Kemenag RI 2019:Sesungguhnya ini benar-benar kisah yang hak. Tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Allahlah yang benar-benar Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Prof. Quraish Shihab:
"Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar. Tidak ada Tuhan selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, ini adalah suatu kisah yang benar, dan tidaklah ada dari satu Tuhan pun selain Allah, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Gagah, lagi Bijaksana.
Lafazh inna (إِنَّ) artinya : sesungguhnya, sedangkan lafazh hadza (هَٰذَا) merupakan ismul-isyarah atau kata tunjuk yang berjarak dekat. Lafazh la-huwa (لَهُوَ) terdiri dari huruf lam (لَ) yang menunjukkan penekanan dengan makna : sungguh, lalu disambungkan dengan dhamir huwa (هُوَ) yang kembalinya kepada kata tunjuk hadza (هَذَا).
Sebagian ulama mengatakan bahwa yang ditunjuk itu maksudnya adalah Al-Quran, karena di dalam Al-Quran ada banyak sekali kisah, sampai ada yang mengatakan bahwa nyaris hampir sepertiga Al-Quran berisi kisah. Namun sebagian yang lain mengatakan bahwa yang ditunjuk bukan semua Al-Quran, melainkan kisah yang terkait dengan kelahiran Nabi Isa alaihissalam sebagaimana yang di beberapa ayat sebelumnya telah dikisahkan.
Lafazh al-qashash (القصص) merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya : al-qishshah (القصة), lalu dapat diartikan menjadi : kisah-kisah. Sedangkan lafazh al-haq (الحق) maknanya adalah kebenaran.
Kisah-kisah Al-Quran
Kata qashash secara bahasa bermakna : mengikuti jejak dan menelusurinya, sebagaimana firman Allah SWT pada ayat berikut :
Dia (Musa) berkata “itulah (tempat) yang kita cari” Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. (QS. Al-Kahfi : 64)
Jejak yang dimaksud tentunya bukan jejak kaki, melainkan jejak kejadian demi kejadian yang telah berlalu. Dan jejak itu tentunya bukan hanya satu, tetapi ada banyak, sebagaimana jejak langkah kaki yang membekas di sepanjang perjalanan. Maka kisah itu identik dengan mengikuti jejak kejadian yang sifatnya berurutan satu dengan yang lain.
Sayangnya kata qishshah yang awalnya merupakan hasil penelusuran jejak ini kemudian terlanjur terserap ke dalam Bahasa Indonesia, tetapi mendapatkan makna yang kurang tepat, bahkan sering kali bergeser jauh, yaitu menjadi cerita yang mungkin saja mengandung hayal dan imajinatif.
Dari segi timeline, setidaknya ada tiga macam jenis kisah dalam Al-Quran :
Pertama, terkait kisah yang sudah terjadi dan melibatkan umat terdahulu, mulai sebelum penciptaan Nabi Adam hingga para nabi dan rasul serta umat masing-masing dalam sejarah, bahkan sampai umat Nabi Isa.
Para pemuda yang dikenal dengan Ashabul Kahfi itu bagian dari umat Nabi Isa dan kejadiannya diperkirakan tiga ratusan tahun sepeninggal Isa alaihissalam.
Jenis kisah terkait umat terdahulu ini termasuk kisah yang paling banyak terdapat di dalam Al-Quran.
Kedua, kisah yang belum terjadi, yaitu kisah-kisah tentang hari kiamat dan kehidupan di akhirat, termasuk juga kisah tentang penduduk surga dan penduduk neraka.
Ketiga, kisah yang terkait di masa Al-Quran diturunkan, yaitu masa kenabian Muhammad SAW. Termasuk juga di dalamnya kisah tentang rencana tentara bergajah yang ingin merobohkan Ka’bah, dimana kejadiannya di tahun dimana Nabi SAW dilahirkan.
Dengan begitu banyaknya Al-Quran memuat kisah-kisah tersebut di atas, sehingga layaklah jika Al-Quran disebut sebagai kitab.
وَمَا مِنْ إِلَٰه
Lafazh wa ma min (وَمَا مِنْ) artinya : Dan tidak ada satupun. Sedangkan kata ilah (إلَه) sering diartikan dengan tuhan, sebagaimana juga kata rabb (رَبّ) juga sering diartikan tuhan. Namun tentunya tidak sama pengertian atau sudut pandangnya. Terjemah Al-Quran versi Kementerian Agama RI menuliskan perbedaan itu ketika menerjemahkan surat An-Nas :
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. (QS. An-Nas : 1-3)
Rabb adalah tuhan yang memelihara dan menguasai, sedangkan ilah adalah sembahan manusia.
Ibnu Taimiyah berpendapat adanya pembedaan konsep antar konsep ilah dan rab meski tetap saling berhubungan. Ilah adalah sesembahan, sedangkan rabb adalah pengatur dan pemelihara.
Ilah adalah sesuatu yang disembah dan dipuja oleh seseorang. Seseorang bisa menjadikan apa saja sebagai ilah, baik itu benda, makhluk, atau bahkan dirinya sendiri. Namun, hanya Allah yang berhak menjadi ilah yang sebenarnya.
Rabb adalah sesuatu yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta.[1]
Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Ibnu Taimiyah juga menuliskan bahwa rab adalah Tuhan yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta.[2]
Prof. Quriasih Shihab menjelaskan bahwa merujuk pada sifat Zat-Nya, yaitu uluhiyah atau ketuhanan. Sifat ini menunjukkan esensi dari keberadaan Allah sebagai Tuhan yang disembah dan tidak ada hubungannya dengan interaksi-Nya dengan makhluk-Nya. Sifat ketuhanan Allah adalah mutlak dan tidak dapat menyentuh atau berdampak kepada makhluk-Nya.
Sedangkan makna kata rabb mengandung makna kepemeliharaan dan kependidikan, yang mencakup segala bentuk interaksi Allah dengan makhluk-Nya, seperti pemberian rezeki, pengampunan, kasih sayang, amarah, ancaman, dan siksaan. Konsep rabb menekankan pada peran Allah sebagai pemelihara dan pendidik yang mengarahkan makhluk-Nya tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya.[3]
Pembagian tauhid menjadi rububiyah dan uluhiyah merupakan ijtihad yang dilakukan oleh ulama seperti Ath-Thahawi, Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh murid-muridnya hingga Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para ulama di Saudi Arabia. Pembagian ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Quran dan As-Sunnah.[4]
[3] Prof. Dr. Quraish Shihab, TAFSTR AL-MISBAH Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, jilid 1 hal. 67
[4] Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA, Tafsir Tahlili Surat Al-Fatihah, hal. 28.
إِلَّا اللَّهُ
Lafazh illallah (إِلَّا اللَّهُ) artinya : kecuali hanya Allah. Dan ini merupakan penetapan atau pengukuhan atas keberadaan Allah, yang diistilahkan dengan itsbat, setelah sebelumnya ada peniadaan atas keberadaan Allah yang diistilahkan dengan nafiy.
Lafazh inilah yang kemudian menjadi dasar keimanan umat Nabi Muhammad SAW, bahkan dijadikan dasar pedoman dan ukuran, apakah seseorang dianggap matinya dalam keadaan beriman atau tidak. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW :
Orang yang di akhir perkataannya : tiada Tuahn selain Allah, maka dia masuk surga (HR. )
Yang perlu diperhatikan adalah bagian yang menyebutkan : (آخِرَ كَلَامِهِ) yaitu perkataan akhirnya. Tidak mengapa seseorang itu pernah jadi orang kafir, yang penting bagian akhirnya dia beriman. Dan yang dimaksud bagian akhir adalah ketika dia meninggal dunia.
Al-Qurtubi menyebutkan bahw lafazh ini terdiri dari dua unsur, yaitu pengingkaran dan penetapan. Lafazh (لَا إِلَٰهَ) yang merupakan bentuk nafyi atau pengingkaran, lalu (إلَّا هُو) yang merupakan penetapan atau itsbat.
وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Lafazh al-‘aziz (الْعَزِيزُ) oleh Ath-Thabari di dalam tafsirnya dijelaskan sebagai berikut :
إنك يا رب أنت"العزيز" القوي الذي لا يعجزه شيء أراده، فافعل بنا وبذريتنا ما سألناه وطلبناه منك
Sesungguhnya Engkau wahai Tuhan, Engkaulah al-aziz yang teramat kuat dan tidak bisa dilemahkan oleh apapun.
Dengan menyebut betapa Allah SWT itu dengan segala ke-aziz-annya, maka mohon laksanakan apa-apa yang kami mintakan dan kami permohonkan.
Di dalam versi terjemahan Al-Quran ke dalam bahasa Indonesia, al-aziz ini diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Quraish Shihab menjadi : “Maha Perkasa”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : ‘Mahagagah”.
Lafazh al-hakim (الْحَكِيمُ) dalam terjemahan sering dimaknai dengan : Maha Bijaksana. Sementara Ath-Thabari dalam tafsirnya menuliskan sebagai berikut :
والحكيم الذي لا يدخل تدبيره خلل ولا زلل
Al-Hakim adalah yang perencanaannya tidak mengandung cacat atau kesalahan.
Maka kabulkanlah permohonan dan permintaan kami wahai Tuhan yang perencanaannya tidak mengandung cacat atau kesalahan.