Kemenag RI 2019:(Kami menghukum pula mereka) karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Almasih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” ) padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang menurut mereka menyerupai (Isa). Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentangnya (pembunuhan Isa), selalu dalam keragu-raguan terhadapnya. Mereka benar-benar tidak mengetahui (siapa sebenarnya yang dibunuh itu), kecuali mengikuti persangkaan belaka. (Jadi,) mereka tidak yakin telah membunuhnya. Prof. Quraish Shihab:Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, ‘Isa putra Maryam, rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya. Tetapi (yang mereka bunuh adalah) seseorang yang diserupakan bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang itu benar-benar dalam keragu-raguan. Mereka tidak memiliki sedikit pun pengetahuan tentang hal itu selain mengikuti persangkaan belaka. Dan mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Prof. HAMKA:Dan karena perkataan mereka, "Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah." Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) diserupakan bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang hal itu berada dalam keraguan. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentangnya, kecuali mengikuti sangkaan belaka. Dan mereka tidak membunuhnya secara pasti.
Maka sudah benar lah Al-Quran ketika menyebut orang-orang Yahudi itu sebagai orang kafir. Mereka bukan hanya ingkar kepada para nabi utusan Allah, bahkan mereka mengaku telah membunuh para nabi, khususnya Nabi Isa alaihissalam.
Namun Allah SWT menolak pernyataan bahwa mereka berhasil membunuh Nabi Isa. Penolakan ini bukan berarti mengingkari mereka sebagai pembunuh, namun menegaskan bahwa usaha pembunuhan mereka kepada Nabi Isa telah gagal. Meskipun begitu mereka tetapi dianggap sebagai pembunuh, sebagaimana pengakuan mereka sendiri.
Para pemeluk Yahudi dan Nasrani sama-sama mengatakan bahwa Nabi Isa mati dibunuh oleh Yahudi dan jasadnya disalib. Sedangkan Islam menolak hal itu dengan menegaskan bahwa yang mati dan disalib itu adalah orang lain yang diserupakan. Al-Quran menegaskan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak punya cukup data dan fakta pengetahuan atas kematian dan penyaliban Nabi Isa. Mereka sampai pada kesimpulan itu hanya berdasarkan dugaan-dugaan saja. Berhenti sampai teori, tapi sama sekali tidak pernah terbukti.
وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا
Perkataan orang-orang Yahudi bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa adalah bukti kuat bahwa mereka memang kafir kepada para nabi dan rasul utusan Allah. Perilaku mereka jelas-jelas merupakan kekufuran besar dan dilakukan dengan terang-terangan, tanpa tedeng aling-aling dan apa adanya.
Mereka tidak malu-malu mengakui hal itu, walaupun ada juga analisa bahwa yang melakukan pembunuhan dan penyaliban terhadap Nabi Isa sebenarnya adalah tentara Romawi.
Sementara peranan mereka adalah sebagai pemain belakang yang melemparkan tuduhan dan fitnah keji, hingga menghasud penguasa Romawi untuk menjatuhkan hukuman mati.
Sejarah menunjukkan bahwa saat itu wilayah Yerusalem berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi. Penguasa Romawi disana bernama Pontius Pilatus, seorang gubernur yang memiliki otoritas untuk melaksanakan eksekusi hukuman mati, tetapi mereka sering kali dipengaruhi oleh desakan masyarakat setempat.
Orang Yahudi memiliki masalah dengan ajaran yang dibawa Nabi Isa menganggapnya sebagai ancaman terhadap kedudukan pemuka agama di kalangan mereka.
Maka para pemimpin Yahudi membawa Nabi Isa kepada penguasa Romawi dan mendesak agar dia dihukum mati atas tuduhan mengaku sebagai Raja orang Yahudi. Sebab kebangkitan Yahudi bagi bangsa Romawi dianggap sebagai pemberontakan terhadap Kaisar Romawi.
