Lafazh shirath (الصراط) secara bahasa bermakna jalan yang lebar, namun makna aslinya adalah menelan. Hubungannya bahwa saking lebarnya jalan itu sehingga seolah menelan orang yang melewatinya.
Kata ash-shirath (الصراط) ditemukan dalam al-Quran sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustaqim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai kata lain.
Selanjutnya, bila shirath dinisbahkan kepada sesuatu, penisbahannya adalah kepada Allah SWT seperti katashirathaka (jalan-Mu), atau shirathi (jalan-Ku), atau shirath al-aziz al-hamid (jalan Allah Yang Mahamulia lagi Maha terpuji), dan kepada orang-orang mukmin, yang mendapat anugerah nikmat Ilahi seperti dalam ayat al-Fatihah ini shiratha allazina an 'amta 'alaihim.
Lafazh shirath (صراط) ini berbeda dengan kata yang mirip yaitu sabil (سبيل) yang juga sering kali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil ada yang berbentuk jamak, seperti subul as-salam (jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa, seperti sabil al-muttaqin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thdghut atau orang-orang berdosa seperti sabil al-mujrimin.
Prof. Quraish Shihab dalam Al-Misbah membuat perumpamaan bahwa shirath (صراط) itu bisa dibaratkan seperti jalan tol, selain luas dan tidak berdesakan, orang yang sudah di jalan tol dipastikan tidak akan tersesat.[1]
Sebaliknya kalau kita sebut sabil (سبيل) atau jamaknya subul (سبل) meski bermakna jalan juga, tetapi bisa diibaratkan dengan jalan kampung yang sempit, berliku dan juga bisa saja orang masih tersesat karena rumit.
Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam tafsir Jami' Al-Bayan mengutipkan beberapa pendapat para mufassir terkait apa yang dimaksud dengan shirath ini :
1. Jalan Yang Lurus
Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah bersepakat bahwa secara umum makna shirat (صِرَاط) adalah jalan yang lurus :
الطَّرِيقُ الْوَاضِحُ الَّذِي لَا اعْوِجَاجَ فِيهِ
Jalan yang jelas yang tidak ada kelokannya
Lalu kemudian Beliau juga menambahkan :[2]
وَفّقنا للثبات على ما ارتضيتَه ووَفّقتَ له مَنْ أنعمتَ عليه من عبادِك من قولٍ وعمل
Teguhkan kami agar tetap berada pada apa yang Engkau ridhai sebagaimana orang-orang yang Engkau berikan nikmat-Mu di kalangan hamba-hamba-Mu, baik berupa perkataan atau perbuatan.
Makna inilah yang paling populer dan paling banyak dituliskan para ulama di dalam terjemah Al-Quran, yaitu jalan yang lurus.
2. Al-Quran Al-Karim
Ibnu Jarir Ath-Thabari juga tidak menampik adanya penafsiran yang lain. Salah satunya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ash-shirat al-mustaqim (الصِّرَاطَ المُسْتَقِيم) tidak lain adalah Al-Quran Al-Karim itu sendiri.
Pendapat ini banyak disebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam tafsirnya, namun semuanya berujung kepada perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhuma.[3]
Apabila ash-shirat al-mustaqim (الصِّرَاطَ المُسْتَقِيم) dimaknai sebagai Al-Quran, maka ada hubungan erat dengan awal surat Al-Baqarah, dimana Allah SWT berfirman yang menjadi jawaban atas doa di dalam surat Al-Fatihah.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah : 2)
3. Agama Islam
Selanjutnya juga ada riwayat dari Jabir bin Abdillah yang menafsirkan bahwa ash-shirath al-mustaqim (الصِّرَاطَ المُسْتَقِيم) adalah Agama Islam. Sehingga doa yang kita panjatkan setiap hari 17 kali (rakaat) dalam bacaan shalat adalah meminta ditunjukkan kepada agama Islam.
Sedangkan bila kita sudah menjadi muslim, maka doa yang kita baca ini terkait dengan permintaan agar iman kita diteguhkan sebagai muslim dan tidak diberi kesempatan untuk keluar dari agama Islam. Doa agar tidak murtad dan meninggalkan agama.
4. Rasulullah SAW
Tafsiran lain atas ash-shirath al-mustaqim (الصِّرَاطَ المُسْتَقِيم) adalah diri Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Ashim dari Abul Aliyah.[4]
Kalau menggunakan pendapat ini, maka doa kita sehari 17 kali agar diberi petunjuk agar bisa bertemu dengan Rasulullah SAW. Setidaknya bertemu nanti di akhirat, yang juga bermakna kita minta dimasukkan ke dalam surga. Sebab bersama Beliau itu berarti juga hidup di dalam surga.
[1] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid hal.
[2] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M), jilid 1 hal. 171
[3] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M) jilid 1 hal. 172
[4] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran, (Beirut, Muassasatu Ar-Risalah, Cet. 1, 1420 H - 2000M), jilid 1 hal. 175