| ◀ | Jilid : 8 Juz : 4 | Ali Imran : 191 | ▶ |
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Kemenag RI 2019: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi: “Tuhan Pemelihara kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.
(Yaitu) orang-orang yang mengingati Allah sewaktu berdiri, duduk atau berbaring dan mereka pikirkan hal kejadian langit dan bumi, Tuhan kami! Tidaklah Engkau jadikan (semuanya) ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau! Maka peliharakanlah kiranya kami dari adzab neraka.
| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Ayat ke-191 ini jelas-jelas merupakan sambungan dari ayat ke-190 sebelumnya, karena disambung dengan kata : alladzina (الَّذِينَ) yang maknanya : yaitu orang-orang yang.
Namun begitu kita sambungkan, ternyata malah tidak tersambung, setidaknya justru tidak sesuai dengan ekspektasi kita. Menurut logika kita, seharusnya ayat ini menjelaskan kriteria atau batasan sekaligus pengertian siapa itu sosok Ulul-Albab. Namun faktanya justru tidak demikian, sebab isinya malah bercerita tentang orang yang shalat malam alias qiyamullail, lalu menangis ketika membaca ayat ke-190 sebelumnya. Dan sosok yang dimaksud tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.
Diriwayatkan bahwa Aisyah mendapati Nabi SAW di malam hari melakukan shalat malam sambil menangis hingga air mata bercucuran ke dadanya. Ketika Beliau SAW ruku’ menangis lagi. Ketika sujud menangis lagi, ketika bangun dari sujud menangis lagi. Maka Aisyah bertanya kenapa Nabi SAW menangis? Bukankah seorang nabi sudah pasti makshum tidak punya dosa? Maka Nabi SAW menjawab :
أفَلا أكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ولِمَ لا أفْعَلُ وقَدْ أنْزَلَ اللَّهُ تَعالى عَلَيَّ في هَذِهِ اللَّيْلَةِ ﴿إنَّ في خَلْقِ السَّماواتِ والأرْضِ﴾ إلى قَوْلِهِ سُبْحانَهُ: ﴿فَقِنا عَذابَ النّارِ﴾ ثُمَّ قالَ: ويْلٌ لِمَن قَرَأها ولَمْ يَتَفَكَّرْ فِيها
Tidak bolehkah Aku menjadi hamba yang bersyukur? Lagian bagaimana Aku tidak menangis, sementara Allah SWT telah menurunkan ayat inna fi khalqissamawati wal ardhi. Celakah orang yang membacanya dan tidak memikirkannya.
Dengan demikian, sejatinya yang dimaksud dengan Ulul Albab justru bukan sekedar memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT semata, tetapi justru terletak pada tindakan kongkritnya, yaitu melakukan ibadah di malam hari, baik dengan cara berdiri, duduk atau berbaring, lalu memikirkan semua fenomena di atas, kemudian berkesimpulan bahwa semua itu tidak diciptakan dengan batil.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ
Lafazh alladzina (الَّذِينَ) artinya : mereka adalah orang-orang yang. Kata yadzkurunallah (يَذْكُرُونَ اللَّهَ) artinya: mengingat Allah atau berdzikir kepada Allah.
Kata dzikir secara bahasa punya arti yang paling umum adalah mengingat atau melafazhkan dzikir di lisan. Walaupun kalau ditelusuri kita akan menemukan begitu banyak Al-Quran menggunakan kata dzikir dengan makna yang berbeda-beda.
Kadang bisa bermakna shalat, baik shalat lima waktu, shalat Jumat, atau pun shalat Ashar, seperti yang ada dalam tiga ayat berikut :
فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَمَا عَلَّمَكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah : 239)
Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum´at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. (QS. Al-Jumuah : 9)
فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّي حَتَّىٰ تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ
maka ia berkata: "Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan". (QS. Shad : 32)
Kadang makna dzikir adalah mengambil pelajaran, seperti yang ada pada ayat ini :
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat. (QS. Al-Araf : 165)
Kadang dzikir bisa juga bermakna penjelasan :
أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ
Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu (QS. Al-Araf : 63)
Kadang dzikir juga bisa bermakna mengabarkan
وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ
Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: "beri kabar tentang keadaanku kepada tuanmu". (QS. Yusuf : 42)
Kitab suci Al-Quran pun disebut dzikir, begitu juga kitab Taurat.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr : 9)
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS. An-Nahl : 43)
Namun nampaknya dzikir yang dimaksud dalam penggalan ayat ini adalah dzikir lisan yang didasari oleh kekaguman akan ciptaan Allah SWT.
قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
Lafazh qiyaman (قِيَامًا) artinya : dalam keadaan berdiri. Kata wa qu’udan (وَقُعُودًا) artinya : dalam keadaan duduk. Kata wa ‘ala junhubihim (وَعَلَىٰ ُنُوبِهِمْ) artinya : dalam keadaan berbaring. Sebenarnya kata junub itu bentuk jamak dari janbun (جنب) yang berarti lambung. Kalau dikatakan ‘di atas lambung’ maksudnya adalah berbaring dengan posisi di atas lambung, miring ke kiri.
Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai istilah dzikir dalam ayat ini. Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud adalah mengerjakan shalat malam alias tahajjud atau qiyamullail. Dasarnya adalah hadits yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu Nabi SAW shalat malam sambil menangis bercucuran air mata.
Selain itu juga ada hadits yang membolehkan shalat dengan tiga posisi, yaitu berdiri, duduk dan berbaring. Dan ini berlaku bagi yang punya halangan atau udzur syar’i. Nabi SAW bersabda :
صَلِّ قَائِمًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ
Shalatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu, maka duduklah. Jika tidak mampu duduk, maka berbaringlah miring ke salah satu sisi. (HR. Bukhari Muslim)
Namun pendapat yang lain mengatakan bahwa dzikir yang dimaksud bukan shalat malam, melainkan dzikir lisan yang dilakukan setelah shalat malam. Dasarnya adalah firman Allah SWT berikut ini :
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ
Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring.(QS. An-Nisa’ : 103)
Ayat ini membedakan antara perintah shalat dengan perintah berdzikir. Yang dilakukan pada saat berdiri, duduk atau berbaring bukan shalatnya, melainkan dzikirnya itu sendiri yang dikerjakan setelah menunaikan shalat.
Maka disebutkan bahwa dzikir bisa dilakukan sambil berdiri, duduk atau berbaring menunjukkan praktek dzikir yang tidak mengenal henti. Pesannya dalam kondisi apapun, dzkir lisan tetapi harus selalu membasahi lisan.
وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Lafazh wa yatafakkarun fi (وَيَتَفَكَّرُونَ فِي) artinya : dan memikirkan pada. Kata khalqi (خَلْقِ) artinya : penciptaan, dan bisa juga dimaknai lebih lengkap menjadi : proses penciptaan. Sebab kita tahu bahwa alam semesta terjadi lewat proses yang panjang milyaran tahun dan tidak tercipta dalam sekejap begitu saja.
Makna as-samawati (السَّمَاوَاتِ) adalah langit dalam bentuk jamak. Kalau dalam bentuk tunggal disebut as-sama’ (السماء). Kata wa al-alrdhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi. Yang disebutkan umumnya langit terlebih dahulu baru bumi. Ini menunjukkan bahwa langit jauh lebih luas dari pada bumi.
Penggalan ayat ini menceritakan bahwa ulul-albab itu adalah mereka yang memikirkan penciptaan langit dan bumi. Yang jadi pertanyaan, apakah Ulul-Albab itu sosok ilmuwan dan cendekiawan yang berhasil memecahkan misteri penciptaan langit dan bumi?
Kalau memang benar demikian, maka sebenarnya sosok Ulul Al-Bab itu sendiri tidak pernah ada, sebab sampai di masa modern hari ini, alam semesta tetap masih menjadi misteri buat kita, yang tidak terpecahkan, kecuali hanya secuil demi secuil. Proses penciptaan alam semesta masih belum semua terungkap, terlalu banyak misteri yang belum lagi bisa dijabarkan oleh para ahli. Apalagi di masa turunnya Al-Quran abad ketujuh masehi, tentu lebih tidak paham lagi.
