Kemenag RI 2019:Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:
Janganlah laniu melemali, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika Kuntu orang-orang mukmin.
Prof. HAMKA:
Dan janganlah kamu merasa lemah dan berduka cita. Karena kamu adalah paling tinggi, jika kamu (benar-benar) orang-orang beriman.
Huruf wawu (وَ) disebut isti’nafiyah, sedangkan huruf laa (لَا) disebut nahiyah jazimah. Kata tahinu (تَهِنُوا) adalah fi’il mudhari dengan status majzum dan tandanya dengan dihilangkannya huruf nun pada akhirnya, padahal sebelumnya masih ada huruf nun itu, yaitu tahinuna (تهنون). Makna wa la tahinu (وَلَا تَهِنُوا) : “janganlah kamu (merasa) lemah”.
Asalnya dari kata wahan (وهن) yang artinya lemah. Kata wahan ini kita temukan di beberapa ayat Al-Quran, antara lain :
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah. (QS. Luqman : 14)
Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. (QS. Al-Ankabut : 41)
قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي
Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah. (QS. Maryam : 4)
وَلَا تَحْزَنُوا
Kata wa laa tahzanu (وَلَا تَحْزَنُوا) artinya dan janganlah kamu bersedih.
Menurut para mufassir, perintah Allah SWT kepada Nabi SAW dan kaum muslimin untuk jangan merasa lemah dan sedih disebabkan karena keadaan mereka saat itu yang baru saja terkena musibah di Perang Uhud. Perang ini memakan banyak korban jiwa. Terhitung ada 70 orang yang menjadi korban dan gugur sebagai syuhada. Para peneliti kemudian melakukan banyak riset ke banyak literatur, kemudian didapat nama-nama itu, meski belum semuanya.
Berikut ini adalah nama para sahabat Nabi yang gugur di medan Perang Uhud ridhwanullahi alaihim ajmain:
Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW dan saudara sesusuannya.
Abdullah bin Jahsy.
Mush'ab bin Umair.
Utsman bin Utsman al-Makhzumi.
Amru bin Mu'adz bin An-Nu'man
Al-Harits bin Anas bin Rafi'.
'Amarah bin Ziyad bin As-Sakan.
Tsabit bin Waqash.
Salamah bin Tsabit bin Waqash.
Amru bin Tsabit bin Waqash.
Rifa'ah bin Waqash.
Shaifi bin Qaithi.
Hubab bin Qaithi.
'Abbad bin Sahl.
Al-Harits bin Aws bin Mu'adz, keponakan Sa'ad bin Mu'adz.
Al-Yaman bin Jabr, ayah Hudzayfah bin Al-Yaman.
Iyas bin Aws bin 'Atik bin Amru bin Al-A'lam bin Za'ura bin Jusham.
'Ubaid bin At-Tihan.
Habib bin Zaid bin Taim.
Yazid atau Zaid bin Hatib bin Umayyah bin Rafi'.
Abu Sufyan bin Al-Harits bin Qais bin Zaid.
Hanzhalah bin Abi 'Amir bin Shaifi bin An-Nu'man bin Malik.
Unais bin Qatadah.
Abu Hubah bin Amru bin Tsabit.
Abdullah bin Jubair bin An-Nu'man, pemimpin para pemanah.
Khaitsamah, ayah Sa'ad bin Khaitsamah.
Abdullah bin Salamah.
Subai' bin Hatib bin Al-Harits bin Qais bin Haisha.
Umair bin 'Adi.
Amru bin Qais
Qais bin Amru bin Qais
Tsabit bin Amru bin Zaid.
'Amir bin Mukhlid.
Abu Hubairah bin Al-Harits.
Amru bin Mutarrif.
Aws bin Tsabit bin Al-Mundzir, saudara Hassan bin Tsabit.
Anas bin An-Nadhar bin Dhamdham.
Qais bin Mukhlid.
Kisan, budak Bani Mazin bin An-Najjar.
Kharijah bin Zaid bin Abi Zuhair.
Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amru Aws bin Arqam bin Zaid bin Qais, saudara Zaid bin Arqam.
Malik bin Sinan, ayah Abu Sa'id Al-Khudri.
Sa'id bin Suwaid bin Qais bin 'Amir bin 'Ubaid bin Al-Abjar.
'Utbah bin Rabi'.
Tsabitah bin Sa'ad bin Malik.
Tsaqif bin Furwah bin Al-Badan.
Abdullah bin Amru bin Wahb.
Dhamrah, sekutu dari Juhainah.
Naufal bin Abdullah.
Al-'Abbas bin 'Ubadah bin Nadlah.
An-Nu'man bin Malik bin Tsabit.
Al-Mujadzar bin Ziyad Al-Balawi.
'Ubada bin Al-Husyin.
Abdullah bin Amru bin Haram, ayah Jabir bin Abdullah.
Amru bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram.
Khallad bin Amru bin Al-Jamuh.
Abu Aiman, maula Amru bin Al-Jamuh.
Salim bin Amru bin Hudhaifah.
'Antarah, maula Salim bin Amru bin Hudhaifah.
Sahl bin Qais bin Abi Ka'b.
Dzakwan bin Abdul Qais.
'Ubaid bin Al-Mu'alla bin Luwadz.
Malik bin Numailah, sekutu Bani Mu'awiyah bin Malik.
Lafazh wa antum (وَأَنْتُمُ) artinya dan kamu. Lafazh a’launa (الْأَعْلَوْنَ) artinya paling tinggi. Kata in kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) artinya jika kamu lafazh mu’minin (مُؤْمِنِينَ) artinya : kamu orang-orang yang beriman.
Penggalan ini juga merupakan bentuk hiburan Allah SWT kepada Nabinya dan kaum muslimin. Sebagai kaum yang lebih tinggi derajatnya, tidak seharusnya mereka merasa lemah apalagi merasa sedih.
Memang sulit melupakan kejadian yang begitu mengenaskan saat Perang Uhud, sebab begitu banyak keluarga mereka yang gugur sebagai pahlawan. Tidak kurang dari 70 orang jumlahnya. Ini merupakan kondisi yang paling buruk dalam perjalanan dakwah Nabi SAW, khususnya ketika masuk dalam zaman peperangan dengan kaum kafir.
Namun lagi-lagi Allah SWT membesarkan hati Nabi-Nya dengan menyebut bahwa kaum muslimin itu lebih tinggi derajatnya dari yang lain.