أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Aku sampaikan kepadamu risalah (amanat) Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Aku sampaikan kepada kamu risalah-risalah (pesan dan amanah) Tuhan Pemeliharaku dan aku memberi nasihat kepada kamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.
Akan aku sampaikan kepada kamu risalah dari Tuhanku dan aku akan memberi nasihat kepada kamu dan aku mengetahui dari karunia Allah, hal-ihwal yang tidak kamu ketahui.
TAFSIR AL-MAHFUZH
Lihat Referensi Kitab →Selain itu juga tugas Beliau adalah memberi nasihat kepada kaumnya, tentunya berdasarkan bimbingan wahyu. Oleh karena itu di akhir ayat Beliau tegaskan bahwa dirinya punya pengetahuan khusus dari Allah, dimana kaumnya memang tidak mengetahui.
Kata uballighukum (أُبَلِّغُكُمْ) artinya: aku menyampaikan kepada kalian. Ini adalah peran utama dan tugas dasar seorang Nabi Nuh, yaitu menyampaikan dan bukan menciptakan ajaran, bukan pula memaksa manusia beriman. Dengan kata lain Beliau itu menjadi penghubung antara wahyu dari langit dan pendengaran manusia di bumi. Risalah itu tidak boleh disembunyikan, tidak boleh dikurangi, dan tidak boleh disesuaikan dengan selera kaumnya.
Kata risalati (رِسَالَاتِ) artinya: risalah-risalah. Kata ini datang dalam bentuk jamak yaitu risalah-risalah. Kata dalam bentuk jamak itu pada dasarnya wahyu juga, tapi bukan hanya berupa satu pesan sederhana, melainkan serangkaian besar petunjuk dari Allah. Di dalamnya ada perintah, larangan, peringatan, nasihat, janji, dan ancaman. Semua itu membentuk satu paket risalah ilahi yang utuh, bukan potongan-potongan terpisah yang bisa dipilih sesuka hati.
Kata rabbi (رَبِّي) artinya: Tuhanku, yaitu Allah SWT. Penyebutannya menegaskan bawha sumber risalah itu dari Allah. Nabi Nuh alaihissalam tidak berbicara atas nama dirinya, keluarganya, tradisinya, atau kepentingan sosial tertentu. Tapi bicara atas nama Allah, mewakili Allah.
Dengan demikian, jika ada penolakan terhadap risalah Nuh sejatinya bukan penolakan terhadap Nuh sebagai pribadi, tetapi penolakan terhadap Tuhan yang mengutusnya.
wa (وَ) artinya: dan. Kata ansahu (أَنْصَحُ) artinya: aku menasihati. Kata lakum (لَكُمْ) artinya: kepada kalian.
Jika tugas pertama bersifat penyampaian wahyu, maka tugas kedua adalah memberi nasihat kepada kaumnya. Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib[1] menyinggung pembedaan penting antara tabligh dan nasehat. Menyampaikan risalah (tablighur-risalah) adalah penyampaian perintah dan larangan Allah yang wajib diterima sebagai hukum, sedangkan nasehat adalah penjelasan, penghalusan, dan pendekatan yang bertujuan melembutkan hati agar hukum itu bisa diterima dan diamalkan. Dengan kata lain, risalah berkaitan dengan apa yang Allah tetapkan, sementara nasihat berkaitan dengan bagaimana manusia diajak untuk tunduk kepadanya.
Arah yang sama juga dapat ditemukan dalam penjelasan Al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Quran[2], bahwa risalah para rasul mencakup hukum dan nasihat. Hukum itu bicara batas halal–haram sedangkan nasihat adalah irsyad yaitu pengarahan dengan penuh kasih sayang agar manusia tidak sekadar tahu hukum, tetapi juga memiliki kesiapan jiwa untuk menjalankannya.
Kira-kira kalau di masa kita selain belajar ilmu fiqih yang berupa hukum, juga belajar akhlaq, moral, etika dan keluhuran hati.
Kata wa a‘lamu (وَأَعْلَمُ) artinya: aku mengetahui. Kata minallahi (مِنَ اللَّهِ) artinya: dari Allah SWT. Kata maa laa ta‘lamun (مَا لَا تَعْلَمُونَ) artinya: apa yang kalian tidak ketahui.
Setelah Nabi Nuh alaihissalam menyebut dua tugas utamanya yaitu menyampaikan risalah dan memberi nasihat, maka beliau menyebutkan lapis ketiga dari perannya, yaitu Beliau diberi pengetahuan khusus yang bersumber dari Allah, yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.
