KH. Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA — Rumah Fiqih Indonesia
Duduk Iftirasy
Duduk dengan melipat kaki ke belakang dan bertumpu pada kaki kiri. Maksudnya kaki kiri yang dilipat itu diduduki, sedangkan kaki yang kanan dilipat tidak diduduki namun jari-jarinya ditekuk sehingga menghadap ke kiblat.
Duduk Tawarruk
Posisinya hampir sama dengan istirasy, namun posisi kaki kiri tidak diduduki melainkan dikeluarkan ke arah bawah kaki kanan. Sehingga duduknya di atas tanah tidak lagi di atas lipatan kaki kiri seperti pada iftirasy.
Sedangkan hujjah yang melatarbelakangi kenapa mazhab Asy-Syafi'iyah merjihkan pendapat bahwa duduk pada tasyahhud akhir dengan duduk tawarruk adalah hadits-hadits shahih berikut ini :
وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.
Dan bila beliau SAW duduk pada raka’at terakhir maka beliau mengedepankan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya serta beliau duduk diatas tempat duduknya (duduk tawarruk). (HR. Al Bukhari).
حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي فِيْهَا التَّسْلِيْمُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى شِقِّهِ الْأَيْسَرِ.
“Hingga tatkala sampai sujud terakhir yang ada salamnya, maka Nabi mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk dengan tawarruk diatas sisi kiri beliau.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).
حَتَّى إِذَا كَانَتِ السَّجْدَةُ الَّتِي تَكُوْنُ خَاتِمَةَ الصَّلَاةِ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْهُمَا وَأَخَّرَ رِجْلَهُ وَقَعَدَ مُتَوَرِّكًا عَلَى رِجْلِهِ
“Hingga tatkala sampai pada sujud yang merupakan penutup shalat, maka beliau mengangkat kepalanya dari dua sujud tersebut dan beliau mengeluarkan kakinya serta duduk tawarruk diatas kakinya.” (HR. Ibnu Hibban).
إِذَا كَانَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ تَنْقَضِي فِيْهِمَا الصَّلَاةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ
“Apabila sampai kepada raka’at terakhir yang menutup shalat, maka beliau mengeluarkan kaki kirinya dan beliau duduk tawarruk diatas sisinya kemudian beliau salam.” (HR. An Nasa’i)
Namun yang jadi masalah, bagaimana dengan makmum yang masbuk, apakah masbuk duduk sebagaimana duduknya imam yaitu duduk tawarruk ataukah duduk iftirasy?
Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan mazhab Asy-Syafi'iyah tentang posisi duduk masbuk pada saat imam duduk tahiyat akhir.
1. Duduk Iftirasy
Pendapat ini adalah apa yang tertuang dalam teks kitab Al-Umm karya Al-Imam Asy-syafi'i sendiri. Yang juga berpendapat duduk iftirash seperti tasyahhud awal atau duduk di antara dua sujud di antaranya Abu Hamid, Al-Bandaniji, Al-Qadhi Abu Thayyib dan Al-Ghazali.
Alasannya, karena masbuk belum berada pada rakaat terakhir, sehingga duduknya bukan duduk tawarruk melainkan duduk iftirasy.
2. Duduk Tawarruk
Sedangkan pendapat kedua di mazhab Asy-syafi'i adalah duduk tawarruk sebagaimana duduknya imam.
Alasannya, karena makmum itu harus mengikuti imam.
Yang berpendapat seperti ini di kalangan ulama mazhab Asy-syafi'iyah adalah Ar-Rafi'i dan Imam Al-Haramain.
3. Tergantung Bilangan Rakaat
Pendapat ketiga sebagaimana disampaikan juga oleh Ar-rafi'i, bahwa masbuk memilah berdasarkan hitungan rakaat dirinya sendiri.
Bila saat itu masbuk berada pada rakaat kedua dan memang seharusnya duduk tasyahhud awal, maka dia duduk iftirasy.
Tetapi bila dia berada pada rakaat pertama atau ketiga, maka duduknya mengikuti duduknya imam, yaitu tawarruk.
Alasannya, karena pada rakaat kedua dia memang seharusnya bertasyahhud awal, maka duduk iftirasy itu memang ketentuan aslinya. Sedangkan bila hitungan rakaat pertama atau ketiga, sebenarnya masbuk tidak bertasyahhud.
Tetapi karena harus ikut imam maka dia 'terpaksa' duduk. Dan duduknya seperti duduknya imam, yaitu tawarruk. Yang ditekankan dirinya motivasi duduknya sejak awal memang sekedar ikut kepada imamnya.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
KH. Dr. Ahmad Sarwat, Lc.,MA