Kemenag RI 2019:(Allah akan menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jika kamu orang-orang mukmin. Prof. Quraish Shihab:
serta Rasul kepada Bani Isra'il (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepada kamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjiZllt) dari Tuhan kamu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah (sesuatu yang) berbentuk seperti burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; serta aku beritahukan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagi kamu jika kamu orang-orang mukmin. "
Prof. HAMKA:
Dan rasul kepada Bani lsrail, "Sesungguhnya, aku telah datang kepada kamu dengan ayat dari Tuhan kamu. Sesungguhnya, aku dapat membuat untuk kamu dari tanah seperti bentuk burung, lalu aku embuskan padanya maka jadilah dia burung dengan izin Allah. Dan, aku dapat menyembuhkan orang buta dan orang disupak {balak) dan menghidupkan orang yang telah mati dengan izin Allah. Dan, aku dapat menceritakan kepada kamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di dalam rumah-rumah kamu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah satu tanda bagimu, jika memang kamu beriman."
Ayat ke-49 ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari ayat sebelumnya, karena kalau ditilik dari kalimatnya, seolah-olah keduanya ini masih berada dalam satu kalimat yang satu.
Di ayat sebelumnya Allah SWT menyebutkan empat karunia yang dianugerahkan kepada Nabi Isa, yaitu diberi pelajaran menulis, hikmah, Taurat, dan Injil. Dan di ayat ini Allah sebutkan anugerah berikutnya yaitu dijadikan utusan Allah SWT kepada Bani Israil.
وَرَسُولًا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ
Lafazh wa-rasulan (وَرَسُولًا) di permulaan ayat ini diyakini oleh Ath-Thabari punya kata yang mahdzuf alias ditiadakan dan taqdirnya adalah wa-naj’aluhu (ونجعله) bermakna : Kami jadikan Dia. Maka dalam terjemahan Kemenag ditambahkan dalam kurung pada terjemahanya : (Allah menjadikannya).
Lafazh rasulan (رَسُولًا) dimaknai sebagai sebagai utusan Allah SWT yang membawa ajaran dan risalah samawi. Para ulama membedakan antara nabi dan rasul dengan mengatakan bahwa rasul itu nabi yang derajatnya lebih tinggi.
Penggalan ilaa bani israila (إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ) artinya : kepada Bani Israil. Al-Alusi menyebutkan bahwa ungkapan ini untuk menolak tudingan yang dilontarkan oleh orang-orang Yahudi bahwa Nabi Isa hanya diutus untuk satu kelompok kecil dari sekian banyak kelompok Bani Israil.
Bani Israil yang dimaksud tentu saja mereka yang hidup di masa kenabian Isa alaihissalam.
Kalau disebutkan bahwa Nabi Isa diutus kepada Bani Israil, maka logikanya Nabi Isa sendiri pastilah termasuk dari kalangan Bani Israil juga. Dan penggalan ayat ini semakin meneguhkan kesimpulan bahwa salah satu bukti bahwa Allah SWT telah melebihkan Bani Israil dari semua kaum di dunia ini adalah dengan begitu banyaknya nabi dan rasul yang diangkat dari Bani Israil.
Uniknya, di dalam Al-Quran ada dua ayat yang kembar yang sama-sama menyebutkan bahwa Allah SWT melebihkan Bani Israil dari bangsa lain. Pertama di surat Al-Baqarah ayat 47 dan yang kedua di surat Al-Baqarah juga tapi di ayat 122. Teks ayatnya kembar dan sama persis, yaitu :
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al-Baqarah : 47 dan 122)
Yang juga cukup menarik untuk dibahas terkait Bani Israil adalah keberadaan dan eksistensinya yang punya rentang waktu cukup lama, jika dibandingkan dengan kaum-kaum yang lain.
Asal muasal mereka yang disebut Bani Israil adalah 12 anak Nabi Ya’qub alaihissalam. Israil adalah nama lain dari Nabi Ya’qub. Maka kata Bani Israil artinya anak-anak Nabi Ya’qub.
Dari 12 anak itu salah satunya adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Kalau mengacu dari masa hidup Nabi Yusuf, ada asumsi kasar diperkirakan hidupnya antara tahun 1.600 hingga 1.500 tahum sebelum Masehi. Sedangkan kalau kita hitung dari zaman Nabi Musa, diperkirakan Nabi Musa hidup di sekitaran tahun 1.300 sebelum masehi. Dan bila kita mengacu kepada masa hidup Nabi Daud alaihissalam, diperkirakan hidupnya antara tahun 1.000 sebelum masehi.
