Kemenag RI 2019:sebelum (turunnya Al-Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, dan menurunkan Al-Furq?n (pembeda yang hak dan yang batil). Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, bagi mereka azab yang sangat keras. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa). Prof. Quraish Shihab:
(sebelum al-Qur'an), untuk menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan al-Furqan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah bagi mereka siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
Prof. HAMKA:
Terlebih dahulu; petunjuk bagi manusia, dan Dia turunkan al-Furqan. Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mau percaya kepada ayat-ayat Allah, bagi mereka adalah adzab yang sangat. Dan, Allah adalah Mahagagah, mempunyai siksaan.
Allah SWT menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW dengan membawa kebenaran yang murni, membenarkan kitab-kitab suci yang telah diturunkan sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, sekaligus menyempurnakan ajaran-ajaran yang telah diselewengkan oleh manusia.
نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ
Lafazh nazzala (نَزَّلَ) secara bahasa artinya menurunkan. Namun di sisi lain di dalam Al-Quran juga dikenal kata anzala (أنْزَلَ) yang maknanya juga sama-sama menurunkan. Lantas apa bedanya?
Apabila turunnya Al-Quran yang dimaksud merupakan turun ayat demi ayat secara sedikit demi sedikit dari langit dunia kepada Nabi Muhammad SAW yang memakan waktu hingga 23 tahun, maka yang digunakan adalah nazzala – yunazzilu (نَزَّلَ - يُنَزِّلُ) bisa kita buktikan dengan melihat ayat berikut :
Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. Al-Isra : 106)
Sedangkan bila menceritakan turunnya Al-Quran yang pertama kali dari Lauhil Mahfudz ke langit dunia, biasanya Allah SWT menggunakan lafazh anzala – yunzilu (أنْزَلَ - يُنْزِلُ) buktikan juga bila kita baca ayat berikut :
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (QS. Al-Qadar : 1)
Maka dalam hal ini yang dimaksud bahwa Allah SWT turunkan Al-Quran dengan cara berangsur-angsur.
Makna al-kitab (َبات كلأ) secara bahasa artinya buku, namun yang dimaksud tidak lain adalah kitab suci Al-Quran. Dan ketika diturunkan di masanya, bentuknya juga bukan seperti buku yang kita kenal di zaman modern ini.
Namun Al-Kitab memang nama atau julukan yang diberikan kepada Al-Quran. Al-Quran itu sendiri memang punya banyak nama. Fakhruddin ar-Razi menyebutkan dalam Mafatih al-Ghaib sekitar 32 nama untuk Al-Quran dan yang pertama adalah al-Kitab.
Lafazh bil-haqqi (َقحلاب) artinya dengan benar. Maksudnya tidak ada keraguan apalagi dugaan-dugaan dalam hal penurunannya.
Orang tidak perlu meragukan bagaimana Al-Quran itu diturunkan, karena kebanyakannya mereka melihat proses turunnya Al-Quran secara langsung.
Hal ini agak sedikit berbeda misalnya kalau kita bandingkan dengan bagaimana kitab-kitab suci umat terdahulu diturunkan, yaitu diturunkan di atas gunung tanpa ada seorang pun yang melihat proses turunnya. Nabi Musa alaihissalam ketika menerima turunnya Taurat, dia diperintahkan naik ke atas gunung. Prosesnya tidak ada yang melihatnya.
Berbeda sekali dengan kebanyakan proses turunnya Al-Quran yang oleh para shahabat seringkali disaksikan secara langsung. Memang ketika awal mula diturunkan wahyu di Gua Hiro, saat itu Nabi Muhammad SAW memang lagi sendirian, sehingga bagaimana turunnya ayat pertama itu, kita hanya mendengar saja kisahnya dituturkan oleh Beliau SAW.
Namun ayat-ayat yang turun berikutnya tidak lagi harus lewat naik ke puncak gunung. Ayat demi ayat turun kapan saja dan dimana saja, dalam kesempatan yang mana saja. Para shahabat melihat langsung bagaimana proses turunnya ayat demi ayat di tengah mereka. Sebab Nabi SAW seringnya memang sedang berada di tengah-tengah mereka ketika menerima datangnya wahyu lewat malaikat Jibril alaihissalam.
Maka wajar kalau turunnya Al-Quran dipastikan kebenarannya, karena langsung disaksikan oleh mata kepala para shahabat secara live, bukan lewat kisah dan cerita.
مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ
Lafazh mushaddiqan (مُصَدِّقًا) adalah isim fail dari asalnya (صَدَّقَ - يُصَدِّقُ) yang maknanya: membenarkan. Sedangkan lafazh lima baina yadaihi (لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ) secara bahasa maknanya: kepada apa yang ada di hadapannya, yaitu kitab suci samawi yang sudah pernah Allah SWT turunkan.
