Kemenag RI 2019:Wahai manusia, sungguh telah datang Rasul (Nabi Muhammad) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu. Maka, berimanlah (kepadanya). Itu lebih baik bagimu. Jika kamu kufur, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Prof. Quraish Shihab:Wahai seluruh manusia! Sungguh, telah datang kepada kalian seorang Rasul (Nabi Muhammad saw.) dengan haq (benar dan membawa kebenaran) dari Tuhanmu. Maka berimanlah, itu lebih baik bagi kalian. Jika kalian kafir, sesungguhnya segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Prof. HAMKA:Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul dengan membawa kebenaran dari Tuhanmu, maka percayalah kepadanya! Itulah yang terbaik bagi kamu. Namun jika kamu tidak mau beriman, maka sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Perintah ini dilengkapi sekalian dengan penegasan bahwa jika tidak mau beriman, maka mereka akan rugi sendiri. Sedangkan Allah SWT tidak akan pernah dirugikan. Karena Allah memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ
Kata ya ayyuha (يَا أَيُّهَا) artinya : wahai. Huruf ya (يا) disebut dengan harfun-nida yaitu huruf hijaiyah dalam bahasa Arab gunanya untuk menyapa orang yang posisinya agak jauh. Sedangkan kata ayyuha (أيها) terdiri dari ayyu dan ha, dimana kata ayyu (أي) adalah ism munada dan ha (ها) berfungsi sebagai tanbih : memberi perhatian.
Secara keseluruhan sulit untuk bisa dicarikan padanan kata yang pas dan presisi karena keterbatasan bahasa, sehingga para penerjemah sering ambil jalan pintas dengan menerjemahkannya dengan sederhana menjadi : Wahai.
Kata an-nasu (النَّاسُ) artinya : manusia.
Dalam hal ini Allah SWT menyapa manusia yang mana termasuk juga selain orang beriman. Umumnya para mufassir mengenali ayat yang turun di masa Mekkah apabila panggilannya ditujukan kepada manusia (الناس).
Sebaliknya apabila panggilannya khusus hanya orang-orang beriman (يآأيها الذين آمنوا), itu menunjukkan ciri bahwa ayat itu turun sudah di masa Madinah.
Para ulama fiqih menggunakan panggilan Allah SWT kepada manusia dalam ayat ini sebagai dasar bahwa orang-orang kafir yang bukan muslim tetap jadi objek dalam menjalankan perintah ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.
Meskipun begitu, apabila orang kafir menjalankan perintah ibadah itu hukumnya tidak sah, karena syarat diterimanya ritual ibadah harus berstatus sebagai muslim. Ini bisa diibaratkan dengan perintah mengerjakan shalat bagi seorang muslim yang belum berwudhu’.
Dia wajib mengerjakan shalat dan berdosa bila meninggalkannya, namun kalau dia mau mengerjakan shalat dia harus berwudhu’ terlebih dahulu. Bila dia nekat mengerjakan shalat tapi belum berwudhu’, maka shalatnya tidak diterima.
Begitu juga dengan orang kafir, mereka tetap diwajibkan menjalankan ibadah-ibadah ritual sebagaimana kita sebagai muslim. Namun selama mereka belum membaca syahadat menjadi muslim, semua ibadah yang mereka lakukan tidak sah dan tidak diterima Allah SWT.
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. (QS. Al-Araf : 147)
قَدْ جَاءَكُمُ الرَّسُولُ
Kata qad (قَدْ) artinya : sungguh telah. Kata jaa-a-kum (جَاءَكُمُ) artinya : datang kepada kamu. Tentu saja yang dimaksud dengan datang bukanlah datang dari tempat yang jauh atau datang dari atas langit turun ke bumi. Tetapi yang dimaksud telah datang waktunya. Sehingga membacanya menjadi : telah datang masa dimana Allah SWT telah mengangkat seorang utusan atau rasul.
Kata ar-rasul (الرَّسُولُ) artinya : sang rasul atau sang utusan. Maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW. Walaupun ternyata berita kedatangan Nabi Muhammad SAW ini agak sedikit di luar ekspektasi, atau lebih tepatnya di luar kebiasaan yang ada selama ratusan tahun.