Kesimpulannya betapa sangat tuanya usia Bani Israil ini, lebih dari seribu tahun masih eksis dan tetap ada hingga bertemu dengan zaman kenabian Isa alahissalam.
Sebenarnya bukan hanya sampai disitu, bahkan 600-an tahun kemudian, Bani Israil masih eksis dan mereka pun bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir. Al-Quran yang turun di masa kenabian Muhammad SAW, banyak sekali menyapa orang-orang dari Bani Israil ini. Maka usia Bani Israil sampai di masa Nabi Muhammad sudah lebih dari 2000 tahun.
Dan uniknya, sampai hari ini kita pun masih mengakui keberadaan Bani Israil, setidaknya lewat eksistensi bangsa Yahudi di dunia. Perkiraan jumlah etnik Yahudi di seluruh dunia dewasa ini bervariasi tergantung pada sumber data yang digunakan.
Menurut perkiraan yang paling umum, jumlah Yahudi di seluruh dunia saat ini berkisar antara 14 hingga 15 juta orang.
Namun, ini adalah perkiraan kasar dan angka pastinya mungkin berbeda tergantung pada sumber data dan metode penghitungan yang digunakan.
أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ
Lafazh anni qad ji’tukum (أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ) artinya : bahwa Aku yaitu Nabi Isa telah datang kepadamu, yaitu Bani Israil.
Al-Alusi menuliskan perbedaan pendapat di antara para ulama terkait usia Nabi Isa ketika diangkat menjadi utusan Allah. Ada yang mengatakan bahwa di usia yang masih belia sekali, yaitu tiga tahun. Namun yang paling masyhur adalah usia 30 tahun, namun baru berlangsung 3 tahun, Nabi Isa sudah diangkat ke sisi Allah. Sehingga masa kenabiannya sangat singkat, boleh jadi yang paling singkat di antara semua nabi yang pernah ada.
Diangkatnya seseorang menjadi nabi pada usia tertentu umumnya ditandai dengan turunnya wahyu yang dibawa oleh Malaikat Jibril alaihissalam kepadanya.
Namun begitu, Al-Quran seringkali membahasakannya dengan mengutus atau mendatangi. Padahal istilah mengutus itu kalau mengacu kepada makna harfiyahnya, si orang utusan itu berada bersama yang mengutus, kemudian diperintahkan untuk pergi meninggalkannya menuju ke satu titik untuk menjadi utusan dari pengutusnya.
Padahal para nabi utusan Allah SWT itu tidak berada di langit bersama Allah. Mereka tetap ada di bumi bersama kaumnya. Lalu yang diutus dari langit sebenarnya adalah Malaikat Jibril alaihissalam. Maka turun lah Jibril dari atas langit ke permukaan planet bumi dengan membawa serta kitab suci berupa firman dan kalamullah.
Adapun para nabi utusan Allah, mereka sebenarnya hanya diam saja di bumi, untuk menerima wahyu dari langit dan bertemu dengan Jibril yang turun.
Maka kalau dibahasakan bahwa para nabi itu merupakan utusan Allah, sebenarnya secara teknis mereka itu tidak turun dari langit dan juga tidak datang kepada suatu kaum. Namun memang begitulah gaya bahasa Al-Quran dalam mengungkapkan segala sesuatu, penuh dengan gaya bahasa yang unik.
ِآيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
Lafazh biayatin (بِآيَةٍ) artinya : dengan membawa tanda, sedangkan makna min rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) adalah : dari Tuhanmu.
Sudah sering kali kita bahas bahwa makna kata ‘ayat’ memang banyak sekali. Bisa bermakna ayat Al-Quran dalam arti kalimat, namun bisa juga bermakna tanda.
Dalam hal ini tanda yang dimaksud adalah kejadian-kejadian yang luar biasa dan tidak masuk akal alias ajaib. Kejadiannya tentu atas izin dan kehendak Allah, disebut dengan mukizat yang maknanya secara harfiyah adalah sesuatu yang melemahkan hujjah orang-orang yang mengingkarinya.
