Kemenag RI 2019:Mereka tidak akan membahayakanmu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja. Jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka berbalik ke belakang (kalah), kemudian mereka tidak mendapat pertolongan. Prof. Quraish Shihab:
Sekali-kali mereka (orang-orang fasik) tidak akan dapat mendatangkan mudharat (bencana atau musibah) kepada kamu, tetapi (hanya) gangguan-gangguan (saja). Dan jika mereka berperang melawan kamu, mereka berbalik dari kamu (melarikan diri) ke belakang, kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan.
Prof. HAMKA:
Tidaklah mereka akan membahayakan kamu, kecuali mengganggu (sedikit); dan jika mereka memerangi kamu, mereka akan berbalik punggung kepada kamu (kalah), sesudah itu mereka tidak akan dimenangkan
Di ayat ke-111 ini Allah SWT nampaknya ingin memberikan motivasi kepada Nabi SAW dan para shahabat untuk tidak gentar menghadapi sikap dan perilaku orang-orang Yahudi. Memang kalau mendengar ancaman yang merkea lontarkan, rasanya memang cukup mengintimidasi juga. Setidaknya membuat hati menjadi tidak nyaman serta gelisah.
Namun Allah SWT ingin membesarkan hati kaum muslimin, dengan menegaskan bahwa orang Yahudi itu tidak akan bisa menimbulkan mudharat bagi mereka, kecuali sekedar gangguan kecil saja.
لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلَّا أَذًى
Kata lan (لَنْ) adalah ungkapan nafyi yang bermakna : tidak, namun dengan keterangan waktu yang seterusnya, sehingga lebih tepat dimaknai menjadi : tidak akan.
Kata yadhurru-kum (يَضُرُّوكُمْ) adalah kata kerja alias fi’il mudhari, maknanya : membahayakan, atau memberikan kemudharatan. Pelakunya adalah Bani Israil ahli kitab alias orang-orang yahudi, sedangkan dhamir kum (كُمْ) artinya : kamu, yaitu Nabi SAW dan para shahabat mulia.
Kata illa (إِلَّا) bermakna : kecuali, sedangkan makna adzaa (أَذًى) diterjemahkan menjadi : ganguan kecil atau sedikit mengganggu.
Ar-Rabi’ mengatakan bahwa yang dimaksud dengan adzaa adalah mulut kotor mereka yang menuduh ini itu kepada kaum muslimin, padahal tidak punya dasar yang kuat, kecuali hanya menggerutu dan memaki-maki kanan kiri.
Ibnu Juraij mengatakan bahwa yang dimaksud dengan adzaa(أَذًى) adalah perbuatan syirik mereka. Yahudi telah menjadikan Uzair sebagai anak tuhan, sebagaimana Nasrani telah menjadikan Nabi Isa alaihissalam sebagai anak tuhan.
Sedangkan menurut Al-Hasan, yang dimaksud dengan adzaa (أَذًى) di kalangan Yahudi adalah lisan-lisan mereka yang gemar berdusta, ditambah lagi ajakan mereka kepada para shahat untuk murtad.
Makna hakiki dari adzaa (أَذًى) adalah penyakit atau luka, sebagaimana disebutkan pada ayat berikut :
Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. (QS. Al-Baqarah : 196)
Namun ketika menyebut darah haidh yang kotor, Al-Quran juga menggunakan istilah adzaa (أَذًى) juga.
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. (QS. Al-Baqarah : 222)
Namun di beberapa tempat, Al-Quran menggunakan kata adzaa (أَذًى) untuk sesuatu yang sifatnya menyakitkan hati orang lain, misalnya pada ayat-ayat berikut :
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima). (QS. Al-Baqarah : 262)
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). (QS. Al-Baqarah : 263)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), (QS. Al-Baqarah : 264)
Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan (QS. An-Nisa : 102)
Namun dalam konteks ayat ini, adzaa (أذى) yang dimaksud adalah celoteh dan ucapan buruk yang menyakitkan hati, dan itu keluar dari mulut orang-orang Yahudi kepada Nabi SAW dan para shahabat.
Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. (QS. Ali Imran : 186)
Namun begitu Allah SWT menenangkan hati Nabi SAW agar jangan merasa terusik apalagi terintimidasi dengan celoteh mereka. Sebab celoteh mereka itu hanya sekedar ‘omon-omon’ kosong belaka. Tidak ada satupun yang punya dasar, bahkan tidak ada satu pun yang benar.
Sementara secara de facto, kekuatan kaum Yahudi itu teramat lemah, bahkan mereka secara mental tidak punya nyali untuk head to head bila harus berperang atau beradu senjata secara fisik.
وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الْأَدْبَار
Kata wa-in (وَإِنْ) artinya : dan jika, sedangkan kata yuqatilukum (يُقَاتِلُوكُمْ) adalah kata kerja berupa fi’il mudhari, artinya memerangi atau berperang melawan kamu secara kekuatan fisik.
Ungkapan yuwallu-kum (يُوَلُّوكُمُ) artinya : berpaling dari kamu, sedangkan kata al-adbar (الْأَدْبَارَ) secara harfiyah merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu dubur (دُبُر) yang artinya bagian belakang dari tubuh.
Ungkapan ini adalah sebuah istilah khas yang menggambarkan situasi orang atau pihak yang kalah perang dan berlarian kocar-kacir melarikan diri menyelamatkan diri masing-masing.
