Kemenag RI 2019:Yang demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu (sendiri) dan sesungguhnya Allah (sama sekali) tidak menzalimi hamba-hamba-Nya. Prof. Quraish Shihab:
(Azab) yang demikian itu disebabkan perbuatan tangan kamu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah Penganiaya para hambaNya.
Prof. HAMKA:
Yang demikian itu adalah lantaran dosa yang telah dilakukan oleh tangan-tangan kamu. Dan sesungguhnya Allah tidaklah aniaya terhadap hamba-hamba-Nya.
Ayat ke-182 tentu saja merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu menyebutkan bahwa siksaan bagi orang-orang Yahudi dengan api yang membakar itu semata-mata disebabkan oleh dosa yang mereka kerjakan dengan tangan-tangan mereka sendiri.
Allah SWT tidak berlaku zalim kepada manusia, termasuk kepada orang Yahudi. Mereka disiksa bukan karena Allah benci, tetapi karena mereka sendiri yang menyebabkan murka Allah sehingga berhak menerima siksa api neraka.
ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ
Lafazh dzalika (ذَٰلِكَ) artinya : itu, namun diterjemahkan secara lebih lengkap menjadi : Hal yang demikian itu. Maksudnya bahwa orang-orang Yahudi disiksa dengan api yang membakar atau api yang berkobar-kobar di neraka ada sebabnya, yaitu tindakan mereka sendiri.
Kata bima (بِمَا) artinya : dengan apa. Kata qaddamat (قَدَّمَتْ) secara bahasa bisa punya banyak makna seperti memajukan, menyediakan, mempersembahkan. Namun yang lebih tepat dalam konteks ini adalah melakukan, sebab yang menjadi fa’ilnya adalah kata aydikum (أَيْدِيكُمْ) yang artinya kedua tanganmu.
Penyebutan kata aydikum (أَيْدِيكُمْ) maksudnya disebabkan perbuatan tangan kamu sendiri, untuk mengisyaratkan bahwa perbuatan tersebut mereka lakukan dengan sempurna dan atas kehendak mereka sendiri.
Tapi bukankah pada umumnya sebuah pekerjaan itu memang dilakukan dengan menggunakan tangan?
Jawabnya memang benar, tetapi kalau disebutkan kata ‘dikerjakan dengan kedua tangan’, maka secara makna mengisyaratkan keseriusan dan kesungguhan dalam mengerjakannya. Sebagaimana kita mengatakan melihat dengan kedua bola mata, akan terasa benar-benar melakukan penglihatan secara fakta.
Maksudnya bahwa semua siksa yang akan nantinya diterima oleh orang-orang Yahudi, sama sekali tidak ada yang merupakan karena kebencian Allah SWT, atau sentimen ataupun ketidak-sukaan dari Allah SWT. Siksaan Allah itu datangnya dari dosa dan kesalahan yang dilakukan kedua tangan orang-orang Yahudi sendiri.
وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Lafazh wa annallah (وَأَنَّ اللَّهَ) artinya : dan bahwa Allah. Makna kata laisa (لَيْسَ) adalah bukan. Kata zhallamin (ظَلَّامٍ) diartikan oleh Kemenag RI sebagai : yang menzilimi. Sedangkan Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : Penganiaya. Kata ini adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya zhalim (ظالم), sehingga bisa dimaknai sebagai pihak yang pekerjaannya memang selalu menganiaya.
Kata al-‘abid (الْعَبِيدِ) juga merupakan bentuk jama’ dari bentuk tunggalnya yaitu aabid (العابد), sehingga bisa dimaknai sebagai hamba-hamba atau para hamba.
Prof. Quraish Shihab mengatakan ada perbedaan antara kata ‘abiid (عَبِيد) dengan ‘ibaad (عِبَاد) meski sama-sama berbentuk jamak, yaitu bahwa hamba-hamba yang zalim dan banyak dosa disebut dengan ‘abiid (عَبِيد), sedangkan mereka yang baik dan shalih disebut dengan ‘ibaad (عِبَاد). Hal itu bisa kita baca dalam beberapa ayat berikut :
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. (QS. Al-Baqarah : 186)
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ
Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. (QS. Al-Maidah : 118)
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr : 29-30)
Maksud dari penggalan ini bahwa siksaan Allah kepada orang-orang Yahudi itu semata-mata karena keadilan yang ditegakkan atas semua dosa yang pernah mereka lakukan selama mereka hidup di dunia.
Pernyataan bahwa Allah bukan Penganiaya hamba-hamba, rupanya terkait juga dengan ayat sebelumnya, dimana Allah SWT menyebutkan bahwa selain mendengar perkataan mereka, juga mencatatnya. Maka ketika Allah SWT menjatuhkan hukuman kepada orang-orang Yahudi, bukan semata karena marah atau kesal, melainkan berdasarkan catatan amal-amal mereka yang tertulis dalam catatan para malaikat.