Kemenag RI 2019:Ketahuilah bahwa Allah sangat keras hukuman-Nya dan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Prof. Quraish Shihab:Ketahuilah bahwa Allah sangat keras pembalasan(-Nya) dan bahwa Allah Maha Pengampun, lagi Maha Pengasih. Prof. HAMKA:Ketahuilah olehmu bahwasanya Allah adalah sangat pedih siksa-Nya, dan sesungguhnya Allah pun sangat pengampun lagi penyayang.
Yang demikian itu agar kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa pun yang ada di langit dan apa pun yang ada di bumi dan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Maka pada ayat ini Allah SWT teruskan perintahnya, yaitu agar kita menyadari bahwa Allah itu sangat keras hukuman-Nya. Namun sekaligus juga bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Kata i‘lamuu (اعْلَمُوا) artinya : ketahuilah. Kata anna (أَنَّ) artinya : bahwa. Kata allaaha (اللَّهَ) artinya : Allah. Kata syadiid (شَدِيدُ) artinya : sangat keras. Kata al-‘iqaab (الْعِقَابِ) artinya : hukuman-Nya.
Perintah untuk mengetahui ditujukan kepada kaum muslimin, yang pada dasarnya seluruh kaum muslimin bukan hanya sudah tahu, tapi lebih dari itu mereka juga mengimani.
Namun kenapa Allah SWT menggunakan ungkapan ‘ketahuilah’, tentu bukan berarti karena kaum muslimin selama ini tidak tahu. Namun ini merupakan sebuah penegasan.
Kata i‘lamuu (اعْلَمُوا) di awal kalimat berfungsi sebagai tanfir wa tahdzir (تنفير وتحظير) yaitu peringatan dan ancaman. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa apa yang akan disebutkan sesudahnya bukan hal biasa, tetapi sangat penting dan harus diingat baik-baik. Dalam hal ini, yang ditegaskan adalah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya (إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ).
Bagi kaum muslimin yang sudah beriman, tentu sudah tahu bahwa Allah itu Mahakuasa dan bisa menyiksa. Tapi dengan kata i‘lamuu, Allah ingin mengangkat pengetahuan itu ke tingkat kesadaran dan kewaspadaan praktis. Jangan hanya tahu secara teoritis, namun lebih dari itu sadarilah, hayatilah, dan takutlah dengan benar bahwa siksaan Allah itu sungguh dahsyat, sehingga ini akan menggerakkan seseorang untuk berhati-hati dan taat.
Di sisi lain, boleh jadi walaupun kaum muslimin sudah tahu dan beriman, manusia tetap punya kecenderungan lalai. Maka ungkapan i‘lamuu (اعْلَمُوا) di sini juga seperti menyentak kembali hati yang mungkin mulai lengah, agar tidak meremehkan pelanggaran terhadap hukum Allah.
Sisi Retoris Dalam Gaya Bahasa Al-Qur’an
Kata-kata seperti i‘lamuu, ittaqū, udzkurū, fahamu, dan lain-lain adalah bagian dari gaya bahasa Al-Qur'an untuk menghidupkan jiwa pembaca. Gaya ini mengundang perhatian penuh, mengajak berpikir, bahkan terkadang menggugah emosi.
وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Kata wa-anna (وَأَنَّ) artinya : dan bahwa. Kata allaaha (اللَّهَ) artinya : Allah. Kata ghafuurun (غَفُورٌ) artinya : Maha Pengampun. Kata rahiimun (رَحِيمٌ) artinya : Maha Penyayang.
Ini yang jadi bikin lebih menarik lagi, yaitu setelah Allah SWT sendiri menegaskan bahwa diri-Nya itu amat sangat keras hukumannya, tiba-tiba langsung menyebutkan bahwa diri-Nya juga Tuhan Yang Maha Pengampun, bahkan lebih dari itu malah Maha Rahim.
Maka ungkapan ini jadi menarik sekali. Penyandingan antara sifat‘ sangat keras siksaan-Nya’ dengan ‘Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ merupakan gaya khas Al-Qur’an yang sangat mendalam secara makna, menyeimbangkan antara rasa takut dan harap, serta mendidik jiwa manusia secara utuh. Dalam bahasa dakwah, ini disebut metode tarhib yaitu menakut-nakuti dari azab Allah, namun sekaligus juga metode targhib, yaitu memberi harapan akan rahmat Allah.
Manusia bisa marah, tapi tidak selalu bisa memaafkan. Bisa memaafkan, tapi tidak bisa menyayangi orang yang bersalah. Sementara Allah SWT menunjukkan bahwa diri-Nya bisa mengazab dengan keras siapa yang pantas diazab. Namun ketika hamba itu bertobat, maka Dia juga bisa mengampuni dan menyayanginya sepenuhnya.
Ini menunjukkan bahwa Allah tidak kejam, dan tidak keras tanpa kasih sayang. Bahkan sebaliknya, siksa-Nya adalah bentuk keadilan, dan ampunan-Nya adalah bentuk rahmat tanpa batas. Semuanya ada pada diri-Nya, yang pada akhirnya tergantung kita maunya bagaimana. Mau menjadikan Allah SWT sebagai Tuhan yang ditakuti, bisa-bisa saja. Sebaliknya mau menjadikan-Nya sebagai Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang juga tidak jadi masalah.
Allah SWT sendiri yang menjelaskan hal itu dalam firman-Nya yang termuat dalam hadits Qudsi berikut ini :