkus tubuhnya sudah rusak, maka dirinya sudah tidak lagi merasakan apa-apa.
Namun Allah SWT menjawab bahwa setiap kali kulit itu rusak, maka akan segera diganti lagi dengan kulit yang baru. Tujuannya agar rasa sakit akibat dibakar itu bisa terus menerus dirasakan.
Orang yang enggan membayar zakat dan terus saja menimbun emas dan peraknya, juga diperintahkan untuk merasakan panasnya emas peraknya itu nanti di neraka.
Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kabar ‘gembira’ kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. Pada hari ketika (emas dan perak) itu dipanaskan dalam neraka Jahanam lalu disetrikakan (pada) dahi, lambung, dan punggung mereka (seraya dikatakan), “Inilah apa (harta) yang dahulu kamu simpan untuk dirimu sendiri (tidak diinfakkan). Maka, rasakanlah (akibat dari) apa yang selama ini kamu simpan.”(QS. At-Taubah : 34-35)
Yang juga menarik untuk dikaji adalah bahwa kematian pun ada rasanya juga dalam bahasa Al-Quran.
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran : 185)
Maka yang dapat kita simpulkan bahwa siksa neraka itu memang lengkap, bukan hanya siksaan secara fisik, tetapi juga siksaan secara psikologis juga. Terkadang dalam kasus-kasus tertentu, siksaan secara psikologis boleh jadi malah terasa lebih berat dari pada secara fisik.