.::FIKRAH

Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru

Imam Abu Hanifah, Bukan Guru Sembarang Guru

by. Ali Shodiqin, Lc
Imam Abu Hanifah adalah pendiri madzhab Hanafi, salah satu madzhab fiqih yang masih diikuti oleh sebagian kaum muslimin di zaman ini. Madzhab Hanafi adalah satu dari empat madzhab fiqih yang masih tersisa hingga zaman sekarang ini.

Keikhlasan seorang guru adalah salah satu kunci keberhasilan pendidikan murid-muridnya. Ilmu yang disampaikan dari keikhlasan hati seorang guru, maka ilmu itu akan menghujam kuat di relung hati para muridnya. Namun jika ilmu yang disampaikan hanya sebatas kata-kata tanpa keikhlasan hati, mustahil ilmu itu akan merasuk ke dalam diri para muridnya.

Ilmu, Sumber Pahala Tiada Henti

Begitu besar pahala yang akan diperoleh oleh seorang guru, namun sayang kebanyakan guru kurang memiliki perhatian dengan hal itu. Lagi-lagi faktor besaran gaji selalu menjadi penghalang seorang guru untuk mendapatkan pahala besar tiada henti dari Allah SWT.

Tidakkah mereka mendengar hadits Rasulullah SAW? Tidakkah mereka merenungkan janji Allah SWT bagi yang mengajarkan ilmu dan ilmunya bermanfaat? Sungguh Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia telah meninggal, maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akannya”. (HR.at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Ya, seorang guru yang dengan ikhlas mengajarkan ilmunya. Lantas ilmu yang dia ajarkan bermanfaat buat orang lain. Maka sungguh dia akan mendapatkan pahala tiada henti walaupun dirinya sudah tidak lagi hidup di dunia ini. Layakkah pahala yang tiada henti itu ditukar dengan besaran gaji?

Belajar Keikhlasan dari Imam Abu Hanifah

Di saat sebagian guru di zaman sekarang sibuk memikirkan besaran gaji, tidak demikian dengan apa yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah sang pendiri madzhab Hanafi. Ketika sebagian guru sekarang menuntut imbalan gaji atas apa yang dia ajarkan kepada muridnya, maka hal itu tidak pernah terpikirkan sedikitpun di benak Imam Abu Hanifah. Justru beliau yang “menggaji” dan membiayai hidup para muridnya.

Siapa yang tidak kenal dengan Imam Abu Yusuf, salah seorang murid terdekat dari Imam Abu Hanifah. Dalam kitab Manaqib al-Kardari Imam al-Kardari meriwayatkan sebuah riwayat yang sanadnya sampai kepada Imam Abu Yusuf.

Imam Abu Yusuf berkata: Dahulu aku termasuk orang yang tidak punya harta, kemudian datanglah ayahku ketika aku sedang berada di sisi Imam Abu Hanifah. Kemudian ayahku berkata: “Wahai anakku, janganlah kamu duduk-duduk bersamanya. Sungguh rotinya telah terpanggang (sudah terhidang) sedangkan kamu termasuk orang yang membutuhkan. Kamu hanya duduk-duduk dan tidak melakukan pekerjaan.”

Imam Abu Yusuf berkata: Maka aku memilih patuh kepada ayahku. Kemudian Imam Abu Hanifah bertanya tentangku dan mencari-cariku. Ketika melihatku beliau berkata kepadaku: Apa yang menyebabkan kamu tidak menghadiri majlis ilmu kita? Maka aku katakan kepada beliau: Aku bekerja untuk mencari penghidupan.

Ketika orang-orang sudah pulang, dan aku juga hendak pergi, beliau memberikan sekantung uang kepadaku yang berisi seratus dirham. Beliau berkata kepadaku: Gunakan ini untuk keperluanmu, jika sudah habis bilang kepadaku, dan tetaplah mengikuti halaqoh ilmu.

Beberapa waktu selanjutnya beliau memberiku seratus dirham lagi. Setiap kali habis, beliau selalu memberikan uang kepadaku tanpa harus aku yang memberitahukan kepadanya, seakan-akan beliau tahu kalau uangku sudah habis. Hal tersebut beliau lakukan sampai kebutuhanku terhadap ilmu terpenuhi. Semoga Allah SWT membalas kebaikannya dan mengampuni dosa-dosanya”.

Sungguh keikhlasan Imam Abu Hanifah dalam mengajarkan ilmunya tidak diragukan lagi. Beliau tidak mengambil upah dari murid-muridnya. Justru beliau yang membiayai hidup para muridnya dan menanggung semua kebutuhan hidup mereka agar mereka bisa berkonsentrasi dalam menuntut ilmu. Tidak hanya kepada Imam Abu Yusuf murid terdekat beliau, akan tetapi kepada semua murid beliau yang membutuhkan.

Madzhab Hanafi

Imam Abu Hanifah adalah pendiri madzhab Hanafi, salah satu madzhab fiqih yang masih diikuti oleh sebagian kaum muslimin di zaman ini. Madzhab Hanafi adalah satu dari empat madzhab fiqih yang masih tersisa hingga zaman sekarang ini. Kenapa dikatakan tersisa? Karena madzhab fiqih sebenarnya tidak hanya empat, bahkan jauh lebih banyak, karena setiap ulama yang sudah sampai derajat sebagai seorang mujtahid, biasanya dia akan mendirikan madzhab fiqih sendiri.