Maka boleh jadi yang dimaksud dengan Ulul-Albab memang bukanlah sosok ilmuwan, bukan ahli astronomi ataupun ahli dalam bidang sains dengan cabang ilmu manapun. Boleh jadi sosok Ulul Albab justru terletak pada sisi bahwa dia mengagumi dan bertasbih ketika dia memikirkan proses terbentuknya alam semesta.
Perbandingan
Karena memahami proses penciptaan alam semesta begitu rumit, maka Penulis ingin mengajak para pembaca untuk ‘mengagumi’ saja dulu karya anak manusia di zaman modern ini dengan segala pencapaiannya.
Maksudnya bukan merendahkan ciptaan Allah, tetapi sekedar bisa mengagumi bahwa yang namanya karya cipta itu memang pantas untuk dikagumi, bahkan karya anak manusia yang lemah sekalipun.
Setiap hari kita melihat begitu banyak mobil berseliweran, kadang kita merasa jengah saking banyaknya dan bikin macet. Namun di balik proses penciptaan sebuah mobil, tersembunyi kisah luar biasa tentang perpaduan unik berbagai keahlian dan ilmu pengetahuan modern. Lahirnya sang kuda besi ini merupakan hasil kolaborasi para ahli dari berbagai bidang, mulai dari desainer, insinyur, ahli mesin, ahli elektronik, hingga programmer.
1. Perpaduan Seni dan Sains
Proses penciptaan mobil diawali dengan goresan pena para desainer. Mereka menuangkan imajinasi dan estetika ke dalam bentuk mobil yang ergonomis dan menawan. Di balik desain tersebut, tertanam perhitungan rumit para insinyur yang memastikan mobil kokoh, aman, dan sesuai dengan prinsip aerodinamika.
2. Jantung Mekanik yang Berdenyut
Di balik kap mesin, tersembunyi jantung mekanik yang bertenaga, yaitu mesin mobil. Para ahli mesin merancang dan menyusun komponen mesin dengan presisi tinggi, memastikan pembakaran bahan bakar yang efisien dan menghasilkan tenaga yang optimal. Sistem transmisi dan drivetrain pun turut berperan dalam meneruskan tenaga mesin ke roda, memungkinkan mobil melaju dengan mulus dan responsif.
3. Kelistrikan dan Kenyamanan
Sebuah mobil modern tak lengkap tanpa sentuhan teknologi. Para ahli elektronik merancang sistem kelistrikan yang kompleks, mengintegrasikan berbagai komponen seperti lampu, wiper, sistem audio, dan instrumentasi. Sistem penyejuk udara pun menjadi oase di tengah panasnya jalanan, memberikan kenyamanan bagi pengemudi dan penumpang.
4. Suspensi yang Menari di Atas Aspal
Sistem suspensi merupakan kunci utama dalam menghadirkan pengalaman berkendara yang nyaman dan aman. Para ahli merancang suspensi yang mampu meredam getaran dan guncangan dari jalanan, memastikan mobil stabil dan handling yang optimal. Sistem pengereman yang handal pun menjadi elemen penting dalam keselamatan, memungkinkan pengemudi untuk menghentikan mobil dengan cepat dan presisi.
5. Kemewahan dan Hiburan di Genggaman
Interior mobil modern tak hanya fungsional, tapi juga memanjakan penggunanya. Kursi ergonomis, material berkualitas tinggi, dan sistem pencahayaan yang apik memberikan nuansa mewah dan nyaman. Sistem audio yang canggih pun menghadirkan hiburan selama perjalanan, menemani pengemudi dan penumpang dengan alunan musik favorit.
6. Sentuhan Teknologi dan Inovasi
Di era modern, mobil tak hanya alat transportasi, tetapi juga platform untuk inovasi teknologi. Para programmer mengembangkan sistem navigasi pintar, sistem bantuan pengemudi (ADAS), dan fitur konektivitas yang memungkinkan mobil terhubung dengan internet dan smartphone. Inovasi ini terus dikembangkan untuk meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan kemudahan dalam berkendara.
