Kemenag RI 2019:Hal itu sama sekali bukan menjadi urusanmu (Nabi Muhammad), ) apakah Allah menerima tobat mereka atau mengazabnya karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim. Prof. Quraish Shihab:
Tidak ada sedikit pun (campur tangan) darimu (Nabi Muhammad sawj) dalam urusan (mereka), atau Dia menerima taubat mereka (kaum musyrik), arau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang zalim.
Prof. HAMKA:
Tidaklah suatu jua pun hak bagimu; apakah Allah menerima tobat mereka ataupun Dia hendak mengadzab mereka. Lantaran mereka itu adalah orang-orang yang zalim
Lafazh laisa laka minal-amri syai’un (لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ) merupakan rangkaian kata-kata yang punya makna tersendiri dan berbeda dari makna kata per katanya. Kalau dimaknai secara kata per kata, malah sulit dipahaminya : laisa (bukan), laka (untukmu), minal (dari), amri (masaalh), syai’un (sesuatu).
Maka kesemuanya harus diterjemahkan secara utuh agar jelas maksudnya. Namun begitu, tiga sumber terjemah yang biasa kita gunakan ternyata ikut berbeda-beda hasil terjemahannya.
Kalau kita menggunakan versi terjemahan Kemenag RI, terjemahannya adalah : “hal itu sama sekali bukan menjadi urusanmu”. Pesan yang terpendam dalam pernyataan ini bahwa alur kisah orang-orang kafir yang berperang melawan Nabi Muhammad SAW itu sepenuhnya milik Allah SWT. Terserah Allah SWT nantinya, apakah mereka akan dimatikan sebagai orang kafir dan masuk neraka, ataukah suatu ketika Allah SWT berikan mereka hidayah, lalu sadar dan masuk Islam. Kemudian Allah SWT ampuni semua dosa yang sempat mereka lakukan ketika masih kafir. Dan akhirnya jadilah mereka sebagai orang-orang yang menjadi shahabat nabi dan menjadi penyebar agama Islam.
Sedangkan bila kita gunakan terjemahan versi Prof. Quraish Shihab, teksnya adalah : “Tidak ada sedikit pun campur tangan dari Nabi Muhammad dalam urusan mereka”. Kurang lebih yang bisa kita pahami bahwa kemenangan dan kekalahan, begitu juga bagaimana nasib orang-orang kafir yang sempat menjadi musuh dalam peperangan itu, semua adalah urusan Allah SWT. Nabi Muhammad SAW sendiri tidak punya peranan dalam menentukan segalanya.
Lalu versi terjemahan Buya HAMKA adalah : “Tidaklah suatu jua pun hak bagimu”.
أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ
Lafazh au yatuba ‘alaihim (أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ) artinya : atau mungkin Allah menerima taubat mereka.
Kalau kita membaca kisah berbagai peperangan yang terjadi di masa kenabian, kita akan menemukan begitu banyak nama tokoh yang menjadi musuh. Namun uniknya di bagian akhir, ternyata Allah SWT mengampuni mereka, lewat jalan diberi hidayah lalu masuk Islam dan menjadi pembela agama Islam.
Sebutlah contoh yang paling utama misalnya Abu Sufyan bin Al-Harb dan istrinya Hindun. Pasangan yang menjadi pimpinan kota Mekkah ini sejak turun wahyu pertama sudah berposisi sebagai musuh bebuyutan, bahkan hingga menyelenggarakan sayembara untuk menangkap Nabi Muhammad SAW dengan imbalan 100 ekor unta.
Di hampir semua perang suci yang dipimpin oleh Nabi SAW, Abu Sufyan selalu menjadi tokoh antagonisnya. Kalau ada ayat yang membicarakan keburukan pasukan musuh, bahkan kalau ada doa-doa keburukan terpanjatkan, tentu yang jadi sasarannya adalah Abu Sufyan. Setidaknya termasuk salah satu yang pasti terkena sasaran doa keburukan.
Seharusnya dalam posisi seperti itu, Abu Sufyan mati di medang perang sebagai orang kafir, lalu masuk neraka jahannam, dibakar secara abadi di dalamnya.