Biasanya Allah SWT mengutus nabi dan rasul itu dari kalangan Bani Israil, namun kali ini Allah SWT berkehendak untuk mengangkat seorang rasul dari luar klan Bani Israil, yaitu dari kalangan bangsa Arab. Bangsa Arab semenjak masa kenabian Ibrahim dan puteranya Ismail alaihimassalam, nyaris tidak pernah kedatangan seorang nabi pun.
Memang benar ada disebut-sebut empat orang nabi yang konon dari tanah Arab, yaitu Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Ismail dan Nabi Syu’aib. Namun Nabi Hud dan Nabi Shalih hidupnya sebelum Nabi Ismail. Sedangkan Nabi Syu’aib agak sulit dibilang tinggal di negeri Arab, karena yang dimaksud adalah negeri Madyan.
Berikut ini adalah urutan keempat nabi yang berasal dari bangsa Arab berdasarkan perkiraan masa kehidupan mereka serta wilayah tempat tinggal yang lebih spesifik:
1. Nabi Hud AS (sekitar 2400–2100 SM)
Nabi Hud AS diutus kepada kaum ‘Ad yang tinggal di wilayah Al-Ahqaf, yang sekarang terletak di sekitar Rub' al-Khali (Empty Quarter), antara Yaman, Oman, dan bagian selatan Arab Saudi. Wilayah ini dikenal sebagai gurun luas yang menjadi tempat peradaban kaum ‘Ad sebelum mereka dihancurkan oleh azab Allah.
2. Nabi Shalih AS (sekitar 2100–2000 SM)
Nabi Shalih AS diutus kepada kaum Tsamud yang menetap di Al-Hijr, yang kini dikenal sebagai Mada'in Shalih di barat laut Arab Saudi, sekitar 300 km dari Madinah. Kaum Tsamud membangun rumah dan istana mereka dengan memahat batu-batu besar di wilayah ini.
3. Nabi Ibrahim AS & Nabi Ismail AS (sekitar 2000–1800 SM)
Nabi Ibrahim AS berasal dari Ur (Irak) dan Hijaz (Arab Saudi), sementara Nabi Ismail AS menetap di Mekah, di wilayah Hijaz, Arab Saudi. Nabi Ismail AS dikenal sebagai nenek moyang bangsa Arab Musta'ribah (Arab yang berasal dari keturunan non-Arab tetapi berbaur dengan bangsa Arab asli). Ia berperan dalam pembangunan Ka’bah bersama ayahnya, Nabi Ibrahim AS.
4. Nabi Syu’aib AS (sekitar 1600–1500 SM)
Nabi Syu’aib AS diutus kepada kaum Madyan dan Aikah, yang menetap di wilayah Madyan, yang sekarang terletak di barat laut Arab Saudi, dekat perbatasan dengan Yordania. Madyan merupakan daerah yang dekat dengan Teluk Aqabah dan Laut Merah.
بِالْحَقِّ مِنْ رَبِّكُمْ
Kata bil-haqqi (بِالْحَقِّ) artinya : dengan membawa kebenaran, yaitu Al-Quran dan agama Islam. Kata min-rabbikum (مِنْ رَبِّكُمْ) artinya : dari Tuhanmu.
Hal ini perlu ditekankan karena ada sebagian kalangan Yahudi yang mengingkari kenabian Muhamamd SAW dengan menyebutkan hal-hal tertentu yang dianggap bukan ciri dari kenabian. Tujuannya tidak lain adalah untuk membuat orang tidak percaya kepada status Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Diantaranya mereka mengatakan bahwa aneh sekali Allah SWT tidak menurunkan Al-Quran secara sekaligus sebagaimana turunnya Taurat kepada Nabi Musa.
Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Mengapa Al-Qur'an ini tidak diturunkan kepadanya sekaligus?' (QS. Al-Furqan : 32)
Selain itu mereka mengatakan kalaupun Allah SWT mengutus seorang rasul, hanya mungkin bila dia adalah anak keturunan dari Nabi Harun atau Nabi Daud alaihimassalam.
