Kemenag RI 2019:Seandainya mereka menegakkan (hukum) Taurat, Injil, dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. ) Di antara mereka ada umat yang menempuh jalan yang lurus. Sementara itu, banyak di antara mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan. Prof. Quraish Shihab:Dan jika seandainya mereka sungguh-sungguh menegakkan Taurat, Injil dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan Pemelihara mereka, niscaya mereka akan makan
(memperoleh rezeki yang bersumber) dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. " Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan banyak di antara mereka yang sangat buruk apa yang mereka kerjakan. Prof. HAMKA:Dan sekiranya mereka benar-benar menegakkan Taurat dan Injil serta apa yang telah diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapatkan rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang berlaku adil, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk amal perbuatannya.
Ayat ke-66 ini merupakan ayat yang menggabarkan betapa amat buruknya perilaku orang-orang Yahudi di masa kenabian Muhammad SAW. Mereka bukan saja tidak beriman dan tidak bertaqwa, bahkan mereka pun tidak mau beriman kepada kitab-kitab suci yang telah Allah SWT turunkan.
Padahal mereka punya gelar sebagai ahli kitab. Lucunya justru mereka ingkar kepada Taurat sebagai kitab suci yang turun sejak zaman leluhur mereka. Mereka juga ingkar kepada Injil yang turun kepada nabi dari kalangan mereka sendiri. Bahkan semua kitab suci yang pernah diturunkan, semuanya mereka ingkari juga. Apalagi kepada Al-Quran Al-Karim yang turunnya kepada nabi di luar kalangan mereka, maka mereka pun ingkar juga.
Padahal Allah SWT menjanjikan jika mereka beriman kepada kitab-kitab itu, pastilah Allah SWT bukakan rejeki mereka dari langit dan bumi.
Meskipun begitu, ayat ini juga dengan jujur menceritakan keberadaan orang-orang yang adil, lurus dan benar di tengah mereka. Hanya saja jumlahnya sedikit sekali.
وَلَوْ أَنَّهُمْ
Kata wa law (وَلَوْ) artinya : dan jika. Kata annahum (أَنَّهُمْ) artinya : mereka. Penggalan ini merupakan pengulangan dari penggalan di ayat sebelumnya.
Kalau di ayat sebelumnya disebutkan : “seandainya Ahlulkitab itu beriman dan bertaqwa”, maka di ayat ini ditambahkan dengan seandainya lagi yang berikutnya, yaitu : “seandainya mereka menegakkan Taurat, Injil dan kitab-kitab lainnya”.
Beriman dan bertaqwa di ayat sebelumnya disandingkan dengan ampunan dosa dan masuk surga, di ayat ini, menegakkan Taurat, Injil dan kitab suci lainnya disandingkan dengan rejeki yang berlimpah dari langit dan bumi.
أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
Kata aqaamu (أَقَامُوا) artinya : menegakkan. Kata at-taurah (التَّوْرَاةَ) artinya : Taurat. Kata wal-injiil (وَالْإِنْجِيلَ) artinya : dan Injil.
Fakhurddin Ar-Razi ketika menjelaskan penggalan ini dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1]menuliskan tiga pendapat yang berbeda dari pendapat para ulama.
Pertama: Menegakkan Taurat berarti mengamalkan isi kandungannya dengan cara setia terhadap perjanjian-perjanjian Allah yang tercantum di dalamnya, serta pengakuan bahwa di dalamnya terdapat dalil-dalil yang menunjukkan akan diutusnya Muhammad SAW.
Kedua: Menegakkan Taurat berarti menegakkan hukum-hukum dan batasan-batasannya, sebagaimana dikatakan: "Ia menegakkan shalat" jika ia melaksanakan hak-haknya. Dan tidak dikatakan seseorang telah menegakkannya bila ia tidak memenuhi syarat-syaratnya.
Ketiga: Mereka menjadikannya selalu di hadapan mata mereka agar tidak tergelincir dalam hal apa pun dari batasan-batasannya. Semua makna ini baik, namun yang pertama adalah yang paling baik.
Kata wa ma (وَمَا) artinya : dan apa yang. Kata unzila (أُنْزِلَ) artinya : diturunkan. Kata ilaihim (إِلَيْهِمْ) artinya : kepada mereka. Kata min rabbihim (مِنْ رَبِّهِمْ) artinya : dari Tuhan mereka.
Banyak ulama yang memaknai ungkapan ‘apa yang diturunkan dari Tuhan mereka’ adalah Al-Quran Al-Karim, diantaranya adalah Ibnu Abbas. Maka bukan hanya Taurat dan Injil saja yang wajib ditegakkan, tetapi termasuk juga Al-Quran.
Namun ada juga pendapat lain, salah satunya pendapat Abu Hayyan.Dia mengatakan bahwa yang dimaksud adalah kitab-kitab para nabi Bani Israil, seperti Kitab Yesaya, Kitab Yehezkiel, Kitab Habakuk, dan Kitab Daniel. Sedangkan Al-Quran tidak disebukan, karena justru di dalam kitab-kitab itu termuat kabar tentang diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Atau bisa juga kita masukkan semuanya, yaitu Al-Quran dan juga semua kitab suci yang pernah diturunkan. Toh semua itu bersumber dari Allah SWT juga. Maka seharusnya mereka tegakkan semuanya.
