Kemenag RI 2019:Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang hanif ) lagi berserah diri (muslim). Dia bukan pula termasuk (golongan) orang-orang musyrik. Prof. Quraish Shihab:
'1brahfm bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi. berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik. "
Prof. HAMKA:
Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi adalah seorang yang bersih dari kesesatan lagi Muslim, dan tidaklah dia dari seorang yang mempersekutukan.
Ayat 67 surat Ali Imran ini melanjutkan apa yang sebelumnya dibahas, yaitu penegasan bahwa Nabi Ibrahim itu bukan seorang yang beragama Yahudi ataupun Nasrani. Beliau lahir jauh sebelum era Nabi Musa dan Nabi Isa, sehingga tidak mungkin menjalankan agama yang dibawa oleh nabi yang waktu itu belum lahir dan terpaut seribuan dan dua ribuan tahun jaraknya.
مَا كَانَ إِبْرَاهِيم
Lafazh maa kaana ibrahimu (مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ) artinya : “bukanlah Nabi Ibrahim”. Memang demikianlah struktur kalimat aslinya dalam bahasa Arab disusun. Namun kalau struktur urutan kata itu diterjemahkan secara harfyah, akan menyalahi struktur bahasa Indonesia.
Maka agar lebih terasa bahasa Indonesia yang benar, tidak ada salahnya kalau kita balik urutannya menjadi : “Nabi Ibrahim itu bukan seorang yahudi dan bukan pula seorang nasrani”.
Rupanya kalau kita perhatikan terjemahan versi Kemenag RI 2019 dan versi Prof. Quraish Shihab, keduanya pun membalik strukturnya biar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Sedangkan Buya HAMKA ketika menerjemahkan penggalan ini, nampaknya masih mengikuti tarkib aslinya, yaitu : “Bukanlah Ibrahim itu seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani”.
يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا
Lafazh yahudiyan (يَهُودِيًّا) artinya : pemeluk agama Yahudi.
Tentang asal muasal kenapa mereka dinamakan Yahudi ini, ada dua pandangan yang berbeda :
Pertama, Ibnu Abbas dan beberapa ulama lainnya mengatakan bahwa kata Yahudi itu berasal dari bahasa Arab, yang berarti kembali yakni bertaubat. Mereka dinamai demikian karena mereka bertaubat dari penyembahan anak sapi, sebagaimana firman Allah SWT :
إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ
Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. (QS. Al-Araf : 156)
Kedua, menurut sebagian mufassir, nama Yahudi itu diambil dari nama anak pertama atau kedua dari Nabi Ya’qub alaihissalam yaitu Yahudza (يهوذا).
Dia dan sebelas orang saudaranya itulah yang disebut dengan Bani lsrail, yang tidak lain adalah Nabi Ya’qub alaihissalam. Beliau punya nama lain yaitu : Israil dan merupakan cucu dari Nabi Ibrahim dari jalur anaknya Nabi Ishak alaihimussalam.
Dalam bahasa Arab, lafazh yahudza (يهوذا) ini ditulis hanya dengan sedikit sekali perbedaan yaitu meletakkan titik di atas huruf dal (د). Bahasa Arab sering kali mengubah pengucapan satu kata asing yang diserapnya.
Ketiga, Fakhruddin Arrazi dalam Mafatih Al-Ghaib menuliskan bahwa Abu Amr Al-‘Ala mengatakan kata yahudi itu berasal dari bahasa Arab yaitu yatahawwadu (يَتَهَوَّدُ) yang maknanya menggerak-gerakkan. Maksudnya ketika mereka membaca Taurat atau beribadah, mereka menggerak-gerakkan kepala mereka.
Lafazh nasraniyyan (نَصْرَانِيًّا) artinya : pemeluk agama nasrani. atau bisa juga disebut agama Kristiani, atau setidaknya mereka adalah pengikut risalah dan ajaran Nabi Isa alahissalam.
Tentang bagaimana bisa disebut nashara, ada beberapa pendapat yang berbeda.
Pertama, menurut sebagian kalangan ada yang bilang bahwa mereka disebut nashara karena mereka itu menolong atau membela Nabi Isa alaihissalam, sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT :
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah". (QS. Ash-Shaf : 14)
Kedua, menurut pendapat Ibnu Abbas, Qatadah dan Ibnu Jarir, kata nashara itu dinisbahkan pada tempat dimana dahulu Nabi Isa alaihissalam pernah menetap, yaitu sebuah tempat di Palestina bernama Nazaret dalam bahasa Ibrani.