Ath-Thabari menafsirkan sebagai pengetahuan tentang sunnatullah dalam umat-umat terdahulu. Nabi Nuh mengetahui bahwa pendustaan yang terus-menerus terhadap risalah tidak akan dibiarkan tanpa konsekuensi. Fakhruddin ar-Razi memperluas makna ayat ini dengan mengatakan bahwa Nabi Nuh mengetahui nilai sejati dari kebenaran, meskipun secara lahiriah tampak lemah.
Ibnu Katsir dalam tafsir Tafsir Al-Quran Al-Azhim[3] menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah banjir besar yang akan menenggelamkan kaum yang ingkar.
Memang dalam kebanyakan tafsir klasik karya para mufassir, banjir besar di zaman Nabi Nuh itu semata-mata terjadi sebagai hukuman dan azab dari Allah. Jika tidak ada kekafiran, maka tidak ada banjir itu.
Namun penutup ayat ini, yang menyebutkan bahwa Nabi Nuh mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya, membuka ruang perenungan dan pertanyaan serta menggelitik rasa ingin tahu kita.
Kira-kira pengetahuan apakah yang Beliau dapatkan dari Allah SWT secara langsung itu?
Ada banyak tafsiran sebagaimana Penulis kutipkan di atas, namun sebagian ada yang mengatakan bahwa pengetahuan itu adalah informasi akan terjadinya banjir besar, yang tidak bisa diantisipasi secara normal, kecuali dengan membangun bahtera besar yang akan menyelamatkan mereka.
Informasi ini tidak dimiliki oleh kaumnya, karena ia bersumber dari wahyu, bukan dari pengamatan lahiriah atau perhitungan manusia biasa. Kaum Nabi Nuh menilai keadaan dengan apa yang tampak di hadapan mereka: negeri yang aman, langit yang biasa saja, dan tidak ada tanda bahaya yang dapat ditangkap oleh nalar mereka. Karena itu, berita tentang banjir besar terdengar mustahil dan tidak masuk akal.
Ketika ayat terkait banjir besar ini turun di era Nabi Muhammad SAW, Al-Quran kemudian sedikit banyak memberi beberapa informasi penting, yang bisa kita susun menjadi beberapa asumsi paling ilmiyah.
1. Hujan Ekstrem Dari Langit
Al-Quran menceritakan bahwa banjir itu diawali dengan hujan ekstrim yang turun dari langit tidak berhenti.
فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ
Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah deras. (QS. Al-Qamar: 11)
Dari sudut pandang sains modern, ungkapan pintu-pintu langit dibukakan sangat selaras dengan konsep curah hujan ekstrem berskala luas dan terus-menerus. Dalam klimatologi dikenal fenomena persistent extreme precipitation, yaitu hujan deras yang berlangsung lama akibat ketidakstabilan atmosfer besar, misalnya perubahan drastis pada sirkulasi udara global atau gangguan sistem tekanan.
Secara ilmiah, hujan seperti ini bisa berlangsung jauh di atas rata-rata normal, lalu menutup wilayah sangat luas, yang membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga menyebabkan seluruh sistem sungai dan cekungan air meluap bersamaan.
Istilah munhamir (مُنْهَمِر) yaitu tercurah deras tanpa henti menguatkan asumsi bahwa ini bukan hujan biasa, tetapi hujan ekstrem yang berkesinambungan. Asumsi ilmiah paling logisnya adalah fase hujan anomali berskala besar dan berkepanjangan dan bukan sekedar badai sesaat.
2. Air Memancar Dari Bumi
Informasi lainnya dari Al-Quran adanya air yang keluar dari perut bumi, ini juga menarik untuk dianalisa.
وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air. (QS. Al-Qamar: 12)
Ayat ini sangat penting secara ilmiah. Banjir tidak hanya datang dari hujan, tetapi juga dari dalam bumi. Dalam geologi modern, hal ini dapat dijelaskan melalui beberapa kemungkinan. Tekanan air bawah tanah yang dilepaskan akibat retakan besar pada kerak bumi. Aktivitas tektonik (gempa besar) yang membuka jalur air bawah tanah secara serentak. Maka terjadilah pelepasan akuifer purba dalam jumlah sangat besar.
Fenomena air memancar dari tanah secara luas tidak lazim dalam kondisi normal, tetapi bukan mustahil secara geologis, terutama pada masa awal sejarah bumi ketika struktur kerak belum stabil seperti sekarang.
