Kemenag RI 2019:Wahai Ahlulkitab, mengapa kamu berbantah-bantahan ) tentang Ibrahim? Padahal, Taurat dan Injil tidak diturunkan, kecuali setelah dia (Ibrahim). Apakah kamu tidak mengerti? Prof. Quraish Shihab:
"Wahai Ahl al-Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang ha! Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak menggunakan akal kalian?"
Prof. HAMKA:
Wahal, Ahlul Kitab! Mengapa kamu bersilang sengketa tentang Ibrahim? Padahal tidaklah diturunkan Taurat dan lnjil melainkan sesudah dia? Apakah kamu tidak berpiklr?
Ayat 65 surat Ali Imran ini mengiksahkan pecahnya perdebatan sengit antara pemuka Yahudi dan pimpinan Nasrani di hadapan Nabi Muhammad SAW. Kedua belah pihak sama-sama mengaku sebagai anak keturunan Nabi Ibrahim alaihissalam dan mengaku sebagai generasi penerus sang ayah dari semua nabi itu. Kedua pemuka agama itu saling mengkafirkan satu sama lain dan merasa diri mereka yang paling benar.
Yang menjadi asbabunnuzul ayat ini menurut riwayat Ibnu Abbas bahwa ketika utusan kaum Nasrani Najran mendatangi Nabi SAW di Madinah pada tahun kesembilan hijriyah, rupanya orang-orang Yahudi pun ikut hadir pula di forum itu, bahkan ikut juga terlibat dalam perdebatan seru melawan orang-orang nasrani.
Perdebatan itu meruncing sampai ke titik dimana kedua belah pihak saling mengklaim bahwa kelompok mereka itulah yang benar-benar asli menjadi penerus warisan agama Nabi Ibrahim alaihissalam. Sambil menuduh bahwa lawannya itu tidak punya jalur yang sah kepada Nabi Ibrahim.
Maka Al-Quran menegur kedua belah pihak dengan menegaskan bahwa tidak satu pun dari masing-masing yang punya jalur ajaran dari Nabi Ibrahim. Sebabnya karena dua kitab suci masing-masing mereka, yaitu Taurat dan Injil diturunkan setelah lewat masa kehidupan Nabi Ibrahim alaihisalam.
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ
Kata yaa (يَا) disebut dengan adatun-nida’ yang maksudnya sebagai perangkat untuk memanggil atau menyapa orang yang disapa alias al-munada. Yang diajak bicara atau mukhathab-nya disini adalah lafazh ahlal-kitab (أَهْلَ الْكِتَابِ).
Kata ahlu (أهل) punya banyak makna, bisa berarti pemilik, bisa juga berarti yang berhak, atau pun bisa juga orang yang paling menguasai sesuatu. Kata kitab (الْكِتَابِ) secara bahasa Arab modern bermakna buku, namun bukan itu yang dimaksud setiap ada kata kitab di dalam Al-Quran. Maka keliru kalau kita terjemahkan ahli kitab sebagai kutu buku. Tetapi yang benar adalah umat yang menerima turunnya kitab suci samawi dari langit, yaitu dari Allah SWT, lewat perantaraan Malaikat Jibril alaissalam kepada nabi mereka masing-masing.
Sebenarnya Allah SWT telah menurunkan begitu banyak kitab suci samawi sebelumnya. Namun nyaris seluruhnya telah hilang tak tentu rimbanya, boleh jadi hilang bersama terkuburnya masing-masing peradaban mereka. Namun ada dua agama yang nampaknya masih punya generasi penerus yang tidak putus-putus sebagai ratusan bahkan ribuan tahun, yaitu Bani Israil. Dua Nabi besar dari Bani Israil adalah Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimassalam. Pengikut mereka berdua ternyata tidak putus-putus sepanjang sejarah, hingga sampai ke masa kenabian Muhammad SAW.
Maka benarlah kalau kita katakan bahwa yang disebut dengan ahlu kitab di dalam Al-Quran maksudnya tidak lain adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal itu karena keduanya termasuk umat yang di masa lalu menerima turunnya kitab samawi, yaitu Taurat dan Injil, dan masih ada generasinya hingga sampai ke masa turunnya Al-Quran di era kenabian Muhammad SAW di abad ke tujuh masehi.
Kalau kita mendengar Allah SWT menyapa orang-orang Yahudi atau pemeluk agama Nasrani dengan sapaan ‘ahli kitab’, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya posisi mereka sedang disanjung dan dimuliakan oleh Allah SWT. Sebab tidak semua bangsa di dunia ini mendapatkan kehormatan menerima kitab suci samawi.
Contoh yang mudah adalah kita sebagai bangsa Indonesia. Meski kita bangga saat ini sebagai bangsa muslim terbesar di dunia, namun tak satu pun kitab suci samawi langsung kita terima langsung dari langit. Oleh karena itu walaupun meyakini Al-Quran sebagai kitab suci kita, namun tetap saja kita tidak disebut sebagai ahli kitab ataupun ahli Al-Quran secara eksklusif sebagaimana Yahudi dan Nasrani yang eksklusif dengan Taurat dan Injil mereka.
Lain halnya bila Allah SWT menyebut Yahudi, maka sapaan seperti itu punya konotasi yang negatif dan biasanya ayatnya pun sedang menceritakan kejelekan dan keburukan mereka.
لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ
Kata li-ma (لِمَ) diartinya menjadi pertanyaan : mengapa. Asalnya dari li (لِ) yang artinya : “untuk”, sedangkan ma (ماَ) artinya apa.
Sedangkan kata tuhaajuna (تُحَاجُّونَ) adalah fi’il atau kata kerja yang bersifat timbal-balik dilakukan oleh dua pihak, yaitu saling memberi hujjah atau saling bantah. Bisa dimaknai menjadi saling berdebat satu sama lain.
Satu sama lain itu maksudnya antara Yahudi dan Nasrani, mereka saling menyalahkan dan menyatakan bahwa hanya kelompok mereka saja yang paling berhak menjadi ahli waris dan penerus dakwah Nabi Ibrahim.
Kata Ibrahim (إِبْرَاهِيمَ) maksudnya adalah Nabi Ibrahim alaihissalam. Nabi yang disepakati sebagai ayah dari semua nabi atau disebut dengan gelar : abul anbiya’. Dalam sejarah disebutkan bahwa Nabi Ibrahim hidup di sekitaran tahun 2000-an sebelum masehi dan pernah tinggal di beberapa peradaban yang berbeda, mulai dari Babilonia di Irak, kemudian ke Palestina, lalu ke Mesir dan juga ke Jazirah Arabia.
Nabi Ibrahim memang berdoa kepada Allah SWT agar anak keturunannya ikut diberikan kemuliaan menjadi nabi sebagaimana dirinya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim". (QS. Al-Baqarah : 124)
Lafazh wa-ma unzilat (وَمَا أُنْزِلَتِ) artinya : dan tidaklah diturunkan, lafazh at-tauratu (التَّوْرَاةُ) maksudnya adalah kitab suci Taurat yang turun di masa kenabian Musa alaihisalam.
Lafazh wal injilu (وَالْإِنْجِيلُ) maksudnya adalah kitab suci Injilyang turun kepada Nabi Isa alaihissalam.
Lafazh illa min ba’dihi (إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ) artinya : kecuali setelahnya. Dhamir huwa (ـهِ) disini kembali kepada Nabi Ibrahim alaihissalam.
Al-Qurtubi dalam Al-Jami’ li-Ahkam Al-Quran menukilkan suatu pendapat tanpa menyebutkan perawinya, bahwa ada yang meriwayatkan jarak antara Nabi Ibrahim ke Nabi Musa adalah seribu tahun. Sedang jarak waktu antara Nabi Musa kepada Nabi Isa juga seribu tahun.
Apa yang diriwayatkan itu boleh jadi kurang tepat kalau kita terjemahkan secara presisi kata alf (ألف) itu seribu, namun kalau kita terjemahkan menjadi seribuan tahun, kurang lebih sudah agak sejalan. Para sejarawan memang beda-beda pendapat, namun yang lebih masyhur disebutkan bahwa Nabi Ibrahim diperkirakan hidup di masa kurang lebih dua ribuan tahun sebelum masehi.
Lalu Nabi Musa banyak disebut-sebut hidup antara tahun 1.300-an hingga 1.000-an tahun sebelum masehi. Lalu Nabi Isa memang hidup di tahun 1 masehi.
Memang sekilas kita yang sering membaca kisah-kisah para nabi dan rasul di dalam Al-Quran secara tidak sadar menganggap masa hidup para nabi itu berbarengan. Padahal faktanya sangat berlawanan. Nabi Ibrahim berjarak seribuan tahun dengan Nabi Musa, dan Nabi Musa berjarak seribuan tahun kepada Nabi Isa.
Memang kalau Nabi Isa ke Nabi Muhammad, jaraknya sedikit lebih dekat yaitu hanya sekitar 600-an tahun saja, tidak sampai seribu tahun. Tetapi jarak mereka semua ke masa kita justru sangat sangat jauh. Dari Nabi Muhammad SAW kepada kita saja sudah 1400-an tahun.
أَفَلَا تَعْقِلُون
Lafazh a-fa-la (أَفَلَا) diartikan menjadi : maka apakah tidak, ta’qilun (تَعْقِلُونَ) artinya : kamu berakal. Asalnya dari al-‘aqlu (العقل) yang terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi : akal. Maknanya tidak berbeda dari kata dalam bahasa asalnya.
Berakal disini maksudnya menggunakan akal dan logika yang paling dasar, karena untuk menentukan timeline atau linimasa kehidupan ketiga nabi itu mudah sekali, sama sekali tidak membutuhkan pemikiran yang terlalu mendalam.
Kalau hanya mengurutkan masa hidup mereka saja tidak mampu, maka wajar kalau Allah SWT menyindir mereka dengan ungkapan nyinyir : memangnya kalian tidak punya akal?
Namun nampaknya memang mereka benar-benar tidak punya akal. Pihak Yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim sebagai orang Yahudi dan begitu juga pihak Nasrani tidak mau kalah ikut-ikutan mengklaim bahwa Nabi Ibrahim itu orang Nasrani.
Tentu saja klaim-klaim seperti itu hanya mempan untuk mengelabuhi orang-orang yang tidak berakal juga, alias orang-orang bodoh yang tidak mengerti timeline sejarah para nabi.