Maka tentara Romawi lah yang melaksanakan eksekusi penyaliban. Namun semua itu atas desain dan kasak-kusuk serta desakan para pemimpin Yahudi.
Padahal ada juga yang mengatakan sebenarnya Pontius Pilatus sendiri agak ragu dan merasa Nabi Isa tidak bersalah. Toh, tidak ada bukti nyata atas ancaman bahwa dirinya seorang pemberontak.
Pemberontak kekuasaan Romawi sebenarnya adalah orang-orang Yahudi itu sendiri. Hanya saja mereka cuci tangan dan melemparkan Nabi Isa sebagai kambing hitam. Ini yang disebut lempar batu sembunyi tangan.
Dan boleh jadi pengakuan terang-terangan pihak Yahudi bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa justru merupakan upaya mereka mengaburkan jejak kebusukan kelompok mereka. Caranya dengan mengorbankan Nabi Isa yang mereka sendiri tidak menyukainya.
Mereka tidak takut dengan pengakuan terang-terangan sebagai pembunuh Nabi Isa, karena situasinya saat itu memang Nabi Isa dianggap oleh kerajaan Romawi sebagai teroris besar yang halal darahnya. Siapa yang bisa membunuhnya, maka dia akan jadi pahlawan.
الْمَسِيحَ
Lafazh al-masih (الْمَسِيحُ) sebenarnya bukan nama asli, melainkan gelar yang tersemat pada seorang Nabi Isa alahissalam. Abu Ubaidah dan Al-Laits mengatakan bahwa aslinya dalam bahasa Ibrani adalah masyih (مَشِيحًا), namun di-arab-kan menjadi al-masih. Sedangkan maknanya para ulama saling berbeda, antara lain :
§ Ibrahim an-Nakha’i mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) adalah ash-shiddiq (الصِّدِّيقُ) yang berarti yang membenarkan.
§ Ahmad bin Yahya mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) itu dari kata masaha al-ardha (مَسَحَ الْأَرْضَ) yaitu orang yang berjalan atau berkelana di muka bumi.
§ Ibnu Abbas mengatakan bahwa al-masih itu dari kata (مَسَحَ - يَمْسَحُ) artinya orang yang mengusap orang sakit parah dan langsung sembuh seperti sedia kala.
§ Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih (الْمَسِيحُ) karena Dia mengusap dengan minyak barakah yang menjadi ciri para nabi.
§ Ada juga riwayat lain yang mengatakan bahwa makna al-masih adalah orang yang diusap oleh Malaikat Jibril dengan sayapnya ketika lahir ke dunia. Hal itu dilakukan agar Nabi Isa terlindung dari setan.
عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ
Kata isa (عِيْسَى) sendiri disepakati bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan asalnya dari bahasa Ibrani yaitu yasyu’ (يَشُوعُ). Sebagaimana Musa yang juga asal dari bahasa Ibrani yaitu musya (مُوشى) atau misya (مِيشا).
Namun ada banyak ulama yang berpendapat bahwa lafazh Isa sudah menjadi bagian dari bahasa Arab.
Kata ‘ib-na maryam (ابْنَ مَرْيَمَ) artinya : putera Maryam. Bagian ini menarik untuk didiskusikan, yaitu disebutkan bahwa Nabi Isa itu putera Maryam. Memang benar Maryam lah yang melahirkan Nabi Isa. Namun Maryam disebut sebagai wanita suci dalam arti tidak pernah mendapatkan haidh. Kalau tidak mendapat haidh berarti tubuh Maryam tidak memproduksi sel telur. Apakah bisa kita katakan bahwa Maryam hanya menjadi semacam ibu pengganti atau surrogate mother. Dalam kasus Ibu pengganti gestasional, sel telur dan sperma berasal dari pasangan yang menjalani bayi tabung, sehingga bayi tidak memiliki hubungan genetik dengan ibu pengganti.
Namun begitu Nabi Isa tetap disebut sebagai putra Maryam. Dan fakta ini membuat para ulama mengatakan sudah bisa disebut sebagai anak asalkan pernah berada di dalam rahim seorang wanita, meski pun tidak tercipta dari sel telurnya.
Karena itulah para ulama sepakat mengharamkan bayi tabung ketika seorang wanita hanya menjadi donor rahim, sedangkan janin atau sel telurnya milik wanita lain. Hal itu tidak diperkenankan secara syariah dengan pertimbangan bahwa dengan sekedar menjadi donor pun sudah termasuk menjadi ibu bagi anak tersebut. Dan ini akan menimbulkan kerancuan nasab antara wanita pemilik sel telur dengan wanita pemilik rahim.
رَسُولَ اللَّهِ
Kata rasulullah (رَسُولَ اللَّهِ) artinya : utusan Allah. Perkataan ini secara lahirnya masih bagian dari perkataan orang-orang Yahudi. Lalu yang jadi pertanyaan adalah : bukankah Yahudi itu mengingkari Nabi Isa sebagai utusan Allah, namun mengapa mereka menyebut Beliau tetap dengan sebutan : utusan Allah?
Ada beberapa pendapat yang berkembang dan bisa dipertimbangkan, antara lain :
Pertama, mereka menyebut Nabi Isa utusan Allah sebenarnya justru sebagai bentuk ejekan. Kira-kira begini : Kami sudah bunuh Isa yang -ngaku-ngaku- sebagai utusan Allah. Atau : Kami sudah bunuh Isa yang menurut kalian dia adalah utusan Allah.
Al-Quran juga menceritakan bahwa Fir’aun pun pernah menyebut bahwa Musa itu ‘utusan Allah’, namun maksudnya mengejek dan bukan pengakuan.
Sesungguhnya rasul kalian yang diutus kepada kalian itu benar-benar orang gila. (QS. As-Syu’ara: 27)
Begitu juga kaum musyrikin Mekkah pun pernah menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW itu kepadanya diturunkan Al-Quran. Tapi lagi-lagi dalam rangka menjelekkan.
Dan mereka berkata, Wahai orang yang telah diturunkan Al-Quran, kamu itu sungguh benar-benar gila (QS. Al-Hijr : 6)
Kedua, mereka menyebut Nabi Isa utusan Allah, karena untuk menegaskan bahwa memang dia orangnya dan bukan Isa yang lain. Mungkin saja saat itu ada orang lain yang punya nama sama.
Ketiga, yang menyebut nabi Isa utusan Allah sebenarnya bukan orang-orang yahudi, tetapi dalam hal ini adalah Allah SWT. Ketika Allah SWT menceritakan kembali kisah itu kepada kita dalam Al-Quran, maka Allah SWT yang menyebut Beliau sebagai utusan Allah dan bukan orang Yahudi yang bilang.
وَمَا قَتَلُوهُ
Kata wa-ma (وَمَا) artinya : dan tidaklah. Ini adalah penegasan dari Allah SWT yang menafikan klaim sepihak kalangan Yahudi yang merasa telah membunuh dan menyalib Nabi Isa alaihissalam.
Kata qataluhu (قَتَلُوهُ) artinya : mereka membunuhnya. Bagian ini memang agak sedikit bermasalah. Sebab dalam surat Ali Imran tertulis bahwa Allah SWT berkata kepada Nabi Isa, inni mutawaffika () yang artinya : “Aku mewafatkanmu”.
(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku mewafatkan dan mengangkatmu kepada-Ku (QS. Ali Imran : 55)
Tentu saja wajar bila kita jadi bimbang, manakah yang benar. Apakah Nabi Isa wafat atau tidak?
Al-Mawardi dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan dua pendapat yang bertentangan di kalangan para ulama. Dua pertama menolak bahwa Nabi Isa wafat. Namun dua yang berikut justru menerima fakta bahwa Nabi Isa wafat.