Namun dalam terjemahan Kemenag RI dan juga Prof. Quraish Shihab, lafazh baina yadaihi diterjemahkan menjadi: sebelumnya. Sedangkan Buya HAMKA tetap dengan makna aslinya yaitu: yang ada di depannya.
Penulis agak cenderung mengatakan bahwa tidak terlalu keliru kalau memaknainya dengan: kitab yang ada di depannya, yaitu di hadapan Nabi Muhammad SAW. Karena di masa kenabian itu memang beliau berinteraksi dengan Yahudi dan Nasrani. Masing-masing memperlihatkan Taurat dan Injil di hadapan Beliau SAW. Dalam hal ini yang masih ada di tangan pemeluk agama samawi di masa kenabian Muhammad SAW adalah kitab Taurat milik kalangan Yahudi dan kitab Injil milik kalangan Nasrani. Sedangkan kitab-kitab suci samawi sebelumnya nyaris sudah tidak ada lagi di tangan mereka.
Maka penggalan ayat ini menegaskan bahwa turunnya Al-Quran sebagai kitab suci samawi terakhir itu membenarkan adanya kitab-kitab suci samawi yang pernah turun sebelumnya. Pembenarannya memang tidak secara keseluruhannya, sebab bersama dengan turunnya Al-Quran, ternyata Allah SWT juga melakukan beberapa revisi atau nasakh atas beberapa detail hukum syariat. Namun begitu bukan berarti Al-Quran diturunkan untuk menentang keberadaan kitab-kitab suci samawi sebelumnya. Meskipun melakukan beberapa koreksi, revisi, dan update terbaru, tetap saja Al-Quran ini masih menjadi bagian dari turunnya kitab-kitab suci samawi sebelumnya. Kalau kita ibaratkan seperti terbitnya buku dari penerbit. Edisi yang terbit kemudian pastinya ada banyak revisi dan perbaikan di sana-sini.
وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ
Lafazh wa anzala (وَأَنْزَلَ) artinya: Dan Dia (Allah) menurunkan. Sedangkan makna at-taurah (التَّوْرَاةُ) adalah kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa alaihissalam sebagai nabi dari orang-orang Yahudi.
Bukti bahwa Al-Quran membenarkan kitab suci Taurat secara paling mendasar adalah fakta bahwa kata Taurat di dalam Al-Quran muncul hingga 18 kali di 16 ayat yang berbeda. Selain itu, yang paling sering Taurat disebut dengan kata al-kitab saja. Sehingga kita bisa pastikan bahwa antara Al-Quran dan Taurat itu punya korelasi dan keterkaitan yang erat.
Di sisi lain, Al-Quran juga menceritakan bahwa di dalam Taurat sendiri ada banyak kisah yang menyebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW di akhir masa, bahkan tidak lupa juga disebutkan ciri-ciri para pengikutnya, yaitu para shahabat yang mulia.
Ciri-ciri mereka terdapat pada wajah mereka karena bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. (QS. Al-Fath: 29)
Dan makna wal-injila (وَالْإِنْجِيلَ) adalah kitab suci Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa alaihissalam sebagai nabi bagi orang-orang Nasrani di masanya.
Sebagaimana Taurat, kitab Injil berkali-kali disebutkan di dalam Al-Quran. Tidak kurang dari 12 kali kata Injil termuat di beberapa ayat yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa antara Al-Quran dan Injil memang juga punya korelasi dan keterkaitan yang erat.
Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah (QS. Al-Hadid: 27).
Yang menarik, ternyata Al-Quran memerintahkan orang-orang Nasrani sebagai pemilik kitab suci Injil agar mereka menjalankan isi kitab itu.
Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya (QS. Al-Maidah: 47).
Terakhir, yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah: apakah Taurat yang ada di tangan pemeluk Yahudi serta Injil yang ada di tangan Nasrani pada hari ini masih kita anggap sebagai kitab suci yang datang dari Allah SWT? Ataukah kita tidak mengakuinya karena kita posisikan sebagai palsu dan banyak dikotori tangan-tangan manusia?
Sebenarnya, untuk menjawab hal ini, kita bisa saja bercermin kepada pendirian Nabi Muhammad SAW di masa Beliau. Al-Quran sudah menyebutkan bahwa orang Yahudi banyak memasukkan tulisan dari pemikiran mereka ke dalam kitab suci samawi itu, sambil memaksakan bahwa semua itu datang dari Allah SWT.
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 79)
Meski sudah disebutkan dengan tegas bahwa banyak unsur tambahan di dalam Taurat oleh tangan-tangan mereka, namun kalau kita melihat sikap Nabi SAW, nampaknya tidak mengingkari Taurat mereka.