Kemenag RI 2019:Sungguh, telah ada tanda (bukti) bagimu pada dua golongan yang bertemu (dalam pertempuran. ) Satu golongan berperang di jalan Allah dan (golongan) yang lain kafir yang melihat dengan mata kepala bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati). Prof. Quraish Shihab:
Sesungguhnya telah ada bukti bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan bertemu (berperang) di jalan Allah dan {segolongan) yang lain kafir. Mereka melihat mereka dengan penglihatan mata (sebanyak) dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan.
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya, telah ada bagi kamu suatu tanda pada dua golongan yang bertemu. Yang satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain adalah kafir. Mereka (yang berperang karena Allah) melihat kepada mereka (yang kafir) dengan penglihatan mata, dua kali sebanyak mereka. Padahal Allah menyokong dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya, pada yang demikian itu adalah suatu ibarat bagi orang yang mempunyai pikiran.
Meskipun jumlah kaum muslimin jauh lebih sedikit, Allah menampakkan kekuatan mereka di mata musuh seolah-olah dua kali lipat lebih besar. Gambaran ini bukan sekadar fenomena fisik, melainkan isyarat tentang bagaimana iman dan keyakinan kepada Allah menambah kekuatan batin yang tidak dimiliki oleh pasukan besar sekalipun. Allah menegaskan bahwa kemenangan bukan semata karena jumlah atau kekuatan senjata, tetapi karena pertolongan-Nya yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki.
Ayat ini mengandung pesan mendalam bagi setiap mukmin: bahwa kemenangan sejati terletak pada keberpihakan kepada kebenaran dan ketulusan dalam berjuang di jalan Allah. Di balik kisah perang itu terdapat pelajaran berharga bagi ulul abshar, orang-orang yang memiliki mata hati, yang mampu melihat makna di balik peristiwa. Mereka memahami bahwa setiap ujian, setiap pertempuran, dan setiap pertolongan ilahi mengandung tanda-tanda kekuasaan Allah yang meneguhkan iman dan membimbing hati menuju keyakinan yang lebih dalam.
قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا
Lafazh qad kaana lakum ( قَدْ كَانَ لَكُمْ) artinya : sungguh telah ada bagi kalian. Para ulama belum selesai berdiskusi tentang siapakah yang dimaksud dengan kamu di ayat ini. Ada dua asumsi, yaitu kaum muslimin alias para shahabat nabi atau bisa juga orang kafir yang dalam hal ini adalah kalangan Yahudi.
Lantas lafazh aayatun (آيَة) dimaknai sebagai tanda. Memang lafazh ayat ini termasuk kata yang punya beberapa makna sekaligus, terkadang bisa juga bermakna ayat Al-Quran. Seperti ketika Allah SWT berfirman :
Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu (QS. Hud : 1)
Namun kata ayat disini bukan ayat Al-Quran melainkan bermakna sebuah ibrah atau pelajaran dan bahan renungan.
Lafazh fi-fiatain (فِي فِئَتَيْنِ) secara bahasa artinya berada pada dua kelompok atau dua pihak. Sedangkan makna iltaqata (الْتَقَتَا) artinya saling bertemu dalam arti saling berperang satu sama lain.
Beberapa riwayat menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah Perang Badar, dimana dua pihak itu maksudnya kaum muslim para shahabat Nabi SAW melawan orang-orang kafir musyrikin Mekkah. Kejadiannya tepat di bulan Ramadhan tahun kedua hijriyah. Perang Badar ini dijadikan sebagai sebuah momentum pelajaran berharga baik bagi kaum muslimin sendiri, maupun juga buat orang-orang kafir. Bahan buat siapa pun yang ingin mempelajari kisah Perang Badar.
فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Lafazh fiatun (فِئَةٌ) diartikan sebagai satu golongan, satu kelompok, atau mungkin lebih tepatnya satu pihak. Penggunaan istilah fiah (فِئَةٌ) untuk menyebutkan pihak yang berperang sebenarnya bukan hal yang baru, sebab sebelumnya Allah SWT juga menggunakannya dalam surat Al-Baqarah, yaitu ketika membicarakan pihak yang sedikit bisa mengalahkan pihak yang besar.
Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. (QS. Al-Baqarah : 249)
Lafazh tuqatilu(تُقَاتِلُ) artinya : berperang. Kata fi sabilillah (فِي سَبِيلِ اللَّهِ) artinya : berperang di jalan Allah.
وَأُخْرَىٰ كَافِرَةٌ
Makna wa ukhra (وَآُخْرَ ى) artinya : “dan yang lainnya”, maksudnya pihak yang menjadi lawannya, mereka itu disebut dengan kafiratun(كَافِرَة) yang artinya orang kafir.