1. Pendapat Pertama
Al-Hasan, Ibnu Juraij dan Abu Zaid mengatakan bahwa makna mutawaffika adalah qabidhuka (قابضك) yaitu mengambilmu untuk diangkat ke langit tanpa lewat kematian.
Sebenarnya istilah ‘mengambil’ biasa digunakan juga untuk kematian. Namun menurut mereka Nabi Isa diambil tanpa lewat jalur kematian. Boleh jadi pendapat inilah yang menginspirasi team Kemenag RI ketika menerjemahkan ayat ini.
2. Pendapat Kedua
Ar-Rabi’ mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah membuat tertidur demi untuk diangkat ke langit.
Dasarnya adalah Allah SWT menggunakan kata mewafatkan dengan makna tidur di dalam surat Al-An’am.
Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya tempat kembali.
3. Pendapat Ketiga
Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah mematikan dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga meskipun diangkat ke langit, namun Nabi Isa mengalami proses yang sama dengan para nabi dan manusia semuanya.
Pendapat Ibnu Abbas ini nampaknya agak sejalan dengan pendapat yang umumnya berkembang di kalangan pemeluk Kristen. Sebab mereka pun juga meyakini bahwa Nabi Isa memang mati terbunuh.
Hanya saja bedanya, dalam keyakinan mereka, terbunuhnya Nabi Isa itu demi untuk menebus dosa-dosa manusia. Sedangkan dalam agama Islam, kalau pun pendapat Ibnu Abbas ini mau kita gunakan, tidak jadi masalah. Karena sudah ada banyak para nabi sebelumnya yang terbunuh. Salah satunya adalah Nabi Zakaria alaihisalam.
4. Pendapat Keempat
Qatadah dan Al-Farra’ mengatakan bahwa makna mutawafika (مُتَوَفِّيكَ) adalah dimatikan, namun urutannya diangkat dulu ke langit baru kemudian dimatikan.
وَمَا صَلَبُوهُ
Kata wa-ma (وَمَا) artinya : dan tidaklah. Terulangnya kata wa-ma ini menurut banyak mufassir berfungsi sebagai penguatan atas penolakan terkait tidak benar bahwa mereka membunuh Nabi Isa dan tidak benar juga mereka menyalibnya. Kata shalabuhu (صَلَبُوهُ) artinya : mereka menyalibnya.
Ada pendapat ulama yang mencoba menggabungkan dua ayat yang berbeda dengan mengatakan bahwa Nabi Isa itu memang wafat. Namun wafatnya bukan dengan jalan dibunuh atau disalib. Yang mereka bunuh atau mereka salib itu bukan Nabi Isa, sebagaimana bunyi penggalan ayat ini.
Sedangkan ketika Allah SWT berfirman kepada Nabi Isa bahwa Allah mewafatkannya, maka ayat itu pun benar. Sebab semua makhluk hidup pasti akan merasakan kematian, sebagaimana firman Allah :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Ali Imran : 185)
Dan Nabi Isa biar bagaimana pun juga, Beliau tetap makhluk hidup yang pasti akan merasakan kematian. Yang pasti matinya bukan karena orang-orang Yahudi membunuhnya, juga bukan karena menyalibnya.
Sehingga kalaupun orang-orang nasrani ingin memuliakan Nabi Isa dengan membuat patung salib, sebenarnya agak kurang tepat sasaran kalau menurut ayat ini.
وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ
Kata wa-lakin (وَلَٰكِنْ) artinya : akan tetapi. Kata syubbiha (شُبِّهَ) artinya : diserupakan. Kata lahum (لَهُمْ) artinya : bagi mereka, atau dalam pandangan mereka.
Al-Quran tidak secara spesifik menyebutkan siapa orang yang diserupakan dengan Nabi Isa AS sehingga disalib menggantikannya. Namun, ada beberapa pandangan yang berkembang dalam tradisi Islam berdasarkan riwayat-riwayat dan pendapat ulama.