Syaikh Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu menyebutkan bahwa antara awal abad kedua sampai pertengahan abad keempat hijriah yang dikenal sebagai masa keemasan ijtihad setidaknya ada tiga belas mujtahid yang madzhab-madzhab fiqihnya dibukukan dan pendapat-pendapatnya diikuti oleh kaum muslimin.

Ketiga belas mujtahid tersebut adalah: Imam Sufyan ibn ‘Uyainah di kota Makkah. Imam Malik ibn Anas di kota Madinah. Imam al-Hasan al-Bashri di kota Bashrah. Imam Abu Hanifah dan Imam Sufyan at-Tsauri di kota Kufah. Imam al-‘Auza’i di Syam. Imam Syafi’i dan Imam al-laits ibn Sa’d di Mesir. Imam Ishaq ibn Rahawaih di mota Naisabur. Imam Abu Tsaur, Imam Ahmad ibn Hanbal, Imam Daud azh-Zhahiri dan Imam Ibn u Jarir ath-Thabari di kota Baghdad.

Namun dari ketiga belas madzhab besar itu yang tersisa hanya empat madzhab fiqih yang kita kenal sekarang yaitu madzhab Hanafi, madzhab Maliki, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali.

Salah satu sebab hilangnya madzhab tersebut dan mulai berkurangnya kaum muslimin yang mengikutinya adalah faktor murid-murid dari imam madzhab tersebut yang kurang dalam menyebarkan madzhab imam-imam mereka.

Siapa yang tidak kenal Imam Malik. Imam darul hijrah. Ulama besar kota Madinah. Bahkan ada ungkapan “tidak ada yang berhak berfatwa, sedangkan ada Imam Malik di kota Madinah”. Bahkan madzhab maliki termasuk salah satu madzhab yang masih dipakai oleh sebagian kaum muslimin sampai zaman sekarang ini.

Ada sebuah statement yang mungkin sangat mengejutkan dari Imam Syafi’i terkait guru beliau Imam Malik. Dalam sebuah riwayat Imam Syafi’i mengatakan:

اللّيْثُ أَفْقَهُ مِنْ مَالِكٍ إِلَّا أَنَّ أَصْحَابَهُ لَمْ يَقُوْمُوْا بِهِ

“al-Laits lebih faqih daripada Malik, hanya saja murid-muridnya tidak melaksanakan (penyebaran) fiqihnya”

Tidak diragukan lagi nama besar dari Imam Syafi’i. Tidak perlu ditanyakan lagi kedekatan dan hubungan antara Imam Syafi’i dan gurunya Imam Malik. Namun ternyata Imam Syafi’i berpendapat kalau Imam al-Laits ibn Sa’d lebih faqih daripada Imam Malik. Walaupun kehebatan dan kedalaman ilmu dari Imam al-Laits ibn Sa’d tidak diragukan lagi, namun adakah madzhab fiqih beliau masih bertahan sampai zaman sekarang ini?

Jawabannya adalah tidak. Dan salah satu faktor hilangnya madzhab Imam al-Laits adalah kurangnya militansi dari murid-muridnya untuk menyebarkan madzhabnya.

Imam Abu Yusuf, Murid Yang Loyal?

Berbicara masalah ilmu dari Imam Abu Yusuf maka kita akan mendapati beliau adalah ulama yang sudah mencapai derajat sebagai seeorang mujtahid muthlaq. Artinya beliau memiliki kapasitas untuk mendirikan madzhabnya sendiri. Namun penulis kurang tahu pasti apa alasan beliau tidak mendirikan madzhabnya sendiri, akan tetapi malah menyebarkan madzhab gurunya. Apakah karena faktor sang guru? Guru yang sangat berjasa dalam kehidupan beliau, Imam Abu Hanifah.

Ketika Imam Abu Yusuf menjadi qadhi Daulah Abbasiyah maka madzhab Hanafi semakin diikuti oleh banyak kaum muslimin. Tidak hanya menjadi madzhab resmi Daulah Abbasiyah, di masa berikutnya madzhab Hanafi juga menjadi madzhab resmi Kekhilafahan Utsmaniyyah.

Itulah keikhlasan dari Imam Abu Hanifah dalam mengajarkan ilmunya. Keikhlasan yang patut diteladani oleh para guru di zaman seekarang ini. Keikhlasan yang menjadikan nama Imam Abu Hanifah selalu diingat oleh umat Islam di setiap masa.

Wallahu A’lam Bish shawab

Ganti Mazhab
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Wed 30 October 2024
Masjid : Antara Kampus dan Kantin
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Tue 29 October 2024
Fiqih Negara : Kedudukan Negara Dalam Hukum Syariah
Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA | Fri 25 October 2024
Ibnu Taimiyyah Memotong Pernyataan Syeikh Abdul Qadir al-Jilani tentang Makna Istiwa, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Mon 1 November 2021
Al-Quran dan Kitab-Kitab Suci Samawi Lain Dalam Ajaran Islam
Muhammad Alfatih, Lc | Mon 4 October 2021
Antara Albani dan Ibnu Qayyim Tentang Ziarah Kubur Hari Jumat
Hanif Luthfi, Lc., MA | Fri 1 October 2021
Membaca Biaografi Ulama Menurunkan Rahmat, Benarkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Wed 1 September 2021
Bahaya Takhbib
Hanif Luthfi, Lc., MA | Tue 8 September 2020
Ayah Mertua Menikahi Ibu Kandung Menantu, Bolehkah?
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 9 August 2020
Puasa Ayyam al-Bidh Khusus Bulan Dzulhijjah
Hanif Luthfi, Lc., MA | Sun 2 August 2020
more ...
Jadwal Shalat DKI Jakarta 10-5-2026
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:48 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia
www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia