Ini (al-Qur‘aji) adalah penjelasan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.
Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa
Kata hadza (هَٰذَا) merupakan ismul-isyarah alias kata tunjuk yang posisi yang dekat sehingga diterjemahkan menjadi : ini. Sedangkan kata yang ditunjuk justru tidak tertulis teksnya, namun umumnya para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah Al-Quran. Maka kalau teksnya ditulis lengkap menjadi : “Al-Quran ini adalah”.
Kata bayanun (بَيَانٌ) yang artinya penjelasan, sedangkan kata linnasi (لِلنَّاسِ) artinya : kepada manusia. Kalau dikaitkan dengan penggalan sebelumnya, maka jadilah kalimat lengkapnya : Al-Quran ini adalah penjelasan bagi manusia.
Yang jadi pertanyaan ada dua. Pertama, apa yang dijelaskan oleh Al-Quran kepada manusia? Kedua, kenapa bukan penjelasannya buat manusia, bukankah Al-Quran itu hanya untuk kaum muslimin?
Untuk menjawab pertanyaan yang pertama, yaitu apa yang dijelaskan oleh Al-Quran kepada umat manusia, maka jawabannya adalah terkait dengan dua unsur utama yaitu terkait masalah pondasi keimanan dan dasar-dasar aturan hidup. Yang terkait dengan pondasi keimanan bagi manusia bahwa selain mengakui adanya Tuhan sebagai Yang Maha Pencipta, Al-Quran menegaskan bahwa iman itu harus dilengkapi dengan rukunnya iman lainnya seperti percaya kepada eksistensi adanya para malaikat, para nabi dan rasul, kitab-kitab suci samawi, serta adanya kehiduoan akhirat.
Sementara yang dipercaya umat manusia hanya sekedar bahwa Tuhan itu ada, tetapi tidak ada malaikat, nabi dan kitab suci serta akhirat.
Sedangkan terkait dengan poin yang kedua, yaitu terkait dengan fundamental syariah dan hukum, maka Al-Quran itu berisi juga berbagai detail hukum syariah.
Lafazh wa hudan (وَهُدًى) artinya : dan petunjuk. Para mufassir berbeda-beda menafsirkan yang dimaksud dengan petunjuk.
- As-Sya’bi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan petunjuk adalah petunjuk dari kesesatan.
- Al-Hasan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan petunjuk adalah Al-Quran.
- As-Suddi mengatakan bahwa petunjuk adalah cahaya.
- Said bin Jubair mengatakan bahwa petunjuk itu maksudnya adalah tibyan.
Sedangkan lafazh wa mau’dizhatun (وَمَوْعِظَةٌ) artinya : dan pelajaran. Asy-Sya’bi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pelajaran adalah pelajaran dari kebodohan.
Kata lil-muttaqin (لِلْمُتَّقِينَ) artinya : buat orang-orang muttaqin.
Kalau Al-Quran menjadi bayan, maka itu untuk semua manusia, sedang untuk orang-orang yang bertaqwa, maka fungsi Al-Quran itu menjadi petunjuk (هُدًى) dan juga pelajaran (مَوْعِظَةٌ).