Sedangkan siapa sosok yang diserupakan dengan Nabi Isa, para ulama tidak sepakat juga. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa orang yang diserupakan dengan Nabi Isa adalah Yudas Iskariot, salah satu murid beliau yang diduga berkhianat dan melaporkan keberadaan Nabi Isa kepada otoritas Yahudi. Menurut pandangan ini Yudas dihukum menggantikan Nabi Isa sebagai bagian dari kehendak Allah. Kemudian Allah membuat wajah Yudas menyerupai Nabi Isa sehingga dia yang ditangkap, disalib, dan dibunuh.
Prof. Quraish Shihab menukil dari tafsir fi Zhilalil Quran, yang konon juga menukil dari Injil Barnabas menuliskan bahwa dalam Injil Barnabas, disebutkan bahwa ketika para prajurit penguasa bersama Yudas mendekati tempat kediaman 'Isa as, dan beliau mendengar kehadiran orang banyak itu, beliau menjauh dari rumah dalam keadaan takut. Murid-muridnya yang sebelas orang ketika itu sedang tidur. Tatkala Tuhan melihat bahaya yang mengancam hamba-Nya, Dia memerintahkan Jibril, Mikail, Rafail, dan Oril yang merupakan utusan-utusan-Nya agar mengambil Yesus dari dunia ini.
Para malaikat suci itu mengambil beliau dari jendela sebelah selatan dan membawa serta menempatkannya di langit yang ketiga bersama para malaikat yang bertasbih menyucikan Tuhan sepanjang masa. Yudas masuk dengan kasar ke kamar tempat di mana Yesus diangkat ke langit sementara para murid yang lain ketika itu semuanya tertidur. Saat itu, Allah melakukan satu keajaiban sehingga berubahlah Yudas dalam ucapan dan bentuk rupa sama dengan Yesus.
Murid-murid Yesus itu berkata: "Maka kami menduga bahwa sesungguhnya dia adalah Yesus. Yudas sendiri setelah membangunkan kami berusaha mencari di mana gerangan sang guru, Yesus. Karena itu, kami semua heran dan kami berkata, "Engkaulah tuanku guru kami! Apakah engkau telah melupakan kami sekarang?"
Namun Injil Barnabas tidak diakui keabsahannya oleh gereja. Apalagi kisah di atas berbeda sepenuhnya dengan apa yang tercantum dalam keempat Injil yang diakui gereja.
Namun pendapat lain menyatakan bahwa salah satu dari murid Nabi Isa secara sukarela menyerahkan dirinya untuk menggantikan beliau. Allah kemudian menjadikan wajahnya serupa dengan Nabi Isa, sehingga dia yang ditangkap dan disalib. Hal ini sejalan dengan nafas ayat dalam surat Ali Imran.
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. (QS. Ali Imran : 52)
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kamilah penolong-penolong agama Allah".(QS. Ash-Shaf : 14)
Ada juga pandangan yang menyebut bahwa seseorang dari kalangan Yahudi yang sangat membenci Nabi Isa dijadikan serupa dengan beliau sebagai hukuman atas niat buruknya. Orang ini kemudian disalib oleh tentara Romawi.
Para ulama berbeda pendapat tentang makna kata mengangkat ke sisi-Nya itu. Asy-Sya'rawi menjelaskan bahwa Allah yang mengambil Nabi Isa secara sempurna itu, mengambil ruh dan jasad beliau ke satu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang-orang kafir, yaitu di sisiNya. Kata di sisi-Nya, dipahami oleh banyak ulama dalam arti ke langit. Dalam komentarnya tentang ayat an-Nisa' ini, asy-Sya'rawi menekankan bahwa tidak heran bila akhir perjalanan hidup Nabi Isa di dunia ini tidak seperti akhir perjalanan hidup manusia lain karena awal kehadirannya di pentas bumi pun berbeda dengan yang lain. Beliau lahir tanpa ayah, bahkan pada masa hidupnya beliau banyak melakukan hal-hal yang bersifat ajaib.
Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah[2] mengutip pendapat Ath-Thabathaba'i yang menganut paham Syi'ah Imamiyah mengatakan bahwa orang syiah juga berpendapat serupa. Dalam tafsir al-Mizan, dia menulis, "Tidaklah mustahil Allah mewafatkan al-Masih dengan mengangkatnya ke sisi-Nya dan memeliharanya, atau Allah memelihara kehidupannya dalam satu cara yang tidak sama dengan kebiasaan umum yang berlaku bagi kita”.
Kata wa innalladzina (وَإِنَّ الَّذِينَ) artinya : dan sungguh mereka. Kata ikhtalafu fihi (اخْتَلَفُوا فِيهِ) artinya : orang-orang yang berselisih dalam masalah itu. Kata lafi (لَفِي) artinya : benar-benar berada di dalam. Kata syakkin (شَكٍّ) artinya : keraguan. Kata minhu (مِنْهُ) artinya : atas hal itu.
Tentang siapakah yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang berselisih’, Fakhruddin Ar-razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[3] menyebutkan ada dua pendapat, yaitu orang-orang Yahudi atau orang-orang nasrani.
1. Yahudi
Pendapat pertama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang berselisih pendapat adalah orang-orang Yahudi. Dalam hal ini terdapat dua penjelasan:
Penjelasan pertama: Ketika mereka membunuh orang yang diserupakan dengan Nabi Isa – wajahnya dibuat mirip dengan Nabi Isa tetapi tubuhnya tidak demikian – mereka menjadi bingung. Setelah membunuhnya, mereka melihat tubuhnya dan berkata, “Wajahnya adalah wajah Isa, tetapi tubuhnya adalah tubuh orang lain.”
Penjelasan kedua: Menurut As-Suddi, orang-orang Yahudi menangkap Nabi Isa bersama sepuluh orang muridnya di dalam sebuah rumah. Lalu, seorang Yahudi masuk untuk mengambil dan membunuhnya. Namun, Allah menjadikan wajah orang Yahudi tersebut menyerupai Nabi Isa, sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit. Kemudian mereka menangkap orang tersebut dan membunuhnya karena mereka mengira dia adalah Nabi Isa. Setelah itu mereka berkata, “Jika ini adalah Isa, di mana orang yang kita kirim? Dan jika ini adalah orang kita, di mana Isa?” Maka dari itulah perselisihan mereka mengenai Nabi Isa muncul.
2. Nasrani
Mereka yang mengatakan bahwa khilafiyah itu terjadi dalam internal kalangan nasrani mengatakan bahwa nasrani pecah menjadi tiga kelompok besar, yaitu kelompok Nestorianisme, Melkanisme, dan Yakubisme. Meski sepakat bahwa orang Yahudi lah yang membunuh Nabi Isa, namun mereka berbeda dalam pandangan mengenai hakikat peristiwa tersebut.
Kelompok Nestorianisme : Mereka mengklaim bahwa penyaliban Al-Masih terjadi pada sifat kemanusiaannya (nasut), bukan pada sifat ketuhanannya (lahut).
Kelompok Melkanisme : Mereka menyatakan bahwa pembunuhan dan penyaliban sampai kepada sifat ketuhanan Al-Masih melalui perasaan dan kesadaran, bukan secara langsung.
Kelompok Yakubisme : Mereka berpendapat bahwa pembunuhan dan penyaliban menimpa Al-Masih yang merupakan substansi tunggal yang lahir dari dua substansi.
Kata maa lahum (مَا لَهُمْ) artinya : mereka tidak punya. Kata bihi (بِهِ) artinya : tentang hal itu. Kata min ilmin (مِنْ عِلْمٍ) artinya : sedikit pun pengetahuan. Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata ittiba’ (اتِّبَاعَ) artinya : mengikuti. Kata azh-zhan (الظَّنِّ) artinya : dugaan atau prasangka.