Menarik juga untuk kita bahas sedikit perbandingan yang unik pada penggalan ini. Ketika allah SWT membandingkan dua pihak yang saling berperang, ternyata perbandingannya tidak seimbang. Pihak pertama disebut sebagai pihak yang berperang di jalan Allah. Seharusnya pihak lainnya sebagai lawan menjadi pihak yang berperang juga, meski bukan di jalan Allah.
Ternyata pihak lain yang menjadi lawannya tidak disebut demikian, malah disebut mereka itu kafir saja. Lantas apakah mereka tidak berperang? Tentu saja mereka berperang, namun yang ditonjolkan justru kekafiran mereka dan bukan tindakan mereka dalam berperang. Seakan Allah SWT ingin menekankan bahwa lawannya itu memang kafir, sama sekali tidak perlu disebut mereka berperang.
Atau boleh jadi perang yang mereka lakukan semata-mata karena kekafiran yang ada dalam diri mereka. Sehingga yang ditonjolkan memang apa yang menjadi motivasi perang itu sendiri, yaitu kekafiran di hati mereka.
يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ
Lafazh yaraunahum (يَرَوْنَهُمْ) artinya mereka melihat mereka. Sedangkan makna mitslaihim (مِثْلَيْهِمْ) artinya : seperti dua kali lipat jumlah mereka.
Bagian ini memang agak riskan, siapakah yang melihat dan siapakah yang dilihat. Ada dua kemungkinan dalam hal ini :
§ Kemungkinan Pertama
Yang melihat adalah pihak kaum muslimin dan yang dilihat adalah kaum kafir sebagai lawannya. Dalam penglihatan kaum muslimin, jumlah orang kafir itu dua kali lipat banyaknya dari jumlah pasukan muslimin.
Ini adalah pendapat jumhur ulama sebagaimana disebutkan oleh Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Dan pendapat ini juga yang tertulis dalam terjemahan Prof. Buya HAMKA.
Penjelasannya bahwa jumlah yang sesungguhnya dari pasukan kafir adalah tiga kali lipat dari jumlah pasukan muslimin. Totalnya mencapai seribu orang, sementara kaum muslimin hanya 313 atau 314 saja.
Maka ketika Allah SWT menjadikan jumlah pasukan kafir dua kali lipat dari jumlah kaum muslimin, ini merupakan bentuk penguatan mental dari Allah SWT.
§ Kemungkinan Kedua
Yang melihat adalah kaum kafir dan yang terlihat adalah kaum muslimin. Di mata orang kafir, jumlah pasukan muslimin itu dua kali lipat jumlahnya dibandingkan pasukan kafir.
Ini adalah pendapat para ulama juga, salah satu di antaranya pendapat Ali Al-Farisi. Pendapat ini masuk ke dalam terjemahan versi Kementerian Agama RI, bahwa yang melihat adalah kaum kafir, sedangkan yang dilihat adalah kaum muslimin. Di mata orang kafir, jumlah kaum muslimin dua kali lipat dari jumlah mereka.
Kalau pakai pendapat ini, maka salah satu sebab kekalahan kaum kafir adalah dimasukkannya rasa takut dan gentar di hati orang kafir, sehingga seolah-olah jumlah kaum muslimin lawan mereka itu jauh lebih besar.
Makna ra’ya-‘ain (رَآْيَ العَيْنِ) artinya penglihatan mata. Kalau disebut penglihatan mata, terkesan objektif dan benar. Namun penglihatan mata itu sendiri sebenarnya belum tentu objektif dan belum tentu benar.
Secara ilmu fisika, terkadang apa yang dipandang oleh mata kita belum tentu fakta yang sebenarnya. Contoh salah satunya adalah fenomena fatamorgana. Dari kejauhan yang nampak nyata adalah air, tetapi begitu didekati, airnya malah tidak ada. Fenomena semacam ini sebenarnya juga sempat disebut-sebut dalam Al-Quran.
Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orangorang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. (QS. An-Nur : 39)
Pensil yang dimasukkan separuh ke dalam air di gelas, akan terlihat di mata seperti patah. Padahal pensil itu lurus tidak pernah patah, tetapi di mata semua yang melihatnya memang patah.
وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ
Lafazh yauayyidu (يُؤَيِّدُ) asalnya dari kata (آَيَدَ يُؤَيِدُ تَأيِيْدًا) yang maknanya : menguatkan. Sedangkan lafazh bi-nashrihi (بِنَصْرِهِ) artinya : dengan pembelaan-Nya. Dan makna man yasyaa’ (مَنْ يَشَاءُ) artinya : kepada siapa saja yang Dia kehendakinya.