7. Lebih dari Sekedar Alat Transportasi
Mobil merupakan hasil karya luar biasa yang memadukan berbagai disiplin ilmu dan teknologi. Setiap komponennya dirancang dengan cermat dan teliti, demi menghadirkan pengalaman berkendara yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Di balik kemudi, kita tak hanya mengendalikan mesin, tetapi juga menikmati perpaduan unik keahlian dan ilmu pengetahuan modern yang terwujud dalam sebuah karya seni teknologi yang fenomenal.
8. Menuju Era Mobil Cerdas
Mobil masa depan tak hanya dikendalikan oleh manusia, tetapi juga dibantu oleh kecerdasan buatan (AI). Sistem autonomous driving memungkinkan mobil untuk bergerak secara mandiri, mengikuti rute yang ditentukan dan bereaksi terhadap kondisi jalanan dengan cerdas. Teknologi ini berpotensi meningkatkan keselamatan dan efisiensi dalam berkendara, sekaligus membuka peluang baru dalam mobilitas manusia.
9. Keamanan yang Semakin Terdepan
Teknologi ADAS (Advanced Driver Assistance System) terus dikembangkan untuk meningkatkan keselamatan berkendara. Fitur-fitur seperti lane departure warning, blind spot detection, dan adaptive cruise control membantu pengemudi untuk tetap fokus dan terhindar dari kecelakaan.
Mobil masa depan juga akan dilengkapi dengan sistem pre-collision warning yang canggih, yang dapat mendeteksi potensi bahaya dan secara otomatis melakukan pengereman darurat.
10. Kendaraan Ramah Lingkungan
Kesadaran akan kelestarian lingkungan mendorong inovasi dalam pengembangan mobil ramah lingkungan. Mobil hybrid dan elektrik menjadi pilihan yang semakin populer, menawarkan emisi gas buang yang lebih rendah dan berkontribusi pada pengurangan polusi udara. Teknologi baterai pun terus dikembangkan untuk meningkatkan jangkauan dan performa mobil listrik, menjadikannya solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk masa depan.
11. Menuju Masa Depan yang Lebih Nyaman
Tak hanya cerdas dan ramah lingkungan, mobil masa depan juga akan semakin nyaman bagi penggunanya. Material interior yang lebih ramah lingkungan dan ergonomis, sistem pencahayaan yang adaptif, dan fitur hiburan yang terintegrasi akan semakin memanjakan pengemudi dan penumpang.
Konektivitas internet yang stabil dan teknologi car-to-car communication memungkinkan mobil untuk terhubung dengan infrastruktur dan kendaraan lain, meningkatkan keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas.
Perjalanan penciptaan mobil adalah kisah yang terus berkembang. Dari kuda besi yang sederhana hingga mobil cerdas dan ramah lingkungan di masa depan, mobil selalu mencerminkan kemajuan teknologi dan peradaban manusia. Kemampuan manusia untuk berinovasi dan berkolaborasi memungkinkan kita untuk terus menciptakan mobil yang lebih aman, nyaman, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap teknologi canggih, terdapat kerja keras dan dedikasi para ilmuwan, insinyur, dan desainer yang tak terhingga. Mari kita hargai karya mereka dan terus mendukung perkembangan teknologi otomotif untuk masa depan yang lebih baik.
Mobil vs Alam Semesta
Setelah kita bisa mengagumi bagaimana proses produksi sebuah unit mobil yang hanya karya anak manusia, maka mari kita kembali lagi menenungkan bagaimana Allah SWT berkarya menciptakan alam semesta. Tentu kita akan lebih kagum lagi, karena alam semesta ini adalah karya yang sangat inovatif dan sumber yang sangat inspiratif untuk bisa kita ambil dan kita tiru demi terciptanya karya kita sebagai umat manusia.
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا
Lafazh rabbana (رَبَّنَا) artinya : Ya Tuhan kami. Ini adalah bagian dari adab dalam berdoa, yaitu menyapa Allah dengan panggilan ya Tuhan. Kata maa khalaqta (مَا خَلَقْتَ) artinya : Engkau tidak menciptakan. Yang menjadi objek atau maf’ul-bihi adalah kata hadza (هَٰذَا) yang merupakan kata tunjuk yang bermakna : ini. Namun yang dimaksud tidak lain adalah semua makhluk ciptaan Allah di alam semesta, termasuk langit dan bumi.
Kata batilan (بَاطِلًا) dalam posisi kalimat menjadi maf’ul tsani atau objek kedua. Secara lengkap penggalan ini diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia”.
Yang mengucapkan lafazh ini menurut para ahli tafsir adalah ulil albab yang sudah dibicarakan sebelumnya.
Penggalan ayat ini punya kesamaan dengan penggalan di ayat lain dan disebutkan bahwa yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dengan batil adalah orang-orang kafir.
وما خَلَقْنا السَّماءَ والأرْضَ وما بَيْنَهُما باطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. Shaad : 27)
Di ayat lain juga ada ungkapan yang senada, tetapi tidak menggunakan istilah batil, melainkan istilah : main-main alias la’ibin (لاعِبِينَ) :
وما خَلَقْنا السَّماواتِ والأرْضَ وما بَيْنَهُما لاعِبِينَ
Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. (QS. Ad-Dukhan : 38-39)
Dan di ayat lainnya lagi digunakan istilah abatsa (عَبَثًا) yang juga diterjemahkan dengan : main-main.
أفَحَسِبْتُمْ أنَّما خَلَقْناكم عَبَثًا
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (QS. Al-Mu’minun : 115)
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan batil adalah sia-sia tanpa kepentingan dan tanpa manfaat. Sedangkan lafazh yang harus diucapkan sesuai dengan perintah di di ayat ini justru sebaliknya, bahwa semua diciptakan tidak dengan batil.
Benarkah Alam Ini Diciptakan Dengan Sia-sia?
Melihat luasnya alam semesta dengan miliaran planet, dan kemungkinan besar miliaran galaksi, namun hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan keberadaan kehidupan cerdas di luar planet kita. Lalu benarkah berarti alam semesta tercipta sia-sia, karena tidak ada manfaatnya buat kehidupan umat manusia?
Apalagi kalau kita bicara menurut skala waktu. Usia alam semesta sangatlah panjang, yaitu sekitar 13,8 miliar tahun. Sedangkan peradaban umat manusia tergolong sangat muda dibandingkan dengan usia alam semesta.
Secara ilmiah, diperkirakan kehidupan manusia modern yaitu Homo Sapiens mulai ada di Bumi sekitar 300.000 tahun yang lalu berdasarkan penemuan fosil dan bukti arkeologi. Beberapa bukti lain menunjukkan kemungkinan adanya spesies manusia purba seperti Homo Erectus yang hidup di Bumi lebih awal, sekitar 2 juta tahun yang lalu.
Anggaplah analisa itu benar, tetapi mari kita bandingkan dengan usia bumi kita. Bumi diperkirakan sudah berusia sekitar 4,54 miliar tahun. Usia ini dihitung dengan berbagai metode, seperti penanggalan radiometrik dan analisis meteorit. Sedangkan alam semesta diperkirakan berusia sekitar 13,79 miliar tahun. Usia ini dihitung berdasarkan pengamatan pergeseran merah galaksi dan radiasi latar belakang kosmik.
Maka era ketika alam semesta belum lagi dihuni manusia, apakah bisa dikatakan sia-sia?
Makna Kata : Batilan
Penulis tentu tidak mengatakan bahwa alam semesta tercipta dengan sia-sia, khususnya buat umat manusia. Penulis justru lebih tertarik untuk memahami lebih dalam istilah batilan (باطلا) itu sendiri.
Menurut hemat Penulis maknanya bukan kesia-siaan atau tidak ada manfaatnya buat manusia. Maka penggalana ayat : ma khalaqta hadza bathila (مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا) adalah : “Engkau tidak menciptakan semua ini secara kebetulan”. Semua ini diciptakan dengan konsep yang teramat matang.
Penulis membandingkan perumpamanan terciptanya alam semesta ini seperti umpama karya sinematografi dalam produksi film. Filmnya film seri yang terdiri dari begitu banyak season dan banyak episode. Satu episode terdiri dari 60 menit.