Sebenarnya kalau disebut mukjizat, maka yang terjadi pada Nabi Isa alaihissalam bukan hanya satu, tetapi cukup banyak jumlahnya. Namun yang diuraikan dalam ayat ini hanya sebagiannya saja yaitu antara lain : [1] menjadikan tanah liat bernyawa menjadi burung, [2] menyembuhkan orang sakit, [3] menghidupkan orang mati. [4] dan mengetahui apa yang dimakan dan disimpan oleh masing-masing keluarga.
Penggalan anni akhluqu (أَنِّي أَخْلُقُ) secara makna harfiyah berarti : bahwa Aku menciptakan. Namun yang dimaksud bukan mencipta sesuatu dari tidak ada menjadi ada, sebagaimana Allah SWT ketika mencipta. Tetapi yang dimaksud adalah membentuk tanah liat menjadi berbentuk seperti burung alias tiruan burung.
Lafazh min-aththin (مِنَ الطِّينِ) dari tanah liat. Sedangkan makna ka haiati (كَهَيْئَةِ) artinya : seperti bentuk atau rupa, dan makna ath-thair (الطَّيْرِ) adalah burung.
Ada sebagian mufassir yang memaknai istilah ka-haiatith-thair (كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ) sebagai bentuk yang seperti burung, namun bukan burung tetapi kelelawar atau dalam bahasa Arab disebut al-khufasy (الخفاش). Memang antara burung dan kelelawar ada persamaan, yaitu sama-sama bisa terbang. Tetapi ada begitu banyak perbedaannya.
Kelelawar memiliki payudara, gigi, telinga, mengalami menstruasi dan bersuci. Uniknya kelelawar bisa terbang padahal tidak punya bulu-bulu pada sayap. Kelelawar itu berkembang biak dengan melahirkan anak, karena kelelawar termasuk hewan mamalia, maka dia tidak bertelur seperti halnya burung.
Keunikan kelelawar adalah dari segi penglihatannya, yang tidak dapat melihat di siang hari atau malam hari, melainkan hanya dapat melihat selama dua jam: setelah matahari terbenam selama satu jam, dan setelah fajar terbit selama satu jam. Namun dengan daya penglihatan yang lemah seperti itu, kelelawar tetap bisa terbang dengan benar, bahkan bisa menukik untuk menyambar mangsanya.
Ternyata cara kerjanya memang unik, yaitu kelelawar bukan melihat tetapi mendengar. Kelelawar menggunakan mekanisme yang disebut echolocation atau sonar biologis. Mereka menghasilkan serangkaian suara ultrasonik yang tidak terdengar oleh telinga manusia dan kemudian mendeteksi pantulan suara tersebut dari objek di sekitarnya. Berdasarkan pola dan waktu pantulan suara ini, kelelawar dapat membangun gambaran detail tentang lingkungannya, termasuk lokasi, ukuran, kecepatan, dan arah gerakan objek, seperti mangsa mereka.
Dengan echolocation dimungkinkan bagi kelelawar untuk mengukur jarak dengan akurat dan menyesuaikan arah terbang mereka secara real-time untuk menangkap mangsa. Mereka dapat mengidentifikasi mangsa yang kecil dan cepat bergerak, bahkan dalam kondisi gelap total, dengan presisi yang sangat tinggi. Kemampuan ini membuat mereka menjadi predator yang sangat efisien dalam menangkap serangga yang terbang di malam hari.
Selain itu, struktur sayap dan kemampuan manuver yang luar biasa juga membantu kelelawar dalam terbang yang akurat. Sayap mereka dirancang untuk memberikan daya angkat yang cukup dan kontrol yang presisi saat terbang, sehingga mereka dapat dengan mudah berubah arah dan melakukan manuver yang diperlukan untuk mengejar mangsa mereka.
Dengan kombinasi echolocation yang canggih, kemampuan terbang yang luar biasa, dan kecerdasan alami mereka, kelelawar dapat menjadi predator yang sangat sukses bahkan di dalam kondisi lingkungan yang paling menantang sekalipun.
Lafazh fa-anfukhu fihi (فَأَنْفُخُ فِيهِ) artinya : lalu aku tiupkan di dalamnya. Sedangkan makna fa yakunu thairan (فَيَكُونُ طَيْرًا) maka jadilah burung, kemudian mana bi-iznillah (بِإِذْنِ اللَّهِ) dengan izin dari Allah.