Memang kalau diukur secara teknis, kekuatan fisik orang-orang Yahudi dibandingkan dengan orang-orang Arab sangat jauh tidak berimbang. Bangsa Arab itu terbiasa melakukan perang, bahkan dengan sesama mereka. Perang antar suku di kalangan Arab sudah sedemikian mentradisi, boleh dibilang bangsa Arab itu sangat gemar berperang. Nyaris hampir setiap individu orang Arab pandai memainkan senjata, entah itu panah, pedang, tombak bahkan juga pertarungan tangan kosong.
Tidak heran bila Nabi SAW pernah berpesan agar setiap orang tua mengajarkan tehnik berperang kepada anak keturunannya. Dari Abdullah bin Umar bahwa Beliau SAW bersabda :
Ajarkanlah anak-anak kalian memanah, karena memanah akan menambah kelenturan tubuh, keberanian, dan keterampilan berenang. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Makanya sejarah perang yang selama ini terjadi antara orang yahudi dengan orang Arab, tidak pernah sekalipun dimenangkan oleh pihak Yahudi. Semua orang Yahudi paham akan hal itu.
Kaburnya Yahudi Bani Nadhir yang terjadi pada bulan Rabi’ul-Awwal tahun keempat hijriyah adalah bukti nyata apa yang disebutkan ayat ini. Intinya, bagi orang Yahudi ketimbang berperang secara jantan berhadap-hadapan, mereka lebih memilih ambil langkah seribu. Kejadiannya sekitar empat bulan seusai terjadinya Perang Uhud. Meski ada yang berpendapat bahwa kejadiannya enam bulan setelah Perang Badar.
Untuk itu sudah jadi tradisi bagi kelompok Yahudi untuk membangun benteng yang dianggap bisa melindungi mereka dari serangan musuh. Ketika Nabi SAW diperintahkan oleh Malaikat Jibril untuk memerangi Yahudi Bani Quraizhah pasca perang Khandaq, mereka pun berlarian melindungi diri masuk ke dalam benteng. Drama pengepungan benteng Bani Quriadhah ini berakhir dengan eksekusi mati mereka.
Sehingga di beberapa kasus, mereka terpaksa harus lebih banyak berdiplomasi demi untuk bisa mendapatkan keamanan dan perdamaian. Kalau perlu mereka siap untuk membayar ‘uang keamanan’ kepada pihak-pihak dari bangsa Arab, demi sekedar untuk bisa menjamin keamanan mereka.
Makanya kita menemukan dalam Sirah Nabawiyah, beberapa golongan dari Yahudi ada yang datang kepada Nabi SAW untuk meminta jaminan perlindungan. Mereka rela membayar semacam uang keamanan atau yang disebut dengan jizyah.
Mereka inilah yang dalam pelajaran fiqih disebut dengan kelompok kafir dzimmi, yakni orang kafir yang dilindungi oleh Nabi SAW.
ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ
Kata tsumma (ثُمَّ) maknanya : kemudian, sedangkan kata laa yunsharun (لَا يُنْصَرُونَ) artinya : mereka tidak ditolong.
Selain karena pengecut dan tidak punya jam terbang berperang yang cukup, orang-orang Yahudi tidak pernah yakin akan ditolong oleh Allah SWT dalam perang mereka. Al-Quran banyak menceritakan bagaimana mereka selalu menghindari peperangan. Nabi Musa alaihissalam menjadi saksi langsung bagaimana mereka enggan berperang.
Mereka berkata: "Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya". (QS. Al-Maidah : 22)
Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja". (QS. Al-Maidah : 24)
Sebaliknya kaum muslimin para shahabat nabi yang mulia itu, selain memang lebih cakap dalam seni berperang dan punya jam terbang dalam peperangan yang tinggi, mereka juga yakin sekali akan selalu mendapatkan pertolongan Allah dalam setiap peperangan yang mereka terlibat di dalamnya. Hal itu memang dikuatkan dalam Al-Quran dalam beberapa ayatnya.
Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. (QS. Ali Imran : 123)
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak. (QS. At-Taubah : 25)
Ini bisa kita jabarkan manakala kita tampilkan jumlah lawan perang yang selalunya jauh lebih banyak dari jumlah personil para shahabat di hampir semua peperangan.
Peperangan
Tahun
Muslim
Musuh
Perang Badar
2 H
313
1000
Perang Uhud
3 H
700
3000
Perang Khandaq
5 H
3000
10.000
Perang Khaibar
7 H
1600
Penaklukan Mekah
8 H
10.000
Perang Hunain
10 H
12.000
20.000
Perang Tabuk
9 H
30.000
100.000
Salah satu bentuk pertolongan Allah SWT sebagaimana diceritakan oleh Nabi SAW adalah dengan cara dimasukkannya rasa gentar di hati musuh-musuhnya, termasuk juga kalangan Yahudi.
Aku dianugerahi lima hal yang tidak diberikan kepada satu pun nabi sebelumku, yaitu Aku ditolong dengan dimasukkannya rasa takut di hati musuhku selama sebulan. (HR. Bukhari)
Berapa pun banyak jumlah pasukan, berapa pun harta yang digelontorkan, berapa pun banyak persenjataan yang dimiliki, tetapi kalau secara mental sudah merasa takut, cemas, inferior serta tidak percaya diri, maka perang tidak akan pernah bisa dimenangkan.
Disitulah titik lemah kalangan Yahudi. Mereka unggul dalam ucapan yang menohok dan menyakitkan hati, tetapi giliran digempur secara langsung, mereka pun mengkeret dan ketakutan sambil mengajak minta perdamaian.