Namun di balik dari apa yang kita tonton, setiap detiknya merupakan proses pengambilan gambar yang memakan waktu lama dan panjang, melibatkan ratusan pemain dan kru di lapangan. Memang tidak semua potongan film akan terpakai, karena boleh jadi terkena potong editor.
Terkadang untuk satu adegan singkat yang berdurasi hanya beberapa detik di layar, kalau kita melihat proses produksinya, boleh jadi didapat dengan cara yang sulitnya setengah mati, harus berkali-kali take ulang, ditambah lagi proses editing, kemudian ditambah dengan insert audio ilustrasi dan lain-lainnya. Prosesnya bisa berhari-hari untuk mendapatkan beberapa detik adegan.
Maka ketika hasilnya kita tonton dengan sangat singkat, buat yang tidak tahu proses produksinya mungkin biasa-biasa saja. Tetapi tidak bagi pemain dan kru yang telah berjuang untuk mendapatkan scene atau adegan itu. Semua didapat dengan perjuangan, kerja keras dan kesungguhan. Maka tidak ada yang sia-sia dari setiap detik durasi pemutaran film. Semua adalah hasil akhir yang dianggap paling representatif dan layak untuk ditayangkan.
Tidak ada yang batil alias tidak ada yang kebetulan atau tercipta dengan sendirinya. Tetapi semua itu dikerjakan, diproduksi dan tidak ujung-ujung ada film nongol begitu saja.
Semua part pekerjaan dikerjakan sesuai dengan design, skenario dan naskah yang sudah digarap secara matang, lalu dikerjakan dengan kekompakan team produksi yang merupakan orang-orang profesional.
Dengan perbandingan seperti itu, ketika kita memandang alam semesta yang luas, ibaratnya kita sedang menonton pasca produksi sebuah film buah karya team kerja para malaikat. Semuanya tercipta by desaign dan bukan tercipta secara random atau kebetulan.
سُبْحَانَكَ
Lafazh subhanaka (سُبْحَانَكَ) artinya Maha Suci Engkau. Maksudnya bahwa Engkau yaitu Allah SWT menciptakan langit dan bumi dengan kokoh dan kuat, dan Engkau tetap terjaga dari membutuhkannya dan mengambil manfaat darinya.
Namun tentang hakikat di balik tasbih ini, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan itu adalah ungkapan kekaguman, yang lain mengatakan itu larangan untuk menyembah benda di alam semesta, yang lain lagi mengatakan itu adalah ungkapan ketidakmampuan. Dan ada juga yang mengatakan itu adalah perintah bertasbih secara umum
1. Ungkapan Kekaguman
Berpikir tentang penciptaan langit dan bumi tentu saja buat orang-orang yang pemikirannya logis akan menimbulkan kekaguman. Jangankan sampai kepada bagaimana proses penciptaannya, baru sekedar memandang bintang gemintang di malam hari, kita pun langsung merasa kagum dan terkesima. Pemandangan langit malam dengan berbagai macam fenomena penampakannya adalah sesuatu yang akan segera membuat kita percaya bahwa di balik ini semua pasti ada Sang Maha Pencipta.
Langit malam, dengan hamparan luasnya yang dihiasi milyaran bintang, bagaikan jendela yang menuntun kita pada keagungan Allah SWT. Memandanginya membangkitkan rasa takjub dan kagum, sekaligus menjadi pengingat akan kekuasaan dan ciptaan-Nya yang tiada duanya.
Setelah kita mengagumi ciptaan-Nya berupa alam semesta yang masih hasil karya cipta Allah SWT, maka penggalan ayat ini mengisyaratkan agar kita bertasbih. Dan tasbih ini juga berlaku manakala ketika kagum atas kesempurnaan makhluk penciptaan-Nya.
2. Larangan Menyembah Selain Allah
Ada juga yang mengatakan disebutkannya lafazh tasbih di ayat ini sebagai arahan dan petunjuk agar jangan sampai kekaguman kita kepada alam semesta malah menjerumuskan kita kepada kesesatan dan syirik menyembah yang lain Allah.