Maksud dari penggalan ini bahwa Allah SWT ikut serta berperan dalam perang Badar sehingga kaum muslimin mendapatkan kemenangannya.
Sebenarnya bentuk-bentuk pembelaan Allah SWT dalam Perang Badar itu cukup banyak. Beberapa diantaranya adalah diturunkannya banyak malaikat, sebagaimana disebutkan dalam AlQuran :
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut". (QS. Al-Anfal : 9)
Di surat Ali Imran ini juga nanti akan sampai kita pada rangkaian ayat-ayat terkait dengan bantuan Allah SWT kepada pasukan muslimin di bawah komando Nabi SAW berupa malaikat.
Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. Ali Imran : 12)
(Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?" (QS. Ali Imran : 124)
Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS. Ali Imran : 125)
Kalau dipikiri-pikir, lima ribu malaikat itu sudah sangat surplus. Sebab jumlah kaum musyrikin Mekkah itu hanya seribuan orang saja. Seandainya yang diturunkan hanya satu malaikat saja pun, pasti mereka kewalahan.
Bayangkan, di tengah-tengah kecamuk perang, ternyata ada lawan yang invisible alias tidak nampak di mata. Tetapi pedangnya terayun-ayun kesana kemari, mencari leher-leher orang kafir. Kalau kita menyaksikan film Predator produksi tahun 1987 yang dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger, maka kita bisa membayangkan bagaimana satu lawan yang tidak nampak bisa menghabisi satu pasukan elit yang sudah sangat berpengalaman di medan perang. Satu per satu mereka dibunuh dan dikuliti lalu digantung di atas pohon.
Bayangkan kalau makhluk tidak kasat mata itu jumlahnya ribuan, bahkan sampai lima ribu, seperti apa ciutnya mental lawanlawan kaum muslimin itu.
Maka lima ribu malaikat itu tidak harus berperang, cukup mereka menampakkan diri saja, maka mentalitas kaum muslimin akan semakin berkobar. Para malaikat itu ibaratnya hanya jadi supporter di pinggir lapangan, atau sekedara jadi pemain cadangan, maka semangat tempur pasukan muslimin akan kembali menyala dan bergelora. Hal ini memang Allah SWT ungkapkan di ayat selanjutnya :
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. (QS. Ali Imran : 126)
Selain diturunkan bantuan berupa malaikat, Allah SWT juga menurunkan bantuan dalam bentuk lagi, yaitu :
Dibuat Tidur Sejenak : sejenak pasukan muslimin dibuat mengantuk sehingga mereka tertidur. Dengan demikian, ketika mereka bangun, kebugaran mereka menjadi sangat prima, badan segar dan pikiran juga segar, mentalitas mereka pun ikut segar juga. Hilang semua rasa stress yang menghantui.
Diturunkan Hujan : beberapa saat sebelum perang pecah berkecamuk, Allah SWT sempat turunkan hujan di tengah pasukan muslimin. Fungsinya cukup banyak.
§ Pertama, air hujan itu bisa mereka gunakan untuk bersuci, sebab perang adalah ibadah dan mereka menjalankannya dalam keadaan berwudhu suci dari hadats.
§ Kedua, dengan air hujan itu Allah SWT ingin menghilangkan gangguan setan.
§ Ketiga, dengan air hujan itu ikatan hati di antara mereka menjadi sangat erat.
§ Keempat, air hujan itu kemudian memadatkan pasir yang mereka injak, sehingga langkah kaki mereka menjadi lebih kokoh.
Semua itu Allah SWT ceritakan dalam ayat berikut :
(Ingatlah) ketika Allah membuat kamu mengantuk sebagai penenteraman dari-Nya dan menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu, menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu, dan menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu. (QS. Al-Anfal 11)
Hati Orang Kafir Dibuat Gentar : Bantuan Allah SWT yang juga amat besar pengaruhnya adalah ketika Allah SWT tiupkan ke dalam hati orang kafir rasa gentar ketika menghadapi pasukan muslimin.
Padahal secara jumlah, pasukan kafir itu tiga kali lipat dari pada jumlah pasukan muslimin. Namun entah bagaimana, di mata pasukan kafir, kelihatan sebegitu menakutkan dan membuat banyak dari mereka yang merasa takut ketika berhadapan dengan pasukan muslimin. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :
Aku akan menimpakan rasa takut ke dalam hati orang-orang yang kufur. Maka, tebaslah bagian atas leher mereka dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka. (QS. Al-Anfal : 12)
Bantuan Allah SWT kepada pasukan muslimin pada Perang Badar memang terasa amat cukup. Sebab inilah perang terbuka yang pertama kali disyariatkan. Padahal kondisinya masih agak memprihatinkan, pasukan muslimin bukanlah tentara profesional yang terlatih untuk berperang. Pasukan itu bahkan sama sekali awalnya tidak dipersiapkan untuk sebuah battle atau pertempuan. Mereka hanya dilatih untuk merampas kembali harta benda yang aslinya milik mereka dari para saudagar Mekkah yang melintas di wliayah sekitaran Madinah.