Diriwayatkan bahwa ketika Isa alaihissalam menyatakan dirinya seorang nabi dan menampakkan mukjizatnya, Bani Israil meminta kepadanya untuk membuat kelelawar. Maka ia mengambil tanah, lalu membentuknya sebagai seekor kelelawar dan ditiupnya. Maka terbanglah kelelawar itu di angkasa.
Kelelawar itu terbang selama orang itu masih dapat melihatnya, dan ketika sudah tidak tampak lagi oleh mata mereka, kelelawar itu jatuh ke bumi dan mati.
Telah menjadi sunatullah pula, bahwa mukjizat para nabi berupa sesuatu yang sangat terkenal pada zamannya. Umpamanya kepada Musa, diberikan tongkat yang dapat · menjadi ular dan menelan semua ular-ular ahli sihir. Orang Mesir pada waktu itu terkenal sekali keahlian mereka dalam ilmu sihir.
Kepada Nabi Isa alaihissalam Allah memberi mukjizat dari jenis ketabiban yang melebihi kesanggupan para tabib zaman itu, padahal mereka sudah mempunyai keahlian yang tinggi. Demikian pula kepada Nabi Muhammad saw, diberi mukjizat yaitu Al-Qur'an, karena yang dibangga-banggakan mereka pada masa itu ialah kesusasteraan.
وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ
Lafazh ubri’u (أُبْرِئُ) dimaknai menjadi : Aku menyembuhkan. Padahal yang biasanya kita kenal, menyembuhkan itu adalah yasyfi (يشفي) seperti yang ada di dalam ayat berikut :
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. Asy-Syuara’ : 80)
Sedangkan kata ubri’u (أُبْرِئُ) pada dasarnya bermakna membebaskan. Sebagaimana di dalam ayat lain disebutkan :
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي
Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan). (QS. Yusuf : 53)
Tentang penyembuhan beberapa penyakit maka di dalam kalangan Kristen lantaran ini, timbul ilmu pengobatan yang mereka namai "Christian Science" yang dengan kekuatan ruhani dapat menyembuhkan penyakit.
Lafazh al-akmaha (الْأَكْمَهَ) diterjemahkan menjadi : buta. Ini juga menimbulkan pertanyaan, sebab di dalam Al-Quran ada istilah buta juga, tetapi menggunakan istilah : a’ma (أعمى). Misalnya yang terdapat di ayat berikut :
وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ
Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat. (QS. Fathir : 19)
Lalu apa perbedaan antara keduanya?
Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan Ath-Thabari bahwa menurut kebanyakan ahli bahasa Arab bahwa al-akmah adalah orang yang buta sejak lahir. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa al-akmah adalah orang yang matanya tertutup dan tidak punya kornea mata. Maka dalam terjemahan Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab, al-akmah ini diterjemahkan menjadi : buta sejak lahir.
Lafazh al-abrash (الْأَبْرَصَ) diterjemahkan pleh Kemenag RI menjadi penyakit buras atau belang. Sedangkan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : sopak. Dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi orang yang disupak (balak).
Versi lain menyebutkan bahwa abrash (أبرص) adalah penyakit lepra. Lepra adalah penyakit menular kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, dan mukosa saluran pernapasan atas.
Penyebab utama penularan lepra adalah kontak langsung dan berlangsung lama dengan orang yang terinfeksi, tetapi mode penularan pastinya belum sepenuhnya dipahami. Faktor-faktor lingkungan, genetik, dan kekebalan individu juga berperan dalam risiko seseorang terinfeksi lepra.
Gejala lepra bisa bervariasi dari ringan hingga parah, termasuk bercak kulit yang kehilangan sensasi, luka tidak sembuh, kerusakan saraf yang dapat menyebabkan hilangnya sensasi atau kelemahan otot, dan deformitas.
Sejarah mencatat bahwa lepra pernah menjadi penyakit yang cukup mewabah di beberapa wilayah, terutama di masa lalu ketika pengetahuan medis dan pengobatan belum terlalu maju.
Namun, berkat pengetahuan medis yang meningkat dan program-program pencegahan yang efektif, insiden lepra telah menurun secara signifikan di banyak negara, dan penyakit ini sekarang dapat dikelola dengan baik jika didiagnosis dan diobati dengan cepat.
Pengobatan lepra di masa modern ini melibatkan antibiotik, seperti dapsone, rifampisin, dan klaritromisin, dalam rejimen yang disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit dan respons individu terhadap pengobatan. Terapi juga sering memerlukan penggunaan kombinasi antibiotik untuk mencegah resistensi bakteri.
Meskipun demikian, lepra masih merupakan masalah kesehatan di beberapa daerah yang miskin dan kurang berkembang di dunia.
وَأُحْيِي الْمَوْتَىٰ بِإِذْنِ اللَّه
Lafazh uhyi (أُحْيِي) artinya : Aku menghidupkan, sedangkan makna al-mauta (الْمَوْتَىٰ) adalah : orang mati. Dan makna bi-idznillah (بِإِذْنِ اللَّهِ) artinya : dengan izin Allah.
Al-Qurtubi menuliskan bahwa ada empat orang dihidupkan kembali oleh Nabi Isa alaihissalam, yaitu Al-Azir seorang temannya, putra seorang tua, putri seorang 'Ashir, dan Sam bin Nuh.
Pertama : Al-Azir telah meninggal beberapa hari sebelumnya. Lalu Nabi Isa alaihissalam berdoa kepada Allah, lalu dia bangkit dengan izin Allah, dan air liurnya masih menetes ketika dia hidup kembali, dan dia hidup dan memiliki anak.
Kedua : putra dari seorang orang tua, dia sedang dibawa ke pemakaman, lalu dia berdoa kepada Allah, dan dia bangkit dan memakai pakaiannya, dan dia membawa ranjang di atas lehernya dan kembali kepada keluarganya.
Ketiga : adapun putri 'Ashir, Isa datang kepada dirinya pada suatu malam, lalu dia berdoa kepada Allah, dan setelah itu dia hidup kembali dan memiliki anak. Ketika mereka melihat ini, mereka berkata, "Kamu menghidupkan orang yang kematian nya dekat, mungkin mereka belum benar-benar mati, tetapi mereka mengalami sesuatu yang membuat mereka seolah-olah mati,
Keempat : Sam bin Nuh mendapat serangan dan kemudian Isa menghidupkannya untuk kami." Isa berkata kepada mereka, "Bawa aku ke kuburnya." Maka ia keluar, dan orang-orang juga ikut bersamanya sampai mereka mencapai kuburnya, lalu ia berdoa kepada Allah, dan dia keluar dari kuburnya dengan rambutnya yang telah memutih.
Isa berkata kepadanya, "Bagaimana rambutmu memutih sedangkan di zamanku tidak ada yang memiliki rambut putih?" Dia menjawab, "Wahai Roh Allah, kamu memanggilku, lalu aku mendengar suara yang mengatakan, 'Jawablah panggilan Roh Allah.'
Maka saya mengira bahwa hari kiamat telah tiba, dan karena ketakutanku itu rambutku berubah putih." Dia juga ditanya tentang kesulitannya, dan dia berkata, "Wahai Roh Allah, rasa sakit dari penyakit terus berlanjut di tenggorokanku, dan itu sudah ada sejak waktu kematiannya lebih dari empat ribu tahun."
Maka dia berkata kepada orang-orang, "Percayalah padanya, karena dia adalah seorang nabi," dan sebagian dari mereka mempercayainya, dan sebagian dari mereka menolaknya, dan mereka berkata, "Ini adalah sihir."
Hal ini dikuatkan oleh keterangan dalam kitab-kitab pegangan orang Nasrani sendiri, yang menceritakan bahwa beliau menyuruh berdiri kembali seorang anak perempuan yang kelihatan sudah mati, tetapi belum dikuburkan. Eliazar pun beliau suruh berdiri kembali dan hidup sebelum badannya rusak atau busuk.
Kemampuan bisa menghidupkan orang mati adalah salah satu mukjizat Nabi Isa alaihissalam. Kemampuan untuk bisa menghidupkan kembali orang yang sudah ditetapkan kematiannya bahkan untuk ukuran kemajuan dunia kedokteran modern pun tidak mampu dilakukan.
Harus dicatat bahwa kehidupan yang dialami kembali oleh yang mati itu tidak berlanjut lama. Ia hanya berlangsung dalam beberapa saat, yang cukup untuk membuktikan kebenaran Nabi 'lsa sebagai utusan Allah SWT.