Namun ternyata Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Dia bebas melakukan apa saja, termasuk melakukan berbagai ‘tikungan patah’ yang menjadi plot-twist secara alur cerita.
Ternyata di tahun kedelapan hijriyah, Abu Sufyan mendadak menyatakan diri masuk Islam dan membaca dua kalimat syahat di hadapan Nabi SAW dan 10 ribu pasukan muslimin yang sedang mengepung Mekkah. Nabi SAW menerima keislamannya dengan bahagia, sampai Beliau berikan semacam hadiah kepada Abu Sufyan berupa seratus ekor unta.
Sebelum Abu Sufyan, yang juga mendapatkan hidayah dan bertaubat masuk Islam adalah Khalid bin Walid radhiyallahuanhu. Tokoh ini dikenal sebagai ahli pertempuran dengan jam terbang yang amat tinggi. Di Perang Uhud, peranan Khalid bin Walid ini diakui sangat jitu dan mematikan. Hasilnya, tidak kurang dari 70 shahabat gugur di perang itu.
Ternyata Allah SWT berkehendak memberikan ampunan kepadanya. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba sosok Khalid bin Walid mucnul begitu saja sendirian masuk kota Madinah. Gegerlah seisi penduduk Madinah melihat kedatangan tokoh besar musyrikin Mekkah sendirian tanpa pasukan yang mengawal. Khalid langsung bertanya dimanakah gerangan Rasulullah SAW. Orang-orang mengatakan bahwa Nabi SAW sedang berada di Masjid.
Khalid pun berjalan ke Masjid Nabawi dan menemukan Nabi SAW ada di dalamnya. Saat itu Khalid bin Walid langsung menyatakan keislamannya di hadapan Nabi SAW. Dengan lantang diucapkanya ikrar dua kalimat syahadat dan menyatakan diri masuk Islam. Sontak gegerlah Madinah hari ini, tokoh terbesar dari kalangan musyrikin tiba-tiba masuk Islam dan menjadi pembela dakwah Nabi SAW.
Hal yang kurang lebih sama juga terjadi pada sosok tokoh Mekkah yang lain, yaitu Amr bin Al-Ash. Dia tiba di Madinah sendirian dan langsung menyatakan diri masuk Islam begitu saja.
Dengan masuk Islamnya para tokoh kunci dari musyrikin Mekkah, maka keislaman penduduk Mekkah pun hanya tinggal menunggu waktu saja. Dan datanglah hari dimana terjadi antrian panjang orang-orang yang ingin menyatakan diri masuk Islam.
Bukan hanya penduduk Mekkah, tetapi bangsa Arab secara keseluruhan pun berdatangan untuk menyatakan keislaman mereka, tidak terkecuali penduduk Thaif. Padahal dahulu mereka nyaris membunuh Nabi SAW, tapi kini mereka saling berjejal-jejal ingin menyatakan keislaman.
Secara teknis, hampir semua musuh Nabi SAW dalam semua peperangan itu akhirnya masuk Islam dan menjadi para pembela agama Allah serta menyebarkannya ke seluruh alam.
Kita bangsa Indonesia yang berada pada titik terjauh dari tanah suci pun kebagian dakwah mereka.
أَوْ يُعَذِّبَهُمْ
Lafazh au yu’adzdziba-hum (أَوْ يُعَذِّبَهُمْ) maknanya : atau Allah mengazab mereka.
Maksudnya dari sebagian kalangan yang sempat menjadi musuh Nabi SAW dalam peperangan, memang ada juga yang tidak mendapatkan hidayah, tidak sempat masuk Islam, dan matinya dalam keadaan kafir menyandang status sebagai musuh agama.
Dan dipastikan mereka masuk neraka dan dibakar di dalamnya. Itulah maksud : atau Allah mengadzab mereka. Maksudnya diadzablah mereka di neraka karena kekafiran mereka dan posisi mereka mati dalam status sebagai orang kafir musuh Allah.
Abu Jahal dan Abu Lahab adalah contoh jenis ini. Mereka mati dengan status paling buruk, yaitu mati sebagai orang kafir yang menjadi musuh Allah dan musuh agama.
