Kemenag RI 2019:Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Prof. Quraish Shihab:
Sesungguhnya misal 'lsa di sisi Allah adalah semisal Adam. Allah menciptakannya dari tanah, kemudian beifirman kepadanya: 'Jadilah!" Maka terjadilah ia."
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, perbandingan Isa di sisi Allah, adalah seumpama Adam jua. Dijadikan-Nya dia dari tanah, kemudian Dia berkata, "Jadilah!" maka dia pun jadi.
Ayat yang ke-59 dari surat Ali Imran ini sebenarnya masih terkait dengan ayat yang sebelumnya, yaitu ayat 58 yang menyebutkan mukjizat atau bukti-bukti kebenaran sebagai rasul, yaitu proses terciptanya Nabi Isa alaihissalam.
Namun dalam beberapa kitab tafsir juga disebutkan latar belakang kenapa ayat ini turun, yaitu kedatangan kaum nasrani dari Najran ke Madinah untuk bertanya dan berdialog dengan Nabi Muhammad SAW terkait dengan agama Islam dan juga agama yang dibawa oleh Nabi Isa.
Diriwayatkan bahwa kalangan Nasrani Najran keberatan karena menurut mereka Islam kurang memuliakan Nabi Isa yang mengatakan bahwa Beliau hanyalah seorang manusia biasa dan tidak punya unsur ketuhanan dalam dirinya. Maka turunlah ayat ini untuk menegaskan meski Nabi Isa hanya manusia biasa, namun proses penciptaannya tidak seperti manusia biasa. Nabi Isa diciptakan oleh Allah SWT dengan cara yang amat unik, seperti uniknya penciptaan Nabi Adam alaihissalam.
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ
Lafazh inna (إِنَّ) bermakna : sesungguhnya. Ini salah satu ciri khas dalam statement dalam Bahasa Arab, yaitu suatu kalimat penting diawali dengan kata : sesungguhnya. Ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan dalam kalimat berikutnya memang hal yang sangat penting.
Lafazh matsala (مَثَلَ) artinya : perumpamaan. Perumpamaan demi perumpamaan memang banyak sekali kita temukan dalam Al-Quran, bahkan menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri yang disebut dengan ilmu amtsalul quran (أمثال القرآن). Penulis secara khusus menulis satu bab dalam buku Ilmu Al-Quran dan Tafsir tentang ilmu yang satu ini.
Gaya bahasa membuat perumpamaan-perumpamaan memang menjadi salah satu ciri Al-Quran, sekaligus juga menjadi salah satu kekuatan bahasa Al-Quran.
Amtsal adalah bentuk jamak dari kata matsal, mitslu, dan matsil dalam bahasa Arab memiliki makna perumpamaan, cerita yang menakjubkan, dan sifat, keadaan, atau tingkah laku. Amtsalul Quran digunakan untuk menyamakan atau menyerupakan keadaan sesuatu dengan keadaan yang dituju, mengungkapkan makna abstrak dalam bentuk yang konkret, dan mendekatkan yang logis kepada yang indrawi.
Tujuannya adalah agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir, dan selalu mengingat, serta sebagai teladan dan bahan renungan agar terbimbing menuju jalan yang benar dan meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.
Yang dijadikan objek perumpamaan dalam hal ini adalah masalah penciptaan Nabi Isa alaihissalam yang unik dan tidak seperti penciptaan manusia pada umumnya.
عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَم
Lafazh indallah (عِنْدَ اللَّهِ) artinya : di sisi Allah. Istilah ‘di sisi Allah’ ini bermakna sesuai dengan kehendak dan kewenangan Allah SWT, menggunakan sisi pendekatan menurut sudut pandang Allah SWT.
Lafazh ka-matsali (كَمَثَلِ) artinya : seperti umpama. Ini adalah pasangan dari lafazh matsal yang sudah disebutkan sebelumnya. Seperti ungkapan dalam ayat berikut :
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ
Perumpamaan mereka adalah seperti perumpamaan. (QS. Al-Baqarah : 17)
Lafazh adam (آدم) maksudnya adalah Nabi Adam alaihissalam. Dalam hal ini Allah SWT menjelaskan proses penciptaan Nabi Isa yang unik itu sama uniknya dengan penciptaan Nabi Adam, meskipun tidak sama persis.
Persamaannya bahwa secara biologis baik Nabi Adam maupun Nabi Isa tercipta sama-sama tidak berasal dari hasil pembuahan sel sperma seorang Ayah dengan sel telur seorang ibu. Keduanya diciptakan secara begitu saja tanpa proses.