Sedangkan dari kalangan bangsa Arab yang sejak awal tidak mengenal konsep kenabian, alasan mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad SAW antara lain sudah disebutkan dalam Al-Quran.
Dan mereka berkata,'Mengapa rasul ini makan makanan dan berjalan di pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar dia memberi peringatan bersamanya?' (QS. Al-Furqan : 7)
"Atau (mengapa tidak) diturunkan kepadanya perbendaharaan (harta) atau ada kebun baginya, sehingga dia dapat makan darinya?” Dan orang-orang zalim itu berkata, “Kamu hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.” (QS. Al-Furqan :8)
Katakanlah,'Seandainya di bumi ini ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, pasti Kami turunkan kepada mereka malaikat dari langit sebagai rasul.’ (QS. Al-Isra' : 95)
"Dan mereka berkata,'Mengapa Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekkah dan Thaif)?'" (QS. Az-Zukhruf :31)
فَآمِنُوا خَيْرًا لَكُمْ
Kata fa-aaminu (فَآمِنُوا) terdiri dari huruf fa (ف) yang artinya : maka. Lalu kata aaminu (أمنوا) adalah kata kerja dalam bentuk perintah alias fi’il amr. Artinya menjadi : berimanlah kamu.
Kata khairan lakum (خَيْرًا لَكُمْ) artinya : lebih baik untuk kamu. Maka lengkapnya menjadi : Maka berimanlah kepada Nabi SAW, karena hal itu lebih baik bagimu.
Perintah ini ditujukan kepada umat manusia, yang konotasinya bukan orang-orang yang beriman. Maka termasuk di dalamnya kaum musyrikin Mekkah yang sejak awal tidak pernah mengenal konsep kenabian.
Selain itu juga berlaku kepada orang-orang Yahudi Madinah yang awalnya sempat mengakui kenabian Muhammad SAW. Namun seiring berjalannya waktu, mereka pun satu per satu mulai mengingkari kenabiannya.
Baik kepada kaum musyrikin Mekkah ataupun kepada Yahudi di Madinah, perintah Allah SWT kepada mereka itu sederhana sekali, cukup sekedar mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah benar-benar seorang nabi utusan Allah SWT. Dan mengakui kenabian Muhammad SAW itu tidak akan mendatangkan kerugian apapun bagi mereka, justru akan mendapatkan kebaikan bagi mereka.
Dan kebaikan yang dimaksud tidak lain adalah kebaikan di dunia sekaligus juga kebaikan di akhirat. Kebaikan di dunia adalah berupa dimenangkannya pihak kaum muslimin dalam hampir semua perang mereka, selain juga dapat keuntungan besar dari didapatnya ghanimah alias harta rampasan perang.
Sedangkan kebaikan di akhirat adalah janji Allah SWT kepada kaum muslimin untuk diberikan kepada mereka berbagai kenikmatan, ampunan dan berbagai kebaikan yang sifatnya di akhirat. Dan tentu saja kebaikan yang paling tinggi adalah dijaminnya mereka masuk surga hidup kekal di dalamnya.
Semua itu adalah wujud kebaikan yang bersifat multiple live, sebagaimana doa khas Nabi Muhammad SAW :
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah : 201)
Sebaliknya, jika berpihak kepada orang kafir maka secara keseluruhan hanya akan menimbulkan berbagai kerugian, baik di dunia ataupun kerugian di akhirat.
Di dunia akan kalah terus-terusan, serta menanggung malu dan kehilangan harta benda serta sanak saudara. Sedangkan di akhirat, sudah dipastikan akan masuk neraka, kekal abadi di dalamnya.
Maka kalau mau dapat kebaikan, sederhana saja jalannya, cukup akui kenabian Muhammad SAW. Sesimple itu saja.
وَإِنْ تَكْفُرُوا
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika. Kata takfuru (تَكْفُرُوا) artinya : kamu kafir, atau kamu ingkar. Maksudnya jika kamu tidak mau beriman dan tetap saja menjadi orang kafir, maka Allah SWT tidak rugi sedikit pun.
Kesannya dalam benak mereka, dengan tidak mau beriman kepada Allah, disangkanya Allah SWT akan merugi. Pertimbangan untung rugi bagi kaum musyrikin dalam urusan menyembah objek-objek yang mereka pertuhankan itu memang terjadi. Semakin ngetop suatu berhala, maka penunggunya atau perantaranya, akan semakin bahagia. Sebab semua itu bisa dimonetisasi menjadi keuntungan secara materi.
Maka untuk menjawab hal ini, Allah tetapkan bahwa Allah SWT itu tidak bicara untung rugi secara materi, karena segala apa yang ada di langit dan di bumi pada dasarnya milik Allah.
فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
Kata fa-inna (فَإِنَّ) artinya : maka sesungguhnya. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : milik Allah. Kata ma fis-samawati (مَا فِي السَّمَاوَاتِ) artinya : segala apa yang ada di berbagai langit. Kata wal-ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi.
Ketika Allah SWT hendak menyebutkan bahwa diri-Nya kaya raya, karena memiliki segalanya, maka diungkap dengan gaya bahasa bahwa Dia adalah pemilik dari segala apa yang ada di langit dan di bumi. Sebenarnya cukup dengan mengatakan segala yang di bumi saja, tidak perlu disebut segala apa yang di langit. Toh dari langit itu, kekayaan apa yang mau disebut?
Namun apa yang Allah SWT ungkapkan bahwa Dia adalah pemilik semuanya sudah sangat benar. Sebab segala kekayaan yang ada di bumi ini apalah artinya kalau tidak ada sumbernya dari langit. Kekayaan yang ada di bumi tentunya mencakup semua hasil bumi, yaitu berbagai macam tanaman dan tumbuhan. Selain itu juga berbagai macam ternak yang mana ternak itu juga butuh makanan dari tumbuhan.
Dan tumbuhan di bumi tidak akan bisa hidup kalau tidak mendapatkan curah hujan dari langit. Maka ketika Allah SWT menyebutkan kekayaan di langit dan di bumi, pada dasarnya Allah SWT sudah mendeskripsikan berbagai macam kekayaan di bumi lengkap dengan sumbernya yaitu curah hujan yang asalnya dari langit. Allah SWT berfirman :
Dialah yang menurunkan air dari langit untuk kamu; sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dengan air itu, Dia menumbuhkan untuk kamu tanaman-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. An-Nahl : 10)
Ayat ini menegaskan bahwa hujan adalah bentuk rahmat Allah yang diberikan setelah masa kekeringan dan keputusasaan manusia. Hujan membawa kehidupan, kesuburan, dan keberkahan bagi bumi dan seluruh makhluk hidup.
وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
Kata wa-kana (وَكَانَ) artinya : dan adalah. Kata Allah (اللَّهُ) artinya : Allah. Kata ‘aliman (عَلِيمًا) artinya : Maha Mengetahui. Kata hakiman (حَكِيمًا) artinya : Maha Bijaksana.
Ayat ini ditutup dengan sebuah penggalan yang mengungkapkan dua sifat Allah yang unik, yaitu Allah Maha Mengetahui yang disambung dengan Allah Maha Bijaksana. Secara tersirat dijelaskan kepada kita bahwa kebijaksanaan itu baru akan lahir dari pengetahuan yang mendalam.
Bagaimana seorang raja bisa bersikap bijak bila dia kurang informasi terhadap hal-hal yang menimpa rakyatnya. Kelaliman sang angkara murka umumnya lahir dari tidak lengkapnya informasi yang dia miliki dan berat sebelah. Dengan sumber informasi yang tidak beribmang itulah maka dia jadi mudah melakukan banyak ketidak-adilan.
Maka betapa indahnya ungkapan yang menyatakan bahwa Allah SWT itu punya dua sifat perpaduan yang saling melengkapi, yaitu Dia Maha Mengetahui segala keadaan hamba-Nya. Dan dengan itu semua, wajar bila Dia menjadi Maha Bijaksana.