Lafazh laula (لَوْلَا) makna aslinya adalah : “seandainya”. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang menyebutkan seandainya tidak memberatkan umat maka akan diwajibkan bersiwak.
لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ
“Seandainya aku tidak memberatkan ummatku, aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak di setiap kali sholat mereka” (HR. Al-Bukhari)
Namun para ulama di Indonesia menerjemahkan laula di ayat menjadi “seandainya” tetapi malah diartikan menjadi : “kenapa”. Perbedaan ini wajar karena beda konteks bisa jadi beda makna.
Sumbernya mereka dapatkan dari banyak kitab tafsir klasik yang menjelaskan makna laula (لَوْلاَ) adalah (هَلَّا) yang asalnya dari dua kata yaitu hal (هَلْ) yang berarti : “apakah”, disambung dengan huruf laa (لَا) yang berarti : “tidak”, sehingga kalau disatukan menjadi : “apakah tidak”. Lalu secara rasa bahasa lebih enak bila disesuaikan jadi : “mengapa?”
Lafazh yukallimuna (يُكَلِّمُنَا) adalah fi’il mudhari’ dari asalnya (كَلَّمَ - يُكَلِّمُ) dan artinya adalah berbicara atau bercakap-cakap dengan kita. Sedangkan lafazh ta’tina (تَأْتِيْنَا) artinya : “mendatangkan untuk kami”.
Adapun lafazh (آيَة) secara umum punya banyak makna. Bisa bermakna ayat Al-Quran dalam arti kalimat, namun bisa juga bermakna tanda. Dalam hal ini maknanya adalah tanda, yang wujudnya dalam ekspektasi mereka berupa kejadian-kejadian yang luar biasa, sebagaimana mukizat yang terjadi pada Nabi Musa alaihissalam. Misalnya tongkat yang ada di tangannya bisa berubah jadi ular, atau bila dipukulkan ke atas batu, maka akan mengalirkan 12 mata air, atau bila dipukulkan ke laut maka laut itu akan membelah. Dan masih banyak lagi.
Padahal dibandingkan dengan mukjizat Nabi Musa yang beragam dan unik-unik itu, Nabi Muhammad SAW termasuk agak irit. Sosok Beliau SAW lebih dekat sebagai manusia biasa, tanpa banyak atribut yang unik. Sebab Beliau SAW memang amat menonjolkan aspek logika dan rasionalitas kepada masyarakatnya. Padahal kalau dipikir-pikir, ketika hijrah ke Madinah kenapa Nabi SAW tidak minta fasilitas berupa Burok yang pernah mengantarkannya terbang ke Masjid Al-Aqsha bahkan sampai ke langit tujuh.