Asumsi ilmiah paling logisnya bahwa aktivitas geologi besar yang memicu pelepasan air bawah tanah secara masif.
3. Bertemunya Dua Sumber Air
Kedua sumber besar banjir itupun diceritakan saling bertemu oleh Al-Quran.
فَالْتَقَى الْمَاءُ عَلَىٰ أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ
Lalu bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan. (QS. Al-Qamar: 12)
Dari perspektif sains, ini menunjuk pada akumulasi multi-sumber banjir, yaitu hujan ekstrem ditambah air bawah tanah. Dalam kajian bencana modern, inilah skenario banjir paling mematikan, karena tanah sudah jenuh air, air dari bawah terus mendorong ke atas, tidak ada lagi ruang drainase alami.
Banjir jenis ini hampir tidak bisa diantisipasi secara normal, bahkan dengan teknologi modern, apalagi oleh masyarakat purba. Asumsi ilmiah paling logis bahwa peristiwa banjir multi-faktor yang saling memperkuat.
4. Tanda Awal Banjir Yang Tidak Biasa
Al-Quran juga bercerita tentang tanda awal banjir yang tidak biasa, yaitu :
وَفَارَ التَّنُّورُ
Dan air telah memancar dari tanur. (QS. Hud: 40)
Para mufassir klasik memahami tannur sebagai tanda awal azab. Dari sisi ilmiah, ini bisa dibaca sebagai sumber air yang sebelumnya aman tiba-tiba meluap, perubahan drastis pada titik-titik air domestik atau geotermal, indikasi awal ketidakstabilan sistem air tanah.
Dalam bencana modern, sering kali tanda awal kehancuran justru muncul dari hal yang dianggap aman dan rutin. Maka asumsi ilmiah paling logisnya bahwa titik-titik air lokal berubah menjadi sumber bahaya akibat tekanan besar sistem bawah tanah.
5. Air Meluap Melampaui Batas
Al-Quran bercerita tentang air yang meluap melampaui batas.
إِنَّا لَمَّا طَغَى الْمَاءُ
Ketika air telah meluap melampaui batas. (QS. Al-Haqqah: 11)
Kata thagha (طَغَى) menunjukkan air melewati ambang normal. Dalam terminologi modern, ini adalah flood beyond design limits, banjir yang melampaui semua perkiraan dan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini, tidak ada lagi mitigasi biasa yang bisa menyelamatkan manusia, kecuali perlindungan yang sudah disiapkan jauh hari.
Asumsi ilmiah paling logisnya bahwa ini adalah banjir katastropik (catastrophic flooding) berskala sangat besar.
Semua informasi itulah yang boleh jadi sudah diberikan Allah SWT kepada Nabi Nuh alaihissalam, namun diingkari oleh kaumnya. Bahkan ketika kemudian Allah perintahkan untuk membangun bahtera penyelamat, kaumnya malah mengejeknya sambil menuduhnya bodoh.
وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلَأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ
Dan Nuh pun membuat bahtera. Dan setiap kali pemuka-pemuka dari kaumnya melewatinya, mereka mengejeknya. Nuh berkata: ‘Jika kalian mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek. (QS. Hud : 38)
Banjir seperti pada masa Nabi Nuh itu tidak bisa dihindari dengan strategi darat, tidak bisa dilawan dengan ketinggian tetap, tidak bisa diatasi dengan insting manusia biasa. Secara ilmiah, satu-satunya cara bertahan hidup adalah berada di struktur terapung tertutup yang mengikuti naik-turunnya air. Maka perintah membangun bahtera bukan solusi simbolik, tetapi solusi fisik yang sepenuhnya rasional untuk jenis bencana seperti itu.
Dan justru di sinilah letak pelajaran besarnya. Akal manusia yang tidak diberi wahyu akan memilih gunung, tapi wahyu justru memerintahkan bangun bahtera. Bukan karena iman melawan logika, tetapi karena wahyu mendahului pengetahuan manusia tentang skala bencana.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[2] Al-Qurtubi (w. 671 H), , (Cairo - Darul-Qutub Al-Mishriyah –Cet. III, 1384 H- 1964 M)
[3] Ibnu Katsir (w. 774 H), Tafsir Al-Quran Al-Azhim, (Cairo, Dar Thaibah lin-Nasyr wa at-Tauzi’, Cet. 2, 1420 H – 1999 M)