Kata laakalu (لَأَكَلُوا) artinya : pasti mereka makan. Kata min fawqihim (مِنْ فَوْقِهِمْ) artinya : dari atas mereka. Kata wa min tahti arjulihim (وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ) artinya : dan dari bawah kaki mereka.
Fakhurddin Ar-Razi ketika menjelaskan penggalan ini dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1]menuliskan lima pendapat yang berbeda dari pendapat para ulama.
Pertama: Yang dimaksud adalah bentuk hiperbola (penekanan) dalam menggambarkan keluasan dan keberkahan rezeki, bukan maksud sebenarnya ada atas dan bawah. Maknanya: mereka akan makan dengan kelimpahan dan terus-menerus, sebagaimana kamu mengatakan: “Si Fulan hidup dalam kebaikan dari ujung kepala sampai ujung kaki”, maksudnya adalah banyak dan melimpahnya kebaikan yang ia peroleh.
Kedua: Makanan dari atas maksudnya adalah turunnya hujan, dan dari bawah kaki adalah tumbuhnya tanaman, sebagaimana firman Allah dalam Surah al-A‘raf:
“Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi” (QS. al-A‘rāf: 96).
Ketiga: Makanan dari atas maksudnya banyaknya pepohonan yang berbuah, sedangkan dari bawah kaki maksudnya adalah tanaman pertanian yang menghasilkan.
Keempat: Yang dimaksud adalah bahwa Allah akan memberikan mereka surga yang pohon-pohonnya lebat dengan buah-buahan. Mereka akan memetik buah-buah yang menjulur dari atas dan mengambil buah yang jatuh ke tanah di bawah kaki mereka.
Kelima: Bisa jadi ini adalah isyarat terhadap apa yang terjadi pada orang-orang Yahudi dari Bani Quraizhah dan Bani Nadhir, yaitu penebangan pohon kurma mereka, perusakan tanaman mereka, dan pengusiran mereka dari negeri tempat tinggal mereka.
Kata min-hum (مِنْهُمْ) artinya : di antara mereka. Maksudnya sebagian dari orang-orang Yahudi, khususnya yang tinggal di Madinah bersama Nabi SAW di masa itu.
Kata ummatun (أُمَّةٌ) artinya : suatu umat. Kata muqtasidah (مُقْتَصِدَةٌ) artinya : yang moderatpertengahan. Kata (مُقْتَصِدَةٌ) ini berasal dari akar kata (ق ص د) yang menunjukkan makna pertengahan, adil, seimbang, atau jalan lurus.
Di dalam ayat lain ada juga Allah SWT menyebutkan orang-orang yang muqtashid, yaitu :
Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. (QS. Faathir : 32)
Al-Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun[1] menuliskan pendapat Qatadah yang mengatakan bahwa maksudnya bahwa sebagian dari orang-orang Yahudi itu ada yang muqtashidah ‘ala amrillah (مُقْتَصِدَةٌ عَلى أمْرِ اللَّهِ), yaitu bersikap pertengahan dalam urusan agama. Sedangkan Al-Kalbi mengatakan maknanya adalah orang-orang yang adil dalam semua masalah.
Mereka tidak melampaui batas, tidak berbuat zhalim, dan masih konsisten memegang ajaran Taurat yang benar, serta tidak memusuhi kebenaran syariat Islam secara membabi buta. Mereka ini bersikap adil dan mencari kebenaran dengan ikhlas.
Keberadaan mereka juga terkonfirmasi di beberapa ayat Al-Quran lain, misalnya bahwa sebagian dari kaumnya Nabi Musa.
"Dan di antara kaum Musa terdapat suatu umat yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan dengan itu pula mereka menjalankan keadilan." (QS. Al-A‘rāf: 159)
Kami membagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan. Di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada (pula) yang tidak. (QS. Al-A‘rāf: 168)
Kalau di masa kenabian Muhammad SAW, di antaranya ‘Abdullah bin Salam, seorang rabbi Yahudi di Madinah, yang masuk Islam dengan penuh keikhlasan. Para mufassir seperti Ibn ‘Asyur dan al-Qurṭubi menyebutkan bahwa mereka ini adalah Yahudi yang tetap berada dalam kebenaran dan tidak merusak ajaran kitab mereka.
Kata wa katsirun (وَكَثِيرٌ) artinya : dan banyak. Kata minhum (مِنْهُمْ) artinya : di antara mereka. Kata saa'a (سَاءَ) artinya : buruk. Kata ma ya'malun (مَا يَعْمَلُونَ) artinya : apa yang mereka kerjakan.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini menegaskan bahwa meski ada sekelompok Yahudi yang baik dan lurus, namun kebanyakannya malah melakukan hal-hal yang amat buruk.
Berikut penulis buatkan tabel yang berisi daftar 17 keburukan yang Al-Quran ceritakan tentang orang-orang Yahudi. Sebenarnya tidak terbatas hanya segitu dan masih banyak lagi.
Keburukan
Ayat
1.Mengubah isi kitab
Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang menulis kitab dengan tangan mereka (QS. Al-Baqarah: 79)