Kalau pun kita pernah mendengar katanya ada orang mati bisa hidup lagi, sebenarnya tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa seseorang yang sudah dinyatakan mati secara medis kemudian hidup kembali dalam arti yang umum dipahami. Konsep "hidup kembali" atau "bangkit dari kematian" sering kali merupakan tema dalam mitologi, agama, dan cerita fiksi, tetapi dalam konteks medis, tidak ada laporan yang sahih tentang kejadian semacam itu.
Ada beberapa kasus di mana seseorang mungkin dianggap telah mati secara medis, tetapi kemudian pulih kembali setelah intervensi medis yang tepat. Misalnya, dalam kasus henti jantung atau pernapasan, pertolongan medis yang cepat dan efektif seperti resusitasi jantung paru atau defibrilasi dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Namun, ini bukanlah "hidup kembali" dalam arti yang terkait dengan kebangkitan dari kematian yang mutlak.
Saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang dapat memvalidasi klaim-klaim mengenai kebangkitan dari kematian dalam arti yang sebenarnya di dunia medis.
Lafazh unabbiukum (أُنَبِّئُكُمْ) artinya memberi kabar kepadamu, bima ta’kulun (بِمَا تَأْكُلُونَ) : apa yang kamu makan. Sedangkan makna maa taddakhirun (وَمَا تَدَّخِرُونَ) : makanan yang kamu simpan. Sedangkan makna fi buyutikum (فِي بُيُوتِكُمْ) artinya : di dalam rumah kamu.
Sesuatu yang dimakan adalah sesuatu yang sangat pribadi, tidak diketahui kecuali oleh siapa yang makan bersama. Hal-hal yang bersifat pribadi pun disampaikan oleh Nabi 'Isa alaihissalam, bahkan-siapa tahu ada yang menduga bahwa pengetahuannya itu disebabkan merasakan aroma makanan akibat percakapan.
Maka, untuk menampik dugaan itu, beliau menyampaikan juga makanan apa yang disimpan di rumah. Ini semua sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan Allah dan memperoleh informasi dari Yang Mahakuasa.
Al-Alusi meriwayatkan sebuah kisah terkait penggalan ini. Diriwayatkan bahwa ketika Isa masih kecil, dia bermain dengan anak-anak lain. Dia akan berkata pada salah satu dari mereka, "Apakah kamu ingin aku memberitahumu apa yang ibumu sembunyikan untukmu?"
Anak itu akan menjawab, "Ya." Kemudian Isa akan berkata, "Ibumu menyembunyikan ini dan itu untukmu." Kemudian anak tersebut pergi kepada ibunya dan berkata, "Beri aku apa yang kamu sembunyikan untukku."
Ibunya bertanya, "Apa yang aku sembunyikan untukmu?" Anak itu menjawab, "Ini dan itu." Ibunya bertanya, "Siapa yang memberitahumu?" Anak itu menjawab, "Isa, anak Maryam."
Mereka berkata, "Demi Allah, jika kamu biarkan anak-anak ini bersama Isa, pasti akan merusak mereka."
Ada yang mengatakan bahwa kejadiannya setelah kejadian makan malam perjamuan.
Lafazh inna fi dzalika (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ) artinya : “sesungguhnya pada yang demikian itu”, maksudnya pada berbagai mukjzat yang turun kepada Nabi Isa sebagaimana yang sudah diceritakan.
Lafazh la aayatan lakum (لَآيَةً لَكُمْ) artinya : “benar-benar menjadi tanda kekuasaan Allah bagi kalian”.
Lafazh in-kuntum (إِنْ كُنْتُمْ) maknanya : apabila kalian, sedangkan lafazh mu’minin (مُؤْمِنِينَ) maknanya kamu beriman.
Ungkapan kalau kamu beriman disini justru merupakan penegasan bahwa Bani Israil atau nasrani itu memang tidak beriman, dalam hal ini mereka tidak layak digolongkan sebagai orang mukmin, apabila mereka tidak mau beriman kepada Nabi Isa lewat banyak bukti dan tanda-tanda kenabian.
Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) dalam tafsir Al-Quran Al-Azhim menukilkan pendapat dari An-Nadhr bin Syumail yang mengatakan bahwa makna in-kuntum mu’minin dalam ayat ini bukan apabila kamu beriman, melainkan : apabila merasa aman (آمنين). Maksudnya apabila kamu merasa aman dari adzab api neraka.