Namun dalam hal ini perbedaannya bahwa Nabi Isa tetap lewat proses kehamilan seorang ibu. Lahirnya normal sebagaimana umumnya bayi yang lahir kedunia. Sedangkan Nabi Adam sama sekali tidak pernah merasa dilahirkan. Seandainya Nabi Adam punya KTP dan ditulis tempat tanggal lahir, pastilah rancu. Sebab Beliau tidak pernah dilahirkan kedunia. Mungkin blanko KTP-nya khusus, yang ditulis bukan tanggal lahir tetapi tanggal diciptakan.
خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ
Lafazh khalaqhu (خَلَقَهُ) artinya : Allah SWT menciptakannya, maksudnya Nabi Adam.
Lafazh min turab (مِنْ تُرَابٍ) artinya : dari tanah. Di dalam Al-Quran selain kata turab, Nabi Adam juga disebut-sebut diciptakan dari thin (طين) yang diartikan dengan : tanah liat. Misalnya yang terdapat pada ayat berikut :
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. (QS. Shad : 71)
Kalau keduanya diartikan dengan tanah, apakah keduanya memang sinonim ataukah ada perbedaan?
Jawabnya ada perbedaan. Turab itu tanah dalam arti kering, sedangkan thin itu tanah liat yaitu tanah yang mengandung atau dicampurkan dengan air, sehingga bisa dibentuk seperti bentuk-bentuk tertentu.
Contohnya Nabi Isa alahissalam menggunakan tanah liat untuk membuat burung-burungan, lalu ditiupkan ruh sehingga menjadi burung dari arti yang hidup dan bisa terbang. Tidak mungkin bisa dibentuk menjadi rupa seperti burung bila menggunakan turab, karena tanah kering tidak bisa dibentuk apapun.
Lantas kenapa dalam hal ini Allah SWT menggunakan kata turab dan bukan thin?
Jawabnya -wallahua’lam- karena ingin menekankan betapa uniknya penciptaan Nabi Adam, bahkan hanya diciptakan dari tanah kering yang tidak bisa dibentuk. Kalau disebutkan diciptakan dari tanah liat, lebih terasa mudah karena tanah liat itu mudah dibentuk.
ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Lafazh tsumma () artinya : kemudian. Kata kemudian ini menunjukkan urutan waktu. Setelah dibentuk dari tanah, setelah itu kemudian Allah SWT mengatakan jadilah.
Kata kun (كُنْ) adalah fi’il amr dari (كان - يكون) yang maknanya : “Jadilah”. Sedangkan lafazh fa-yakuun (فِيَكُوْن) terdiri dari huruf fa (ف) yang artinya maka. Dan lafazh yakuun (يكون) berarti : “jadi” dan “tercipta”.
Yang menarik dari perintah “jadilah maka jadi” atau kun fayakun ini menunjukkan betapa simpel dan sederhananya ketika Allah SWT menciptakan sesuatu, cukup hanya menggunakan dua huruf saja, maka apapun yang Dia inginkan pun segera terbentuk dan beruwujud saat itu juga. Semua terjadi begitu saja sama sekali tidak pakai proses ini dan itu.
Sebagaimana ketika Allah SWT menciptakan pertama kali Nabi Adam alaihissalam, cukup dua huruf Allah SWT ucapkan, maka tiba-tiba Nabi Adam pun tercipta begitu saja tanpa lewat proses dari janin, bayi, anak-anak, remaja. Tiba-tiba Adam tercipta dalam rupa yang sudah dewasa dan sempurna. Maka begitu juga dengan Nabi Isa, terciptanya lewat kun fa yakun juga.
Apabila Allah SWT menghendaki sesuatu tercipta, maka Dia hanya tinggal bilang : Jadilah. Maka ciptaan yang terbaru itu pun tiba-tiba muncul, nyaris tanpa proses.
Tentu ini adalah sebuah cara yang secara bebas bisa dilakukan oleh Allah SWT. Namun bilamana Allah SWT menciptakan suatu makhluk lewat proses, juga tidak jadi masalah. Allah SWT untuk menetapkan terciptanya makhluknya, apakah mau lewat jalur proses yang natural dan alami, ataukah lewat jalur yang instan langsung jadi. Dua-duanya masih berada di dalam ruang lingkup kekuasaan Allah SWT.
Satu lagi yang perlu dicatat bahwa penciptaan jalur cepat kun fa yakun ini terjadinya secara cepat dan spontan tanpa menunggu waktu. Isyarat tentang itu tertuang dalam ayat berikut :