Kata rusulan (رُسُلًا) adalah bentuk jamak yang berarti : para rasul atau para utusan. Bentuk tunggalnya adalah kata rasul (رسول) saja. Yang dimaksud dengan utusan disini adalah para nabi dengan derajat yang lebih tinggi, yaitu utusan Allah. Diluar dari para nabi, terkadang Allah SWT juga menggunakan kata rasul, namun dengan kategori malaikat.
Salah satunya adalah Malaikat Jibril ‘alaihissalam, ketika bertemu dengan Maryam, Jibril menyatakan dirinya adalah rasul rabbika, yang berarti utusan Allah. Tetapi maksudnya tentu saja Jibril bukan seorang nabi utusan Allah.
قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا
Dia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci kepadamu.” (QS. Maryam : 19)
Kata mubasysyirin (مُبَشِّرِينَ) artinya : mereka sebagai pembawa kabar gembira. Kata ini adalah bentuk isim fa’il dari kata kerja (بَشَّرَ – يُبَشِّرُ - تَبْشِيْراً). Asalnya dari tiga huruf yaitu ba’, syin dan ra’ (ب-ش-ر). Pembentukan katanya bisa jadi macam-macam, antara lain :
§ Kata busyra (بُشْرَى) : berarti kabar gembira atau berita baik, sebagaimana termuat dalam surat Yusuf.
قَالَ يَا بُشْرَىٰ هَٰذَا غُلَامٌ
"Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!" (QS. Yusuf : 19)
§ Kata basyar (بشر) artinya : manusia secara biologis.
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا
Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" (QS. Al-Isra : 94)
§ Kata basyarah (بشرة) artinya : kulit.
Namun dalam konteks ayat ini kata mubasysyirin (مُبَشِّرِينَ) ini yang dimaksud adalah sifat dan tugas para rasul yang diutus oleh Allah. Kepada mereka Allah SWT titipkan pesan untuk menyampaikan kabar gembira. Yang kemudian menjadi pertanyaan berikutnya adalah : apa yang dimaksud dengan kabar gembira?
Ada beberapa ayat Al-Quran yang secara tidak langsung menyubutkan bentuk kabar gembiranya, antara lain ayat berikut ini :
§ Kedudukan Yang Tinggi
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka. (QS. Yusuf : 2)
§ Surga
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Sampaikanlah kabar gembira kepada orangorang yang beriman dan beramal saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. (QS. Al-Baqarah : 25)
§ Keberkahan, Rahmat dan Petunjuk
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah : 155-157)
§ Tidak Takut dan Tidak Bersedih Hati
فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (QS. Ali Imran : 170)
§ Kemenangan di Dunia
وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Allah tidak menjadikannya (bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal : 10)
Kata li-alla (لِئَلَّا) artinya : agar tidak, atau agar jangan. Kata yakuna (يَكُونَ) artinya : menjadi. Kata lin-nasi (لِلنَّاسِ) artinya : bagi manusia. Kata ‘alallahi (عَلَى اللَّهِ) artinya : atas Allah. Kata hujjatun (حُجَّةٌ) artinya : hujjah. Kata ba’dar-rusul (بَعْدَ الرُّسُل) artinya : setelah para rasul.
Penggalan ini dalam versi terjemahan Kemenag RI menjadi : “agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus”.
Hikmah diutusnya para rasul adalah agar manusia tidak memiliki alasan atau dalih untuk membenarkan kekufuran dan kesesatan mereka di hadapan Allah. Jika Allah tidak mengutus para rasul, bisa jadi manusia akan beralasan bahwa mereka tidak mengetahui petunjuk yang benar. Oleh karena itu, setelah datangnya para rasul dengan wahyu dan ajaran yang jelas, manusia tidak lagi memiliki hujah atau argumen untuk membela diri pada hari kiamat.
Ayat ini selaras dengan prinsip dalam ayat lain bahwa Allah tidak akan menyiksa suatu kaum sebelum mengutus seorang rasul kepada mereka, sebagaimana dalam ayat lain:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
"Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra’: 15)
Lafazh wa-kanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : Dan adalah Allah. Kata kana (كان) biasanya berarti "dahulu" atau "pernah," karena Allah SWT adalah satu-satunya wujud yang tidak mengalami perubahan. Yang berubah adalah makhluk.
Oleh karena itu, ketika kita membaca atau mendengar kata kana yang dikaitkan dengan Allah, seperti dalam sebutan Maha Mengetahui, Maha Penyayang, dan lainnya, kita harus memahami bahwa meskipun kata tersebut mengandung makna "dahulu," makna tersebut harus disertai dengan pemahaman bahwa Allah tetap demikian hingga kini dan seterusnya.
Lafazh azizan (عَزِيزًا) artinya : Yang Maha Perkasa. Lafazh hakiman (حَكِيمًا) artinya : Maha Bijaksana.
Antara Maha Perkasa dan Maha Bijaksana sebenarnya merupakan dua sifat Allah SWT yang secara teknis saling bertentangan. Namun untuk Allah, kedua sifat yang bertentangan itu justru menyatu menjadi harmoni yang indah.
Padahal kalau pada manusia, orang yang gagah perkasa itu umumnya cenderung menjadi tidak bijaksana. Begitu juga, bila manusia itu bijaksana, pada umumnya malah merontokkan sikap gagah perkasa. Namun kedua hal yang berseberangan kutub itu justru berpadu. Bahwa di balik Allah SWT yang Maha Gagah Perkasa, ada sifat Allah SWT yang Maha Bijaksana.
Bukan perkara yang mudah untuk memadukan kedua sifat yang saling berlawanan, namun bagi Allah SWT hal itu mudah sekali. Makanya kita temukan penggalan ayat yang unik sekali, yaitu Allah SWT Yang Maha Gagah Perksana namun sekaligus juga Maha Bijaksana.