Kata bal (بَلْ) artinya : tetapi, atau akan tetapi, atau bisa juga diterjemahkan menjadi : bahkan. Kata rafa’a-hullah (رَفَعَهُ اللَّهُ) artinya : mengangkatnya. Pelakunya adalah Allah. Kata ilaihi (إِلَيْهِ) artinya : kepada-Nya.
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan ada dua pandangan yang berbeda dalam masalah ini.
Menurut pendapat pertama, bahwa Allah SWT mengangkat Nabi Isa alaihissalam ke suatu tempat yang tidak berlaku hukum siapa pun dari makhluk-Nya atasnya. Maka, pengangkatannya ke tempat di mana tidak ada hukum makhluk yang berlaku disebut sebagai pengangkatan kepada-Nya. Ini adalah pendapat sebagian ulama Basrah.
Sedangkan pendapat yang lain mengatakan bahwa Allah SWT mengangkat Nabi Isa ke langit. Ini adalah pendapat Al-Hasan. Adapun ke langit yang manakah Beliau diangkat, tidak ada penjelasan langsung.
Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa secara tidak langsung diriwayatkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW dimi’rajkan ke langit, Beliau SAW bertemu dengan Nabi Isa ‘alaihissalam di langit kedua. Berikut adalah petikannya dalam sebuah hadits terkait Isra’ Mi’raj.
ثُمَّ عُرِجَ بِنا إلى السَّماءِ الثّانِيَةِ، فاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، فَقِيلَ: مَنَ أنْتَ؟ قالَ: جِبْرِيلُ، قِيلَ: ومَن مَعَكَ؟ قالَ: مُحَمَّدٌ، قِيلَ: وقَدْ بُعِثَ إلَيْهِ؟ قالَ: قَدْ بُعِثَ إلَيْهِ، فَفُتِحَ لَنا، فَإذا أنا بِابْنَيْ الخالَةِ عِيسى ابْنِ مَرْيَمَ، ويَحْيى بْنِ زَكَرِيّاءَ، صَلَواتُ اللهِ عَلَيْهِما، فَرَحَّبا ودَعَوا لِي بِخَيْرٍ،
Kemudian kami dimi’rajkan ke atas langit yang kedua. Jibril meminta dibukakan lalu ada suara bertanya, “Siapa Anda?”. Jibril menjawab, “Jibril”. Suara itu bertanya lagi, “Siapa yang bersamamu?”. Jibril menjawab, “Muhammad”.Suara itu bertanya lagi, “Apakah dia telah diutus kepadanya?”. Jibril menjawab, “Ya, telah diutus kepadanya”. Maka dibukakan pintu untuk kami. Ternyata itu adalah dua orang putera bibiku, Nabi Isa dan Nabi Yahya bin Zakaria alaihimassalam. Keduanya menyambut kami dan mendoakan kebaikan untukku”.