Abu Jahal mati di Perang Badar, dibunuh oleh kaum muslimin. Nama aslinya adalah Umar bin Hisyam. Tapi karena dia seorang cendekiawan, laqobnya menjadi Abul Hakam. Sebenarnya Nabi SAW sangat kesengsem pada si Abul Hakam. Selain pintar, banyak ilmunya juga punya pengaruh yang kuat serta penuh pesona. Kalau sampai dapat hidayah dan masuk Islam, pasti besar sekali pengaruhnya dalam menguatkan barisan dakwah.
Maka sejarah mencatat ada doa Nabi SAW yang dipanjatkan agar Allah SWT memberikan hidayahnya kepada Abu Jahal. Sekalian juga mendoakan Umar yang satunya lagi, yaitu Umar bin Al-Khattab. Sayangnya doa Nabi SAW itu tidak diterima seutuhnya, yang satu diterima dan jadi muslim, yaitu Umar bin Al-Khattab, namun ‘Umar’ yang satu lagi tidak mendapat hidayah, dia tetap keukeuh menjadi orang kafir.
Sedangkan tentang Abu Lahab, sebenarnya tokoh ini masih terbilang paman Nabi SAW. Seharusnya sebagai paman, posisinya melindungi Nabi SAW, setidaknya kalaupun tidak setuju dengan konten dakwahnya, setidaknya sikapnya berimbang alias balance.
Kedua putera Abu Lahab ini sejak sebelum kenabian telah menikah dengan kedua puteri Nabi SAW, yaitu Utbah menikahi Ruqayah dan Ummu Utaibah menikahi Kaltsum. Jadi antara Abu Lahab dengan Nabi SAW selain hubungan paman dan keponakan, keduanya juga saling berbesanan. Bahkan rumah mereka berdua pun bertetanggaan alias menempel dindingnya.[1]
Namun yang terjadi justru Abu Lahab jadi sponsor paling utama untuk membunuh Nabi SAW. Semua tindakannya benar-benar kelewat batas, di luar nalar kemanusiaan. Abu Lahab mati setelah Perang Badar, meski tidak ikut dalam perang itu. Namun bagaimana nasibnya di akhirat, Al-Quran dengan amat tegas menceritakan :
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. (QS. Al-Lahab : 3)
Lafazh fainnahum (فَإِنَّهُمْ) maknanya : maka sesungguhnya mereka. Lafazh zhalimun (ظَالِمُونَ) artinya : orang-orang yang zalim.
Selain zalim kepada kaum muslimin dan Nabi SAW, mereka pastinya zalim kepada Allah SWT serta zalim kepada diri mereka sendiri. Dan yang namanya orang zalim, pastinya akan mendapatkan balasan atas kezaliman mereka.
Seringkali balasan atas dosa kezaliman itu tidak harus menunggu sampai masuk alam akhirat. Seringkali dosa kezaliman itu dibalaskan langsung saat ini juga di dunia.
Namun di balik dari semua itu, kadang terjadi juga dimana sebuah kezaliman itu tidak segera dibalaskan di dunia ini, tetapi baru dibalas di akhirat.
Dan lebih unik lagi, bisa juga Allah SWT punya skenario yang benar-benar di luar nalar kita, yaitu kezaliman itu belum sampai dibalas dengan adzab di akhirat dan juga di dunia, ternyata Allah SWT malah memberi pelakunya hidayah, sehingga mereka menyatakan diri bertaubat, masuk Islam dan menjadi pembela agama Islam.
Dan itulah yang terjadi pada kebanyaka para shahabat Nabi SAW yang mulai. Mereka mulai debut sebagai orang kafir dan berposisi menjadi musuh-musuh Allah pada banyak perang suci nabawi. Namun di bagian endingnya, mereka dapat hidayat lalu masuk Islam dan menjadi orang yang bergelar : radhiyallahuanhu.
Sebuah gelar yang tidak main-main, karena hanya diberikan kepada satu lapis generasi saja, yaitu generasi para shahabat.