Tenyata tiba-tiba mereka harus berhadapan dengan seribu pasukan yang profesional dan dilengkapkapi dengan persenjatan lengkap, kendaraan perang serta bekal yang lebih dari cukup.
Dengan semua kesiapan itu, bagi kalangan musyrikin Awab awalnya mereka ingin menjadikan perang Badar ini sebagai pesta dan perayaan mereka dalam rangka menumpas paham agama samawi di tanah arabia. Karena secara perhitungan di atas kertas, mereka memang di atas angin.
Dan bilamana Allah SWT tidak campur tangan membela pasukan muslimin, pastilah mereka sudah binasa di tangan kaum musyirikin Mekkah.
Dari semua itu, ada pelajaran penting yang bisa diambil, yaitu bahwa Allah SWT membela pasukan-Nya meskipun secara teknis di atas kertas sama sekali tidak diunggulkan.
Lafazh inna fi dzalika (إِنَ فِي ذَلِكَ) artinya : sungguh pada yang demikian itu, maksudnya pada turunnya pertolongan Allah dalam perang Badar itu benar-benar merupakan pelajaran yang bisa diambil.
Ungkapannya menggunakan huruf lam (ل) yang maknanya merupakan penekanan, sehingga maknanya : benar-benar. Sedangkan makna ibrah (عِبْرَةً) memang banyak dimaknai sebagai pelajaran.
Namun pelajaran itu hanya akan bisa diambil dan nampak di mata orang-orang yang punya penghilahatan mendalam. Mereka diistilahkan dalam ayat ini sebagai ulil-abshar (أولِي الاَبْصَارِ).
Penggalan yang menjadi penutup ayat ini menyebutkan istilah ulil abshar yang memang ada hubungannya dengan istilah ra’ya‘ain, yaitu sama-sama bicara tentang pandangan mata dengan perbedaan kualitas. Ra’yul-‘ain digambarkan sebagai pandangan yang sifatnya sekilas atau subjektif. Sedangkan ulil abshar digambarkan sebagai orang yang punya pandangan sangat mendalam, objektif dan berkualitas.
Ada tiga kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk pandangan mata manusia, yaitu ra’a-yara (رأى- يرى ), nazhara-yanzhuru (نظر - ينظر) dan bashara-yubshiru (بصر - يبصر ) sebagaimana tertuang dalam ayat berikut :
Dan kamu melihat berhala-berhala itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat. (QS. Al-Araf : 198)
Yang paling dasar adalah ra’a-yara (رآ ى- ير ى ), artinya melihat tapi tidak terlalu objektif, terlihat hanya agak tersamar, boleh jadi karena dari kejauhan. Kalau diibaratkan, seorang pemuda melihat sekilas ada wanita yang menarik hatinya. Tapi hanya dari kejauhan saja, tidak berani memandang lebih jauh.
Yang agak menengah adalah nazhara-yanzhuru (نظرينظر). Maknanya melihat dengan agak lebih teliti dan konsentrasi.
Kalau diibaratkan seperti seorang laki-laki yang sudah berniat ingin menikahi calon istri, maka dianjurkan dia melakukan nazhar. Nazhar itu melihat calon istrinya sebelum menjadi pengantin. Tentu melihatnya agak lebih mendetail, bukan sekedar melirik apalagi melihat dari kejauhan, tetapi secara khusus melihat dan memperhatikan, setidaknya wajah dan kedua tangannya.
Dan yang berada pada level paling tinggi adalah bashara yubshiru (بصر - يبصر), maknanya bukan hanya melihat lebih dekat, dan pastinya juga bukan melihat sekilas, melainkan melihat dengan lebih sempurna lagi, hingga ke level membedah isi dan bagianbagian dalamnya yang selama ini tidak terungkap.
Kalau diibaratkan, mereka sudah jadi suami istri yang sah dan boleh berjima’. Maka saat itu mereka berdua sudah saling terbuka luar dan dalam tanpa adanya penghalang.
Maka posisi ulil abshar itu adalah seperti suami yang sudah tahu sangat mendalam seluk beluk istrinya yang sah. Bukan hanya sekedar pernah melirik sesekali, juga bukan sekedar pernah nazhar saja, tetapi sudah membedah semua isinya sampai ke tulang sumsumnya sekalian. Tidak ada lagi yang rahasia seorang wanita di hadapan suaminya. Dalam hal ini suami sudah berada pada posisi ulil abshar bagi istrinya.