Pesannya bahwa kita boleh kagum melihat alam semesta, maka yang harus kita lakukan adalah mengagumi Sang Penciptanya. Jangan malah sebaliknya, kagum kepada matahari, bulan dan bintang, lantas malah menyembahnya. Itu adalah kesesatan, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Quran :
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah. (QS. Fushshilat : 37)
3. Ungkapan Ketidakmampuan
Ada sebagian ulama yang menafsirkan ungkapan tasbih bukan sekedar dzikir di lisan, melainkan adalah ekspresi dari ketidakmampuan dalam memikirkan bagaimana proses terbentuknya amal semesta.
Dan penciptaan alam semesta memang sangat rumit untuk bisa dipahami. Jangankan oleh manusia di abad ketujuh saat ayat Al-Quran ini diturunkan, bahkan oleh manusia modern dengan kemajuan sains hari ini, alam semesta lebih banyak tampil sebagai sumber misteri dan rahasia ketimbang yang telah bisa kita petakan.
Sekitar 85% materi di alam semesta terdiri dari materi gelap dan energi gelap yang masih belum kita pahami. Kita tidak tahu apa itu, bagaimana mereka bekerja, atau dari mana mereka berasal. Kita juga masih belum tahu bagaimana alam semesta terbentuk atau apa yang ada sebelum Big Bang. Pertanyaan tentang asal usul waktu dan ruang masih menjadi misteri.
Meskipun kita telah menemukan miliaran planet di luar tata surya, kita belum menemukan bukti definitif tentang kehidupan di luar Bumi. Pertanyaan tentang apakah ada planet lain yang dapat mendukung kehidupan dan apakah kita sendirian di alam semesta masih belum terjawab.
Beberapa teori fisika memprediksi adanya dimensi tambahan di luar ruang tiga dimensi dan waktu satu dimensi yang kita rasakan. Kita belum memiliki bukti untuk mengkonfirmasi keberadaan dimensi tambahan ini, tetapi mereka menawarkan kemungkinan baru untuk memahami alam semesta.
Misteri yang sudah terpetakan mewakili sebagian kecil dari apa yang kita ketahui tentang alam semesta. Kita telah membuat kemajuan besar dalam memahami alam semesta, tetapi masih banyak yang belum kita ketahui.
4. Perintah Secara Umum
Sebagian lagi ada yang berpendapat bahwa lafazh tasbih di ayat ini sama saja dengan yang ada di banyak ayat lain, yaitu kita memang diperintahkan banyak berdzikir dan bertasbih. Lafahz ini adalah bagian dari dzikir, yaitu bertasbih dimana kita mensucikan Allah.
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Lafazh faqina (فَقِنَا) terdiri dari tiga unsur.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim : 6).
Kata ini kemudian diterjemahkan secara berbeda. Kemenag RI menerjemahkannya menjadi lindungilah kami. Sedangkan Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : peliharalah atau peliharakanlah.
Lafazh adzabannar (فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) artinya : siksa neraka. Makna an-nnar (النَّار) sendiri ada dua, yaitu api atau neraka. Tetapi tidak jadi masalah, karena intinya keduanya adalah bentuk adzab dari Allah yang diancamkan kepada orang-orang yang kafir dan mereka yang berdosa karena menentang perintah Allah SWT, namun siksa api neraka ini waktunya nanti setelah kiamat yaitu di akhirat.
Penggalan yang merupakan doa atau permintaan agar dihindarkan dari siksa neraka merupakan ujung akhir dari semua permintaan seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu agar tidak masuk neraka. Permintaan yang paling utama memang terletak di bagian belakang dari urut-urutan permintaan.
Bahkan tasbih itu sendiri masih merupakan dzikir, begitu juga kekaguman kita kepada alam semesta, belum lagi menjadi doa. Sedangkan minta agar dihindarkan dari siksa neraka adalah doa yang menjadi inti utama pembicaraan.
Penggalan ayat ini mengajarkan secara tidak langsung kepada kita bahwa sebelum berdoa dan memanjatkan permintaan, kita harus beribadah terlebih dahulu. Setidaknya dengan berdzikir dengan berbagai macam versi.