Imam Ahmad meriwayatkan, dari Yunus dan Hujain, dari Al-Laits, dari Abu Zubair, dari Jabir, dari Nabi SAW, beliau bersabda:
ثُمَّ أُرِيتُ جُمْلَةً مِنَ الْأَنْبِيَاءِ، فَرَأَيْتُ مُوسَى، فَإِذَا هُوَ رَجُلٌ ضَرْبٌ، كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ. وَرَأَيْتُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةَ بْنَ مَسْعُودٍ. وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ، فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا صَاحِبَكُمْ هَذَا
“…Setelah itu aku diperlihatkan sejumlah nabi. Di sana aku melihat Musa. Ia adalah contoh pria yang memiliki postur yang tegap (yakni besar dan kekar). Kemudian aku melihat Isa bin Maryam, setelah aku amati dari dekat wajahnya sangat mirip dengan Urwah bin Mas’ud. Kemudian aku melihat Ibrahim, dan ketika aku amati dari dekat wajahnya mirip dengan orang yang bersama kalian ini”. (HR. Ahmad)
Ada hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, melalui Aswad bin Amir, dari Israil, dari Utsman, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra, ia berkata, Nabi SAW bersabda:
لَقِيتُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ وَمُوسَى وَإِبْرَاهِيمَ. فَأَمَّا عِيسَى فَآدَمُ اللَّوْنِ جَعْدُ الشَّعْرِ عَرِيضُ الصَّدْرِ. وَأَمَّا مُوسَى فَآدَمُ اللَّوْنِ طَوِيلٌ جَعْدٌ. فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ إِبْرَاهِيمُ؟ قَالَ: انْظُرُوا إِلَى صَاحِبِكُمْ
“Ketika itu aku bertemu Isa bin Maryam, Musa, dan Ibrahim. Adapun Isa, ia memiliki warna kulit yang kemerahan, berambut ikal, dan dada yang membusung. Sedangkan Musa memiliki warna kulit yang gelap, bertubuh tegap, dan rambut yang panjang. Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan Ibrahim?” Nabi SAW menjawab, “Lihatlah sahabat kalian ini”. (HR. Ahmad)
Hanya saja kalau kita katakan bahwa Nabi Isa berada di langit bersama para nabi yang lain, justru muncul spekulasi baru : kalau begitu Nabi Isa seharusnya sudah wafat. Sebab keberadaannya justru bersama dengan para nabi lain yang sudah wafat. Setidaknya Nabi Yahya itu mati terbunuh. Kalau Nabi Isa bersama dengan Nabi Yahya di langit yang sama, lalu apa bedanya bahwa Nabi Isa diangkat ke langit dengan Nabi Yahya yang mati dibunuh?
Maka sebagian kalangan ada yang berspekulasi bahwa sebenarnya Nabi Isa itu sudah berada di alam barzakh, namun tanpa melalui proses kematian sebagaimana umumnya orang yang wafat. Hal itu karena nantinya Nabi Isa akan kembali lagi ke dunia menjelang datangnya hari kiamat. Setelah itu barulah Dia akan mengalami proses kematian yang layaknya dialami oleh semua makhluk yang bernyawa.
Al-Quran sendiri tidak terlalu rinci menjelaskan detail semua itu. Hanya saja ada semacam informasi yang bisa ditafsirkan macam-macam, misalnya terkait dengan ucapan Nabi Isa sendiri.
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali). (QS. Maryam : 33)
Kata wa kanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah. Kata kaana sendiri dalam bentuk fi’il madhi bisa berarti masa waktu yang terdahulu atau sejak dahulu. Oleh karena itu, ketika kita membaca atau mendengar kata kana yang dikaitkan dengan Allah, seperti dalam sebutan Maha Mengetahui, Maha Penyayang, dan lainnya, kita harus memahami bahwa meskipun kata tersebut mengandung makna "dahulu," makna tersebut harus disertai dengan pemahaman bahwa Allah tetap demikian hingga kini dan seterusnya.
Lafazh azizan (عَزِيزًا) artinya : Yang Maha Perkasa. Lafazh hakiman (حَكِيمًا) artinya : Maha Bijaksana.
Antara Maha Perkasa dan Maha Bijaksana sebenarnya merupakan dua sifat Allah SWT yang secara teknis saling bertentangan. Namun untuk Allah, kedua sifat yang bertentangan itu justru menyatu menjadi harmoni yang indah.
Padahal kalau pada manusia, orang yang gagah perkasa itu umumnya cenderung menjadi tidak bijaksana. Begitu juga, bila manusia itu bijaksana, pada umumnya malah merontokkan sikap gagah perkasa. Namun kedua hal yang berseberangan kutub itu justru berpadu. Bahwa di balik Allah SWT yang Maha Gagah Perkasa, ada sifat Allah SWT yang Maha Bijaksana.
Bukan perkara yang mudah untuk memadukan kedua sifat yang saling berlawanan, namun bagi Allah SWT hal itu mudah sekali. Makanya kita temukan penggalan ayat yang unik sekali, yaitu Allah SWT Yang Maha Gagah Perksana namun sekaligus juga Maha Bijaksana.