Lalu nama tempat itu diserap dalam Al-Quran dan dalam ejaan Arab ditulis menjadi naashirah (ناصرة). Dan orang-orang yang memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Isa lantas disebut dengan orang-orang nasrani.
وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا
Lafazh hanifa (حَنِيفًا) secara bahasa maknanya adalah al-mailu (المَيْلُ) alias condong, sebagaimana dituliskan oleh Az-Zamakhsyari dalam Al-Kasysyaf :
Yang condong menjauh dari segala agama yang batil ke agama yang hak.[1]
Makna lain dari kata hanif adalah istiqamah alias lurus. Namun para ulama tafsir setidaknya punya empat pendapat yang berbeda tentang apa yang dimaksud dengan hanif :
1. Lurus
Pendapat yang pertama menyebutkan bahwa makna secara istilah dari hanif (حنيف) itu sama dengan makna secara bahasa yaitu hanif itu artinya lurus atau istiqamah. Hal itu sebagaimana pendapat Al-Imam Ath-Thabari yang tertuang di dalam tafsir Jamiul Bayan.
Maka wajar kalau kita temukan dalam banyak kitab terjemah Al-Quran yang mengartikan hanif itu dengan makna : “lurus”.
2. Murni
Pendapat kedua mengatakan bahwa makna hanif itu murni atau mukhlish (مخلص). Maksudnya masih original dan belum tercampur dengan tambahan-tambahan buatan manusia atau pun pengurangan disana-sini. Dasarnya adalah firman Allah SWT :
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (QS. Az-Zumar : 3)
3. Manasik Haji
Sementara sebagian mufassir yang lain seperti Mujahid, Al-Hasan, Adh-Dhahhak, Athiyah, Katsir bin Ziyad dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hanif tidak lain adalah manasik haji.
Sebab Nabi Ibrahim lah yang pertama kali diperintahkan untuk menjalankan syariat haji, bahkan Beliau juga yang pertama kali membangun Ka’bah di atas bekas-bekas pondasi yang ada sebelumnya.
4. Menjadi Pengikut
Pendapat keempat bahwa hanif itu artinya muttabi’ (مُتَّبِع) alias menjadi pengikut. Pendapat ini datang dari Mujahid.
Lafazh wa-maa kana (وَمَا كَانَ) artinya : dan dia bukan, lafazh minal al-musyrikin (مِنَ الْمُشْرِكِينَ) artinya : termasuk orang-orang musyrik.
Kata musyrikin secara makna harfiyah artinya adalah orang-orang musyrik, yaitu orang yang menyekutukan Allah SWT dengan tuhan-tuhan yang lain.
Namun yang dimaksud prang-orang musyrik dalam ayat ini maksudnya mereka yang menjadi pemeluk agama keberhalaan yang tidak mengenal sistem kenabian dan konsep kitab suci yang turun dari langit. Yang termasuk kafir jenis ini adalah penduduk Mekkah, Madinah, Thaif dan juga para penghuni gurun pasir di sepanjang jazirah Arabia.
Sedangkan dari kalangan non Arab, yang termasuk agama syirik dan banyak bersentuhan adalah orang-orang Persia yang memeluk agama Majusi yang menyembah api. Kadang jenis agama ini juga disebut dengan agama non-samawi.
Ciri utamanya mereka tidak mengenal konsep dasar rukun iman yang enam, yaitu tidak mengenal konsep malaikat, nabi, kitab suci, atau dengan kata lain tidak mengenal turunnya risalah samawi.
Dan satu lagi yang juga tidak mereka miliki adalah kepercayaan tentang konsep hari kiamat, hari akhir atau kehidupan akhirat pasca kehidupan duniawi. Dalam pandangan mereka, kehidupan dunia ini hanyalah sekali saja dan tidak ada yang namanya alam akhirat, alam barzakh, apalagi hisab, dan surga atau neraka.
Kalau pun setelah mati mereka hidup lagi, paling jauh hanya sekedar konsep reingkarnasi saja.
Maka ayat ini menceritakan adanya tiga agama berbeda di masa kenabian Muhammad SAW, yaitu yahudi, nasrani dan agama syirik penyembah berhala. Ternyata Nabi Ibrahim alaihissalam bukan termasuk pemeluk agama Yahudi, bukan pula pemeluk agama Nasrani. Dan tentunya juga bukan pemeluk agama syirik penembah berhala.
Tentang Nabi Ibrahim bukan penyembah berhala, jelas sekali dari tindakan Beliau yang merobohkan patung-patung sembahan
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. (QS. Al-Anbiya’ : 58)
Gara-gara itulah Beliau dibakar hidup-hidup oleh kaum yang masih gemar menyembah berhala.