Masalahnya yang namanya dugaan itu kemudian jadi semacam bola liar yang berlarian ke segala arah. Ada begitu banyak teori yang mengemuka. Fakhruddin Ar-razi dalam tafsirnya Mafatih Al-Ghaib[4] menuliskan bahwa ada banyak versi yang saling berbeda-beda. Namun semuanya berhenti sampai teori belaka.
Versi Pertama
Ada yang mengatakan bahwa ketika orang-orang Yahudi berniat membunuh Nabi Isa, Allah SWT kemudian mengangkatnya ke langit. Maka para pemimpin Yahudi khawatir akan jadi masalah besar kalau orang pada tahu hal ini, maka mereka menangkap seseorang secara random lalu membunuhnya dan menyalibnya. Lalu mereka bilang bahwa yang telah dibunuh itu Nabi Isa.
Banyak yang percaya begitu saja, sebab masyarakat umum sebenarnya tidak begitu mengenal wajah Nabi Isa kecuali sebatas nama saja.
Versi Kedua
Ketika orang-orang Yahudi mengetahui bahwa Nabi Isa berada di suatu tempat bersama para sahabatnya, Yudas sebagai pemimpin orang-orang Yahudi memerintahkan seorang pria bernama Thaytayus untuk masuk ke rumah tersebut dan menangkap Nabi Isa agar dibunuh.
Namun ketika pria itu masuk, Allah mengangkat Nabi Isa melalui atap rumah tersebut dan mengubah wajahnya jadi mirip wajah Nabi Isa. Orang-orang Yahudi lantas mengira dia adalah Nabi Isa, lalu menangkap, menyalib dan membunuhnya.
Versi Ketiga
Ada juga rincian lain yaitu orang-orang Yahudi menugaskan seorang penjaga untuk mengawasi Nabi Isa. Ketika Nabi Isa naik ke gunung dan diangkat ke langit, Allah mengubah wajah penjaga tersebut seperti wajah Nabi Isa. Maka si penjaga itu pun dibunuh. Padahal dia sudah teriak-teriak bahwa dirinya bukan Nabi Isa.
Versi Keempat
Ketika orang-orang Yahudi hendak menangkap Nabi Isa, Beliau berkata kepada murid-muridnya, "Siapa yang mau membeli surga dengan cara diubah wajahnya jadi mirip denganku?"
Salah seorang dari mereka berkata, "Saya." Maka Allah mengubah wajahnya jadi mirip Nabi Isa. Dia pun lalu ditangkap dan dibunuh, sedangkan Nabi Isa diangkat ke langit.
Versi Kelima
Ada seorang pria yang mengaku sebagai sahabat Nabi Isa, tetapi sebenarnya dia adalah seorang munafik. Dia pergi kepada orang-orang Yahudi dan menunjukkan keberadaan Nabi Isa. Ketika dia masuk bersama mereka untuk menangkap Nabi Isa, Allah mengubah wajahnya jadi mirip dengan Nabi Isa, sehingga dia pun dibunuh dan disalib.
وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا
Kata wa-maa (وَمَا) artinya : dan tidak lah. Kata qataluu-hu (قَتَلُوهُ) artinya : mereka membunuhnya. Maksudnya adalah Nabi Isa alaihissalam. Kata yaqina (يَقِينًا) artinya : dengan yakin. Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[5] menuliskan ada tiga pendapat tentang penafsiran penggalan ini, yaitu :
§ Penafsiran pertama: Mereka tidak membunuh dugaan mereka dengan yakin, sebagaimana seseorang berkata, "Aku tidak membunuhnya dengan pengetahuan." Ini adalah pendapat dari Ibnu Abbas dan Juwaibir.
§ Penafsiran kedua: Mereka tidak membunuh perkara dengan yakin, apakah orang itu adalah Nabi Isa atau orang lain. Ini adalah pendapat As-Suddi.
§ Penafsiran ketiga: Mereka tidak membunuhnya secara nyata atau sebenarnya. Ini adalah pendapat Al-Hasan.